
Aisyah terbangun di pagi hari dengan suasana baru yang benar-benar berbeda dari biasanya. Bacaan ayat suci Al-Quran dari masjid pondok, kamar sempit dengan jendela kecil di salah satu sisi dinding dan langit yang masih gelap. Aisyah tersenyum, ia tak percaya dirinya bangun mendahului matahari. Biasanya matahari lah yang selalu membangunkannya.
Ada desir aneh dalam dada Aisyah tapi ia merasa hangat dan nyaman, ia seperti dilahirkan kembali bukan Atalie tapi Aisyah. Umar mengatakan keputusan Atalie mengubah nama menjadi Aisyah itu benar, ia berdoa agar Atalie menjadi pribadi yang lebih baik lagi setiap hari.
"Perjalanan dimulai dari sekarang." Aisyah turun dari tempat tidurnya yang tidak se-empuk di rumah, badannya pegal-pegal tapi tak masalah, ia akan terbiasa nanti. Itu adalah salah satu kamar di kediaman Zaid. Rumah satu lantai itu sebenarnya luas hanya saja bangunannya belum modern justru terkesan kuno. Asrama para santri lebih bagus jika dibandingkan dengan rumah tersebut.
Aisyah tidak sabar mempelajari hal-hal baru. Aisyah akan mendapatkan banyak hal setelah memeluk Islam.
Setelah membersihkan diri dan berwudhu, Aisyah keluar kamar menuju masjid bersama Khawla yang sudah menunggunya di depan rumah. Tadi Khawla juga yang membangunkan Aisyah melalui telepon.
"Mari." Khawla tersenyum lebar menyambut Aisyah yang berpenampilan sangat berbeda dari biasanya, ia ingat ketika Aisyah datang pertama kali, gadis itu mengenakan hot pants dengan rambut tergerai indah. Aisyah memang cantik tapi penampilannya sekarang membuat kecantikannya terjaga.
Untuk sesaat Aisyah terkejut melihat Khawla tidak mengenakan cadar yang biasa menutup setengah bagian wajahnya. Khawla mengerti arti tatapan penuh tanya Aisyah tapi ia hanya menanggapinya dengan senyum.
Aisyah ingin bertanya apakah boleh seseorang melepas pasang cadar tapi ia malu karena belum terlalu akrab dengan Khawla. Walaupun Aisyah tahu Khawla akan menjawab pertanyaannya dengan senang hati. Namun tetap saja Aisyah tidak bisa sok akrab, bagaimana jika pertanyannya dapat menyinggung perasaan Khawla.
Aisyah hanya berani banyak bertanya pada Umar seolah mereka adalah teman yang sudah lama kenal. Hanya pada Umar, Aisyah bisa sok akrab.
"Kita lewat sini." Khawla menarik tangan Aisyah agar lewat jalan lain dengan yang biasa dilalui santri laki-laki.
Suara Adzan memenuhi seluruh penjuru, lantunan yang beberapa waktu lalu telah mengisi seluruh relung hati Aisyah. Aisyah tidak dapat melihat adzan tapi ia bisa merasakan suara itu memeluknya yang kala itu tengah dilanda kebingungan. Jadi Aisyah tak perlu melihat sosok Tuhan karena ia telah merasakan kehadiran-Nya.
Para santri sudah memenuhi musholla ketika Aisyah dan Khawla sampai disana. Aisyah terperangah karena sepertinya ia datang paling awal tapi ternyata musholla itu sudah penuh oleh jamaah lain. Apakah semangat para santri selalu seperti ini?
Beberapa orang memberi ruang pada Aisyah dan Khawla untuk menempati shaf di antara yang lain.
Suara takbir terdengar dari imam masjid, itu suara yang familiar di telinga Aisyah. Suara Umar terdengar berat dan merdu secara bersamaan.
Bacaan Al-fatihah menggema ke seluruh penjuru musholla dilanjutkan dengan surat At-Takatsur.
Itu adalah shalat pertama Aisyah sejak dirinya memeluk Islam, shalat yang begitu berkesan. Aisyah sudah menghafal beberapa surat pendek dengan mendengarkan murottan dan membaca tulisan latin tapi surat yang Umar bacakan tadi masih terdengar baru baginya.
Usai shalat shubuh para santri membaca Alqur'an bergantian. Santri putri berada di lantai atas bersama Khawla sedangkan putra di bawah bersama Khalid.
"Mungkin kalian bertanya-tanya siapa yang datang bersama saya pagi ini, silakan perkenalkan diri kamu Aisyah." Khawla melihat Aisyah yang duduk tepat di sampingnya, sebelum memulai tilawah pagi ini ia ingin menjawab rasa penasaran para santri dengan kehadiran Aisyah.
