Gema Syahadat Aisyah

Gema Syahadat Aisyah
Sepotong Pagi yang Istimewa


__ADS_3

"Bangun Aisyah."


Suara lembut Umar dan sedikit guncangan terpaksa menarik Aisyah dari dunia mimpi, dari tidur yang rasanya baru sebentar. Dingin. Aisyah memeluk dirinya sendiri, ia enggan membuka mata.


"Bangun sayang, sudah subuh." Umar mengusap sepanjang lengan Aisyah dan kembali mengguncangnya. Umar menghadiahi Aisyah beberapa kecupan di kening dan pipi. Aisyah menggeliat, ia masih ingin tidur sebentar saja.


"Lima menit." Gumam Aisyah tidak terlalu jelas. Bangun kesiangan adalah kebiasaan Aisyah sejak dulu karena ia selalu belajar hingga larut malam. Namun setelah lulus kuliah ia tak lagi belajar hingga malam, hanya saja semalam ia juga begadang. Itu karena perbuatan Umar. Tidak, itu karena mereka berdua.


"Baiklah, lima menit lagi aku akan membangunkan mu." Umar turun dari ranjang, ia sudah bangun sejak dua jam yang lalu. Mandi dan mendirikan shalat tahajjud dan murojaah. Tadi Umar juga membangunkan Aisyah tapi sang istri tidak kunjung bangun. Umar memakluminya karena Aisyah belum terbiasa shalat tahajjud. Ditambah mereka hanya tidur kurang dari 4 jam.


Di kamar itu Umar sudah bisa mendapat segalanya, ia tak perlu keluar dari situ untuk mandi. Tak perlu memasak air di atas kompor, ia sudah bisa mandi air hangat. Sebenarnya ia tidak berniat mandi air hangat tadi. Bahkan tempat tinggal Umar di China tidak memiliki air hangat otomatis.


"Istriku, bangun." Umar meraih tangan Aisyah lalu mengecupnya.


Perlahan Aisyah mengerjapkan matanya lalu tersenyum berkat pemandangan yang dilihatnya pertama kali saat membuka mata adalah wajah Umar.


"Gimana tidurmu?"


Aisyah tidak menjawab dan lebih memilih memeluk tubuh Umar, tidurnya selalu nyenyak terutama malam ini karena ada seseorang di sampingnya.


"Ayo bangun, mandi terus shalat sama aku."


Aisyah mengangguk terpaksa melepaskan pelukannya, turun dari tempat tidur dengan mata setengah tertutup menuju kamar mandi.


Aisyah menghabiskan waktu lama di kamar mandi karena banyak melamun, ia senyum-senyum sendiri mengingat momen semalam. Aisyah menghentak-hentakkan kakinya dengan menggemaskan.


Sajadah sudah digelar di atas lantai setelah Aisyah keluar dari kamar mandi.


Tubuh Aisyah gemetar kedinginan meski ia mandi air hangat, ini pertama kalinya ia keramas subuh-subuh.


"Kamu kedinginan?" Umar melangkah mendekat.


Aisyah mengangguk, giginya bergemeletuk. Umar menarik Aisyah untuk memeluknya. Itu cara menghangatkan tubuh yang menyenangkan.


"Ayo keringkan rambut mu." Umar mendudukkan Aisyah di kursi meja rias sementara ia mengeringkan rambut panjang Aisyah.


Mereka memulai hari ini dengan dua rakaat shalat Sunnah fajar lalu dilanjutkan shalat subuh. Karena tidak ada masjid dekat sini, Umar mendirikan shalat bersama Aisyah.


"Aku mau lihat kamu baca Al-Qur'an."


"Aku malu."


"Jangan malu, wajar kalau kamu belum lancar baca Al-Qur'an, tiga bulan lalu kamu masih baru berkenalan sama huruf Hijaiyah."


Akhirnya Aisyah mengambil mushaf miliknya, membaca surat Ali Imran di hadapan Umar. Bacaannya agak terbata-bata, Umar beberapa kali menegurnya. Aisyah pikir selama ini ia membaca dengan benar tapi bersama Umar setiap huruf ternyata salah.


"Itu dza bacanya tipis, ujung lidah sedikit dikeluarkan."


"Za."


"Salah bukan Za tapi Dza, perhatikan mulutku, Dza."


