Gema Syahadat Aisyah

Gema Syahadat Aisyah
Menghitung Jam


__ADS_3

Sejak siang tadi Aisyah bertanya-tanya mengapa Umar lebih memilih menjenguk Hilya dibandingkan datang ke pembukaan butiknya. Padahal sejak jauh hari Aisyah sudah memberitahu Umar bahwa itu hari yang sangat penting untuknya.


Selama ini Aisyah menenangkan dirinya sendiri dengan berkata bahwa ia dan Hilya memiliki kualitas diri dalam hal yang berbeda. Hilya unggul dalam hal menutup aurat, hafalan Al-Qur'an nya, garis keturunan, tutur katanya, ah semuanya sempurna. Namun Aisyah selalu mengatakan pada dirinya sendiri jika ia unggul dalam hal lain. Entah apa itu tapi Aisyah yakin Umar memilihnya karena hal tersebut. Dengan segala keraguan yang menyelimutinya, Aisyah tetap optimis bahwa ia pantas untuk Umar. Namun hari ini pikiran itu berubah, bukankah ia akan selalu jadi nomor dua. Aisyah tidak mau ada gelar nomor dalam dirinya.


Dalam hitungan jam hari pernikahan mereka akan tiba. Namun Aisyah masih diselimuti keraguan terhadap Umar.


Aisyah spontan menginjak rem melihat Umar berdiri di samping motornya di depan gerbang yang tertutup.


"Aisyah," Umar berjalan mendekat ke mobil Aisyah.


"Mas Umar kenapa disini?" Aisyah menurunkan kaca jendela.


"Tadi aku lihat butik mu sudah tutup jadi aku kesini tapi satpam bilang kamu belum pulang."


Tentu saja, Aisyah sengaja pulang lebih malam untuk menunggu Umar. Namun Aisyah tidak mau mengatakannya pada Umar.


"Maaf aku nggak datang ke acara pembukaan butik mu Aisyah."


Kenapa kamu nggak datang, apa menjenguk Hilya nggak bisa ditunda. Apa mampir sebentar aja nggak bisa? Mas Umar bahkan seharian berada di rumah sakit.


Aisyah hanya bisa melayangkan protes dalam hati, ia tidak mau berdebat dengan Umar lagi pula ia akan kalah.


"Apa kamu nggak bisa mampir sebentar tadi sebelum berangkat ke rumah sakit?"


"Aku berangkat lebih pagi."


"Dan baru pulang sekarang?"


Aisyah turun meminta satpam memasukkan mobilnya.


"Maaf Aisyah." Umar hanya bisa mengatakan maaf karena ia memang salah. Tadinya ia berangkat lebih pagi agar bisa datang sebelum butik Aisyah tutup tapi segalanya jadi tidak terduga. Hilya tiba-tiba kritis dan tidak sadarkan diri. Umar menunggu hingga Hilya siuman untuk pulang. Umar juga menenangkan Aminah yang tidak henti menangis karena kondisi Hilya terus menurun.


"Mas, aku tahu kalau aku akan selalu jadi nomor 2."


Umar tertegun, ia tidak pernah memberi label nomor pada Aisyah. Tidak pernah.


"Jangan pernah bilang begitu, kamu satu-satunya buat aku, hanya saja hari ini aku memang harus menjenguk Ning Hilya."


"Baiklah, itu terserah kamu, aku nggak berhak melarang mu untuk menjenguk Hilya kan?" Wajah Aisyah merah padam menahan tangisnya sekuat tenaga. Luka di hatinya akibat ucapan Zaid waktu itu seperti diberi garam, perih.


"Aku mohon Aisyah jangan marah."


"Aku nggak marah." Aisyah menggeleng, ia hanya sedih dan kecewa sekaligus karena Umar mengingkari janjinya dan lebih memilih menjenguk Hilya.


"Kamu harus tahu kalau kamu akan selalu jadi satu-satunya, nggak ada nomor satu atau dua dan seterusnya."


