Gema Syahadat Aisyah

Gema Syahadat Aisyah
Keraguan


__ADS_3

"Stop stop Mas!" Pekik Daniel ketika mereka sampai di rumahnya. Daniel turun dari motor Umar dan meminta satpam membukakan gerbang. "Ini rumah ku Mas, eh bukan rumah ku sih, rumah Papa Mama." Daniel segera meralatnya.


"Ini jilbab Kakak mu." Umar mengeluarkan jilbab Atalie dari saku baju nya.


"Udah disini, nggak masuk Mas?" Sia-sia Daniel membawa Umar kesini jika tak membuatnya bertemu dengan Atalie. Daniel seolah mendukung seratus persen hubungan Atalie dan Umar.


"Nggak usah, lain kali aja." Sebenarnya dalam hati Umar tidak ada lain kali, ia harap ini pertama dan terakhir kalinya ia berada di rumah Atalie. Meski hatinya ingin tapi pikiran Umar berusaha menolak dengan keras.


Daniel hendak menerima kain berwarna merah muda yang Umar sodorkan padanya tapi ia lebih dulu mendengar suara papa nya memanggil namanya.


Jaya muncul dari balik gerbang dengan pakaian olahraga sedangkan tangannya memegang raket. Jaya biasa bermain bulu tangkis atau tenis meja saat sore hari bersama Daniel. Pandangan Jaya langsung mengarah pada Umar penuh tanya.


"Kenapa Pa?"


"Ini siapa, peng you nya Atalie?" Jaya melihat Daniel dan Umar bergantian, ia tak pernah tahu jika Daniel memiliki teman yang usianya lebih tua. Jadi Jaya pikir lelaki itu adalah teman Atalie karena beberapa hari ini Renata meminta Atalie mencari banyak teman. Mungkin lelaki ini salah satu teman yang Atalie dapatkan.


"Bukan-bukan, saya dosen di kampus Atalie." Sahut Umar cepat, entah kenapa ia tak mau disebut sebagai teman Atalie. Sekali lagi, mereka tidak cukup akrab untuk disebut teman.


"Wah, Mas Umar bisa bahasa Mandarin?" Daniel menatap Umar kagum, ia saja yang belajar dari sekolah dasar belum tentu mengerti kalimat sederhana seperti itu.


"Sedikit."


"Qǐng jìnlái!" Jaya mempersilakan Umar masuk, ia tiba-tiba bersemangat setelah tahu Umar bisa berbahasa Mandarin.


"Terimakasih Pak." Umar tak kuasa menolak ajakan Jaya, ia berjalan bersisian dengan Daniel di belakang Jaya.


"Mama, tolong panggilkan Atalie, ada dosennya." Pinta Jaya begitu melihat Renata di ujung tangga. "Maaf siapa namanya tadi?"


"Umar."


"Pak Umar Ma, mari duduk, silakan."


Umar duduk di sofa ruang tamu dengan ragu, tujuannya hanya mengembalikan jilbab tapi papa Atalie justru mengajaknya masuk. Sekarang dimana Atalie, Umar ingin segera memberikan jilbab tersebut lalu pulang.


"Saya panggil Pak atau—"


"Umar saja Pak." Umar lebih nyaman jika Jaya memanggilnya dengan nama tanpa embel-embel apapun.


"Umar belajar dimana bahasa Mandarin?" Jaya terlihat sangat tertarik pada Umar.


"Kebetulan saya pernah tinggal di Shanghai selama 6 bulan."


"Oh ya, kamu masih muda sudah jadi dosen, hebat lho."


"Saya tidak hebat dan juga tidak muda." Umar tersenyum gugup, tapi kenapa juga ia harus gugup?


Jaya tertawa melihat keluguan Umar, ia baru tahu jika Atalie memiliki dosen muda seperti Umar. Pasti Umar dosen baru karena Jaya mengenal semua dosen di kampus Atalie.


"Mas mau minum apa?" Tanya Daniel.


