
Aisyah sudah siap mengenakan kebaya biru muda dan jilbab pashmina berwarna senada. Renata memanggil MUA untuk merias wajah Aisyah khusus dihari spesialnya. Riasan tipis sangat pas untuk wajah Aisyah yang lembut.
"Rambut saya kelihatan nggak?" Tanya Aisyah pada MUA yang tengah menyematkan jarum pentul di jilbab nya.
"Tidak kelihatan, walaupun tipis tapi jilbab ini terbuat dari bahan yang tidak tembus pandang."
Aisyah lega mendengarnya, hari ini keluarga Umar juga akan datang ke acara wisuda nya di kampus. Aisyah sudah panas dingin membayangkan pertemuannya dengan keluarga Umar. Dari pada membayangkan prosesi wisuda yang akan berlangsung haru, Aisyah lebih memikirkan bagaimana nanti ia akan mengobrol dengan keluarga Umar. Lucu sekali, padahal dulu mereka pernah tinggal bersama. Namun sekarang hubungan mereka telah berbeda, itu sebabnya Aisyah merasa gugup.
"Wah cantik sekali." Aisyah mengagumi karya MUA di wajahnya begitupun dengan gaya jilbabnya. Aisyah tak akan bisa merias dan memasang jilbab sebagus ini.
"Wajah Atalie memang sudah cantik, saya tidak merubah apapun."
"Cici luar biasa, sekarang saya mengerti kenapa Mama sering ke salon Cici."
MUA tersebut tertawa mendengar pujian Aisyah, ia merasa terhormat karena bisa merias wajah Aisyah dihari spesialnya.
Terakhir Aisyah mengenakan chunky heel setinggi 5 centimeter yang sangat cocok dengan kebayanya. Renata telah mengatur semua itu sejak satu bulan yang lalu, ia mengurus mulai dari memilih kain hingga sepatu yang akan Aisyah kenakan pada acara tersebut. Aisyah beruntung karena ia tak perlu repot-repot mencari pakaian sendiri, Renata sudah mengatur semuanya. Persiapan pernikahan sendiri sudah cukup merepotkan.
"Wah, Mama cantik banget hari ini." Aisyah memekik ketika keluar kamar dan mendapati mama nya sudah siap dengan dress brokat berwarna biru hampir mirip dengan kebayanya.
"Kamu tahu keahlian Mama merias wajah meningkat." Renata menyibak rambutnya yang kecoklatan dan bergelombang, "Mama siap ketemu besan hari ini."
"Apa ini nggak berlebihan Ma?" Jaya muncul di belakang Renata, ia melihat penampilan sang istri yang sudah seperti hendak pergi ke acara pesta malam.
"Nggak ada yang namanya berlebihan, Pa." Renata meyakinkan Jaya sekali lagi.
Setelah semuanya siap, mereka bergegas masuk mobil. Pakaian Jaya, Renata dan Daniel memiliki corak yang sama. Renata memang hobi mengatur pakaian semua anggota keluarga, ia suka melihat pakaian mereka sama.
Ketika sampai kampus sudah ramai oleh para mahasiswa yang hendak mengikuti wisuda hari itu. Aisyah turun dari mobil, ia sudah siap dengan toga di luar kebaya.
"Coba Mama lihat." Renata menatap Aisyah lekat, memastikan pemampilan putrinya sempurna. "Kamu cantik sekali." Pujinya seraya memegang lengan Aisyah.
"Berkat Mama nya yang cantik."
Renata terkekeh mengusap kepala Aisyah, ia amat bangga terhadap Aisyah karena bisa mendapat gelar magister diusia muda.
"Mama sedih?" Aisyah melihat mama nya berkaca-kaca.
"Nggak." Renata menggeleng, bagaimana mungkin ia sedih dihari bahagia Aisyah.
"Mama sedih karena aku akan segera menikah?" Aisyah sempat mendengar Renata mengatakan hal tersebut pada salah satu ART kemarin. "Apa gelar magister nggak ada gunanya lagi buat aku?"
"Enggak Atalie, nggak ada pendidikan yang sia-sia, anak-anak kamu berhak memiliki Ibu terbaik seperti kamu."
Aisyah menepuk mama nya, ia mengucapkan terimakasih karena Renata mendukung apapun keputusannya.
"Jangan nangis nanti riasan mu luntur." Renata melepas pelukan.
"Kalau gitu aku gabung sama yang lain dulu." Aisyah melambaikan tangan pada Daniel dan Jaya yang juga turun dari mobil.
Mas Umar bisa datang setelah acara selesai.