"Lalu kenapa harus hari ini padahal kamu bisa jenguk dia besok."


"Besok nggak bisa apalagi lusa, itu hari pernikahan kita." Umar memikirkan perkataan Maryam dan kondisi Hilya memang sangat parah, ia harus berangkat saat itu juga.


"Mas, sekarang aku tanya apa kamu yakin mau nikah sama aku?" Aisyah mengangkat dagunya, meski suaranya gemetar menahan tangis tapi ia berusaha berkata tegas pada Umar.

__ADS_1


"Lebih dari sekadar yakin, aku sudah memilihmu kenapa kamu masih ragu?"


"Gimana aku nggak ragu, semua orang bersikap seolah-olah aku nggak pantas buat kamu, mereka bilang cuma Hilya yang pantas menikah sama kamu."


"Dengarkan aku Aisyah, aku nggak peduli sama siapapun, yang jelas aku yakin terhadap kamu, nggak ada yang lebih baik dari kamu untuk jadi istriku."


Aisyah terdiam, dinding kokoh dalam dirinya runtuh juga dengan satu kalimat yang Umar katakan. Bukankah Umar pernah berkata begitu tapi itu belum berhasil membuat Aisyah cukup yakin.


Umar mengeluarkan setangkai bunga mawar dari dalam tas, bentuknya sudah tidak cantik lagi bahkan beberapa kelopak nya lepas. Umar membelinya di Lumajang saat perjalanan pulang.


"Selamat untuk pembukaan butik mu, aku yakin bisnis itu akan berkembang, bunga ini nggak perlu kamu terima karena bentuknya sudah jelek."


"Aku terima." Aisyah mengambil bunga tersebut. "Kenapa jaket mu berdarah, Mas habis jatuh?"


"Tenang Aisyah, ini darah Ning Hilya, aku nggak apa-apa."


"Kondisi Hilya separah itu?"


"Demam berdarah tapi itu lebih parah dari yang aku duga, Ning Hilya tetap memejamkan mata saat aku pulang."


"Demam berdarah memang lebih berbahaya kalau penanganannya terlambat."


"Dokter bilang plasma darah nya bocor."


Aisyah tertegun, kini ia bisa membayangkan seberapa parah kondisi Hilya. Tiba-tiba Aisyah merasa menyesal karena telah kesal pada Umar. Itu bukan tentang nomor satu atau dua tapi tentang mana yang lebih mendesak.


"Semoga Hilya segera sembuh dan sehat seperti semula." Kata Aisyah akhirnya, walau bagaimanapun ia tidak boleh menyimpan kebencian pada Hilya meski hanya sedikit.


"Kalau gitu biarin aku cuci jaket mu."


"Nggak perlu Aisyah, aku bisa cuci sendiri."


"Ummi dan Abah pasti kaget lihat darah itu, nggak repot kok tinggal masukin ke mesin cuci."


"Baiklah." Umar melepas jaketnya, noda darah itu sudah mengering dan mungkin akan sulit dibersihkan. "Selamat malam Aisyah, sampai bertemu lusa."


Aisyah mengangguk, segaris senyum terbit di wajahnya yang menular pada Umar. Ia hanya perlu melewati satu hari sebelum resmi menjadi istri Umar tapi mengapa satu hari itu terasa sangat lama dan menyiksa.


Umar meninggalkan komplek perumahan elit itu setelah memastikan Aisyah masuk rumah. Entah kenapa ia tidak bisa berhenti tersenyum sepanjang perjalanan hingga sampai ke pesantren. Ia lega karena Aisyah sudah memaafkannya.


******


Aisyah mengangkat jaket biru muda milik Umar demi melihat noda darah yang harus ia bersihkan. Setelah mengganti gamisnya dengan piyama, kini Aisyah berada di ruang mencuci. Masalahnya adalah Aisyah tidak pernah masuk ruangan tersebut sebelumnya. Aisyah baru sadar jika ia belum menjelajahi seluruh rumahnya, contohnya ruang mencuci ini.