"Perkenalkan saya Aisyah, untuk beberapa waktu ke depan saya akan tinggal disini jadi mohon bimbingannya untuk adik-adik." Aisyah melebarkan senyum mengedarkan pandangan pada santri yang duduk melingkar dengan memegang mushaf masing-masing. Sedangkan Aisyah masih harus belajar huruf Hijaiyah. Meski demikian Aisyah sama sekali tidak malu, ia justru antusias ingin segera belajar.
"Mbak Aisyah baru memeluk Islam jadi kita semua akan merangkul dan membantunya agar senantiasa berada di jalan Allah."
Mereka mengaminkan doa Khawla. Beberapa dari mereka tidak asing dengan wajah Aisyah karena dulu ia pernah datang ke pondok dan sempat menghebohkan para santri. Kini mereka mengerti kenapa Aisyah tidak mengenakan jilbab saat pertama kali datang kesini.
"Aisyah belajar sama Hana ya." Ujar Khawla, ia memilih Hana yang merupakan salah satu santri putri terbaik disana. Usia Hana dan Aisyah juga tidak terpaut terlalu jauh jadi mereka bisa mudah berinteraksi.
"Iya Mbak." Aisyah dan Hana duduk agak menjauh dengan yang lain.
"Hana." Hana mengulurkan tangan pada Aisyah, mereka harus berkenalan lebih dulu sebelum mulai belajar.
"Ata—maksud saya Aisyah." Aisyah terkekeh karena belum terbiasa memperkenalkan diri dengan nama barunya.
"Karena ini baru pertama kali, saya akan mengenalkan huruf-huruf Hijaiyah terlebih dahulu." Hana menunjuk satu per satu huruf dan melafalkannya. Aisyah memperhatikannya dengan sungguh-sungguh, sesekali ia mengulang pelafalan Hana.
Aisyah membaca satu per satu huruf, ia dapat mengingatnya dengan cepat hingga Hana memujinya.
"Saya dapat giliran masak hari ini, Mbak Aisyah mau ikut?" Tanya Hana ketika mereka menyudahi belajar pagi itu. Matahari sudah terlihat mengintip melalui jendela musholla.
"Ayo."
"Ning Khawla, kami izin keluar dulu, saya dapat giliran masak hari ini." Pamit Hanya pada Khawla.
Khawla mempersilakan Hana dan Aisyah pergi lebih dulu sementara ia dan santri lain menyelesaikan tilawah hingga waktu Dhuha nanti.
__ADS_1
"Kamu sudah berapa lama disini?" Tanya Aisyah pada Hana ketika mereka dalam perjalanan menuju dapur khusus santri.
"Ini tahun keempat Mbak."
"Sudah cukup lama."
"Rencananya setelah tahun keenam saya akan keluar dari sini dan melanjutkan kuliah."
"Ini pasti tempat yang menyenangkan sampai kamu bisa bertahun-tahun disini."
Hana terkekeh, disebut menyenangkan juga tidak sepenuhnya benar karena pesantren justru tempat yang menantang menurutnya.
"Tempat yang menyenangkan belum tentu membuat kita betah."
Aisyah membenarkan perkataan Hana, ia baru satu hari disini tapi ia merasa cocok dan betah padahal di rumahnya jauh lebih menyenangkan.
"Hari ini kita akan masak nasi liwet, tahu dan tempe goreng serta kangkung untuk sayurnya, kita bagi-bagi tugas seperti biasanya ya." Seorang juru masak pesantren menyebutkan menu yang akan mereka masak pagi ini. Mereka sudah biasa berbagi tugas tanpa dikomando lagi.
Keputusan Aisyah untuk ikut ke dapur adalah hal yang salah karena ia tidak bisa melakukan apapun. Bagaimana jika kehadirannya disini justru akan membuat dapur menjadi kacau.
"Mbak Aisyah yang gampang aja ya, goreng tahu dan tempe dibantu Lila karena kita masaknya porsi besar."
Aisyah mengangguk kaku, apakah tidak ada yang lebih mudah dari menggoreng tahu dan tempe. Ia menyesal karena menghabiskan waktu terlalu lama di taman belakang untuk membaca buku, ikut ekstrakurikuler di sekolah hingga sore atau bangun kesiangan karena sering belajar hingga larut malam. Seharusnya ia juga menyempatkan diri membantu memasak di rumah.
Yang dimaksud Lila adalah santri putri berpawakan berisi yang memiliki tahi lalat di dagunya. Ia yang akan menggoreng tahu dan tempe bersama Aisyah.
"Mbak umur berapa?" Tanya Lila seraya memberikan pisau pada Aisyah.
"Dua puluh tiga."
"Dua puluh tiga baru belajar Iqro'?"
"Hus Lila jangan bilang begitu, Mbak Aisyah kan baru mualaf kemarin jadi wajar kalau dia belajar Iqro'." Sahut Hana.
"Kamu juga nggak tiba-tiba bisa baca Al-Qur'an kan."
"Sudah-sudah, ayo mulai masak." Kata yang lain menengahi mereka.
"Maaf ya." Lirih Lila pelan.