Aisyah mengirim pesan pada Umar sebelum ia bergabung dengan barisan wisudawan lainnya di depan aula berdasarkan prodi mereka. Aisyah menjadi wisudawan termuda di angkatannya, sayang sekali ia belum cukup mengenal teman-temannya. Selama ini Aisyah kurang berinteraksi dengan mereka. Ketika Aisyah mencoba membuka diri ternyata waktunya sudah habis.
"Aisyah, kamu cantik banget hari ini." Tio spontan melontarkan pujian ketika melihat Aisyah datang.
Aisyah tersenyum hambar merasa risih dengan pujian itu, baik dulu maupun sekarang ia tidak nyaman mendapat pujian terutama dari orang yang tidak terlalu ia kenal. Mungkin jika Umar yang memujinya, perasaan Aisyah akan berbeda. Namun Aisyah tidak berani berharap, Umar tak akan melakukan itu. Memandang wajahnya saja Umar tidak pernah. Namun sekarang Aisyah mengerti kenapa Umar tak pernah menatap wajahnya saat bicara. Setelah belajar Islam, Aisyah mulai mengerti tindakan-tindakan Umar padanya.
"Aisyah,"
Aisyah memutar kepala mendengar namanya dipanggil. Mata melebar melihat Umar melangkah ke arahnya, ia baru saja mengirim pesan agar Umar datang setelah wisudanya selesai tapi lelaki itu sudah disini.
"Bapak disini?" Aisyah gelagapan, rasanya aneh memanggil Umar dengan sebutan bapak tapi ia harus menyesuaikan panggilan itu tergantung tempatnya.
Umar terkekeh mendengar Aisyah memanggilnya bapak tapi mengingat mereka sedang berada di kampus maka ia bisa mengerti.
"Saya sendiri kok, nanti yang lain nyusul." Ujar Umar seolah mengerti pikiran Aisyah.
"Siapa yang akan datang?" Aisyah menanyakannya sekali lagi, ia harus menyiapkan diri dari sekarang.
"Abah dan Ummi, mungkin Mas Khalid dan Mbak Khawla juga ikut."
__ADS_1
"Aku malu."
"Kenapa malu, kamu sudah sering bertemu mereka."
Aisyah membenarkan kalimat Umar tapi tetap saja ia gugup membayangkan pertemuan itu.
"Saya akan memberi selamat lebih awal." Umar sengaja datang lebih pagi untuk melihat Aisyah sebelum masuk ke auditorium.
"Terimakasih Pak, saya berharap bisa berjabat tangan dengan anda."
"Setelah akad." Bisik Umar.
Aisyah tertawa, setelah akad tentu tak hanya jabat tangan yang bisa mereka lakukan. Mereka bisa melakukan hal lain seperti berciuman, pikiran Aisyah jadi kemana-mana.
"Saya mau menemui Pak Jaya dan Ibu Renata dulu."
"Iya." Aisyah mengangguk melihat Umar membalikkan badan, "eh Pak."
"Ya?"
"Aku hari ini cantik nggak?"
"Nggak."
Senyum Aisyah memudar, kalaupun ia tidak cantik Umar bisa berbohong dengan mengatakan dirinya cantik. Setidaknya itu bisa membuat Aisyah senang.
"Kamu cantik setiap hari bukan cuma hari ini."
Kini Aisyah tidak bisa menahan senyumnya lagi, ia dibuat melayang hanya dengan kalimat pendek itu. Kupu-kupu beterbangan memenuhi perut Aisyah lalu keluar mengelilinginya. Kupu-kupu imajiner yang pasti ada setiap kali Aisyah bertemu Umar.
"Saya tunggu disini sampai kamu keluar."
Aisyah mengangguk kaku, sebenarnya ia ingin mengatakan bahwa Umar tidak perlu menunggunya karena prosesi wisuda akan berlangsung lama. Namun tak ada kalimat yang berhasil keluar dari mulut Aisyah, ia masih terperangah karena Umar memujinya barusan.
"Aisyah, ayo." Tegur salah seorang teman Aisyah, mereka sudah harus masuk ke auditorium kampus untuk memulai prosesi wisuda.
"Aku masuk dulu." Aisyah tersenyum sekilas sebelum melangkah masuk bersama wisudawan lainnya.
Umar memperhatikan punggung Aisyah semakin menjauh lalu tak terlihat tertutup oleh mahasiswa lain. Ia berbalik menyapa Jaya dan Renata yang juga hendak masuk ke auditorium.
"Tidak Pak, biar saya menemani Daniel disini."
"Terimakasih ya." Jaya menepuk bahu Umar dua kali. Mereka segera menyusul masuk ke auditorium sedangkan Umar menghampiri Daniel yang bersandar pada mobil sambil memainkan ponselnya.
"Rencana kamu apa setelah ini Daniel?"
