Gema Syahadat Aisyah

Gema Syahadat Aisyah
Bicara Perasaan


__ADS_3

Untuk pertama kalinya Aisyah membantu memasak di rumahnya hingga para ART dibuat melongo. Aisyah yang mereka kenal bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di dapur tapi kini ia mau membantu mencuci sayuran dan memotongnya sekaligus tanpa diminta.


Renata tidak kalah heran tapi ia membiarkan saja Aisyah melakukan itu. Ia menyadari bahwa selama ini Aisyah tidak pernah pergi ke dapur dan sama sekali tidak bisa memasak.


Selama beberapa hari ini Aisyah fokus merawat mama nya. Kini Renata sudah mulai membaik apalagi setelah Aisyah kembali ke rumah.


"Ini sawi ya Bi?" Aisyah mengacungkan sayuran hijau mirip sawi di tangannya.


"Itu kale, Bu Renata minta jus kale, memang mirip sawi tapi sebenarnya beda Ci."


Aisyah manggut-manggut meletakkan kale pada keranjang setelah mencucinya. Ia memberikan kale pada bibi ART untuk dibuat jus.


Ada seorang juru masak dan dua ART yang membantu di dapur sementara Aisyah melakukan pekerjaan ringan seperti mengeluarkan sayur dari kulkas dan mencucinya. Aisyah belum berani dekat-dekat dengan penggorengan meskipun luka di tangannya sudah sepenuhnya sembuh bahkan tidak terlihat bekas sedikitpun.


"Bibi tahu nggak, ada sayur namanya genjer." Aisyah mendekati Mareta—salah satu ART yang tengah membuat jus untuk Renata.


"Tahu dong Ci, Bibi sering makan." Balas Mareta.


"Tapi Bibi nggak pernah masak genjer buat aku atau yang lain."


"Ibu dan Bapak tidak akan mau makan genjer apalagi anak muda seperti Cici dan Ko Daniel, beberapa orang bilang rasanya pahit."


"Genjer enak lho." Aisyah mencoba sayur bernama genjer untuk pertama kalinya saat berada di pondok pesantren. Para santri mendapatkan sayur itu di sawah yang padinya baru dipanen. Katanya genjer tumbuh liar di sawah. Aisyah sendiri baru tahu jika ada sayur yang tumbuh di sawah dan bisa dimakan.


"Ci Atalie suka?" Ternyata Aisyah banyak mendapatkan hal baru selama satu bulan ini termasuk berbagai jenis sayuran.


"Suka."


"Kalau gitu besok Bibi beli genjer di pasar untuk Cici."


Aisyah memindahkan makanan yang sudah siap disajikan ke meja makan lalu segera memanggil papa dan mama nya yang berada di ruang ibadah.


Mereka berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Itu adalah waktu dimana mereka bisa berkumpul bersama sebelum menjalani rutinitas masing-masing di luar rumah. Saat malam pun mereka belum tentu bisa makan bersama karena Jaya sering pulang larut.


"Aneh banget lihat Kakak pakai jilbab, nggak gerah?" Daniel masih belum terbiasa melihat kakak nya berpakaian serba tertutup.


"Gerah." Aisyah mengusap keringat di keningnya lalu menunjukkan nya pada Daniel. Sampai sekarang Aisyah masih belajar untuk selalu mengenakan jilbab meskipun di rumah, itu cukup sulit apalagi saat beraktivitas di dapur.


"Memangnya di rumah harus pakai juga?" Tanya Renata.


"Nggak harus Ma karena di rumah cuma ada kalian tapi aku mau membiasakan diri." Jawab Aisyah.


"Mari berdoa." Jaya memimpin doa, mengucapkan terimakasih pada Tuhan yang telah melimpahkan rezeki kepada keluarga mereka.


"Makan lebih banyak." Renata menambahkan potongan daging ayam pada salad Aisyah.


"Ma, aku nggak mau sarapan terlalu banyak." Aisyah tidak mau ketiduran saat bimbingan dengan dosen nanti jika makan terlalu banyak.


"Daniel, sekarang Papa cuma mengandalkan kamu." Jaya bersuara disela kunyahan nya.


"Iya Pa."


"Untuk Atalie, walaupun kamu sudah kembali tapi bukan berarti Papa akan memberikan fasilitas seperti dulu, kamu hanya boleh membawa mobil tapi Papa nggak akan kasih kartu kredit."


"Nggak masalah Pa, yang penting Papa bayar biaya kuliah ku."


"Papa sudah membayarnya sejak tahun lalu."


Aisyah belajar mengurangi hobi belanjanya dengan hanya membeli barang yang benar-benar ia butuhkan. Gaji translator cukup untuk kebutuhan mendesak. Selain itu Aisyah akan berhemat.


*******


Sejak Aisyah merubah penampilan, ia selalu menjadi pusat perhatian saat turun dari mobil. Ia merasa tidak nyaman dengan pandangan mereka tapi ia tidak bisa mengendalikan itu. Aisyah mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa lambat laut mereka akan terbiasa dan tidak lagi menatapnya seperti itu.


