
Mobil Aisyah berjalan perlahan melewati komplek perumahan elit yang sudah sepi. Komplek itu memang selalu sepi apalagi menjelang tengah malam begini. Tak ada satu pun penghuni yang keluar rumah.
Kali ini Aisyah tidak mengemudi, ia berada di jok belakang bersama Umar di sampingnya.
"Boleh aku tanya kenapa Aisyah meminta mahar 500 ribu?"
Aisyah berpikir, apakah ada yang salah dengan itu. Apakah 500 terlalu tinggi, Aisyah sudah memperkirakan jumlah itu tidak terlalu tinggi atau rendah.
"Maksudku, aku tahu sepatu yang kamu berikan pada anak di depan toko buku waktu itu harganya lebih dari satu juta tapi kamu hanya meminta 500 ribu, nggak ada yang salah dengan itu, aku hanya penasaran."
"Aku pernah dengar hadits sebaik-baik wanita adalah yang paling murah maharnya, tapi aku juga pernah dengar jika mahar digunakan untuk modal usaha maka hasilnya akan lebih berkah, aku udah memperhitungkan 500 ribu itu untuk membeli kain."
"Lalu untuk apa kain itu?"
"Buat bikin jilbab dan dijual di butik."
"Kamu benar-benar memikirkan itu?"
"Semoga itu nggak memberatkan Mas Umar."
"Tentu enggak, justru Aisyah membuatku kagum." Walaupun berasal dari keluarga kaya tapi Aisyah tidak meminta banyak hal dari Umar. Atau mungkin karena sudah memiliki segalanya, Aisyah tidak lagi menginginkan apapun.
Aisyah memegangi pipinya yang memanas. Tak terasa mobil sudah berhenti di depan halaman rumah Aisyah yang luas. Mobil Jaya dan Renata sudah lebih dulu terparkir di garasi.
"Biar saya yang pindahin Mas." Pak Sum—supir Aisyah mencegah Umar ketika hendak ikut memindahkan kado-kado dari bagasi mobil.
"Nggak apa-apa saya bantu." Umar tetap mengangkat beberapa kotak kado berukuran besar.
"Mas kan udah capek seharian, nggak apa-apa biar Pak Sum yang masukin." Timpal Aisyah.
"Nggak apa-apa, kamu masuk duluan gih."
"Ya udah, aku masuk dulu, Mas tahu letak kamar ku kan?"
Umar menggeleng, mengunjungi rumah ini saja dapat dihitung dengan jari. Bagaimana mungkin ia tahu letak kamar Aisyah.
Akhirnya sambil membawa kado, Umar mengekori Aisyah.
"Naik tangga belok kanan, pintu pertama itu kamar ku, jangan salah belok."
Umar mengangguk, ia melihat Aisyah menaiki tangga dengan hati-hati karena gaun panjang yang dikenakannya membuatnya susah berjalan.
__ADS_1
Umar lanjut memindahkan kado-kado yang lain bersama dua supir dan satpam.
Setelahnya Umar menyusul Aisyah ke kamar, ia tidak melihat Aisyah disitu. Hanya gaun pengantin tergeletak di lantai dan juga aksesoris berserakan di meja rias.
Menunggu 30 tahun tidak masalah karena akhirnya Umar menikah dengan gadis istimewa seperti Aisyah.
Ucapan Aiman begitu melekat di hati Umar. Selama ini Umar memang tidak pernah memusingkan soal pasangan hidup, itu akan datang pada waktu yang tepat. Itu tidak bisa dibilang penantian selama 30 tahun karena sejatinya Umar tidak pernah menunggu. Mereka disatukan dengan takdir. Pertemuan dan perkenalan mereka memang cukup singkat, Umar akan menggunakan seluruh sisa hidupnya untuk mencurahkan seluruh cintanya untuk Aisyah.
Umar memutar kepala mendengar pintu kamar mandi terbuka, aroma flowery menguar ketika Aisyah keluar dari sana. Entah apa yang Aisyah gunakan hingga aroma itu tercium dari tubuhnya.
