Gema Syahadat Aisyah

Gema Syahadat Aisyah
Kehidupan Pernikahan


__ADS_3

Lamat-lamat Umar mendengar suara ayam berkokok yang entah dari mana asalnya. Mungkin ayam peliharaan tetangga yang jaraknya dekat dengan pondok. Alarm dari alam itulah yang selalu membangunkan Umar, tidak ada tombol snooze karena suara kokok ayam lain akan menyusul. Suara tersebut selalu terdengar jauh sebelum masuk waktu subuh.


Umar menatap wajah tenang Aisyah saat tidur, ia spontan tersenyum lalu mengecup kening sang istri pelan-pelan, takut membuatnya bangun. Umar pergi ke kamar mandi, membersihkan diri, berwudhu dan melakukan ibadah di sepertiga malam terakhir.


"


Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan di waktu itu) lebih berkesan."


(QS 73:6)


Umar sengaja tidak membangunkan Aisyah karena tahu jika Aisyah sulit tidur sebelumnya. Jika sudah terbiasa bangun subuh maka Umar akan mengajak Aisyah rutin melaksanan shalat tahajud.


Ketika lantunan ayat Alqur'an terdengar dari musholla dan Umar selesai melakukan ibadah malam, ia keluar kamar, memanaskan air dan memasukkannya ke dalam termos.


Para santri juga sudah mulai beraktivitas dari pukul 3. Semua lampu menyala terang, suara santri mengaji memenuhi musholla.


Umar memutar kepala mendengar suara pintu dapur dibuka.


"Maaf Gus." Santri putri yang hendak masuk ke dapur itu spontan menunduk dan mundur.


"Saya sudah selesai kok." Ujar Umar.


"Baik Gus, saya mau buat teh untuk Ummi." Ia kembali melangkah masuk ke dapur. Maryam biasanya membimbing para santri murojaah Al-Qur'an usai mendirikan shalat tahajjud. Dan tanpa diminta santri bergantian membuat teh hangat untuk Maryam.


Santri-santri menduga malam itu akan ada yang menemani Maryam memimpin murojaah rutin mereka karena pondok baru saja kedatangan menantu pengasuh pondok. Namun beberapa hari sejak kedatangan Aisyah, mereka justru jarang melihatnya. Kabar bahwa Aisyah tidak bisa melakukan apapun makin santer terdengar, tidak bisa membaca Alqur'an, tidak hafal surat-surat pendek apalagi membaca kitab kuning. Santri yang mengatakan jika Gus mereka pasti tidak mungkin sembarangan memilih istri mulai pesimis karena kenyataannya Aisyah memang kurang pantas bersanding dengan Umar.


Saat kembali ke kamar, Umar melihat Aisyah sudah bangun. Aisyah tersenyum melihat Umar datang, ia sempat bingung karena Umar tidak ada di sampingnya saat bangun barusan.


"Kenapa bawa termos ke kamar, aku bisa ke dapur kalau kamu mau minum teh."


Umar meletakkan termos berisi air panas itu di dekat pintu kamar mandi lalu duduk di samping Aisyah, di pinggiran tempat tidur.


"Gimana tidurmu?" Umar mengusap rambut Aisyah lalu mengecup keningnya. "Tidur mu gelisah beberapa hari ini, belum terbiasa sama kamar yang sempit?"


"Aku kepikiran Ning Hilya, dia minta dibawain oleh-oleh khas sini sebelum pamit pulang waktu itu."


"Kalau gitu nanti kita beli oleh-oleh untuk dibawa ke Lumajang."


Aisyah mengangguk, ia sudah berjanji akan membawa oleh-oleh khas Banyuwangi. Walaupun Hilya sudah tidak ada tapi Aisyah harus menepati janjinya.


"Kamu mandi dulu ya, aku udah panasin air."


"Jadi itu air buat aku mandi?"


"Iya."


"Ya ampun Mas nggak perlu repot-repot panasin air, aku bisa mandi air dingin kok."


"Tapi di rumah, kamu mandi aid hangat."

