Gema Syahadat Aisyah

Gema Syahadat Aisyah
Pengajian


__ADS_3

Kabar pernikahan Umar sudah terdengar hingga ke sudut pondok pesantren, tak ada satupun dari mereka yang tidak mengetahui kabar tersebut. Namun beberapa dari mereka belum tahu calon istri Umar setelah perjodohannya dengan Hilya batal.


Maryam menggelar pengajian sebelum akad esok hari bersama keluarga dekat dan santri putri di aula. Bertujuan agar acara pernikahan Umar dan Aisyah besok berjalan dengan lancar.


"Kamu tahu siapa calon istri Gus Umar?" Santri putri bergerombol keluar dari asrama. Mereka mulai membicarakan siapa kemungkinan gadis beruntung yang akan menikah dengan Umar.


"Nggak tahu, memangnya ada yang lebih pantas dari Ning Hilya untuk jadi istri Gus kita?"


"Denger-denger calon istri Gus Umar bukan dari keluarga pengasuh pondok, dia orang biasa."


"Kok bisa dari keluarga biasa menikah dengan Gus?" Santri dengan tahi lalat di dagu menyahut.


"Itu bukan hal yang mustahil, aku yakin Gus Umar nggak akan sembarangan memilih istri." Timpal Hana. Ia yakin Gus mereka yang sering menjadi bahan pembicaraan itu sudah memilih yang terbaik.


"Kalian mau tahu siapa calon istri Gus Umar?" Salah satu santri yang sudah mendengar sosok calon istri Umar mengedarkan pandangan pada teman-temannya.


"Siapa?" Mereka makin mendekat penasaran.


"Mbak Aisyah." Jawabnya.


"Oh ya?" Mereka mendelik, rupanya calon istri sang idola tidak sesuai bayangan mereka. Selama ini Hilya sudah menjadi gadis paling sempurna untuk Umar tapi ternyata takdir tak berjalan seperti dugaan mereka. Umar justru hendak menikah dengan gadis yang baru menjadi muslimah, bacaan Al-Qur'an nya terbata-bata, tidak bercadar dan tidak bisa memasak. Itu yang mereka tahu tentang Aisyah. Pertama kali pergi ke dapur, Aisyah bahkan tidak bisa menggoreng tempe, itu juga menjadi kali terakhir Aisyah berada di dapur santri.


"Nggak heran sih, dia memang cantik kulitnya putih bersih."


"Tapi dia belum lancar baca Al-Qur'an."


"Besok akan jadi hari patah hati satu pesantren." Jerit mereka dramatis. Maklum selama ini Umar lah yang menjadi idola para santri.


"Kalian lagi ngomongin apa?" Khawla muncul dari belakang gerombolan. Ia melirik para santri yang tengah asyik mengobrol. Sepertinya itu topik hangat karena mereka terlihat sangat bersemangat.


"Eh, Ning Khawla."


Mereka langsung menutup mulut rapat-rapat bahkan ada yang menggigit bibirnya karena sudah membicarakan orang lain.


"Kalian akan segera bertemu dengan gadis itu." Khawla mengulas senyum di balik cadarnya seraya melangkah menjauh. Para santri itu bergegas pergi ke aula tanpa membicarakan apapun lagi.


Mobil Aisyah berhenti di halaman depan kediaman Zaid. Aisyah menolak dijemput Khawla karena ia bisa pergi sendiri. Lagi pula ia pernah tinggal disini selama satu bulan walaupun belum menjelajahi seluruh pondok. Ia tidak akan nyasar.


Aisyah mengedarkan pandangan, apakah ia bisa bertemu Umar hari ini. Sepertinya tidak bisa, ia dengar para laki-laki menggelar pengajian di tempat lain.

__ADS_1


"Aisyah." Khawla berjalan menghampiri Aisyah.


"Mbak, Assalamualaikum." Aisyah menjabat tangan Khawla.


"Waalaikumussalam, ayo pergi ke aula."


"Pengajiannya belum dimulai kan Mbak?"


"Belum, Ummi juga masih ada urusan sebentar."


Biasanya pihak perempuan akan mengadakan pengajian secara terpisah tapi karena Aisyah satu-satunya muslim di keluarganya, maka Maryam mengajaknya melakukan pengajian disini.


Santri putri sudah memenuhi aula ketika Aisyah dan Khawla sampai.


"Kamu masuk dulu ya, Mbak mau jemput Ummi."


"Iya Mbak." Aisyah duduk di tempat yang sudah mereka sediakan.


Suasana canggung menyelimuti aula sejak Aisyah bergabung dengan mereka. Sesekali mereka curi-curi pandang pada Aisyah. Jika kebetulan beradu pandang, Aisyah segera mengulas senyum.


"Ternyata Mbak Aisyah calon istrinya Gus Umar." Hana mencoba mencairkan suasana, walaupun tidak kenal dekat tapi ia pernah belajar bersama saat Aisyah tinggal disini selama satu bulan.


"Semua orang penasaran."


"Oh ya?" Aisyah tidak tahu jika ia sudah menyita perhatian mereka. Ia lupa kalau Umar adalah orang penting di pondok.