Aisyah yakin noda itu akan sulit dihilangkan, ia tidak mungkin mencucinya dengan mesin cuci.


Mula-mula Aisyah membasahi seluruh permukaan jaket dan membaluri nya dengan detergen.


"Boleh disikat nggak ya?" Aisyah ragu-ragu saat hendak mengambil sikat. Bagaimana jika bahan nya rusak setelah disikat. Tidak mau mengambil resiko itu, Aisyah lebih memilih menggunakan cairan pemutih. Benar saja, noda darah itu hilang.


Aisyah tersenyum puas, mencuci tidak se-sulit itu. Tinggal membilasnya dengan air sampai bersih.

__ADS_1


"Ya ampun, ya Tuhan, ya Allah!" Mata Aisyah membulat melihat jaket biru muda itu berubah putih. "Bodoh banget kamu Aisyah, bukan ini bukan Aisyah, Atalie bodoh banget!" Ia mengomel pada dirinya sendiri. Tak hanya noda darah, warna jaket itu juga pudar.


"Lho Ci Aisyah ngapain malem-malem disini?" Seorang ART muncul dari balik dinding ruang cuci.


"Baru aja nyuci."


"Kenapa nggak nyuruh saya Ci?"


Aisyah tersenyum hambar, harusnya ia tidak sok tahu mencuci sendiri. Bukannya membantu, Aisyah justru mengacaukannya padahal ia berniat baik.


"Nggak apa-apa, udah selesai kok tinggal gantung aja." Aisyah mengambil satu hanger dan menggantung jaket Umar yang sudah berubah warna.


*******


Maryam menemani Umar makan malam di dapur, semua penghuni pondok sudah tidur tapi Maryam sengaja menunggu Umar pulang untuk menanyakan keadaan Hilya.


Nasi dan telur goreng ditambah kecap menjadi menu makan malam Umar. Sambil melahap makanannya, Umar menceritakan kondisi Hilya tadi saat ia berada di rumah sakit. Maryam tampak sangat khawatir mendengarnya. Umar sama khawatirnya tapi ia terus mendoakan kesembuhan Hilya.


Umar mengatakan Maryam tidak perlu terlalu mengkhawatirkan Hilya dan menyuruhnya istirahat.


"Ummi, boleh Umar minta tolong?"


Maryam membalikkan badan menatap Umar, "tentu saja, minta tolong apa?"


"Tolong bicara dengan Aisyah, sepertinya dia masih meragukan Umar."


"Bagaimana mungkin dia masih ragu, kalian akan segera menikah."


"Tolong yakinkan Aisyah."


"Baiklah, Ummi akan bicara dengannya." Maryam mengusap bahu Umar menenangkannya. "Ummi istirahat dulu ya."


"Iya Ummi." Umar melanjutkan makan sembari memeriksa ponselnya. Ia mengabaikan semua pesan seharian ini. Umar membuka pesan yang baru masuk dari Aisyah.


Umar mengerutkan kening melihat foto yang Aisyah kirimkan. Itu seperti jaket miliknya, tapi kenapa tampak berbeda.


Maaf Mas, warna jaket kamu luntur. Aku sengaja. Maaf maaf maaf.


Umar tersenyum membaca pesan tersebut, lihatlah bahkan pesan Aisyah sangat menggemaskan.


Nggak apa-apa Aisyah, jaket murah memang mudah luntur. Terimakasih sudah mencucinya.


Nggak Mas, ini salahku. Aku menggunakan cairan pemutih.


Kini Umar tidak bisa menahan tawanya. Sepertinya tugas Umar sangat banyak setelah menikah nanti. Mengajari Aisyah membuat teh, mencuci baju, memasak dan banyak hal lain. Itu akan sangat seru.


Mas Umar boleh marah. Aku memang salah.


Aku nggak marah, Aisyah.


__ADS_1



__ADS_2