Gema Syahadat Aisyah

Gema Syahadat Aisyah
Ujian Sebelum Menikah


__ADS_3

Disela kesibukannya mengurus persiapan wisuda dan persiapan pernikahan, Aisyah menyempatkan diri bertemu dengan sahabatnya sekaligus mencari tempat untuk butiknya. Tiga sahabat Aisyah juga bersedia membantu mencari tempat untuk dijadikan butik Aisyah nanti. Awalnya Aisyah tidak serius dengan impiannya memiliki butik karena pada akhirnya ia harus bekerja di kantor papa nya. Namun sekarang Jaya telah memberi kebebasan maka Aisyah mencoba serius dengan impiannya tersebut. Sebenarnya Aisyah sedih karena tidak dapat memenuhi keinginan orangtuanya untuk meneruskan bisnis yang sudah dibangun dengan susah payah tapi ia tak punya pilihan. Aisyah sudah tidak berhak untuk ikut terjun ke bisnis papa nya, ia harus memulai bisnisnya sendiri.


Mereka menemukan beberapa tempat yang cocok untuk butik Aisyah setelah berkeliling Banyuwangi sejak pagi. Aisyah masih harus meminta pendapat papa dan mama nya yang lebih berpengalaman soal ini.


Ketika adzan terdengar mereka berhenti di masjid untuk mendirikan shalat dhuhur. Setelahnya barulah mereka pergi ke restoran untuk makan siang. Aisyah mentraktir tiga sahabatnya sebagai ungkapan terimakasih karena mereka telah membantunya.


"Boleh pesen yang mahal nggak?" Khanza membolak-balik buku menu.


"Boleh." Aisyah dengan senang hati memperbolehkan mereka memesan menu apapun, lagi pula itu bukan restoran mewah, menu-menu yang disediakan juga tidak terlalu mahal.


"Aku rekomendasikan udang bakar madu mereka, itu salah satu best seller disini." Gracia menunjuk salah satu menu.


"Garlic Chicken juga enak." Aisyah menambahkan.


"Ya udah kita pesen itu aja."


Aisyah mengangkat tangan memanggil waiter lalu menyebutkan pesanan. Mereka memilih Lemon Tea untuk minumannya, pas dengan cuaca panas hari ini.


"Gracia mau lanjut S2 setelah ini?" Tanya Ayana pada Gracia.


"Rencananya aku akan ambil fashion design di Semarang."


"Aku iri sama kamu." Timpal Aisyah, sayang sekali ia tidak bisa kuliah di jurusan desain. Ia hanya berkutat dengan Akuntansi, Financial Planner, Ekonomi, Hukum Bisnis, Keuangan dan semua hal yang penuh dengan angka. Aisyah tidak bisa melihat keindahan di jurusannya.


"Justru kamu lari duluan, aku baru mau mulai."


Obrolan mereka terhenti sejenak ketika waiter mengantar pesanan ke meja. Sepiring besar udang dengan balutan bumbu masih mengepulkan asap benar-benar menggoda selera ditambah ayam bertabur bawang putih dan nasi hangat. Itu sempurna untuk mengakhiri pertemuan mereka hari ini.


"Aku denger-denger lamaran Ustadz Umar dan Ning Hilya batal." Ayana bersuara, ia selalu punya informasi terkini tentang Umar yang menjadi idolanya sejak lama. Tak hanya dirinya tapi hampir semua orang yang biasa hadir di kajian pasti mengidolakan Umar. Penyampaian Umar yang lembut dan mudah dipahami membuat kajiannya terasa menyenangkan bonus wajah tampan yang dimilikinya. "Dia mau menikahi gadis lain katanya." Tambahnya.


"Oh ya?" Khanza menyahut, itu adalah berita yang mengejutkan karena semua orang sudah mengetahui perjodohan Umar dan Hilya. Mereka akan menjadi pasangan paling serasi, sama-sama anak pengasuh pondok pesantren dan penghafal Al-Qur'an. "Padahal mereka serasi banget."


Aisyah terbatuk-batuk mendengar itu, ia segera meraih lemon tea miliknya dan meminumnya hingga tersisa setengah gelas. Matanya berair begitupun dengan hidungnya. Itu terdengar menyakitkan tapi mereka tidak salah, Umar dan Hilya memang serasi, Aisyah juga mengakui itu.


"Atalie, are you okay?" Gracia menyentuh pundak Aisyah.


Aisyah menggeleng pelan, ia kehilangan selera makan segera setelah mendengar ucapan Ayana dan Khanza. Padahal Aisyah berencana memberitahu mereka tentang lamaran Umar beberapa waktu lalu. Namun sekarang bagaimana cara Aisyah memberitahu mereka.


"Siapa gadis itu?" Tanya Khanza setelah batuk Aisyah reda.

__ADS_1


"Pasti nggak lebih baik dari Ning Hilya."


"Kenapa gitu?"


"Memangnya ada yang lebih baik dari Ning Hilya, cantik, sholehah, hafal Al-Qur'an, penerus pondok pesantren, aku bilang cantik karena pernah ketemu waktu beliau belum pakai cadar."


