
"Ning Hilya sakit, kami akan menjenguknya hari ini, kamu ikut nggak?"
Umar menggeleng menjawab pertanyaan Maryam. Wajah Umar datar dan tetap fokus menikmati sarapannya. Tumis kangkung dan tempe goreng buatan santri yang selalu enak karena mereka memasaknya dengan tulus.
Umar berencana memeriksa persiapan gedung pernikahannya, ia tidak mungkin ikut menjenguk Hilya ketika hubungan mereka sudah tak seperti dulu lagi. Umar bukannya mau memutus tali silaturahim, ia hanya tidak ingin ada kesalahpahaman di antara mereka.
"Dia masuk rumah sakit, yakin kamu nggak mau ikut?" Tanya Maryam sekali lagi.
"Nggak Ummi." Umar tidak ingin bertemu Hilya sebelum ia dan Aisyah menikah.
"Khalid akan menemani Umar, Mi." Sahut Khalid, ia tidak mau membiarkan adiknya yang pemalu itu pergi sendiri. Meski sudah berkepala tiga tapi Umar tidak punya pengalaman soal itu, jadi Khalid harus menemaninya.
"Baiklah, Ummi dan Abah akan pergi bersama Khawla juga."
Undangan telah disebar, sebagian besar tamu undangan adalah kerabat keluarga Umar sedangkan sisanya berasal dari kerabat keluarga Aisyah, tidak banyak yang Aisyah undang karena ia tak memiliki banyak teman.
Persiapan pernikahan sudah sekitar 80 persen, disela itu juga Aisyah menyiapkan grand opening butik miliknya. Bernama Butik Muslimah, Aisyah akan memulai bisnis pakaian yang menjadi impiannya sejak kecil. Itu akan dibuka besok, berlokasi di wilayah strategis pinggiran kota Banyuwangi.
"Mas tahu nggak Ning Hilya sakit apa?" Umar bertanya ketika mereka dalam perjalanan menuju gedung resepsi pernikahan. Akad akan dilangsungkan di masjid yang letaknya berdampingan dengan gedung resepsi.
"Demam berdarah, kamu nggak perlu mengkhawatirkan soal itu, doakan saja untuk kesembuhan Ning Hilya."
Umar terdiam, ada rasa bersalah yang merayap ke dalam hatinya setelah mendengar bahwa Hilya harus dirawat di rumah sakit, itu artinya sakitnya cukup serius. Seperti kata Khalid, Umar hanya bisa mendoakan kesembuhan Hilya.
"Apa kamu berharap Ning Hilya datang ke pernikahan mu?"
"Aku nggak berharap Ning Hilya datang Mas, dia sudah luar biasa karena bisa mengikhlaskan semua ini."
__ADS_1
"Ning Hilya dibesarkan dengan baik, pasti sangat berat untuknya karena kamu membatalkan perjodohan itu tapi lebih menyakitkan jika dilanjutkan, keputusan mu sudah tepat Umar."
Kalimat Khalid membuat Umar sedikit tenang. Umar akan membuktikan pada Zaid jika keputusannya tidak salah. Umar tak akan pernah salah memilih. Sejak pertama kali melihat Aisyah, Umar merasa gadis itu istimewa. Gadis yang minta dikenalkan dengan Aisyah itu.
Ballroom hotel Surya akan menjadi tempat berlangsungnya resepsi pernikahan. Itu atas permintaan Jaya dan Renata yang sudah disetujui oleh Maryam. Sedangkan Zaid tidak banyak berkomentar, ia membiarkan semuanya berjalan semestinya. Membiarkan Umar mengatur semua persiapan, Zaid tidak terlalu peduli.
Semua tampak sibuk saat Umar dan Khalid sampai. Mereka mengatur pelaminan, kursi-kursi untuk para tamu, hiasan bunga, lampu-lampu kristal yang semuanya berwarna putih.
"Aku nggak tahu apakah ini seusai dengan keinginan Aisyah, tapi semuanya sudah diatur Ibu Renata, beliau orangnya perfeksionis Mas."
"Mas tahu, salah satu tim dekor mengeluh karena Bu Renata berkali-kali meminta mereka mengganti alas makan di meja."
"Mas juga dengar soal itu?"
