Gema Syahadat Aisyah

Gema Syahadat Aisyah
Kemelut


__ADS_3

Pondok pesantren Al-Islam adalah lembaga pendidikan agama yang didirikan oleh kakek Hilya puluhan tahun lalu dan sudah meluluskan ribuan alumni hingga tahun 2015 ini. Lingkungannya tidak berubah sejak terakhir kali Umar berkunjung bersama keluarganya dulu.


Tiga puluh tahun adalah usia yang tepat untuk Umar menikah, ia sudah cukup dewasa untuk menjalani bahtera rumah tangga. Namun sejak pergi dari rumahnya hingga berdiri di halaman pondok pesantren Al-Islam, Umar masih diselimuti keraguan. Ia mempertanyakan sebenarnya apakah tujuan menikah dan apakah dirinya sudah benar-benar siap untuk itu. Mendidik seorang wanita yang akan tinggal bersamanya setiap hari. Mereka akan terus hidup bersama hingga ajal memisahkan.


Khalid sudah memberi banyak nasehat pada Umar bahwa rasa ragu adalah hal biasa dan merupakan godaan orang yang hendak menikah. Khalid meyakinkan sang adik sekali lagi bahwa tujuan pernikahan adalah untuk meraih ridho dan cinta Allah. Pernikahan adalah sesuatu yang dicintai Allah maka Umar harus menerima apapun ujian yang menimpa rumah tangga demi ridho Allah.


"Kamu menyukai gadis lain?" Khalid ingin menanyakan itu pada Umar sejak tadi tapi ia menunggu kesempatan berdua dengan adiknya tersebut.


"Seperti apa rasa suka itu Mas?" Umar jelas menjawab pertanyaan itu dengan kata iya dalam hatinya, tapi Umar tidak mau mengucapkannya.


"Saat kamu merasakan kehangatan ketika melihatnya, disini." Khalid menyentuh dada Umar, "Mas selalu merasakannya ketika melihat Mbak Khawla."


"Mas menikahi orang yang Mas sukai?"


"Enggak, Mas menyukainya setelah menikahinya."


Umar tersenyum, lalu apalagi yang ia ragukan. Umar pasti bisa mencintai Hilya setelah mereka menikah nanti seperti Khalid yang mencintai Khawla setelah menikahinya.


"Memangnya siapa yang kamu sukai?" Khalid tidak menyerah untuk mendapat jawaban tersebut dari Umar. Selisih usia mereka hanya dua tahun maka Khalid mengerti apa yang sedang Umar rasakan sekarang.


"Gadis yang sudah mengenal Aisyah itu." Lirih Umar hampir tidak terdengar tertiup angin yang menggoyangkan dahan pohon mangga di halaman pondok.


Umar masih ingat persis berapa Atalie sangat senang ketika menyebutkan dirinya sudah mengenal Aisyah, Khadijah, Saudah dan Hafshah kemarin. Rasa Umar ingin menceritakan kisah-kisah mereka setiap hari karena Atalie pasti akan menyukainya.


Khalid mengerutkan kening tidak mengerti dengan jawaban Umar. Khalid ingin bertanya lagi tapi Zaid lebih dulu memanggil mereka untuk segera masuk ke kediaman Abizar.


Mereka duduk bersila di ruang tamu bersama keluarga Abizar. Kue-kue dan buah-buahan sudah disediakan di tengah-tengah mereka. Rupanya Abizar mempersiapkan semuanya dengan baik demi menyambut Umar.


Tak lama kemudian Hilya datang membawa satu nampan teh yang masih mengepulkan asap, ia meletakkan gelas-gelas tersebut di hadapan Zaid, Maryam, Khalid dan terakhir Umar.


"Terimakasih." Ucap Umar pada Hilya.


Gerakan Hilya menarik nampan terhenti untuk beberapa saat mendengar ucapan terimakasih Umar, ia mengangguk pelan tanpa berani mengangkat wajah meski ingin. Hilya ingin melihat seperti apa Umar sekarang setelah beberapa bulan tidak bertemu, apakah masih sama atau semakin tampan.


