
Jaya membooking satu restoran untuk makan siang bersama keluarga Umar usai acara wisuda Aisyah. Mereka berkumpul merayakan kelulusan Aisyah sekaligus menambah keakraban antara dua keluarga. Ini pertama kalinya Jaya dan Renata bertemu orangtua Umar.
Dua keluarga yang terlihat amat berbeda berada di satu meja. Pemandangan yang tidak biasa itu membuat karyawan restoran heran. Keluarga Umar yang berpakaian serba tertutup sangat kontras dengan penampilan orangtua Aisyah. Menyatukan dua keluarga yang berbeda juga tidak mudah. Namun demi kebahagiaan anak-anak, para orangtua menekan ego mereka demi kebahagiaannya.
Dalam pernikahan Chinese harusnya ada beberapa prosesi yang harus dilakukan tapi mereka melewatkannya karena tidak sesuai dengan keluarga Umar. Mereka mengalah karena Umar adalah pihak suami.
Umar melihat Aisyah terdiam sejak mereka sampai di restoran. Umar tidak tahu apa yang terjadi karena saat Aisyah keluar dari auditorium, ia sedang menemani Daniel membeli hadiah untuk Aisyah.
Umar ingin bertanya mengapa Aisyah terlihat sedih padahal sebelum masuk auditorium tadi senyum Aisyah masih bermekaran. Keadaannya tidak memungkinkan untuk Umar bertanya pada Aisyah apalagi jarak duduk mereka cukup jauh.
"Silakan." Jaya mempersilakan mereka semua memulai makan setelah berdoa.
"Terimakasih Bapak Jaya dan Ibu Renata karena sudah mengundang kami." Zaid bersuara setelah terdiam cukup lama.
"Sudah seharusnya kami mengundang orangtua Umar." Jaya tersenyum formal.
"Saya mengerti pasti tidak mudah juga bagi Bapak dan Ibu menerima Umar sebagai menantu."
"Bagaimana maksud Pak Zaid?" Jaya mengerutkan kening, ia bukannya tidak tahu maksud kalimat itu. Ia hanya ingin mengatakan bahwa kalimat tersebut tidak sepenuhnya benar. Menerima Aisyah sebagai manusia yang baru justru jauh lebih sulit bagi mereka.
"Pak Jaya dan Ibu Renata pasti mengharapkan menantu dari kalangan yang sama seperti kalian—seperti halnya saya yang berharap Umar menikah dengan gadis dari kalangan kami."
Kalimat Zaid membuat semua orang tertegun, Khalid menyentuh paha Zaid agar abahnya itu tidak melanjutkan perkataannya. Semua sudah berjalan seperti seharusnya, tidak ada yang perlu disesalkan.
"Jujur saya cukup kecewa dengan Umar karena baru kali ini dia menentukan jalannya sendiri dan memilih Aisyah." Zaid mengeluarkan kalimat yang membuat semua orang terkejut.
"Apa sebelumnya Umar hendak menikahi gadis yang bukan Atalie?" Jaya melihat Umar tajam.
"Papa." Aisyah menggeleng samar berharap papa nya tidak menanyakan hal itu lebih jauh. Ia bisa menjelaskannya pada Jaya nanti di rumah. Sekarang mereka harus menyelesaikan acara makan siang tersebut.
"Tunggu Atalie, Papa butuh penjelasan." Jaya tidak mau kalah, karena dua keluarga sudah berkumpul maka mereka harus membicarakan semuanya yang masih belum jelas.
Suasana tegang menguasai mereka terutama Umar. Ini adalah acara penting bagi Aisyah, harusnya mereka tidak membahas hal seperti ini. Namun karena sudah telanjur, Umar akan menjelaskannya dengan jujur.
"Maaf Pak Jaya dan Ibu Renata karena saya tidak mengatakan ini sejak awal tapi Aisyah sudah mengetahui semuanya jadi saya tidak menutupi apapun dari Aisyah." Umar berusaha membuat nada bicaranya serendah mungkin.
"Jadi benar kamu menjadikan Aisyah sebagai pilihan kedua?"