"Atalie, aku sekarang bisa ngenalin kamu cuma dari bau mu." Gracia muncul dari belakang mobil Atalie.


"Emang aku bau apa?"

__ADS_1


"Bau supermarket."


"Jangan aneh deh, mentang-mentang aku suka nongkrong disana." Aisyah tidak percaya dengan ucapan Gracia, tapi ia tetap mencium badannya sendiri.


"Mayoritas mahasiswi disini pakai jilbab jadi aku hampir nggak ngenalin kamu."


Aisyah tidak lagi menanggapi ucapan Gracia karena mereka dicegat Ayana dan Khanza ketika sampai di koridor menuju kelas.


"Wah bener-bener auranya beda banget ya setelah pakai jilbab." Khanza masih berceloteh soal penampilan Aisyah padahal ini bukan pertama kalinya ia melihat sahabatnya itu memakai jilbab.


"Anehnya kamu pantas lho pakai jilbab." Gracia ikut berkomentar.


Aisyah hanya terkekeh, Gracia tidak tahu berapa lama Aisyah berdiri di depan cermin untuk memastikan penampilannya sebelum pergi ke kampus.


"Eh katanya Ustadz Umar udah mengkhitbah Ning Hilya ya." Ayana menyahut dengan pembahasan lain, topik yang selalu menjadi favorit untuk diperbincangkan.


"Emang iya? katanya kalau khitbah itu harus diam-diam, kamu tahu dari mana?" Tanya Khanza, ia heran karena Ayana selalu mendapatkan berita terkini soal Umar.


"Tapi mereka cocok ya." Ayana menunjukkan foto Umar dan Hilya yang tampak buram. Namun karena mengenal Umar dengan baik, mereka mengetahui bahwa di foto itu memang Umar.


Aisyah tersenyum getir, meski sudah tahu jika Umar dan Hilya hendak lamaran tapi setelah mendengarnya tetap saja terasa menyakitkan. Anehnya hingga sekarang Aisyah tetap menyebutkan nama Umar dalam doanya. Aisyah menikmati waktunya berbicara pada Allah setelah shalat. Mengadukan semuanya pada sang pencipta. Rasa syukurnya karena telah dipilih untuk menjadi bagian dari Islam.


Meski demikian Aisyah tidak mau energinya terkuras hanya untuk memikirkan Umar, ia tetap menggunakan waktunya untuk hal-hal bermanfaat. Tak ada waktu untuk patah hati, Aisyah harus lulus tepat waktu.


"Aku pergi ketemu dosen dulu." Aisyah beranjak dari duduknya, ia memiliki jadwal bimbingan dengan dosen.


"Eh Atalie ya?"


Aisyah menoleh ke sumber suara, tampak Tio melangkah menghampirinya.


"Ya?" Sebenarnya Aisyah tidak ingin bicara dengan Tio atau siapapun yang tidak terlalu ia kenal. Namun Aisyah harus belajar lebih ramah pada orang lain.


"Jadi beneran kamu Atalie, kok bisa?" Tio menyapu pandangan dari ujung kaki sampai ujung kepala Aisyah.


Aisyah hanya mengulas senyum, ia sering melihat ekspresi seperti Tio, antara terkejut dan tidak percaya.


"Aku ikut senang." Tio merasa peluangnya untuk mendekati Aisyah semakin besar. "Semoga kamu Istiqomah."


Aisyah mengaminkan doa Tio dan mengucapkan terimakasih.


"Kamu mau kemana?"


"Ketemu Pak Beni."


"Ada bimbingan sama Pak Beni."


"Iya."


"Tesis kamu hampir selesai?"


Aisyah mengangguk, ia berharap bisa segera lulus dan memiliki perkejaan selain menjadi translator. Pekerjaan yang lebih menjanjikan mengingat kini Jaya lepas tangan pada Aisyah.


"Kalau gitu aku duluan." Aisyah melangkah lebih dulu meninggalkan Tio.


******


Sepulang kuliah, Aisyah pergi ke Mall tapi kali ini bukan untuk belanja melainkan mengamati jilbab-jilbab yang saat ini beredar di pasaran. Aisyah ingin memiliki produk jilbab nya sendiri seperti kata Umar bahwa suatu hari ia pasti menemukan gaya jilbab yang nyaman untuknya.


"Ada yang bisa saya bantu?" Seorang karyawan menghampiri Aisyah.


"Saya boleh lihat-lihat dulu?" Aisyah tidak enak jika karyawan itu terus mengikutinya padahal ia hanya ingin lihat-lihat.


"Tentu, anda boleh panggil saya jika butuh sesuatu."


"Baik, terimakasih." Aisyah melangkah ke bagian jilbab.


Ada berbagai jenis dan warna jilbab yang terpajang. Aisyah mengamati setiap bahan yang digunakan untuk jilbab itu.