__ADS_1


"Iya tapi aku bisa menyesuaikan diri dengan keadaan disini, lagi pula mandi air dingin itu lebih sehat kan?"


"Iya, inshaa Allah."


"Tapi terimakasih, aku akan mandi dengan nyaman." Aisyah memeluk Umar sebelum turun dari tempat tidur.


"Aku bantu tuang airnya." Umar menuangkan air ke dalam bak mandi lalu mencampurnya dengan air dingin.


Aisyah memperhatikan cara Umar melakukannya, di masa depan mungkin ia yang akan melakukannya untuk Umar. Tidak ada water heater lagi, harus pakai termos. Bukankah itu lebih menyenangkan?


Pemandangan menyenangkan lainnya sejak Aisyah pindah kesini adalah saat para santri berbondong-bondong pergi ke musholla untuk melaksanakan shalat berjamaah kemudian mengaji bersama. Mereka baru keluar dari masjid setelah matahari terbit bersiap melakukan aktivitas selanjutnya. Pondok tersebut juga memiliki pendidikan formal bagi para santri. Sebagian santri yang sudah selesai menempuh pendidikan formal akan menyiapkan sarapan bagi santri lainnya. Tidak ada aturan tertulis, tapi mereka mengerti tugasnya masing-masing.


Pagi itu pemandangan tidak biasa disaksikan oleh beberapa santri yang berada di dapur dalem. Mereka melihat Aisyah dan Umar memasak. Umar sudah mengatakan jika mereka tak perlu sungkan dan anggap saja ia tidak ada.


Umar mengajak Aisyah memasak dengan bahan yang ia dapat dari kebun belakang. Beberapa hari ini Umar juga mengajari Aisyah mencuci pakaian, menjemur hingga menyetrika. Pekerjaan yang dianggap sepele dan semua orang bisa melakukannya tapi tidak bagi Aisyah. Umar bisa memahami itu sepenuhnya, jadi ia akan mengajari istrinya dengan sabar. Ada banyak yang harus Aisyah pelajari, ia selalu bersemangat setiap hari karena kini ia tidak sendiri, ada Umar bersamanya.


"Kamu yakin bunga pepaya ini bisa dimasak?" Aisyah menatap Umar ragu.


"Tentu saja, untuk menghilangkan rasa pahitnya kita cuci pakai garam." Umar menambahkan tiga sendok garam pada bunga pepaya lalu Aisyah mencucinya. "Kamu terlihat ragu tapi percaya sama aku, bunga pepaya ini enak sekali."


"Lebih enak dari genjer?"


"Tentu saja." Umar lanjut merebus bunga pepaya dengan asam jawa. Ia tahu cara tersebut dari Maryam. Umar cukup mahir memasak karena saat di pondok dulu, ia sering memasak sendiri dari pada membeli. Walaupun tentu masakannya tidak seenak buatan Maryam tapi lumayan untuk mengajari Aisyah.


"Halusin bumbunya pakai ini." Umar meletakkan cobek dan ulekan.


"Oke." Aisyah memotong bawang merah, bawang putih dan cabai agar lebih mudah dihaluskan.


"Biar aku yang cuci ini, Mas bawa ke meja."


"Iya, aku tunggu di ruang makan."


Aisyah mencuci alat masak yang mereka gunakan sedangkan Umar pergi ke ruang makan lebih dulu. Jika ada yang bilang memasak itu mudah, maka Aisyah akan mengatakan jika itu salah. Bagi Aisyah tidak ada yang mudah tapi ia harus membiasakan diri.


"Mau saya bantu, Ning?" Seorang santri yang dari tadi berada di dapur menghampiri Aisyah.


"Oh tidak usah, terimakasih." Tolak Aisyah sopan.


"Maaf kalau boleh tahu, apa Ning Aisyah memang benar-benar tidak bisa memasak?"


Aisyah mengangguk, sebenarnya ia malu mengakui itu tapi ia tak mungkin berbohong, semuanya sudah tahu jika ia tak bisa memasak.