"Tidak bisa dikatakan seperti itu, ini sepenuhnya kesalahan saya karena sebenarnya sejak awal saya mencintai Aisyah dan ingin menikahinya tapi saat itu saya sudah dijodohkan dengan gadis lain, kami juga sempat bertunangan."
"Atalie, kenapa kamu nggak bilang soal ini?" Kini Jaya melihat ke arah Aisyah, ia tidak terima dengan perkataan Zaid.
"Bagi ku itu nggak penting Pa, itu hanya masa lalu Mas Umar."
__ADS_1
"Kamu nggak lihat, mereka bahkan merendahkan kamu."
"Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, kami sama sekali tidak berniat merendahkan Aisyah." Maryam angkat suara, ia tidak ingin ada kesalahpahaman di antara mereka.
"Saya sudah berusaha percaya pada kalian tapi sekarang saya mulai ragu, Atalie adalah putri kami yang berharga tapi bagaimana mungkin Pak Zaid mengatakan hal seperti itu?" Renata ikut menimpali, sebagai seorang ibu ia tidak mau Aisyah tersakiti.
"Atalie memiliki masa depan yang sudah kami susun, tapi pada akhirnya kami harus mengalah pada keinginan Atalie, kami hanya ingin melihat Atalie bahagia, jika pernikahan ini tidak membuatnya bahagia kami akan membatalkannya."
Semua orang tersentak dengan perkataan Jaya terutama Umar dan Aisyah. Suasana hati Aisyah sudah tidak karuan sejak berada di kampus kini makin berantakan. Tadinya Aisyah berharap keluarga mereka menjadi akrab dengan pertemuan ini tapi yang terjadi adalah sebaliknya.
"Tidak Pak Jaya, saya akan tetap menikahi Aisyah." Tegas Umar, sejak memutuskan untuk membatalkan perjodohan nya dengan Hilya, Umar sudah bertekad untuk menikahi Aisyah. Ia lebih dari sekedar yakin untuk melakukan itu.
"Dan membiarkan Atalie direndahkan?" Jaya mengepalkan tangannya kuat menahan amarah.
"Saya tidak akan membiarkan itu terjadi."
"Kamu pikir kami akan percaya?"
"Saya akan melindungi Aisyah, saya akan menikahi Aisyah dengan atau tanpa restu orangtua." Umar tidak gentar, ia harus membuktikan pada orangtua Aisyah bahwa ia bersungguh-sungguh.
"Umar!" Sentak Zaid.
"Nggak Umar, kamu akan menikah dengan restu Ummi, Ummi merestui mu dan Aisyah untuk menikah." Maryam menggenggam tangan Umar, air matanya meleleh begitu saja.
"Pa, Ma, untuk saat ini bagi ku nggak ada yang lebih membahagiakan dari pernikahan ini."
Renata mengusap punggung tangan Aisyah, ia akan melakukan apapun untuk kebahagiaan sang anak.
Umar tersenyum menatap Aisyah, ia tidak mau menjanjikan banyak hal pada Aisyah. Kehidupan mereka sudah sangat berbeda. Umar hanya bisa berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu melindungi Aisyah dan membimbingnya meraih cinta Allah. Itu adalah hal yang paling penting dalam kehidupan manusia yakni meraih cinta Sang Pencipta.
******
"Aisyah, maafkan perkataan Abah tadi." Maryam menahan tangan Aisyah ketika mereka semua sudah keluar dari restoran.
Acara itu berlangsung canggung, makanan-makanan lezat yang dihidangkan terasa hambar. Namun mereka harus tetap melanjutkan dan memakan hidangan yang telanjur disajikan.
"Saya sangat mengerti soal itu Ummi, Abah tidak salah."
"Maafkan Ummi." Maryam memberi pelukan pada Aisyah, ia meminta maaf karena tidak bisa berbuat banyak ketika Zaid mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaan Aisyah dan keluarganya.
"Ummi jangan minta maaf, saya sama sekali tidak marah soal itu."
"Terimakasih Aisyah." Maryam mengusap kepala Aisyah, kini ia bisa memahami pilihan Umar. "Semoga semuanya berjalan lancar sampai hari pernikahan."