"Sudah wudhu?" Umar berdiri, ia sudah menggelar dua sajadah di tempat kosong yang luas di samping tempat tidur. Umar sudah menduga jika kamar Aisyah akan seluas ini, tiga kali lebih luas dibandingkan kamarnya.
"Udah." Aisyah mengangguk, sebenarnya ia tidak tahu kenapa Umar memintanya berwudhu begitu sampai di rumah.
Umar sudah berganti pakaian, sarung dan kemeja panjang ditambah kopiah. Itu tidak mengejutkan karena Aisyah hampir selalu melihat Umar menggunakan outfit tersebut. Ayana mengatakan jika itu pakaian khas nya Gus. Aisyah juga tidak tahu apakah itu benar karena Gus yang ia kenal hanya Umar, Khalid dan Ali.
"Maukah Aisyah shalat denganku?"
"Shalat apa?"
"Shalat Sunnah pengantin, itu seperti shalat yang biasa Aisyah kerjakan."
"Hanya niatnya yang beda?"
"Iya, baca Al-Fatihah lalu surat pendek."
"Kita akan mengerjakan dua rakaat bersama."
"Iya Mas." Aisyah berdiri di belakang Umar.
Itu menjadi shalat Sunnah pertama yang mereka kerjakan bersama. Besok, lusa dan hari-hari berikutnya mereka akan rutin melaksanan shalat lain, bersama-sama dengan khusyuk.
Usai shalat Aisyah mencium punggung tangan Umar lalu ia mendapat ciuman di kening untuk kedua kalinya hari ini. Aisyah tersenyum, dadanya serasa akan meledak berada sedekat ini dengan Umar.
Umar menggenggam tangan Aisyah, mereka saling bertatapan menyelami isi hati masing-masing. Satu menit dua menit hanya keheningan yang menguasai keduanya.
"Semoga ibadah kita dalam pernikahan ini diridhoi oleh Allah, semoga bisnis istriku berkembang dan membawa berkah, semoga hati istriku senantiasa tertambat pada Allah."
Aisyah mengaminkan doa Umar, ia tidak tahu kenapa doa yang Umar ucapkan membuatnya ingin menangis. Ternyata seperti ini rasanya didoakan oleh suami. Kalau begitu Aisyah ingin mendapatkannya setiap hari.
Mereka beranjak dari atas sajadah setelah mengucapkan doa-doa bersama. Aisyah menyimpan mukenah nya kembali. Aisyah menggerai rambutnya setelah sejak pagi diikat dengan kencang.
Umar reflek mengalihkan pandangan. Tunggu dulu, Aisyah sudah halal untuk kau pandang bahkan lebih dari itu. Umar kembali melihat Aisyah setelah menyadarkan dirinya sendiri.
Aisyah mengenakan piyama lengan pendek dengan celana sepaha memperlihatkan kaki jenjangnya yang putih. Penampilan seperti ini yang selalu Ali bicarakan. Nanti Umar akan memperingatkan Ali agar tidak membicarakan penampilan Aisyah saat pertama kali datang ke pesantren.
__ADS_1
"Boleh aku tahu kenapa kamu pilih tato Saturnus?" Tanya Umar memecah keheningan di antara mereka.
"Dulu aku suka astronomi, belajar tentang planet dan benda luar angkasa lainnya, karena Saturnus paling beda bentuknya jadi aku pilih dia."
"Koleksi buku kamu juga banyak, rak nya penuh." Umar melihat rak tinggi di sisi kiri kamar dimana Aisyah menyimpan koleksi bukunya.
Bicara soal buku, Aisyah ingat ketika Jaya membakar semua bukunya yang berbau Islam. Mengingat sekarang Jaya sudah mengizinkan Aisyah memilih keyakinan sendiri, bisnis dan menikahi Umar itu adalah keajaiban yang luar biasa. Allah benar-benar telah memudahkan kehidupan Aisyah.
