Gema Syahadat Aisyah

Gema Syahadat Aisyah
Kehidupan Berumahtangga


__ADS_3

Depan kampus ada cafe baru, kesana yuk. Lama ngga keluar bareng kamu. Mumpung Gracia belum ke Semarang.


Aisyah membaca pesan dari Khanza, ia tidak segera membalas pesan tersebut karena harus melayani pembeli yang hendak membayar belanjaannya.


"Terimakasih ya." Aisyah menyodorkan paper bag berwarna magenta berisi gamis dan jilbab milik pembeli. "Hati-hati di jalan." Ucapnya setelah menyerahkan uang kembalian.


Aisyah membaca pesan Khanza sekali lagi, benar juga mereka sudah lama tidak pergi keluar bersama. Dulu saat masih kuliah hampir setiap hari mereka pergi ke Mall membeli barang yang tidak terlalu penting, keliling kota hingga sore lalu pergi kajian. Itu adalah masa dimana Aisyah tak perlu pikir dua kali untuk membeli sesuatu yang mahal. Namun sekarang meski sudah berpikir seribu kali pun belum tentu Aisyah mampu beli barang yang ia inginkan.


Tidak mungkin Aisyah pergi dengan teman-temannya sekarang, setelah pulang dari butik dan shalat dhuhur, ada banyak pekerjaan yang menunggunya.


Hari ini belum bisa, maaf ya.


"Assalamualaikum."


Aisyah mendongak spontan menjawab salam, Nelly—salah satu karyawan di butik Aisyah datang untuk menggantikan Aisyah di meja kasir.


"Saya pulang dulu ya." Aisyah meraih ponsel dan tas nya beranjak dari kursi. Ia berpamitan pada ketiga karyawannya untuk pulang dulu. Ia akan kembali setelah shalat magrib nanti untuk menutup butik. "Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam." Jawab mereka serempak.


Tempat parkir rumah masih kosong ketika Aisyah sampai, itu artinya Umar belum pulang dari kampus. Aisyah bergegas membersihkan diri dan berwudhu lalu mendirikan shalat dhuhur di kamar.


Shalat dan berdzikir adalah waktu istirahat Aisyah dari segala aktivitasnya yang melelahkan. Tidak mudah menjadi ibu rumah tangga sekaligus bekerja, Aisyah bukannya tidak tahu soal itu. Namun ia tetap menikmati kegiatannya walaupun setiap hari hanya itu-itu saja.


Tanpa melepas mukenah, Aisyah mengangkat jemuran yang sudah kering setelah seharian terkena sinar matahari. Ia tidak khawatir soal tempat menjemur pakaian karena lahan kosong di rumah itu cukup luas. Bahkan setelah Umar menanami halaman belakang dengan berbagai sayur, lahan kosong masih tersisa cukup banyak.


Aisyah baru melepas mukenah saat hendak memasak makan siang, ia harus segera menghidangkan makanan di meja sebelum Umar datang.


"Cuma ini?" Aisyah menghela napas berat melihat hanya ada satu papan tempe dan sebutir telur di kulkas. Aisyah pernah berjanji pada dirinya sendiri untuk memasak makanan yang lebih enak untuk Umar tapi kenyataannya ia hanya bisa membuat tempe goreng dan telur ceplok. Beruntung kangkung di belakang rumah sudah ada beberapa yang bisa dipanen.


Beberapa bulan lalu,lebih tepatnya sebelum menikah Aisyah sudah merancang masa depannya. Membuka butik yang menjadi impiannya sejak lama sekaligus menjadi ibu rumah tangga. Hanya ada angan-angan yang membahagiakan. Namun ternyata setelah dijalani, tak semulus yang dipikirkan. Tabungannya sudah terkuras untuk merenovasi rumah, butik juga tidak ramai pembeli karena harga pakaian yang memang tergolong mahal. Tabungan Umar jangan ditanya, ia bahkan harus menjual mobil tuanya untuk tambahan membeli rumah.


Suara deru motor Umar membuyarkan lamunan Aisyah, ia menyeka air mata yang tanpa sadar sudah membasahi pipinya.

__ADS_1


Aisyah sudah berganti pakaian karena ia tak mau menyambut Umar dengan aroma bawang dan asap. Ia menyemprotkan parfum sebelum membukakan pintu untuk suaminya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam." Aisyah mencium punggung dan telapak tangan Umar yang berbau asap kendaraan tapi tak apa, ia tetap mengecup tangan sang suami dengan sayang. "Mau mandi dulu atau langsung makan Mas?"