"Eh nggak perlu Daniel, saya cuma sebentar disini." Tolak Umar sopan.


"Nggak apa-apa, kamu sudah kesini maka kami harus menjamu kamu dengan baik." Timpal Jaya.

__ADS_1


Daniel beranjak dari sana meminta ART membuatkan minuman untuk Umar dan papa nya.


"Mana Atalie Ma?" Tanya Jaya pada istrinya yang duduk bergabung di ruang tamu.


"Tunggu sebentar."


"Maaf sudah merepotkan." Umar merasa tidak enak pada orangtua Atalie, ia bahkan melihat seorang ART membawakan minuman dan kue yang sama dengan pemberian Atalie tadi.


"Jadi Bapak ini dosennya Atalie?" Renata menyapa Umar dengan ramah. Setiap kali ada kenalan Atalie yang berkunjung kesini, Renata pasti menyambutnya dengan baik.


"Benar Bu, panggil saya Umar saja."


"Nah itu dia." Jaya memutar kepala melihat Atalie menuruni tangga.


Pandangan mereka mengarah pada Atalie yang menuruni tangga. Atalie sudah berganti pakaian dengan rok panjang dan atasan crop yang membuatnya terlihat manis. Percayalah Atalie memilih pakaian itu dengan asal karena panik ketika mama nya tiba-tiba memberitahu ada Umar. Entah angin apa yang membawa Umar kesini, Atalie belum bisa memahami situasinya.


"Kalau gitu kami akan tinggalkan kalian, jangan merasa sungkan."


"Terimakasih Pak, Bu."


Jaya beranjak dari sana begitupun dengan Renata. Jaya pergi ke halaman belakang untuk bermain bulu tangkis dengan Daniel.


"Mas Umar kok tiba-tiba ada disini?"


"Saya mau mengembalikan jilbab kamu." Umar menyodorkan jilbab milik Atalie. Itu hanya selembar kain tipis tapi bisa membawa Umar kesini. Umar merasa dirinya terdampar di tempat ini.


"Oh, terimakasih." Atalie bahkan sudah lupa jika Umar membawa jilbabnya tadi. "aku nggak tahu kalau Mas tahu rumah saya."


"Tadi saya nggak sengaja ketemu Daniel di jalan."


"Kamu tahu?"


"Daniel memang begitu, lain kali jangan mau dipaksa dia."


"Nggak apa-apa, saya jadi tahu rumah kamu."


Atalie mengangguk samar tanpa membalas apapun. Untuk beberapa saat hanya keheningan yang menguasai keduanya. Umar tak tahu harus bicara apalagi. Akhirnya Umar meneguk minuman di atas meja.


"Kue buatan mu tadi enak." Tidak menemukan topik pembicaraan akhirnya Umar membahas kue pemberian Atalie tadi.


"Oh itu Mama yang bikin, aku nggak bisa bikin kue, lebih tepatnya aku nggak bisa masak apapun." Atalie menggaruk tengkuknya kikuk, kenapa juga ia harus mengakui kelemahannya pada Umar. Rasanya Atalie ingin membekap mulutnya sendiri karena sudah terlalu banyak bicara. "Mas Umar boleh ketawain aku."


"Kenapa aku mentertawakan mu?"


"Karena nggak bisa masak."


"Kamu pengen kenalan sama Aisyah aja aku nggak ketawa, menurutku itu bukan hal yang pantas ditertawakan."


Wajah Atalie mendadak serius, bagaimana ia tidak jatuh cinta pada lelaki di depannya ini. Umar membuat jantung Atalie berdebar kencang. Hanya saja kenapa harus Umar, seseorang yang sangat sulit Atalie gapai.


"Sekarang aku sudah kenal Aisyah, Khadijah, Saudah dan Hafshah." Atalie menyebutkan nama-nama itu dengan bangga.


"Kamu menghafalnya?"