"Tentu kami penasaran, Gus Umar harus setor hafalan 30 juz tanpa henti pada Kyai Zaid untuk mendapatkan restu, awalnya itu hanya desas-desus tapi kami menyaksikan sendiri bagaimana Gus Umar mengaji tiada henti sampai pagi." Salah satu santri menjelaskan dengan perasaan menggebu-gebu, ia juga termasuk yang mengagumi Umar selama ini. Aisyah hanya perlu tahu jika pengorbanan Umar untuk mendapat terus tidak mudah.


"Kyai Zaid bahkan menampar Gus Umar dengan sangat keras hingga bibir Gus kami berdarah." Sahut santri lain.


"Hus!" Hana menepuk paha santri tersebut. Walaupun itu bukan berita bohong tapi mereka tidak sepatutnya bicara terlalu banyak tentang keluarga pengasuh pondok.


Aisyah tertunduk dengan pandangan nanar, ia meremas rok nya mengingat semua perkataan santri-santri itu. Aisyah sudah meragukan Umar padahal lelaki itu sudah mengorbankan banyak hal. Harusnya tak ada sedikitpun perasaan ragu dalam diri Aisyah hanya karena Umar menjenguk Hilya kemarin.


Pengajian dimulai setelah Umar dan beberapa kerabat datang. Acara itu berlangsung khidmat dengan kehadiran para santri. Aisyah merasa semua orang merangkulnya walaupun ia bukan anggota keluarga mereka.


Khawla mempersilakan Aisyah mengucapkan permohonan doa restu. Aisyah sudah menyiapkan catatan yang didapatnya dari internet tapi pada akhirnya ia mengucapkan apa yang ada dalam hatinya. Tidak ada papa dan mama nya disini, Aisyah sudah menganggap Maryam sebagai orangtuanya.


"Ummi, terimakasih." Aisyah menatap Maryam, "terimakasih sudah memperlakukan saya dengan baik sejak pertama bertemu padahal saat itu penampilan saya kurang pantas untuk berada di pesantren, jujur saat itu saya tidak tahu apa itu pesantren tapi Ummi menyambut saya dengan baik bahkan Mbak Khawla membuatkan saya teh paling enak sedunia."

__ADS_1


Khawla tertawa pelan, itu hanya teh biasa.


"Ummi sebenarnya saya lebih dulu jatuh cinta pada Ummi sebelum jatuh hati pada anak Ummi."


Suara tawa memenuhi aula akibat kalimat polos Aisyah.


"Gadis berpakaian sexy dan bertato itu tidak pantas untuk Gus Umar, saya juga berpikir seperti itu tapi Gus Umar selalu meyakinkan saya."


"Semua orang meragukan saya, Ummi." Aisyah tidak bisa menahan tangisnya, air matanya meleleh tak terbendung.


Maryam menarik Aisyah dan merangkulnya, tangisan Aisyah menular pada semua orang yang berada di aula.


"Saya memohon doa restu Ummi untuk pernikahan kami, semoga pernikahan ini tak hanya membawa keberkahan bagi saya dan Gus Umar tapi juga untuk banyak orang."


Maryam mengangguk, tanpa diminta ia sudah mendoakan mereka. Walaupun sedikit kecewa karena Umar tiba-tiba membatalkan perjodohan nya dengan Hilya tapi Maryam yakin Umar sudah memilih gadis yang tepat.


"Aisyah, mari bicara." Maryam mengajak Aisyah bicara berdua, ia ingat pesan Umar semalam untuk meyakinkan Aisyah.


Mereka duduk di gazebo pinggir kolam setelah acara pengajian berakhir.


"Aisyah, apa kamu masih ragu dengan Umar?"


"Itu keraguan yang berasal dari diri saya sendiri Ummi, ragu karena saya tidak lebih baik dari Hilya."


"Ummi ingat sekali saat Umar bercerita tentang kamu sepulang kajian di masjid, ia bilang ada gadis aneh yang minta dikenalkan dengan Aisyah, Umar tidak berhenti tersenyum menceritakan kamu, saat itu juga saya yakin jika Umar menyukaimu hanya saja Umar yang belum pernah jatuh cinta tidak sadar akan perasaannya."


Netra Aisyah melebar, benarkah Umar sudah menyukainya saat itu. Aisyah pikir ia yang lebih dulu jatuh cinta. Umar justru bersikap menyebalkan seolah membenci Aisyah.


"Ketahuilah, dia sangat mencintaimu Aisyah, dia tidak pernah minta apapun pada kami tapi untuk pertama kalinya Umar memohon untuk menikahi kamu."


Aisyah tersenyum getir, lihatlah Umar sudah berkorban begitu besar tapi ia masih tidak tahu diri meragukan Umar.


"Maaf Ummi, saya sudah meragukan Gus Umar." Aisyah menggenggam tangan Maryam.


"Ummi mengerti perasaan mu." Maryam kembali memeluk Aisyah.



Doain acaranya lancar yang teman-teman

__ADS_1


__ADS_2