Aisyah makin ciut, ia dipenuhi bunga sejak Umar melamarnya waktu itu tapi kini bunga itu telah layu. Bunga layu yang membuat dada Aisyah teramat sesak, sakit tapi ia tidak bisa menangis setidaknya di depan sahabatnya.


"Aisyah juga waktu itu pernah ketemu Ning Hilya kan?" Ayana melihat Aisyah yang dari tadi terdiam.


"Iya." Suara Aisyah parau. Ia melirik ponselnya ketika layarnya menyala menampilkan nama Mas Umar bersama sebuah pesan singkat.


Aisyah dimana, Ummi membuat banyak rujak soto dan memintaku mengantarnya ke rumah mu supaya kamu bisa ikut mencicipinya.


Aisyah meraih ponselnya dan mengetik balasan untuk Umar.


Masakan Ummi pasti enak tapi sekarang aku lagi makan di luar.


Aku hampir sampai.


Aisyah segera beranjak dari kursinya setelah membaca pesan Umar. Ia tak mau membuat Umar menunggunya.


"Yah kok tiba-tiba pulang?" Khanza, Ayana dan Gracia melihat kepergian Aisyah. Mereka bingung karena Aisyah tiba-tiba pergi setelah membaca pesan di ponselnya. Mereka sempat mengucapkan terimakasih entah Aisyah mendengarnya atau tidak.


Aisyah mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi melewati jalanan yang cukup ramai siang itu. Ucapan Khanza masih terngiang di telinga Aisyah, terdengar berulang-ulang membuat Aisyah ingin marah. Tapi pada siapa ia akan marah karena kalimat Khanza itu tidak salah.


Dari kejauhan Aisyah melihat Umar dan seorang lelaki di depan rumahnya. Rupanya Umar tidak datang sendiri. Setelah semakin dekat Aisyah mengetahui bahwa itu adalah salah satu santri di pondok pesantren Adz-Zaidan, ia beberapa kali pernah melihatnya saat dirinya masih berada di pondok.


"Maaf Mas, aku dari luar." Aisyah turun dari mobilnya, "kok nggak masuk?" Ia melihat Umar memegang wadah makanan yang dibungkus kantong plastik.


"Saya cuma mau ngasih ini." Umar menyodorkan wadah makanan yang ia bawa pada Aisyah.


Aisyah tersenyum, apakah makanan itu menandakan bahwa Maryam telah memberinya restu untuk menikah dengan Umar. Aisyah harap begitu. Aisyah tidak peduli berapa banyak orang yang menentang hubungannya dengan Umar asal orangtua mereka merestui maka ia tak akan menyerah.


"Terimakasih banyak, sampaikan juga pada Ummi."


"Kamu nangis?"


"Hm?" Aisyah spontan mengusap matanya, ia memang menangis saat perjalanan kesini dari restoran. Hanya saja setelah melihat Umar, Aisyah kembali meyakinkan diri bahwa ia adalah gadis yang dipilih oleh Umar. Tak ada yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan. "Enggak."

__ADS_1


Umar tahu Aisyah berbohong karena ia bisa melihat jejak air mata di wajah gadis itu.


"Dengan siapa kamu makan di luar?" Umar membaca pesan Aisyah tepat ketika ia sampai, Aisyah mengatakan jika ia sedang makan di luar.


"Sama Gracia, Ayana dan Khanza."


"Aisyah, ujian menjelang pernikahan itu memang berat tapi aku harap kamu kuat menghadapinya, kamu nggak sendiri."


Senyum Aisyah perlahan terbit, seperti sumber mata air—kalimat Umar membuat bunga Aisyah yang semula layu kini kembali segar.


"Gimana dengan Mas Umar, pasti nggak mudah juga buat kamu."


"Kenapa bilang begitu, ini sama sekali nggak sulit saya justru sangat bersyukur."


Lihatlah Aisyah, memang nggak ada yang perlu kamu khawatirkan. Kamu memang pantas menikah dengan Umar.


"Aisyah kalau ada sesuatu jangan sungkan untuk membicarakan dengan saya." Umar tahu Aisyah tidak mudah berbagi cerita dengan orang lain tapi ia ingin menjadi tempat paling nyaman dan pendengar yang baik untuk Aisyah.


"Iya, Mas Umar masuk dulu yuk." Ajak Aisyah, ia juga sudah tidak tahan memegang wadah panas di tangannya.


"Nggak usah, saya cuma mau ngantar makanan itu, kamu belum pernah makan rujak soto kan?"


"Belum pernah." Aisyah bahkan baru mendengar nama makanan itu, ia tidak tahu jika rujak dan soto bisa disatukan dalam wadah yang sama.


"Semoga kamu suka."


"Pasti suka." Aisyah yakin jika masakan Maryam pasti enak, jenis rumput yang dimasak saja Aisyah menyukainya, maksudnya rumput bernama genjer.


"Kalau gitu, saya permisi dulu."


"Hati-hati di jalan, terimakasih sekali lagi." Aisyah mengulas senyum pada Umar.


Umar mengucapkan salam setelah naik ke sepeda motor.


"Pak, tolong masukin mobilnya ya." Pinta Aisyah pada satpam yang sedia berjaga di pos dekat gerbang. Ia tidak sabar mencicipi rujak soto tersebut bersama Daniel dan mama nya.



Aisyah dan Gracia

__ADS_1


__ADS_2