__ADS_1
"Bagaimana dengan Abah, Ummi?"
"Kamu nggak usah khawatir, Ummi nanti akan berusaha bicara pelan-pelan dengan Abah, jangan pikirkan soal itu."
Aisyah tersenyum mengangguk berterimakasih karena Maryam kini sudah memberinya restu. Sejak bertemu, Maryam memang selalu memperlakukan Aisyah dengan baik.
Sebenarnya Zaid saat itu juga tak kalah baik, ia membimbing Aisyah mengucapkan syahadat dan meminta Khawla dan para santri menemani Aisyah.
Namun untuk menjadi seorang menantu, Zaid menginginkan Hilya yang agama nya sudah pasti baik, hafal Al-Qur'an dan orangtuanya juga sahabat baiknya. Mereka sempurna untuk membina rumah tangga dan melahirkan anak-anak sholeh sholehah. Jauh berbeda dengan Aisyah yang masih lemah ilmu agama Islam nya.
Menurut Zaid pernikahan bukan hanya tentang cinta, ilmu agama jauh lebih penting dan perasaan cinta akan mengikuti setelah berjalannya waktu. Namun nasi sudah menjadi bubur, Umar sudah membatalkan pertunangannya dengan Hilya tanpa sepengetahuan Zaid lalu memilih Aisyah.
Zaid meletakkan masa depan pondok pesantren yang ia dirikan pada anak-anaknya. Zaid tidak ingin anak-anaknya memilih jalan lain.
"Kamu akan keluar dari pondok setelah menikah?" Suara berat Zaid memecah keheningan di dalam mobil.
"Kenapa Abah bertanya seperti itu?" Khalid menatap Abah nya, "nggak akan ada yang keluar dari rumah kami Bah, Umar akan membawa Aisyah."
"Apa Abah ingin Umar pergi?" Umar menyahut, jika itu yang Abah nya inginkan maka ia akan pergi bersama Aisyah setelah mereka menikah.
"Terserah kamu, kenapa bertanya, sekarang pendapat Abah sudah nggak penting."
Umar menghela napas berat, "Umar sudah berjanji akan membawa Aisyah setelah menikah."
"Umar dan Aisyah akan tinggal bersama kita semua Bah." Sahut Maryam. Mereka akan tinggal bersama di rumah sederhana itu, lagi pula Aisyah sudah pernah tinggal disana. Jadi tidak akan terlalu sulit untuk Aisyah menyesuaikan diri.
"Apa itu nggak akan melukai harga dirinya, bagaimana mungkin dia hidup di lingkungan pondok, dia bahkan belum lancar membawa Al-Qur'an, dia akan tertekan oleh para santri yang usianya lebih muda tapi bacaan Al-Qur'an nya jauh lebih bagus."
"Aisyah sedang belajar dan ia nggak akan mudah tertekan hanya karena anak-anak santri yang lebih pandai membaca Al-Qur'an." Umar yakin soal itu, Aisyah bukan orang yang mudah merasa rendah diri. Aisyah selalu bersemangat mendapatkan hal baru setiap harinya.
"Kamu yakin soal itu?"
"Dia menemukan Islam sendiri dan iman nya mungkin jauh lebih tebal dibandingkan kita yang terlahir sebagai muslim, Abah jangan meremehkan Aisyah."
"Abah nggak meremehkan Aisyah, itu memang kenyatannya, dia bahkan punya tato."
Umar terdiam, Aisyah pernah menanyakan pendapatnya soal tato itu. Namun Umar tidak mau Aisyah sakit dua kali untuk menghilangkan tato itu, ia tahu jika membuat tato itu juga sakit.
"Sekarang sudah nggak kelihatan."
"Jangan sampai cinta membutakan mu, Umar."
"Umar nggak buta Bah, Umar sudah menghabiskan malam-malam panjang untuk menentukan pilihan Umar, tolong Abah hargai pilihan ini, Inshaa Allah semuanya akan baik-baik saja, hal-hal yang membuat Abah khawatir nggak akan terjadi."
__ADS_1
Zaid terdiam setelahnya hingga mereka sampai di rumah.