Gema Syahadat Aisyah

Gema Syahadat Aisyah
Jangan Tanya Apapun


__ADS_3

"Wih tumben banget pakai rok panjang." Gracia meledek Atalie yang baru turun dari mobil. Atalie hampir tidak pernah mengenakan pakaian panjang itu sebabnya Gracia meledek saat melihat Atalie mengenakan rok panjang dan sweater yang terlihat bagus di badannya meski ukurannya terlalu besar.



"Gila dimakan nyamuk aku." Sepanjang kaki dan tangan Atalie penuh dengan bekas gigitan nyamuk yang membuatnya harus menyembunyikannya di balik pakaian panjang. "Tapi lumayan enak nih baju."


"Tapi asyik kan perjalannya."


"Lumayan." Atalie menyampirkan tas kuliahnya yang hanya berisi laptop dan satu buku catatan karena tugasnya di semester akhir hanya menyelesaikan tesis.


"Lumayan doang?" Gracia tahu Atalie tak akan nyaman bepergian dengan orang yang tidak terlalu ia kenal. Jika pergi bersama dirinya, Ayana atau Khanza pasti beda lagi.


Atalie mengangguk.


"Yah jadi nggak kelihatan Saturnus kamu." Gracia melihat kaki Atalie di balik rok putih yang dikenakannya. Ia masih ingat alasan di balik tato planet Saturnus di betis Atalie tersebut. Katanya Saturnus itu istimewa, selain memiliki ukuran yang sangat besar Saturnus juga memiliki cincin dengan bentuk unik. Sebenarnya tato gambar apapun akan terlihat cantik di kaki mulus Atalie.


"Nggak apa-apa deh, kan ada matahari." Atalie menunjuk matanya, tidak masalah jika tato Saturnus di betisnya tak kelihatan. Lagi pula Atalie membuat tato itu untuk dirinya sendiri bukan orang lain.


"Itu bikin aku iri sih."


"Apa?"


"Mata kamu lebar banget untuk ukuran orang China."


"Karena emang bukan orang China, orang Indonesia." Atalie spontan mengatupkan bibir ketika melihat Umar datang. "Ayo ke kelas." Ia menarik tangan Gracia agar segera pergi dari sana.


"Aku nunggu Ayana sama Khanza dulu, ada kelas bareng mereka soalnya." Gracia menahan Atalie. "Eh selamat pagi Pak." Gracia menyapa Umar yang baru turun dari motor.


"Pagi." Balas Umar seraya mengulas senyum. Ia juga sempat melirik Atalie yang berdiri di samping Gracia. Umar jadi teringat saat Atalie dirangkul oleh seorang lelaki. Jika hari ini Atalie membawa mobil sendiri artinya ia tidak diantar pacarnya tersebut.


Sudahlah Umar, itu bukan urusanmu.


Gracia menyikut Atalie agar ikut menyapa Umar.


"Dahi kamu kenapa?" Bukannya menyapa Atalie justru salah fokus pada plester di dahi Umar.


"Ih nggak sopan banget sama dosen." Gracia kembali menyikut Atalie. Dari cara bicara Atalie, mereka sudah terlihat seperti teman akrab padahal tidak sama sekali. Hanya karena Atalie pernah ke rumah Umar bukan berarti mereka jadi teman begitu saja. Gracia bisa melihat bahwa Umar tidak berniat berteman dengan Atalie.


"Luka." Jawab Umar singkat, plester yang nangkring di dahinya itu memang cukup mencuri perhatian. Umar bersyukur karena luka tersebut tidak terlalu dalam walaupun rasa malunya akan membekas cukup lama.


"Aku juga tahu kalau itu luka." Gerutu Atalie, jika tidak luka tak mungkin Umar menempelkan plester disitu.


Umar mencabut kunci motornya dan melangkah meninggalkan tempat parkir.


"Aku duluan ya." Atalie melambaikan tangan berlalu dari sana mengabaikan panggilan Gracia, ia setengah berlari mengejar Umar. "Pak!" Panggilnya.


Langkah Umar terhenti, tanpa membalikkan badan ia sudah tahu siapa yang memanggilnya. Suara Atalie sangat khas sehingga Umar bisa langsung mengenalinya.


"Panggilan kamu banyak banget aku jadi bingung." Atalie terengah-engah setelah berhasil menyusul Umar.


"Hm?" Umar tak mengerti apa yang Atalie bicarakan.


"Pak, Mas, Ustadz, terus kata Ayana karena kamu putra pengasuh pondok jadi seringnya dipanggil Gus."

__ADS_1


Bibir Umar berkedut, jadi maksudnya Atalie bingung memanggil Umar dengan sebutan apa. Baru kali ini Umar mendengar orang lain bingung memanggilnya bahkan mengatakannya secara terang-terangan.