__ADS_1


"Pasti panas kalau pakai jilbab ini." Aisyah bergumam sendiri, pada dasarnya untuk membuat jilbab harus menggunakan bahan yang nyaman. Namun harganya memang pasti jadi lebih mahal. Selain nyaman, kainnya juga tidak boleh transparan. Aisyah ingat saat Umar menegurnya karena mengenakan jilbab tipis yang tetap memperlihatkan rambutnya.


"Aku nggak akan peduli soal harga, kualitas jauh lebih penting."


Setelah puas berkeliling, Aisyah mengambil satu jilbab yang ia suka dan membayarnya ke kasir. Ia harus membeli setidaknya sepotong jilbab karena karyawan disana telah berbaik hati memberi izin dirinya untuk melihat-lihat.


Aisyah memutuskan pergi ke toko kain, ia ingin mencoba membuat satu jilbab dari kain yang ia pilih sendiri. Karena ia tertarik pada dunia fashion sejak SMP, maka tak hanya mengoleksi baju, ia juga meminta mama nya mendaftarkan kursus menjahit. Di rumah ia memiliki dua mesin jahit yang sudah lama tidak digunakan. Sekarang Aisyah akan mulai memakainya lagi.


"Beli kain untuk apa?"


"Eh Ma." Aisyah menghentikan langkah mendapati mama nya menyiram tanaman di taman depan. "Aku mau coba bikin jilbab setelah menyelesaikan tesis, Minggu depan mungkin aku punya waktu kosong.


"Bukannya Minggu depan kamu ada acara sama komunitas jemaat Immanuel."


Aisyah hampir saja lupa jika Minggu depan ia akan membagikan kebutuhan pokok di sekitar gereja sekaligus sebagai pertemuan terakhirnya bersama anggota komunitas tersebut. Mereka sudah mengetahui jika Aisyah menjadi mualaf tapi Aisyah diminta tetap datang, lagi pula itu hanya kegiatan berbagi sembako. Aisyah masih bisa mengikutinya.


"Kok Mama tahu?"


"Ada Felix itu di dalam, dia yang kasih tahu Mama."


"Felix di dalam?" Aisyah membelalak, kenapa mama nya baru memberitahu jika ada Felix disana. "Tapi dia—" Aisyah tidak pernah melihat Felix di Immanuel.


"Udah lah temuin dulu sana."


Aisyah berlari masuk ke rumah. Tampak Felix duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan ponsel sementara di sampingnya terdapat paper bag bertuliskan Felish. Apalagi yang Felix bawa kali ini, apakah ia tidak kapok bertemu Aisyah setelah yang ia lakukan waktu itu.


"Felix."


"Atalie, akhirnya kamu datang, aku udah dengar tentang kamu."


"Lalu ada apa kamu kesini?" Aisyah duduk di sofa.


"Aku diminta anak-anak bujuk kamu untuk ikut kegiatan."


"Aku akan ikut kok, nggak perlu dibujuk."


"Sekalian mau kasih ini." Felix menyodorkan paper bag pada Aisyah.


Ingin sekali Aisyah mengumpat dan berteriak pada Felix jika ia tidak mau menerima barang apapun dari lelaki itu. Namun Aisyah harus menahan amarahnya dan menelan berbagai umpatan yang sudah ada di ujung lidahnya.


"Ini apa?"


"Sampel produk Felish yang waktu itu aku kasih ke kamu, besok akan rilis di toko-toko resmi Felish."


"Selamat ya, terimakasih tapi kamu nggak perlu kasih aku apapun lagi."


"Ini yang terakhir, setelah ini aku akan merelakan kamu." Felix menatap Aisyah yang ini sudah tidak lagi seperti dulu, ia juga tak punya hak lagi untuk mendekati Aisyah. "Kamu juga pasti tahu kalau aku suka sama kamu."


"Jadi akhirnya kamu akan menyerah?"


"Ya, kita sudah berbeda."


"Itu adalah keputusan yang bijak, semoga kamu menemukan wanita baik di luar sana."


"Alih-alih wanita baik, aku lebih menginginkan bisnisku berkembang pesat."


"Apapun itu, kamu luar biasa bisa punya bisnis sendiri di usia muda."


"Terimakasih Atalie, aku nggak pernah nyesel pernah ngejar-ngejar kamu di masa lalu, kamu memang pantas dikejar, sayang sekali aku harus menyerah, semoga pilihan mu ini adalah yang terbaik untuk kamu."


Aisyah mengangguk samar, ia meminta maaf karena selama ini telah memperlakukan Felix dengan kurang baik.


"Aku harap kamu bisa kasih ulasan tentang produk Felish jadi aku bisa memperbaikinya."


"Oke, aku akan coba lalu kasih ulasan."


Felix pamit pada Aisyah dengan berat hati, walaupun itu bukan pertemuan terakhir mereka tapi setelah keluar dari rumah ini, Felix akan benar-benar merelakan perasannya dan menguburnya dalam-dalam.

__ADS_1



__ADS_2