
Mobil Aisyah berhenti di halaman kampus yang sudah sepi, ia hendak menjemput Umar di kampus yang pernah menjadi tempatnya belajar selama dua tahun untuk mendapat gelar magister.
Aisyah turun dari mobil mengedarkan pandangan ke sekitar, meskipun tidak banyak kenangan tapi kadang ia merindukan suasana kuliah. Aisyah menyesal karena dulu membatasi interaksinya dengan teman-teman kuliahnya. Padahal ia bisa mendapat banyak pengalaman dari orang lain. Sekarang ia merasa dirinya tidak tahu apa-apa. Ia tenggelam dalam kehidupannya sendiri yang sudah diatur oleh orangtuanya.
Dari kejauhan Umar melihat sosok Aisyah, ia mempercepat langkah spontan melebarkan senyum meskipun Aisyah belum melihatnya. Ini pertama kalinya Aisyah menjemput Umar di kampus. Tadinya Umar sudah mengeluarkan motor tapi Aisyah memaksa untuk mengantarnya ke kampus. Kebetulan Aisyah juga hendak pergi ke rumah orangtuanya.
"Assalamualaikum." Umar mengucapkan salam.
Aisyah menoleh menjawab salam lalu mencium tangan Umar. Aisyah menoleh ke kanan dan kiri sejurus kemudian mencium pipi Umar. Mendapat ciuman mendadak seperti itu Umar terkejut, pipinya memerah sedangkan Aisyah tidak bisa menahan tawa. Aisyah hobi sekali melakukan hal tersebut secara tiba-tiba pada Umar.
"Istriku nakal sekali." Umar menarik tangan Aisyah membawanya segera masuk ke dalam mobil sebelum ada yang melihat mereka meskipun ia yakin semua mahasiswa sudah meninggalkan kampus. Namun bukan tidak mungkin ada satpam atau dosen lain di sekitar situ.
"Mau peluk boleh nggak?" Aisyah memasang wajah memelas, karena ini hari pertama mereka mulai bekerja jadi Aisyah merasa sangat merindukan Umar. Mungkin begini rasanya jatuh cinta, Aisyah tidak bisa jauh-jauh dari Umar.
"Boleh." Umar menarik Aisyah ke dalam pelukannya, "hari ini capek ya?"
"Lumayan tapi aku senang bisa ketemu dan bicara banyak hal sama Mama, Mama juga nemenin pilih bahan untuk jilbab yang mau aku bikin."
"Uangnya cukup nggak segitu?"
"Cukup kok, aku nggak mau bikin banyak dulu."
"Semoga usaha mu lancar ya sayang." Umar mengecup puncak kepala Aisyah lalu mengurai pelukan. Mereka akan pergi ke Lumajang mengunjungi keluarga Abizar sekaligus ziarah ke makam Hilya. Aisyah juga sudah membeli banyak oleh-oleh untuk keluarga Abizar.
"Aamiin, doain aku Mas." Aisyah memasang seat belt begitupun dengan Umar. "Doamu pasti lebih mudah dikabulkan."
"Aku selalu mendoakan mu tapi kenapa bilang gitu?" Umar menginjak pedal gas membawa mobil yang mereka tumpangi keluar perlahan dari halaman kampus.
"Level keimanan Mas Umar kan lebih tinggi jauh di atasku jadi—"
"Yang menilai iman kita itu hanya Allah sayang dan dikabulkan atau nggak itu juga rahasia Allah, yang harus kita tahu adalah doa-doa itu nggak mungkin sia-sia."
"Oh ya?"
"Doa itu pasti dikabulkan dan kalaupun enggak sesuai keinginan kita, Allah akan ganti dengan yang jauh lebih baik atau jadi pahala yang bergunung-gunung saat di akhirat nanti."
__ADS_1
"Kok Allah baik sekali ya Mas, kita sudah diciptakan lalu dikasih rezeki dan kemudahan yang nggak bisa kita hitung."
"Allah itu Maha Pengasih, Maha Penyayang, kapan kamu menyadari betapa baiknya Allah sama kita?"
"Saat aku mengenal Islam lalu setiap malam berdoa agar bisa bersama dengan Mas lalu keajaiban itu terjadi, laki-laki yang bahkan nggak pernah menatap ku waktu bicara ternyata bilang mau menikahiku."
"Kalau dipikir sekarang sepertinya aku menyukai Aisyah sejak awal kita bertemu."
Aisyah mencibir tak percaya, "bukannya Mas Umar benci sama aku?"
"Aku sudah bilang kalau aku nggak pernah benci Aisyah."
"Lantas kenapa Mas dulu selalu ketus?"
"Itu untuk menutupi perasaan ku, waktu tahu kamu non muslim aku merasa sakit hati, aku bahkan belum sadar kalau itu sakit hati, entahlah, aku bingung karena nggak pernah merasakan hal seperti itu."