"Senyaman mu aja." Umar tak peduli sebutan apapun yang Atalie gunakan untuk memanggilnya.


"Sayang, eh!" Atalie nyengir sendiri sedangkan Umar mengangkat alis terkejut.


Umar bingung pada sifat Atalie, kadang gadis itu terlihat pemalu dan pendiam. Saat mengunjungi kediaman Umar beberapa waktu lalu, Atalie jarang mengangkat wajah dan lebih banyak diam jika tidak Maryam yang mengajaknya bicara lebih dulu. Namun sekarang Atalie justru bersikap jahil.


"Maaf pak." Atalie menautkan tangan di atas kepala meminta maaf pada Umar. Atalie hampir saja keceplosan memanggil Mas, bukankah ini lingkungan kampus. Akan terdengar aneh jika Atalie memanggil Umar dengan sebutan Mas.


"Kenapa kamu memanggil saya?"


Mereka berjalan melewati koridor yang sudah ramai oleh mahasiswa lain.


"Aku baru aja selesai baca buku Khadijah, beliau istri Nabi yang pertama tapi kenapa kamu nggak pernah bahas Khadijah?"


"Saya sudah pernah membahasnya, kamu yang nggak ikut kajiannya."


"Oh." Atalie tersenyum hambar, kenapa ia percaya diri sekali mengatakan hal itu pada Umar. Tahan Atalie, jangan malu. Wajar aja kalau kamu nggak tahu kan?


"Kenapa kamu baca buku Sayyidah Khadijah?"


"Aku baca buku apapun, nggak ada alasan khusus."


"Kamu harus punya alasan khusus untuk membaca buku itu." Umar mempercepat langkahnya.


Atalie berusaha mencerna kalimat Umar. Saat membaca kisah Aisyah, ada banyak nama-nama orang yang Atalie pikir penting. Salah satunya adalah Khadijah, itu sebabnya ia membeli buku tersebut.


Sepertinya Atalie sudah dibuat jatuh cinta oleh sosok Aisyah lalu sekarang ia merasakan hal yang sama pada Khadijah. Mereka sama-sama wanita yang mengagumkan, seperti halnya Atalie merasa kagum saat membaca cerita Maria sang wanita surgawi.


Umar terdiam, itu sebelum dirinya tahu jika Atalie non-muslim. Jika tahu maka Umar tak akan meminjamkan buku tersebut. Siapa sangka jika gadis yang rutin datang ke kajian itu ternyata bukan muslim. Untuk merasa kesal pun Umar tak berhak apalagi saat mengingat ucapan ummi nya bahwa mungkin itu jalan Atalie untuk menjemput hidayahnya.


"Silakan baca buku apa saja yang kamu suka tapi jangan pernah tanya apapun lagi sama saya." Umar kembali mempercepat langkah tapi kali Atalie tidak berusaha mengejarnya.


Umar menyesal karena telah memperkenalkan sosok Aisyah pada Atalie. Harusnya ia tak perlu berbaik hati meminjamkan buku itu.


Atalie terpaku di tengah-tengah koridor, ia tak percaya mendengar ucapan Umar barusan. Kenapa ia tak boleh bertanya apapun lagi. Apakah karena mereka berbeda agama? Atalie salah jika berpikir Umar tak menyadari itu. Jika benar, sejak kapan Umar tahu? Itu tidak penting, lagi pula Atalie memang tak berniat menyembunyikan apapun. Mengapa ia harus bersembunyi? bukankah perbedaan adalah hal biasa di negara majemuk.


"Eh sorry-sorry!"


Atalie tersadar dari lamunannya saat seseorang menabraknya.


"Nggak apa-apa." Atalie sedikit mengangkat tangannya menolak bantuan lelaki yang telah menabraknya, ia adalah Tio yang hendak memegang lengannya. Sepertinya Tio ingin memastikan Atalie baik-baik saja.


Atalie segera berlalu dari sana sebelum Tio berbasa-basi. Selain tidak suka basa-basi, Atalie juga sedang tidak ingin bicara dengan siapapun terutama si Tio.


Tio menatap kepergian Atalie, terhitung dua kali Atalie menolak bantuannya. Tio pikir setelah melakukan perjalanan bersama, ia akan lebih akrab dengan Atalie.


******


"Atalie, ini baju kamu?" Renata menenteng gamis berwarna hitam yang ia temukan di tumpukan baju yang hendak disetrika.


Renata melangkah ke taman belakang dimana Atalie sedang membaca buku sejak pulang kuliah tadi. Atalie tak akan beranjak sebelum menyelesaikan buku yang dibacanya.

__ADS_1


"Ini baju kamu?" Renata bertanya sekali lagi ketika ia sampai di taman belakang.