"Tentu saja, Bu Renata menyebut alas makan harus bermotif burung merpati karena katanya itu lambang kesetiaan."
Umar menahan tawa, ia yakin Aisyah tak terlalu rewel soal itu. Renata lah yang membuat persiapan ini menjadi lebih ribet.
"Aku juga berpikir begitu Mas tapi Bu Renata justru mengatakan kalau ini sudah sangat sederhana, rupanya sederhana menurut kita dan Bu Renata sangat berbeda."
"Tapi calon istrimu sederhana."
"Sebenarnya nggak se-sederhana itu Mas, aku tahu harga sepatunya setara dengan gajiku satu bulan mengajar di dua kampus."
"Kamu harus banyak bersabar setelah menikah." Khalid menepuk bahu Umar sebelum melangkah menuju kerumunan tim dekor yang mengangkat kardus besar di tengah ruangan.
Mungkin saja bagi Aisyah sepatu seharga 2 jutaan itu adalah sesuatu yang sederhana berbeda dengan Umar, itu bisa untuk membeli bibit, pupuk dan segala macam keperluan serta ditabung. Mereka bagai dua manusia yang hidup di dunia berbeda. Namun selama mereka memiliki satu tujuan yang sama, bagi Umar tak masalah jika mereka berasal dari keluarga yang amat berbeda. Tujuan itu adalah meraih cinta dan ridho Allah, tujuan utama manusia diciptakan.
__ADS_1
*******
Matahari baru terbit di ufuk timur, sinarnya menyiram kebun belakang rumah Umar yang tampak subur. Bibit sawi dan tomat mulai tumbuh setelah Umar menyemai nya seminggu yang lalu.
Umar duduk di gazebo tersenyum memperhatikan kebunnya. Ia bertanya-tanya apakah dirinya masih tinggal disini saat sawi dan tomat nya tumbuh dan siap panen nanti.
Umar sudah mencari rumah dekat sini. Ia dan Aisyah memang belum membahas soal tempat tinggal tapi Umar ingin memberikan yang terbaik untuk istrinya nanti. Umar tidak bilang rumah ini tidak baik, justru ini tempat yang paling nyaman untuknya. Namun belum tentu Aisyah juga merasa demikian.
"Umar." Maryam datang membawa teh hangat dan meletakkannya di samping Umar lalu ia ikut duduk di gazebo. Ia juga melihat hamparan kangkung yang tumbuh subur, mungkin nanti siang mereka akan memasak kangkung.
"Iya Ummi?" Umar tersenyum lembut berterimakasih karena Maryam membawa teh untuknya.
"Hari ini sempatkan datang ke rumah sakit tempat Hilya dirawat."
"Tapi Ummi, Aisyah akan membuka butiknya, dia sudah meminta Umar datang sejak jauh-jauh hari."
"Kondisi Hilya parah, dia berada di ruang ICU. Saat kami datang, dia bahkan tidak membuka matanya."
Umar tertegun, apakah separah itu. Padahal Umar pikir itu hanya demam berdarah, setelah dirawat beberapa hari Hilya akan segera pulang seperti dirinya dulu saat terserang penyakit serupa.
"Datanglah sebelum terlambat dan minta maaf padanya."
"Kenapa Ummi bilang begitu?" Umar tidak mau berpikiran buruk mengenai keadaan Hilya. Ia berdoa agar penyakit Hilya diangkat oleh Allah.
"Kamu akan tahu setelah menjenguknya."
"Apakah Kyai Abizar mau menerima kedatangan Umar, Mi?"
__ADS_1
"Tentu saja, Ummi dan Abah sangat mengenal mereka, sedikitpun mereka tidak menyimpan dendam."
"Baiklah Ummi." Kata Umar patuh, ia hampir tidak pernah menolak permintaan Maryam dan Zaid. Menikah dengan Aisyah adalah satu-satunya keputusan Umar yang paling berani. Umar juga ingin melihat kondisi Hilya dan meminta maaf pada gadis itu. Pernikahannya dengan Aisyah tinggal menghitung hari dan itu membuat Umar semakin gugup serta merasa bersalah dalam satu waktu. Mungkin meminta maaf pada Hilya, akan membuat perasaan Umar lebih baik.