Gema Syahadat Aisyah

Gema Syahadat Aisyah
Mimpi Aneh


__ADS_3

Mobil Chevrolet Trax putih milik Atalie memasuki halaman rumahnya yang luas dan terawat. Felix keluar dari mobil terlebih dahulu untuk membukakan pintu Atalie.


"Atalie, aku minta maaf sekali lagi." Cicit Felix lagi membuat Atalie muak, sepanjang perjalanan ia terus meminta maaf tapi satu kali pun Atalie tidak menjawab.


Felix mencondongkan tubuhnya hendak menggendong Atalie tapi Daniel mendahuluinya. Beberapa saat yang lalu Daniel menerima pesan singkat dari kakaknya, itu sebabnya ia langsung keluar ketika melihat mobil Atalie.


"Ya ampun Atalie, kamu kenapa?" Renata panik melihat Atalie digendong Daniel dari halaman. Daniel hanya mengatakan pada Renata bahwa Atalie jatuh di depan restoran.


"Tante maaf, saya bisa jelasin." Felix memegang tangan Renata.


"Kamu siapa?" Renata sedang kalut, ia tidak peduli pada penjelasan apapun yang telah membuat Atalie celaka.


"Saya Felix Tante, teman Atalie, tadi kami makan bersama lalu saya memberikan hadiah high heels untuk Atalie, sebelumnya Atalie sudah bilang kalau dia tidak bisa memakai high heels tapi saya memintanya untuk coba memakainya lalu Atalie jatuh, maafkan saya Tante." Jelas Felix panjang lebar, ia tidak mau citra nya buruk di depan mama Atalie.


"Sudah-sudah, kamu boleh pergi sekarang." Renata menepis tangan Felix, ia ingin marah tapi yang terpenting sekarang adalah keadaan Atalie.


Felix menatap kepergian Renata, ia mengacak-acak rambutnya frustrasi. Ia menyesali tindakan bodohnya tadi. Felix tak menduga jika Atalie benar-benar tidak bisa memakai high heels.


"Ya Tuhan, bengkak sekali kaki kamu." Renata meminta bibi ART mengambil es untuk mengompres kaki Atalie. Renata ngeri melihat kaki Atalie membiru dan bengkak. "Sandal sialan ini!" Renata melepas high heels yang masih terpasang di kaki Atalie.


"Aduh pelan-pelan Ma!" Jerit Atalie, ia seperti mau pingsan merasakan nyeri di kaki kirinya. Ia bersumpah tidak akan berbaik hati memaafkan Felix.


"Kak Atalie harus ke rumah sakit." Tukas Daniel yang dari tadi memperhatikan kaki Atalie.


"Benar kata Daniel." Renata mengambil es yang sudah dimasukkan ke dalam plastik lalu segera mengompres kaki Atalie. "Ini akan mengurangi sakitnya, Daniel tolong panggil dokter Irwan kesini." Renata tak tega jika Atalie harus pergi ke rumah sakit dengan kaki seperti itu, lebih baik mereka memanggil dokter kesini.


Daniel melakukan perintah mama nya menghubungi dokter Irwan yang sudah kenal baik dengan keluarga Alindra.


"Kamu istirahat dulu." Renata beranjak dari sana untuk mengambil es lebih banyak.


"Kak Atalie kok bisa sama itu, siapa sih namanya, yang dari SMA ngejar-ngejar Kakak." Daniel duduk di samping Atalie setelah menelepon dokter Irwan, ia heran karena tadi pagi Atalie mengatakan hendak pergi ke kantor produksi tapi kenapa tiba-tiba kembali dengan seorang lelaki.


Atalie tidak punya energi untuk bercerita panjang lebar tapi adiknya yang selalu kepo itu pasti tak akan berhenti bertanya hingga ia menceritakan semuanya.


"Dia ngajak makan bareng terus ngasih hadiah sandal itu," Atalie melirik high heels yang beberapa menit lalu masih menempel di kakinya. Bahkan Felix tidak melepas high heels yang sudah mencelakakan Atalie tersebut.


"Dan kakak pakai?"


"Iya karena aku pengen buruan pulang, supaya dia puas jadi aku pakai tapi baru beberapa langkah udah jatuh, gila sih, sialan si Felix." Atalie memijit pelipisnya yang kini juga ikut berdenyut.


"Sepertinya Kak Atalie harus belajar pakai high heels." Daniel ikut melihat high heels yang sudah terlempar jauh dekat tangga.