__ADS_1


Atalie menggeleng, ia tidak berniat menghafalnya tapi pikirannya merekam dengan jelas nama-nama tersebut. Mungkin karena Atalie sering membaca, otaknya jadi terbiasa menyimpan hal-hal yang ia pelajari.


"Nama kamu sama seperti Ayah nya Hafshah."


"Iya, Ummi terinspirasi dari nama tersebut mungkin dengan harapan aku bisa menjadi lelaki yang kuat seperti Umar."


"Kamu memang kuat." Atalie melihat jilbab miliknya yang kusut mungkin karena Umar memegangnya terlalu kuat. "Aku tahu alasan ku ikut kajian itu salah."


"Enggak kok, kamu bebas untuk ikut apapun alasannya."


"Oh ya?"


"Ya."


"Jadi aku boleh ikut kajian karena Ustadz Umar tampan?"


Umar membuka mulut tapi suaranya tak mampu keluar, apakah Atalie selalu memuji orang terang-terangan seperti itu? Umar kembali meneguk minumannya lalu pamit pulang karena langit semakin gelap dan sebentar lagi masuk waktu magrib.


"Sampaikan terimakasih pada Mama Papa mu."


"Iya Mas." Atalie beranjak mengantar Umar hingga depan gerbang. "Kamu keren naik motor itu." Reflek Atalie memuji Umar yang baru menyalakan motornya lalu memasang helm.


Umar melihat motornya, ini adalah barang yang sejak dulu ia inginkan. Umar menabung lama demi memiliki CB 1100 tersebut. Namun Umar tidak mengerti maksud pujian Atalie, ia tak merasa keren dengan sarung dan baju koko yang menjadi pakaian sehari-harinya tersebut.


"Motor ini memang keren." Balas Umar akhirnya.


Atalie nyengir, ia tidak memuji motor Umar tetapi seseorang yang mengendarainya. Atalie kembali menutup gerbang setelah motor Umar semakin menjauh lalu tak terlihat di ujung komplek.


******


"Assalamualaikum." Umar mengucapkan salam begitu memasuki rumah yang langsung dijawab oleh Maryam dan Zaid. Umar mencium tangan Maryam yang sedang tilawah Al-Qur'an bersama Zaid. Itu kebiasaan mereka saat sore hari menjelang magrib.


"Sudah pulang Umar?"


"Sudah Ummi." Umar meletakkan satu toples kue di atas meja lalu duduk di samping Maryam.


"Beli kue lagi?" Maryam menutup mushaf lalu meletakkannya.


"Dikasih Atalie, coba deh Ummi." Umar membuka toples bening tersebut lalu menyodorkannya pada Maryam. "Abah?"


"Nanti saja." Tolak Zaid.


Maryam mengambil satu keping kue lalu melahapnya.


"Enak nggak menurut Ummi?"


"Enak, nggak terlalu manis."


"Besok pagi kita silaturahim ke rumahnya Kyai Abizar sekaligus menyatakan niat mu untuk meminangnya."


Toples di tangan Umar hampir saja terjatuh tapi ia menahannya dengan sekuat tenaga. Itu hanya toples berisi kue tapi mendengar ucapan Abah nya, Umar mendadak lemas. Padahal Umar sendiri yang mempercayakan semuanya kepada Zaid tapi ketika rencana tersebut sudah berada di depan mata, Umar jadi ragu.


"Baik Abah." Jawab Umar patuh menepis segala keraguan dalam hatinya, apalagi yang ia ragukan. Hilya sudah pasti menjadi istri yang baik untuk Umar, ia juga berasal dari keluarga baik-baik.

__ADS_1


Ekspresi Umar tidak luput dari perhatian Maryam, tapi ia tak mau menerka-nerka. Mereka tak pernah memaksa Umar menikah dengan seseorang, itu atas kemauan Umar sendiri. Namun Maryam paham betul pada kepribadian Umar yang tak kuasa menolak permintaan orang lain. Umar juga tidak bisa memahami perasannya sendiri. Maryam hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Umar.


__ADS_2