"Tolong sisir rambutku." Aisyah menyodorkan sisir pada Umar lalu ia duduk di kursi kecil yang menghadap meja rias.
"Rambutmu lebih panjang dari pertama kali kamu datang ke rumah." Umar menyisir rambut hitam legam Aisyah yang lurus terjuntai.
"Kamu masih ingat Mas?"
"Tentu saja, kamu membuat keributan di seluruh pondok." Umar tersenyum mengingat itu. Dulu itu menyebalkan tapi setelah diingat sangat lucu.
"Waktu itu aku kesel banget sama Mas karena pura-pura nggak kenal aku, kamu agak kejam ternyata." Aisyah pura-pura memasang wajah kesal.
"Apalagi yang kamu pikirkan tentang ku?"
"Mas Umar itu nggak sopan karena nggak pernah lihat aku waktu kita ngobrol padahal sejak kecil aku diajarin untuk mendengarkan lawan bicara dengan sungguh-sungguh, Mas juga galak, kejam dan berhati dingin tapi setelah mengenal Islam aku jadi tahu alasan dari semua itu."
"Sekarang aku sedang melihat dan mendengarkan mu dengan sungguh-sungguh."
Aisyah menatap Umar melalui pantulan cermin, pandangan teduh yang menenangkan. Kadang Umar itu seperti pohon rimbun yang dapat melindungi Aisyah dari panasnya matahari.
"Aku sempat berpikir, apa aku nggak cantik sampai dia nggak mau lihat aku."
"Kamu cantik, itu makanya aku nggak berani lihat kamu." Umar takut cinta menariknya semakin dalam sedangkan saat itu Aisyah belum memeluk Islam. Mereka tak mungkin bersatu.
Pipi Aisyah bersemu merah, ia membalikkan badan lalu berdiri. Sedikit berjinjit, Aisyah meraba pipi Umar lalu mencium bibirnya. Kali ini Aisyah tidak meminta izin karena tadi Umar tak memberinya izin. Sekarang Aisyah tidak mau meminta izin lagi, ia tak sanggup mendengar penolakan.
Ketika Aisyah hendak melepas tautan, tiba-tiba Umar menangkup pipinya untuk membalas ciuman yang lebih dalam. Sisir di tangan Umar terjatuh ke lantai terabaikan. Siapa yang peduli jika rambut Aisyah masih berantakan. Mereka sudah tenggelam dalam percikan rasa yang makin membesar dan tak terbendung. Meletup memenuhi seluruh kamar.
"Doa apa itu?" Aisyah masih sempat bertanya ketika mendengar Umar membisikkan doa yang asing di telinganya. Aisyah yakin itu bukan doa sebelum tidur apalagi ayat kursi, ia sudah menghafal semua itu di luar kepala. Lalu apakah doa yang baru saja Umar bisikkan ketika mereka sudah berada di atas tempat tidur.
"Doa sebelum jima'." Suara Umar terdengar serak dan berat.
"Jima' itu apa Mas?" Aisyah mengerutkan kening sementara tangannya tetap ia kalungkan ke tengkuk Umar.
"Berhubungan antara suami dan istri." Ia salah karena menggunakan kata yang belum Aisyah mengerti. Ini bukan saat yang tepat untuk belajar tapi mau bagaimana lagi, Umar harus menjelaskannya meski dengan kalimat paling singkat. Ia bukan Ustadz sekarang melainkan seorang suami.
"Oh, maaf aku nggak tahu."
"Nggak perlu minta maaf, kita bisa belajar perlahan-lahan." Rupanya Umar benar-benar harus mengajari Aisyah dari nol. Tidak salah Khalid meminta Umar belajar tentang fiqih wanita. Walaupun pada saat itu Umar merasa tidak perlu tapi setelah menikah dengan Aisyah, Umar yakin belajar ilmu tersebut sangat diperlukan.
__ADS_1
"Aku udah merusak suasana." Aisyah menyesal, harusnya ia bertanya besok saja.
"Sama sekali nggak merusak suasana, kita bisa mulai lagi."