"Kenapa?"


"Karena Kak Atalie perempuan." Daniel mengedikkan bahu, bukankah semua perempuan harus bisa memakai high heels.


"Sejak kapan ada peraturan bahwa perempuan harus pakai high heels." Atalie menegakkan tubuhnya tak terima dengan perkataan Daniel.


"Memang nggak ada, tapi high heels udah jadi atribut wajibnya perempuan karena bisa membuatnya terlihat lebih menarik."


"Aku udah menarik tanpa high heels, you know?"

__ADS_1


"Tapi kenapa Kakak masih jomblo sampai sekarang?" Daniel tak mau kalah.


"Sialan keripik kentang melempem!" Atalie mengibaskan-ngibaskan tangannya yang basah setelah memegang sekantong es batu ke wajah Daniel.


"Kok marah sih?" Daniel beranjak dari duduknya mengusap wajahnya yang basah.


"Aku akan dapat laki-laki yang nggak mewajibkan ceweknya pakai high heels!" Semprot Atalie.


"Cari aja sampai ujung dunia, nggak akan dapat!" Daniel menjulurkan lidahnya jahil.


"Mama, Daniel nih!" Teriak Atalie.


"Apa sih kalian baru ditinggal sebentar aja udah ribut." Renata kembali membawa sekantong es batu. "Daniel, jangan jahil, Kakak kamu lagi sakit gini."


Daniel kabur keluar rumah melihat kedatangan dokter Irwan. Daniel menjelaskan kondisi Atalie pada dokter berusia 40 tahunan tersebut.


"Saya mengerti." Irwan sudah mendengar penjelasan singkat Daniel tadi melalui telepon.


Irwan meraba kaki Atalie yang sudah bengkak dan berwarna keunguan di bagian bawah.


"Bagaimana dokter?" Renata menggigit jari menunggu jawaban dokter dengan perasaan cemas.


"Cukup parah, saya akan membalutnya dengan perban elastis." Irwan membalut kaki Atalie dan perban elastis untuk mengurangi peradangan akibat cedera. "Selalu tempatkan kaki di tempat yang lebih tinggi untuk mengurangi pembengkakan, saya juga akan berikan obat untuk meredakan nyerinya."


"Berapa banyak yang bisa saya minum dalam satu hari?" Tanya Atalie, ia tak sanggup merasakan nyeri di kakinya.


"Satu kali sehari, harus pakai alat bantu saat berjalan agar lekas pulih."


"Baik." Atalie akan mengingat semua yang dokter katakan, untungnya ia tak harus pergi ke kampus setiap hari. Atalie bisa mengerjakan tesisnya dari rumah.


"Gendong aja." Atalie menyerah di tengah-tengah anak tangga, sulit sekali berjalan dengan satu kaki.


"Mana bisa gendong Kakak sambil naik tangga, kalau jatuh gimana?"


Atalie menghela napas berat, benar ucapan Daniel. Tidak lucu jika mereka berdua jatuh dari tangga.


Daniel menyusun bantal untuk kaki Atalie sesuai saran dokter. Meskipun sering berantem tapi sebenarnya mereka saling menyayangi dan perhatian satu sama lain. Usia keduanya terpaut 6 tahun tapi Daniel sudah tumbuh lebih tinggi dari Atalie.


"Atalie!" Jaya masuk kamar dengan tergesa-gesa, ia dengar dari Felix bahwa Atalie jatuh.


"Nggak apa-apa, Pa cuma keseleo." Atalie memaksakan senyum, ia tak mau membuat papa nya panik.


"Dokter Irwan bilang ini cukup parah, Mama juga udah cerita semuanya."


"Oke." Atalie bersyukur, itu artinya ia tak perlu mengulang cerita yang sama untuk kesekian kalinya.


"Atalie, jangan memaksakan sesuatu yang kamu nggak bisa lakukan, ini akibatnya."


Bukankah memaksakan sesuatu adalah kebiasaan yang Jaya ajarkan pada Atalie. Atalie terbiasa melakukan sesuatu yang tidak ia suka. Namun Atalie tidak menjawab apapun, ia hanya melirik Daniel yang diam-diam melangkah keluar.


******

__ADS_1


Malam harinya Atalie mengalami demam tinggi efek dari kakinya yang terkilir. Renata terus berada di kamar Atalie, ia tak mau meninggalkan putri sulungnya itu meski sebentar. Atalie termasuk jarang sakit sejak kecil tapi sekalinya sakit bisa berhari-hari. Itu sebabnya Renata sangat menghawatirkan Atalie.