"Mau peluk istriku dulu." Umar menutup pintu lalu memeluk Aisyah, rasa penat setelah seharian bekerja hilang seketika setelah memeluk Aisyah. "Kamu wangi sekali sayang." Ia mendaratkan kecupan di kening Aisyah.


"Kamu suka Mas?"


"Suka sekali, aku seperti berada di taman bunga sekarang."


Aisyah tertawa menepuk punggung Umar satu kali. Sungguh berlebihan Umar memberi pujian tapi tentu itu membuat Aisyah tersipu.


"Mandi dulu gih biar seger."


Umar melepas pelukannya dengan berat hati, masuk ke kamar dan meletakkan ransel nya. Sementara Umar mandi, Aisyah menyiapkan pakaian ganti.


"Sayang, aku langsung taruh handuk  nya di jemuran nih." Umar setengah berteriak dari halaman samping pada Aisyah yang tengah menyiapkan piring untuk mereka.


"Aku nggak mau istriku ngambek." Awalnya Umar tidak mengerti ketika Aisyah tiba-tiba cemberut dan mendiamkannya, ternyata karena ia menaruh handuk basah di kasur.


"Aku cuma masak ini Mas."


"Ini sudah lebih dari cukup, ada sayur dan lauk."


"Ini kangkung dari kebun belakang, segini cukup nggak?" Aisyah mengambil nasi untuk Umar ditambah sayur, tempe dan telur mata sapi.


"Cukup sayang, ini untuk mu." Umar memindahkan telur ke piring Aisyah.


Aisyah menatap telur mata sapi yang pinggirannya sedikit gosong. Sekarang sebutir telur terasa sangat berharga padahal dulu Aisyah selalu pilih-pilih makanan. Telur harus digoreng setengah matang baru Aisyah mau memakannya.


Air mata Aisyah kembali menetes tanpa seizinnya, ia segera menyeka nya sebelum Umar melihatnya.

__ADS_1


"Ada apa Aisyah?" Umar mengulurkan tangan mengusap pipi Aisyah yang basah. "Kenapa kamu menangis?"


"Aku seneng dikasih telur." Aisyah kembali mengembangkan senyum tidak mau membuat Umar khawatir.


"Makan yang banyak, kamu kurusan, apa istriku nggak bahagia menikah denganku?"


"Kenapa bilang gitu Mas, cewek-cewek memang biasa diet supaya punya badan yang bagus." Aisyah sendiri tidak menyadari jika tubuhnya lebih kurus.


Mereka berdoa sebelum mulai makan, menu sederhana yang membuat keduanya makan dengan lahap. Aisyah bukan lagi anak papa dan mama yang suka pilih-pilih makanan, ia bisa makan apapun yang ada di hadapannya terlebih itu masakannya sendiri.


"Nanti kita ke pondok ya, Ummi Ayra adiknya Abah mau datang berkunjung bersama keluarga besarnya."


"Iya Mas."


Usai makan Umar mencuci wadah bekas makan mereka sedangkan Aisyah membuat teh dan mengeluarkan satu toples nastar buatan mama nya.


Sembari menunggu waktu ashar sebelum Umar berangkat mengisi kajian di masjid biasanya mereka menonton televisi di ruang tengah ditemani teh dan makanan ringan. Renata yang selalu memastikan toples di rumah itu tidak pernah kosong.


"Kalau besok ada waktu, aku boleh pergi sama Khanza nggak?"


"Berdua saja?" Umar menunduk menatap Aisyah yang tidur di pangkuannya. Televisi yang menayangkan acara olahraga tak terlalu menarik perhatian.


"Sama Ayana dan Gracia juga."


"Boleh, mau kemana memangnya?"


"Khanza bilang ada cafe baru di depan kampus jadi dia ngajak kesana."


"Boleh sayang."


"Uang kita lagi menipis banget tapi aku justru mau keluar sama temen-temen." Aisyah menekuk bibirnya, ia lupa mempertimbangkan itu.


"Besok aku gajian lagi pula Aisyah nggak pernah keluar sama mereka sejak kita menikah, makan di cafe nggak akan menghabiskan gaji ku satu bulan kan?"

__ADS_1


Aisyah membenamkan wajahnya ke perut Umar, ia tidak tega menggunakan uang Umar untuk bersenang-senang dengan teman-temannya. Namun jika bukan besok mungkin mereka tidak akan bisa pergi bersama lagi karena Gracia harus berangkat ke Semarang untuk melanjutkan studinya.


__ADS_2