"Nggak, nggak apa-apa." Aisyah menggeleng, ia sama sekali tidak masalah dengan itu.
Lila membuat bumbu untuk tahu dan tempe sedangkan Aisyah bertugas untuk memotongnya. Sebelumnya Aisyah meminta Lila untuk mencontohkannya lebih dulu.
"Dicelupin tempe ke bumbunya terus digoreng, saya sudah panasin minyaknya."
"Iya." Aisyah mencelupkan tempe yang sudah dipotong-potong ke dalam bumbu dengan gerakan canggung, siapapun yang melihatnya pasti langsung tahu jika itu kali pertama Aisyah menginjakkan kaki di dapur dan menyentuh alat-alat disana.
"Langsung digoreng aja." Tukas Lila melihat Aisyah hanya diam berdiri di depan kompor.
"Eh, iya." Aisyah memasukkan potongan tempe ke dalam minyak panas. "Ah!" Ia memekik kencang ketika minyak menciprat kemana-mana mengenai tangannya.
"Mbak, nggak apa-apa?" Hana mendekati Aisyah.
Aisyah hendak mengatakan tidak apa-apa tapi tangannya terasa amat panas dan melepuh.
"Nyemplung nya pelan-pelan biar nggak nyiprat minyak nya Mbak." Hana membantu Aisyah memasukkan tempe ke penggorengan.
Aisyah ingin kabur, ini lebih menyeramkan dari film horor yang pernah ia tonton bersama Gracia. Katanya itu paling gampang tapi tetap saja Aisyah tidak bisa.
"Aisyah, sini ikut Ummi."
__ADS_1
Aisyah terkejut, ia tidak tahu sejak kapan Maryam berada disitu.
"Saya lagi bantu mereka masak Ummi."
"Ayo masak sama Ummi."
Akhirnya Aisyah mengikuti Maryam keluar dapur, ia merasa diselamatkan oleh Maryam.
"Kamu ada kuliah hari ini?"
"Tidak ada Ummi." Aisyah tidak memiliki jadwal bertemu dosen, mungkin ia hanya akan berada disini seharian, mengerjakan tesis dan menyelesaikan pekerjaannya.
"Kamu bisa cabut kangkung?" Tanya Maryam ketika mereka sampai di dapur.
"Belum pernah coba Ummi, tapi saya bisa belajar, tadi mereka juga mau masak kangkung."
"Iya, menu kami dan para santri selalu sama."
"Dimana kangkung nya Umm?"
"Di kebun belakang, gampang kok, kamu pasti bisa." Maryam memberikan wadah pada Aisyah untuk menampung kangkung yang sudah dicabut.
Aisyah mengangguk menuju kebun melalui pintu belakang, akhirnya ia bisa melihat kebun yang sering Maryam bicarakan. Tidak terlalu luas tapi tanamannya cukup lengkap.
Aisyah melihat Umar sedang menyiram sayur yang ia tak tahu namanya karena mereka masih kecil.
"Ummi meminta ku mencabut kangkung." Ujar Aisyah sebelum Umar bertanya tujuannya kemari.
"Baiklah, cabut beberapa tidak perlu semua." Umar melemparkan pandangan ke barisan kangkung yang sudah siap panen.
"Berapa?"
"Lima pohon cukup, kamu suka kangkung nggak?" Umar mengira-ngira berapa banyak yang harus dimasak untuk mereka.
"Nggak terlalu tapi kalau Mas Umar yang tanam mungkin suka." Aisyah sudah membuktikan saat makan belimbing dan ketela yang Umar tanam, mungkin kangkung juga akan lebih enak jika Umar yang menanamnya.
"Itu seperti kangkung pada umumnya."
Aisyah mencabut kangkung lalu mencuci akarnya yang penuh tanah di sumber air dekat situ. Umar juga mengambil air dari situ untuk menyiram tanamannya.
"Tanganmu kenapa?" Umar tak sengaja melihat punggung tangan Aisyah berwarna kemerahan dan tampak menggelembung di beberapa bagian.
"Kena minyak." Aisyah tidak banyak membantu, ia hanya melukai dirinya sendiri.
"Jangan dipecahkan gelembungnya, kamu harus mengolesnya dengan salep."
Aisyah bukan anak kecil, ia tahu apa yang harus dilakukannya saat terluka.
"Jangan memaksakan diri, aku ingat kamu pernah bilang nggak pernah pergi ke dapur."
"Aku cuma pengen belajar bukan memaksakan diri lagi pula nggak enak kalau yang lain masak sedangkan aku cuma diam."
"Kamu bisa minta tugas yang paling mudah."
"Itu udah yang paling mudah."
"Kamu cabut kangkung aja, sepertinya kamu ahli melakukannya." Umar melenggang pergi setelah selesai menyiram semua tanaman sawi yang baru tumbuh.
"Bukannya dibantuin." Gerutu Aisyah seraya beranjak dari sana setelah selesai mencuci kangkung.
__ADS_1