Renata beranjak dari sofa berpindah duduk di samping Atalie, ia menyentuh kening Atalie untuk memeriksa suhu tubuhnya.


"Ma, aku bukan anak kecil." Atalie mencoba membuka mata, ia sudah meyakinkan Renata bahwa dirinya baik-baik saja.


"Lalu kenapa, kamu udah nggak butuh Mama?" Renata mengompres dahi Atalie dengan handuk hangat.


Atalie menggeleng samar, "bukan gitu Ma."


"Kamu baru 23." Renata mengusap rambut panjang Atalie.


"Aku udah 23, Ma sebentar lagi lulus S2."


"Bagi Mama kamu tetap gadis kecil Mama yang nggak tahu apa-apa walaupun sebentar lagi dapat gelar magister, istirahat ya." Renata mematikan lampu ruangan lalu menyalakan lampu tidur yang terletak di kanan dan kiri ranjang. "Kalau butuh sesuatu, kamu bisa panggil Mama lewat telepon."


"Iya Ma." Atalie tidak mungkin mengganggu waktu tidur mama nya, ia hanya demam dan masih bisa berjalan dengan satu kaki serta bantuan tongkat.


******


"Atalie, ini untukmu." Seorang pria bertubuh tegap memberikan setangkai bunga mawar putih pada Atalie. Meskipun bingung tapi Atalie tetap menerima bunga tersebut.


Atalie melihat sekeliling, semua orang memegang bunga mawar merah, hanya bunga miliknya  yang berwarna putih dan bercahaya padahal tidak ada lampu di dalamnya.


"Kenapa hanya punya ku yang warna putih?" Atalie sedikit mendongak demi melihat wajah pria yang memberikan bunga padanya, ia tak mudah dirayu dengan bunga. Namun pria ini tidak terlihat seperti hendak merayu Atalie.


"Karena Tuhan telah memilih mu." Suaranya terdengar tegas hingga membuat Atalie sedikit ciut.


"Tuhan?" Atalie bingung.


"Tuhan yang menciptakan mu, Tuhan yang menciptakan langit dan bumi."


Atalie semakin tidak mengerti pada penjelasan pria tersebut tapi ia enggan untuk bertanya lagi. Atalie mencium aroma semerbak dari mawar di tangannya, tidak seperti mawar yang biasa Atalie jumpai, aromanya jauh lebih harum.


"Jalan yang Tuhan kasih tidak selalu mulus tapi Dia memberimu kekuatan berkali-kali lipat untuk melaluinya." Pria itu membalikkan badan lalu melangkah pergi.


"Tunggu." Atalie mencoba untuk menahan pria itu bahkan mengejarnya tapi berjalan dengan satu kaki membuatnya tak bisa menyamai langkah.


"Tunggu!" Atalie terbangun dari tidurnya yang baru sebentar, ia meringis merasakan nyeri di kakinya. Pasti efek obatnya sudah habis. Atalie mengusap wajahnya yang penuh keringat, handuk basah di keningnya sudah tidak ada entah kemana. Napasnya terengah akibat mengejar pria tidak dikenal dalam mimpinya.


Pintu kamar Atalie terbuka lalu Renata dan Jaya muncul. Renata mendengar teriakan Atalie barusan karena kamar mereka bersebelahan, kebetulan ia dan Jaya juga belum tidur.


"Ada apa Atalie?" Renata menghampiri Atalie, ia melihat wajah Atalie sudah basah penuh keringat begitupun dengan rambutnya.


"Nggak tahu Ma." Atalie kebingungan melihat Renata dan Jaya.


"Kamu barusan teriak kenceng banget makanya kami kesini, kamu mimpi buruk?"


Atalie tak tahu apakah itu disebut mimpi buruk atau bukan, rasanya sangat nyata bahkan ia masih bisa mencium aroma mawar itu sekarang.


"Mungkin efek demam kamu." Renata menyesal karena meninggalkan Atalie, harusnya ia tidur disini.

__ADS_1


"Kamu tenang aja, itu cuma mimpi." Jaya menyentuh kening Atalie, "panasnya sudah turun."


Atalie mengangguk samar, orang demam kadang memang bermimpi macam-macam seperti dirinya barusan.


__ADS_2