"Aku mau lanjut ke kedokteran hewan UNAIR Mas, Papa juga udah setuju."
"Jurusan yang bagus."
"Sepertinya ini berkat Mas Umar juga yang sudah melembutkan hati Papa, awalnya dia sama sekali nggak setuju kalau aku masuk kedokteran hewan."
"Itu karena usahamu meyakinkan Pak Jaya."
Daniel tertawa, sekarang ia tahu kenapa Aisyah mencintai Umar. Sifat rendah hati Umar pasti menjadi salah satu alasan Aisyah jatuh hati padanya.
******
Rapat terbuka senat wisuda tahun 2015 diawali dengan pertunjukan tari Gandrung yang diiringi oleh gamelan. Lalu sambutan oleh ketua dan anggota senat.
Tidak terasa dua tahun Aisyah belajar di kampus ini, seperti niat awalnya untuk menyandang gelar magister, Aisyah akan segera mendapatkannya sebentar lagi. Bonusnya adalah mendapatkan dua teman baru yakni Ayana dan Khanza.
"Lulusan IPK tertinggi program studi manajemen, Atalie Alindra Master in Business Administration putri Bapak Jaya Alindra dan Ibu Renata Alindra IPK 4,00 predikat dengan pujian."
Jaya dan Renata menatap bangga pada Aisyah yang sudah berusaha keras demi mendapatkan nilai sempurna. Sejak kecil mereka mengajarkan Aisyah untuk menduduki peringkat satu di sekolah. Renata pikir membekali Aisyah untuk selalu menjadi juara sudah cukup bagi kehidupannya, tapi ia salah. Renata merasa belum menjadi ibu yang baik untuk Aisyah. Sebentar lagi Aisyah akan menikah dan ia belum tahu apa-apa soal pernikahan. Renata berharap Umar bisa sabar mengajari Aisyah sesuatu yang belum sempat ia berikan.
Aisyah melangkah lebar ke depan, senyumnya mengembang lembar sedangkan matanya berkaca-kaca. Perasaannya campur aduk antara bangga, bahagia dan sedih karena ia masih ingin mengenal banyak orang disini. Selama ini Aisyah terlalu fokus pada satu hal dan mengabaikan interaksi dengan teman-temannya. Ia ingin menjadi orang yang lebih terbuka dan melihat ke sekelilingnya. Betapa ada banyak hal yang juga menarik untuk ia ketahui.
Ini adalah tahun paling berkesan untuk Aisyah karena ia mendapat gelar magister dan terlahir sebagai manusia yang baru. Aisyah mantap memeluk Islam setelah bergumul dengan kegelisahan dan penuh tanya. Namun Allah memberinya kemudahan untuk melangkah mendekat. Allah hadirkan Umar dan orang-orang baik di sekitar Aisyah. Tahun ini juga ia menemukan cinta pertamanya. Cinta pertama yang akan menjadi satu-satunya untuk Aisyah.
Matahari sudah meninggi ketika Aisyah keluar dari auditorium, ia menarik napas dalam dan mengedarkan pandangan seolah sedang mengucapkan salam perpisahan pada kampus yang tidak terlalu luas ini. Sekolahnya di Hangzhou empat kali lebih luas dibandingkan disini. Namun bedanya Hangzhou tidak memiliki dosen bernama Umar di dalamnya. Itu sebabnya universitas ini istimewa walaupun Aisyah tak pernah mendapat kesempatan untuk mengikuti kelas Umar.
__ADS_1
"Itu keluarga Umar dan teman-teman mu." Renata menyentuh pundak Aisyah dari samping.
Aisyah mengikuti arah pandang Renata, ia melihat Umar dan keluarganya serta Gracia, Ayana dan Khanza. Mereka hadir untuk ikut merasakan kebahagiaan Aisyah hari ini.
"Calon menantu Ibu cantik sekali." Ujar Khawla ketika Aisyah melangkah menghampiri mereka dengan senyum lebar.
"Ummi." Aisyah mencium punggung tangan Maryam.
"Selamat ya Aisyah." Maryam memeluk Aisyah dengan sayang, meskipun baru mengenal beberapa bulan ini tapi ia sudah menganggap Aisyah seperti anaknya sendiri. Bukan karena sebentar lagi Aisyah akan menikah dengan Umar tapi sejak awal Maryam memang menyukai kepribadian Aisyah.
"Terimakasih Ummi."
Mereka memberi selamat atas kelulusan Aisyah, mereka juga memuji IPK yang Aisyah dapat dengan sempurna.
"Atalie, selamat ya akhirnya kamu bener-bener melangkah jauh dibanding aku." Gracia memeluk Aisyah, mereka adalah teman sebaya tapi ia jauh tertinggal dari Aisyah yang sudah berhasil mendapat gelar magister.