"Mari hidup bersama-sama dalam waktu yang lama."
"Tentu sayang."
Pondok pesantren masih ramai oleh para pelayat bahkan setelah tujuh hari sejak meninggalnya Hilya. Mereka berasal dari luar daerah yang mengenal Abizar dan Aminah dengan baik.
"Gus Umar ya?" Seseorang menegur ketika Umar dan Aisyah baru turun dari mobil.
Aisyah tidak heran jika Umar memiliki banyak kenalan karena selain putra kyai, Umar juga sering menghadiri pengajian di berbagai kota. Aisyah mengetahui hal tersebut setelah menikah karena sebelumnya satu-satunya sumber informasi yang ia dapat berasal dari Ayana, itupun tidak banyak. Sekarang Aisyah memiliki waktu seumur hidup tak hanya untuk mengetahui tentang Umar tapi juga menghabiskan sisa usia bersama lelaki tersebut.
Umar menyalami lelaki berusia sekitar 50 tahunan tersebut dan menanyakan kabarnya. Umar mengobrol sebentar dengan beberapa orang yang ia kenal disana sekaligus mengenalkan Aisyah.
"Jadi Gus Umar sudah menikah padahal saya berniat mengenalkan Gus dengan putri saya." Celetuk salah satu ibu-ibu.
Umar tertawa kecil menanggapi candaan tersebut. Aisyah ikut tertawa padahal candaan itu tidak lucu sama sekali, apakah ia juga harus terbiasa dengan candaan semacam itu.
"Ning siapa tadi?"
"Aisyah." Aisyah menyahut, satu lagi, ia juga harus terbiasa dengan panggilan Ning. Aisyah tidak tahu jika ia akan dipanggil Ning setelah menikah dengan Umar.
__ADS_1
"Nama mu secantik orangnya."
Aisyah mengucapkan terima kasih atas pujian tersebut, "ayo masuk Mas." Bisiknya pada Umar.
Umar pamit undur diri hendak menemui Abizar dan Aminah lebih dulu.
"Ummi, gimana kabar Ummi?" Aisyah mengalami Aminah dan memeluknya, sekarang ia juga punya ummi selain Maryam.
"Ummi baik saja, kalian bawa apa sebanyak ini?"
"Ini oleh-oleh khas Banyuwangi, saya sudah janji pada Ning Hilya untuk membawanya saat berkunjung."
Senyum Aminah seketika lenyap mendengar jawaban Aisyah, sorot matanya meredup tapi ia segera memasang senyum kembali.
"Maaf Ummi." Aisyah menyadari perubahan raut wajah Aminah.
"Terimakasih sudah menepati janji mu Aisyah, Ummi nggak apa-apa." Aminah mempersilakan Umar duduk dan mengajak Aisyah ke ruangan lain. Tamu laki-laki dan perempuan berada di ruangan terpisah.
Aisyah melihat Aminah masih memakai gelang manik-manik buatannya. Aminah terlihat begitu rapuh walaupun di luar ia berusaha terlihat tegar. Kadang saat sendiri ia ingin marah karena Hilya begitu cepat meninggalkannya. Kadang ia berpikir apakah jika Hilya menikah dengan Umar, saat ini Hilya masih berada di pelukannya. Namun Aminah segera menyadarkan dirinya bahwa yang terjadi ini adalah kehendak Allah.
"Di belakang banyak santri yang sedang membantu menyiapkan makanan dan mencuci piring, boleh bantu Ummi untuk membagi oleh-oleh mu pada mereka?"
"Tentu saja Ummi."
"Ummi akan menyisakan beberapa."
"Saya sudah menyiapkannya untuk Ummi dan Kyai Abizar." Aisyah memberikan paper bag dengan ukuran yang lebih kecil pada Aminah.
Aisyah pergi ke belakang untuk membagi oleh-oleh itu untuk para santri. Mereka menyambut Aisyah dengan baik. Ketika adzan magrib terdengar mereka segera menuju musholla untuk shalat berjamaah. Aisyah tidak bisa menemukan Umar saat keluar tapi ia tak khawatir karena Aminah bersamanya.
Walaupun langit sudah gelap tapi Aisyah dan Umar tetap pergi ke makam Hilya dan berdoa disana. Pusara Hilya dipenuhi tumpukan bunga berwarna-warni dari para peziarah.
Walaupun sosoknya sudah tidak ada tapi kebaikan Hilya akan selalu dikenang. Aisyah juga akan selalu mengenang Hilya sebagai perempuan berhati paling baik yang pernah ia kenal. Pertemuan mereka sangat singkat tapi penuh dengan makna. Aisyah masih ingat setiap kalimat yang Hilya ucapkan saat itu.
__ADS_1