"Dan mencuci piring, mencuci baju, menyetrika, apakah Gus Umar benar-benar harus mengajari Ning Aisyah melakukan hal sepele yang harusnya seorang istri lakukan, bukannya mau kurang ajar tapi ini pertama kalinya kami melihat hal seperti itu."


"Itu benar, mungkin bagi sebagian besar orang pekerjaan seperti memasak dan mencuci adalah hal sepele tapi ini pertama kalinya bagi saya."


Dari balik pintu Umar mendengar semua percakapan itu, tadinya ia hendak membantu Aisyah mencuci alat masak. Namun setelah mendengar itu, Umar berbalik dan kembali ke ruang makan.


Aisyah menyelesaikan semuanya dengan cepat lalu menyusul Umar ke ruang makan. Yang lain juga sudah menunggu Aisyah untuk sarapan bersama.

__ADS_1


*******


Sebelum membuka butik, Aisyah pergi berkunjung ke rumah orangtuanya. Umar sudah berangkat mengajar, mereka kembali beraktivitas seperti biasa setelah seminggu cuti. Aisyah hendak mengajak mama nya ke toko oleh-oleh, ia sudah berjanji akan membawa oleh-oleh ke Lumajang.


"Mama mana Bi?" Aisyah meletakkan tas nya di meja ruang tamu lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa.


"Masih ganti baju di atas Ci."


"Kalau gitu aku ke atas dulu ya." Aisyah beranjak menaiki tangga menuju kamarnya.


Kamar itu sama sekali tidak berubah, hanya sprei nya yang sudah diganti dengan warna lain. Aisyah tidak bisa menahan diri untuk merebahkan diri di atas kasurnya yang luas dan empuk. Aisyah menatap langit-langit kamarnya, baru seminggu tapi ia sudah merindukan tempat ini. Bukannya Aisyah tidak suka dengan kamar Umar, ia hanya belum terbiasa menyesuaikan diri dengan banyak hal. Hidupnya berubah total setelah menikah. Beruntung Umar bisa memahami keadaan Aisyah begitupun dengan Maryam dan keluarga lain. Mereka semua memperlakukan Aisyah dengan baik.


"Kamu disini?"


Aisyah menoleh, tampak mama nya berdiri di ambang pintu. Ia langsung bangkit dari posisi tidur.


"Langsung mau pergi?"


"Iya, ikut aku cari bahan kain juga ya Ma."


Renata memeluk Aisyah dan melihat sang anak dari atas sampai bawah.


"Mama kangen banget sama kamu."


"Aku juga."


Mereka melangkah beriringan menuruni anak tangga menuju halaman.


"Kamu betah tinggal disana?" Renata masuk ke dalam mobil begitupun dengan Aisyah.


"Betah kok, banyak hal baru di rumah Mas Umar."


"Misalnya?"


Aisyah menginjak pedal gas membawa mobilnya meninggalkan halaman rumah.


"Kalau mau mandi air hangat, Mas Umar harus panasin air dulu terus dicampur sama air dingin, nggak ada water heater, menarik ya Ma."


"Memang nggak semua kamar mandi punya water heater, kamu baru tahu?"


Aisyah tahu jika tidak semua kamar mandi memiliki water heater tapi ia baru tahu jika mereka harus memanaskan air dengan kompor dulu jika ingin mandi air hangat.


"Beberapa orang kaget karena aku nggak bisa masak, nyuci, nyetrika bahkan nyapu, mereka bilang itu pekerjaan sepele yang harusnya semua orang bisa."


"Siapa bilang itu pekerjaan sepele, banyak ibu rumah tangga yang harus melakukan itu setiap hari tanpa digaji padahal semua pekerjaan itu menguras tenaga, karena banyak yang menganggap sepele, para suami jadi meremehkan istri."


"Banyak hal yang aku nggak tahu Ma."


"Gimana dengan Umar, apa dia memaksamu melakukan semua itu?"

__ADS_1


"Mas Umar nggak pernah maksa aku Ma, kami melakukannya bersama-sama."


"Kalau gitu kamu nggak perlu mikirin perkataan orang lain."


__ADS_2