Atalie mendongak lalu mengangguk, itu baju yang ia pakai saat pergi ke kajian Maryam.


"Kenapa kamu beli baju kayak gini?"


"Karena bagus aja Ma."


"Memang bagus tapi kamu nggak pernah punya baju seperti ini sebelumnya."


"Eh Ma," Atalie meletakkan bukunya untuk bicara dengan Renata. "Gimana kalau aku punya butik baju kayak gitu?"


"Jangan aneh-aneh deh."


"Nggak aneh Ma." Atalie mengambil alih gamis tersebut lalu mengangkatnya lebih tinggi agar Renata bisa melihat keindahan gamis miliknya. "Ini namanya gamis."


"Kamu mau coba bernegosiasi dengan Mama dan Papa soal masa depan mu?"


Atalie mendengus menurunkan gamis tersebut hingga menyentuh rumput yang sengaja di tanam ke seluruh taman. Ia bukannya tidak tahu jika Jaya telah menentukan pekerjaannya setelah lulus kuliah nanti. Meski Atalie tidak menginginkannya ia harus tetap mengikuti perintah papa nya. Tidak ada toleransi untuk itu.


"Aku udah nurutin Papa untuk mengangkat topik penjualan produk Alindra Beauty padahal aku jauh-jauh ke Ijen tapi pada akhirnya tesis ku aja udah ditentuin sama Papa."


"Kamu coba bicara sendiri sama Papa." Renata mengambil kembali gamis Atalie dan melemparnya ke tumpukan cucian.


Bibir Atalie gemetar menahan tangis, ia mendongak untuk mencegah air matanya luruh. Ini bukan satu atau dua kali tapi Atalie sudah sering membicarakan keinginannya untuk memiliki toko pakaian sendiri. Keluarga mereka memiliki pusat perbelanjaan tiga lantai tapi untuk membuka butik kecil terasa sangat sulit bagi Atalie.


Langkah Atalie ragu untuk masuk ke ruang kerja papa nya yang bersebalahan dengan ruang ibadah. Jaya terlihat fokus pada tumpukan dokumen di atas meja bahkan ia tidak sadar ketika Atalie mengetuk pintu dan masuk ke ruangan itu.


Sebelumnya Atalie akan menyerah setiap kali berdebat dengan Renata tapi sekarang ia tak mau mengalah lagi. Atalie tidak meminta hal besar, hanya butik.


"Pa." Panggil Atalie dengan suara serak hampir tidak terdengar. "Papa." Panggilnya sekali lagi karena Jaya tetap tidak menyadari kehadirannya.


"Papa sudah dengar obrolan kamu sama Mama."


Atalie mengembuskan napas panjang, itu berarti ia tak perlu menjelaskannya lagi pada Jaya.


"Pa, aku setuju untuk mengambil topik penjualan produk Papa tapi aku mohon banget sama Papa, aku pengen punya butik Pa."


Jaya meletakkan bolpoin nya dengan keras di atas meja lalu melihat Atalie. Ia membenarkan kacamata berlensa tebal yang bertengger di hidungnya sebelum bicara.


"Tujuan Papa meminta kamu membahas penjualan produk Alindra Beauty itu semata-mata untuk memudahkan kamu supaya kamu nggak perlu pergi jauh reset sana-sini, jadi kenapa kamu menggunakan alasan itu untuk memenuhi keinginanmu?"


Wajah Atalie pias, lihatlah belum apa-apa dirinya sudah kalah. Atalie bahkan belum mengeluarkan pedang tapi Jaya sudah menebas lehernya.


"Silakan bahas topik apa saja untuk tesis itu supaya kamu nggak punya alasan untuk mendapatkan keinginan mu itu."


"Terimakasih karena Papa udah bantu aku, tapi aku nggak minta hal besar Pa, cuma butik, Papa bahkan punya mall tiga lantai pasti nggak sulit untuk Papa ngasih aku butik."


"Kalau nggak sulit kenapa kamu minta bantuan Papa, silakan berusaha sendiri."


Atalie memiliki kesempatan untuk mengeluarkan pedangnya tapi percuma, ia tak punya kemampuan untuk membela diri. Selama ini baik Atalie maupun Daniel tak ada yang bisa menentang keputusan Jaya.


Atalie undur diri dari sana dengan tubuh yang masih gemetar setelah mengumpulkan keberanian untuk bicara dengan papa nya.

__ADS_1


Atalie buru-buru mengusap air matanya yang telanjur mengalir di pipi. Terlalu dini untuk menangis, ia bahkan belum melakukan apa-apa. Pada akhirnya Atalie tetap akan melakukan semua hal yang sudah dirancang oleh papa nya. Atalie bahkan tak punya hak apapun atas hidupnya sendiri.


__ADS_2