Bibir Aisyah ditekuk, ia tidak berani mengucapkan huruf Dzal seperti yang Umar contohkan karena takut ditegur lagi. Ia menunduk dalam, bukankah Umar yang mengatakan wajar jika ia belum lancar membaca Alqur'an tapi kenapa Umar memarahinya.


"Aisyah nangis?" Umar terkejut melihat air menetes di atas mushaf di tangan Aisyah. Ia menangkup pipi Aisyah dan menatapnya lekat. Kedua netra Aisyah sudah berair sedangkan bibir bawahnya ditekuk. "Kenapa kamu nangis?" Umar kebingungan karena Aisyah tiba-tiba menangis. Apakah karena arti dari ayat yang sedang ia baca begitu menyentuh?


"Aku nggak mau ngaji." Aisyah beranjak dari sana dan meletakkan mushaf nya kembali.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Kamu bilang wajar kalau bacaan ku nggak lancar tapi kenapa Mas marahin aku?" Aisyah menghentakkan kakinya melepas mukenah dan meletakkannya dengan asal.


"Aku nggak marah, Aisyah." Umar ikut beranjak dari sajadah, ia sama sekali tidak bermaksud memarahi Aisyah. Ia hanya menjelaskan tentang cara melafalkan huruf tersebut.


"Itu barusan apa, kamu bentak aku."


"Maafin aku, aku nggak berniat bentak kamu, caraku mengajar memang seperti ini sayang."


Nggak bisa lebih lembut sedikit apa?


"Maafin aku ya." Umar meraih tangan Aisyah. "Lain kali aku akan lebih lembut, aku janji."


"Aku nggak pernah ikut kelas dosen Umar jadi aku nggak tahu kalau ternyata kamu galak."


"Aku nggak galak, maafin aku." Umar menarik Aisyah dan memeluknya. "Aku salah."


"Jadi itu alasannya Mas Khalid ngajar di pesantren dan kamu di luar pesantren, karena Gus Umar ini galak?"


"Tadi aku lagi jelasin cara bacanya bukannya marah sama Aisyah, maaf ya."


"Pelan-pelan Mas ngasih tahunya."


"Iya, sekali lagi aku minta maaf." Umar menepuk-nepuk punggung Aisyah, "jadi nggak mau ngaji lagi?"


"Nggak."


"Ya udah nggak apa-apa." Umar mengurai pelukan. "Istriku maafin aku nggak?"


Aisyah mengangguk. Mungkin benar Umar tidak berniat membentaknya. Nada bicara Umar tadi hanya sedikit meninggi. Aisyah sudah biasa dibentak Jaya tapi saat Umar yang melakukannya, ia merasa sakit hati.


Aisyah membuka gorden kamar, tampak matahari mengintip malu-malu di ufuk timur menghasilkan semburat jingga di cakrawala.


Aisyah melangkah melewati pintu balkon, udara pagi yang dingin menerpa tubuhnya.


"Kamu pasti merasa berat untuk meninggalkan kamar yang nyaman ini." Umar menyusul Aisyah menuju balkon, dari sini mereka bisa melihat halaman depan dan samping yang luas.


"Ini satu-satunya kamar yang punya balkon paling luas, spesial untuk anak pertama Papa dan Mama." Aisyah memutar kepala melihat Umar di sampingnya. "Tapi aku akan ikut Mas Umar kemanapun."


"Terimakasih." Umar meraih pinggang Aisyah dan mencium keningnya.


"Aku yang harus bilang terimakasih."


"Ayo, aku bantu packing."


Mereka menuju walk in closet untuk mengemasi pakaian dan barang-barang Aisyah. Aisyah tidak memiliki banyak pakaian yang bisa ia kenakan saat ini. Hanya beberapa potong gamis, jilbab dan baju tidur. Semua pakaian kurang bahan sudah Aisyah tinggalkan, ia harus membeli yang baru nanti seiring berjalannya waktu. Tidak bisa sekaligus, ia harus menghemat uang untuk merintis bisnisnya sendiri.


Kebiasaan menghabiskan uang dengan berkeliling mall harus benar-benar Aisyah tinggalkan. Ia juga tidak bisa membeli lusinan buku sesukanya seperti dulu.