Zaid dan Abizar mengobrol menanyakan keadaan pesantren masing-masing. Obrolan ringan antar teman yang jarang bertemu.


"Kapan kira-kira Hilya wisuda?" Tanya Zaid.


Pertanyaan itu membuat Hilya semakin tertunduk enggan menjawab, ia mendadak bisu, lidahnya kelu tak mampu mengucapkan apapun. Hilya mengerti arah pembicaraan ini, tidak—ia mengerti tujuan mereka kemari. Abizar sudah membicarakan hal itu sejak tadi malam. Sebenarnya Hilya tak bisa tidur semalaman karena Umar akan datang.


"Inshaa Allah paling cepat bulan Agustus kalau prosesnya tidak ada kendala." Jawab Abizar.


"Itu berarti tiga bulan dari sekarang, mereka bisa saling mengenal terlebih dahulu dalam jangka waktu tersebut, sesekali bertukar pesan tidak masalah."


"Tidak usah Bah, lagi pula saya sudah mengenal Ning Hilya sejak kecil." Sahut Umar, ia hanya tidak mau bertukar pesan atau apapun dengan Hilya.


Pipi Hilya memanas, senyumnya mengembang lebar di balik cadarnya. Entah kenapa kalimat sederhana itu membuat Hilya tak bisa menahan senyum. Jadi selama ini Umar sudah merasa mengenal Hilya padahal mereka jarang berinteraksi. Hanya tahu kepribadian masing-masing dari orang lain.


Hilya mengenal Umar sebagai laki-laki yang baik hati, sholeh dan patuh terhadap perintah guru dan orangtua. Beberapa tahun lalu Umar pernah dikirim ke Shanghai untuk membimbing mualaf disana atas perintah pengasuh pondok pesantren Nurul Jadid. Umar adalah sosok yang Hilya kagumi sejak dulu. Hilya sungguh tidak mengira bahwa orangtua mereka sepakat untuk menjodohkan dirinya dan Umar.


******


Di bawah pohon trembesi yang daunnya lebat Atalie duduk menyangga dagu dengan tangan. Di depannya terdapat laptop yang sudah beberapa menit nganggur, Atalie tidak benar-benar melihat layar laptopnya yang menampilkan gambar komik.


Pikiran Atalie jauh menerawang pada sesuatu yang tak bisa ia jabarkan. Memahami diri sendiri adalah sesuatu yang sulit Atalie lakukan.


"Atalie!"

__ADS_1


Atalie melirik seseorang yang menepuk bahunya dari belakang, tanpa menoleh pun ia tahu bahwa itu adalah Ayana. Atalie sengaja pergi ke taman kampus untuk menyendiri tapi ia tak punya kesempatan untuk melakukan itu karena Ayana atau Khanza selalu menghampirinya. Atalie mencoba tersenyum, ia bukannya tidak suka ada Ayana, hanya saja saat ini Atalie butuh waktu sendiri.


"Jangan melamun, ntar kesambet lho."


"Kok aku nggak lihat Mas Umar ya hari ini?" Atalie mengalihkan pandangan pada laptopnya seolah tak butuh jawaban dari pertanyaan tersebut padahal seharian ini ia berharap bertemu dengan Umar. Namun kampus yang sempit ini tidak dapat mempertemukan Atalie dengan Umar.


"Beliau lagi nggak ada jadwal ngajar disini."


"Emang ngajar dimana lagi dia?"


"Sebelumnya Gus Umar udah ngajar duluan di Ibrahimy, jadi ganti-gantian gitu."


Atalie manggut-manggut, kadang ia kagum pada Ayana karena bisa mengetahui segala informasi bahkan pada hal yang tidak penting sekalipun. Seperti Ayana tahu berapa kali Umar tersenyum saat mengajar di kelas. Itu sangat tidak penting tapi Ayana sering menceritakan hal-hal sepele tersebut pada Atalie. Sekarang Atalie mulai menyukai hal sepele tentang Umar, hanya saja ia tak mau mengakuinya.