"Lambat nggak apa-apa, asal langkah yang kamu ambil ini atas keinginan mu sendiri."
"Kita akan sukses di jalan yang berbeda tapi akan selalu terhubung." Gracia mengurai pelukan menatap Aisyah lekat.
"Xie-Xie udah jadi sahabat paling baik yang mau dengerin umpatan mulut kurang ajar ku."
"Aku serahin tugas itu sama Pak Umar sekarang." Gracia melirik ke kanan dan kiri mencari keberadaan Umar, ia tidak melihatnya sejak sampai di halaman kampus.
"Dia sudah begitu."
"Maksudmu?" Gracia mengerutkan kening.
"Dia sering memergoki ku mengumpat di depan umum, dia ngerti walaupun aku pakai bahasa Mandarin." Bisik Aisyah.
Gracia mentertawakan Aisyah, anehnya Umar tetap memilih Aisyah meskipun tahu ia jagonya mengumpat.
"Aisyah, aku masih nggak tahu kenapa keluarga Gus Umar ada disini." Ayana menyerahkan buket bunga pada Aisyah.
"Aku nggak nyangka kalian seakrab itu." Tambah Khanza.
Mereka terkejut dan tak percaya melihat keberadaan keluarga Umar disini. Keluarga pengasuh pondok pesantren yang selalu mereka bicarakan setiap ada kesempatan.
"Terimakasih ya." Aisyah menerima buket bunga segar itu dengan senyum bermekaran.
"Sampai kapan kamu bakal sembunyiin ini dari aku dan Khanza."
"Maksud kalian apa?" Aisyah baru menyadari raut Ayana dan Khanza tampak kesal atau bahkan marah.
"Perempuan yang akan menikah dengan Gus Umar itu kamu kan?"
"Aku nggak bermaksud menyembunyikan ini dari kalian." Aisyah sudah berniat memberitahu Ayana dan Khanza saat mereka makan bersama waktu itu. Namun karena mereka telanjur memuji Hilya, Aisyah urung melakukannya.
"Aisyah, sebenarnya kamu anggap kami ini apa, atau jangan-jangan selama ini yang anggap kamu teman itu cuma aku dan Ayana sedangkan aku enggak."
"Khanza, bukan gitu." Aisyah menggeleng kuat, ia tidak mudah akrab dengan orang lain tapi bersama Ayana dan Khanza ia bisa berteman dekat. "Kalian amat berarti untuk hidup ku."
"Terus kenapa hal sepenting ini kamu nggak ngasih tahu." Ayana kesal karena Aisyah terlalu tertutup padahal ia dan Khanza juga yang telah mengenalkan Aisyah pada Umar. "Kamu menikmati kebodohan ku sama Khanza kan setiap kali kita cerita soal Gus Umar."
"Kalian udah berpikir terlalu jauh, demi Allah aku nggak berniat menyembunyikan hal ini dari kamu dan Khanza, aku minta maaf." Aisyah memegang tangan Ayana, harusnya ia memberitahu mereka lebih awal agar tidak terjadi kesalahpahaman seperti ini.
Ayana melepas pegangan Aisyah, ia menarik Khanza agar segera pergi dari sana. Mereka berniat menyaksikan kebahagiaan Aisyah tapi saat itu juga keduanya tidak sengaja mendengarkan percakapan Khawla dan Maryam yang menyebut Aisyah sebagai calon menantu.
"Ayana, tunggu." Aisyah hendak mengejar Ayana dan Khanza tapi Gracia menahannya.
"Ada keluarga Pak Umar, jangan tinggalin mereka." Bisik Gracia.
"Gracia, kamu tahu kan aku nggak bermaksud menyembunyikan apapun dari mereka." Air mata Aisyah meleleh tak tertahan, ia tidak mau ada kesalahpahaman antara mereka. Aisyah harus segera meluruskannya.
"Aku tahu." Gracia menarik Aisyah ke dalam pelukannya. Bukankah seharusnya Aisyah yang kesal karena mereka telah memuji Hilya di depannya.
Aisyah mengusap pipinya yang basah, harusnya ia tidak menangis dan membuat suasana menjadi tidak nyaman. Aisyah mencoba menekan emosinya dan mengukir senyum, setidaknya ia harus terlihat baik-baik saja di depan Umar dan keluarganya walaupun mereka sudah melihat semuanya.
"Harusnya mereka ikut bahagia bukannya marah." Khawla menghampiri Aisyah, "jangan menangis, ini hari bahagia mu Aisyah."
Aisyah mengangguk samar berterimakasih atas pengertian Khawla.
__ADS_1