Ketukan di pintu menghentikan aktivitas Umar dan Aisyah, Umar beranjak lebih dulu untuk membuka pintu.


"Breakfast time!" Daniel berseru dengan ekspresi ceria yang dibuat-buat. "Mana Kakak?"


"Ada di dalam, sebentar lagi aku dan Kakak mu akan turun."


"Oke, aku tunggu di ruang makan, buruan ya Mas aku lapar." Daniel menepuk perutnya seraya melenggang pergi.

__ADS_1


"Aku juga lapar, yuk." Aisyah muncul di belakang Umar.


"Kamu nggak pakai jilbab?"


"Nggak ada siapa-siapa kok di ruang makan."


"Gimana dengan tukang kebun dan satpam?"


"Mereka nggak mungkin tiba-tiba masuk."


"Kamu yakin?"


"Yakin."


"Oke, tapi setelah pindah ke pondok kamu hanya boleh buka jilbab di dalam kamar."


Aisyah mengangguk mengerti, ia menggandeng tangan Umar menuruni tangga menuju ruang makan. Jaya, Renata dan Daniel sudah menunggu mereka bersiap untuk sarapan.


Itu adalah rutinitas yang tidak boleh dilewatkan. Setelah ibadah pagi, mereka akan sarapan bersama sambil mengobrol banyak hal.


"Pagi Ma, Pa." Aisyah mencium pipi Renata dan Jaya sebelum duduk di kursi kosong disusul Umar.


"Ada apa nih tiba-tiba cium Papa dan Mama?" Daniel menyipitkan mata menatap kakak nya.


"Kamu mau dicium juga?"


"Nggak ah."


"Habis ini aku pindah lho."


"Rumah Mas Umar cuma 15 menit dari sini." Daniel mencibir, ia tidak akan merindukan Aisyah karena bisa sering berkunjung kesana.


"Kamu mau yang mana Mas?" Aisyah meletakkan dua potong roti di piring Umar, ada beberapa pilihan olesan untuk roti tersebut.


"Sama dengan Aisyah."


Aisyah mengoleskan selai coklat dan peanut butter pada dua roti tersebut lalu memberikannya pada Umar. Itu adalah kombinasi yang enak dan mengenyangkan.


Seperti biasa mereka berdoa bersama sebelum makan. Menikmati sarapan simpel hari ini dengan banyak tawa apalagi dua sejoli yang baru saja menikah, wajah mereka tampak berseri-seri.


"Kamu mau ngomong apa?" Aisyah melihat Daniel sejak tadi membuka mulut seperti hendak bicara tapi beberapa saat setelahnya kembali mengatup bibir seolah ragu.


Daniel melirik papa dan mama nya sebelum membuka mulut, ia tak tahu apakah sesuatu yang hendak ia sampaikan baik atau sebaliknya.


"Aku diterima di kedokteran hewan UNAIR." Lirih Daniel.


Mata Aisyah melebar langsung memberi selamat pada Daniel karena itu memang jurusan yang Daniel inginkan. Namun ekspresi Jaya justru berbanding terbalik dengan Aisyah, ia tidak senang. Jaya sudah melarang Daniel tapi anak itu nekat mendaftar sendiri.


Tangan Jaya mengepal, rasanya percuma Aisyah kuliah manajemen 6 tahun karena pada akhirnya ia tidak mendapat kesempatan untuk meneruskan bisnis Alindra Grup. Daniel sekarang juga sudah mengambil keputusan sendiri. Siapa lagi yang bisa Jaya andalkan, ia hanya punya dua anak.


"Kamu boleh kuliah tapi bukan berarti tanggung jawab mu untuk meneruskan bisnis Papa hilang begitu aja."


Suara berat Jaya membuat Daniel terdiam tidak berani menyela. Sudahlah yang penting untuk sekarang Daniel akan menghadapi yang ada di depannya. Bukankah Aisyah tidak pernah takut kehilangan semua kemewahan ini setelah menjadi muslim.


"Kamu mau pindah hari ini juga?" Renata mengalihkan pembicaraan dengan bertanya pada Aisyah.


"Iya Ma, aku nggak bawa banyak barang karena aku akan sering datang."

__ADS_1


"Sudahlah, kamu pasti sibuk nanti Mama bisa sesekali datang ke butik mu."


"Iya Ma."


__ADS_2