"Tapi hari ini katanya Gus Umar sekeluarga silaturahim ke rumahnya Kyai Abizar di Lumajang."


"Siapa itu Kyai Abizar?" Atalie melihat Ayana sebentar lalu kembali fokus pada laptopnya.


"Pengasuh pondok pesantren Al-Islam."


Jari Atalie bergerak lincah di atas keyboard laptop, ia berusaha menyelesaikan pekerjaannya setiap kali ada waktu senggang seperti sekarang.


"Putri sulung Kyai Abizar itu namanya Ning Hilya, keluarga mereka memang dekat sejak dulu."


Atalie membiarkan Ayana bercerita tanpa menyela, ia tahu cerita kali ini akan panjang ditambah topiknya yang menarik.


"Sepertinya mereka akan dijodohkan." Ayana sengaja merendahkan suaranya, ia meletakkan telunjuk di bibirnya saat Atalie berhenti mengetik dan melihat ke arahnya.


Raut wajah Atalie berubah dingin, tangannya terkepal mendengar kalimat Ayana. Dijodohkan? ini tahun 2015, apakah masih ada perjodohan seperti itu. Bukankah setiap orang punya hak untuk memilih jodohnya sendiri. Apakah Umar tidak melakukan itu? Walaupun seandainya Umar punya kesempatan untuk memilih jodoh sendiri, Atalie belum tentu menjadi orang beruntung pilihan Umar. Namun setidaknya Atalie ingin mempersiapkan diri untuk sakit hati terlebih dahulu. Ini terlalu cepat, Atalie bahkan belum melakukan apapun untuk memperjuangkan perasannya yang sejak awal memang salah.


"Nggak usah kaget, perjodohan semacam itu udah biasa terjadi antar keluarga kyai." Ayana mengibaskan tangannya menyadarkan Atalie.


Atalie tidak heran karena keluarga besarnya juga pasti menikah dengan mereka yang keturunan Chinese, tentu Umar juga begitu.


"Kamu udah kaya kok masih kerja keras sih?" Ayana mengalihkan pembicaraan, ia heran melihat Atalie tak pernah bersantai meskipun tidak ada kelas. Ketika teman-teman lain sibuk mengobrol sambil mengisi perut, Atalie justru berada di tempat sepi sambil bekerja. "Duit kamu mau ditaruh dimana sih?"


"Ini kebiasaan yang selalu Papa dan Mama terapkan pada anak-anaknya."


"Itu alasannya keluarga mu kaya? karena kalian selalu kerja keras?"


"Nggak mungkin kita tiba-tiba kaya kalau males-malesan terus."


"Iya sih."


"Aku pulang duluan ya." Atalie menutup laptopnya, "kamu masih ada kelas?"


"Masih ada satu kelas." Ayana mengangkat lengan melihat arloji yang melingkar di tangan kirinya.


Atalie memasukkan laptopnya ke dalam tas, ia sudah meminta supir menjemputnya. Terakhir Atalie meraih kopi nya yang sudah dingin.


"Tumben nggak bawa mobil?"


"Lagi males nyetir." Dusta Atalie, ia tak mau Ayana merasa bersalah karena mengajaknya ikut kajian kemarin. Atalie hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri atas hukuman yang ia terima.


"Iya deh anak Bos!"


Atalie tertawa, "apaan sih, aku balik deh." Ia melambaikan tangan pada Ayana seraya melangkah pergi.

__ADS_1


"Langsung pulang Ci?" Tanya supir saat Atalie duduk di jok belakang.


"Iya." Atalie tidak ingin pergi kemanapun selain masjid, lebih tepatnya ia ingin bertemu Umar. Namun mengingat ucapan Ayana tadi, Umar berarti sedang tidak ada disini.


Atalie menyandarkan kepalanya pada jendela, mengapa ia begitu mudah jatuh cinta pada Umar. Mereka bahkan jarang mengobrol, Umar juga tidak pernah memberikan barang berharga. Memikirkan Umar menikah dengan wanita lain membuat dada Atalie terasa nyeri.


Mengapa jatuh cinta sesakit ini?


Kepada siapa Atalie akan menjatuhkan cinta nya tanpa rasa sakit?


"Bantu aku, Tuhan." Bisik Atalie. Tanpa sadar air mata meleleh membentuk anak sungai di pipi mulus Atalie.


******


Kobaran api tampak menyala-nyala di halaman samping rumah ketika Atalie baru turun dari mobil. Atalie mengerutkan kening, sejak kapan mereka membakar sampah seperti itu. Biasanya sampah hanya diletakkan di depan rumah dan ada petugas yang akan mengambilnya.


Atalie berjalan mendekat, saat menyadari itu bukan sampah melainkan pakaian miliknya langkah kaki Atalie semakin cepat bahkan berlari.


"Ini baju aku kenapa dibakar Pa?" Atalie menahan tangan papa nya hendak melemparkan gamis yang baru ia beli, bahkan Atalie belum mengenakannya sama sekali. "Buku-buku aku juga, Papa kenapa sih?"


"Kamu tersesat Atalie!" Jaya menepis tangan Atalie lalu ia melempar gamis terakhir ke kobaran api yang telah membakar buku dan pakaian Atalie. "Hanya karena Papa membebaskan kamu selama ini, bukan berarti kamu bisa seenaknya seperti ini."


"Aku seenaknya gimana sih?"


"Kamu yang harus menjelaskan semuanya sama Papa, kamu sering pergi ke masjid sama teman-teman mu kan?"


Atalie terdiam, ia tak bisa menyanggah ucapan papa nya.


"Dan buku-buku yang kamu baca itu juga membuat mu salah arah, ini bukan jalan mu Atalie."


Tubuh Atalie lemas, ia benci menyembunyikan semua ini tapi ketika Jaya dan Renata mengetahui semuanya ternyata sungguh menyakitkan. Atalie tidak ingin mengecewakan mereka.


"Ini jalan Atalie." Atalie tertunduk.


"Kamu membelanjakan uang Papa untuk barang-barang ini, Papa nggak rela."


"Maaf Pa."


"Sekarang kamu pergi dari rumah, renungkan apa kesalahan mu lalu kembali setelah mendapat jawaban."


Atalie tersentak, apakah ia baru saja diusir dari rumah ini?


"Papa usir aku?"


"Pergilah, kamu butuh waktu sendiri dan jangan bawa apapun."


"Papa nggak perlu usir Atalie, dia sudah minta maaf." Renata mencegah Jaya, meskipun ia juga kecewa tapi tetap saja Atalie adalah anak gadis mereka.


"Mama tahu ini bukan kesalahan kecil." Jaya tetap pada pendiriannya.


Atalie meletakkan tas nya, ia hanya mengambil satu kartu dimana ia menyimpan uang tabungannya sendiri.


"Ini uang tabunganku sendiri dari gaji translator, aku pergi."


Jaya tertegun, ia pikir Atalie akan memohon padanya dan berjanji tidak akan melakukan hal-hal aneh lagi. Renata terus mendesak Jaya agar tidak membiarkan Atalie pergi.


"Dia harus dikasih pelajaran, Mama terlalu memanjakannya selama ini."

__ADS_1


"Mama nggak pernah memanjakannya, dia dididik dengan keras sejak kecil." Renata tidak terima jika Jaya mengatakan dirinya terlalu memanjakan Atalie.


"Dia akan kembali besok." Tukas Jaya yakin, sejak kecil mereka telah memfasilitasi Atalie dan Daniel dengan kemewahan. Atalie tak akan bisa bertahan lebih dari satu hari di luar sana.


__ADS_2