
Salah satu hal menyenangkan saat mondok adalah makan bersama, Umar yakin para santri akan senang jika ia membelikan kue untuk mereka. Bukan soal makanannya tapi justru momen kebersamaan yang terasa amat berharga bagi mereka. Kue tersebut tentu tidak sebanding dengan kerja keras santri terutama mereka yang mengikuti lomba qosidah.
"Dimana kuenya?" Maryam menghampiri Umar yang baru turun dari motornya. Kemarin Umar memberitahu Maryam bahwa hari ini ia akan membelikan kue untuk para santri sepulang dari masjid setelah kajian berakhir. Namun sekarang Maryam melihat Umar datang dengan tangan kosong.
"Kebetulan tadi Umar ketemu adiknya Atalie lalu dia membantu mengantar kuenya kesini, sebentar lagi mereka sampai." Jelas Umar pada Maryam.
"Ummi baru tahu kalau kamu kenal adiknya Atalie." Maryam menatap Umar bingung.
"Ini aja baru kenalan Ummi."
"Adiknya Atalie baik sekali mau membantu kamu mengantar kue kesini padahal baru kenal, bukan hanya Adiknya, Atalie juga anak yang baik."
Umar sependapat dengan Maryam, Daniel dan Atalie pasti dibesarkan di keluarga yang baik. Mereka tidak segan membantu orang lain tanpa memandang status sosial nya. Seperti halnya Atalie yang menolong pengemis di depan toko buku.
"Ini rumahnya?" Daniel menoleh pada Atalie yang duduk di sampingnya ketika mereka sampai di depan bangunan bertuliskan pondok pesantren Adz-Zaidan.
"Iya, orangtuanya Mas Umar ini pengasuh pesantren, semacam asrama tapi yang ini selain pendidikan formal, pelajaran agama nya lebih banyak." Jelas Atalie, setidaknya itu yang ia tahu dari internet tentang pondok pesantren.
Daniel keluar dari mobil membantu Umar mengeluarkan kue dari bagasi.
"Biar anak-anak aja yang bawa." Tukas Umar pada Daniel, ia sudah sangat berterimakasih karena Daniel mau membantunya membawa kue itu kesini.
Dua orang santri mendekat dan mengambil alih kotak kue berukuran cukup besar tersebut.
Tadinya Atalie tidak mau turun tapi ia melihat ada Maryam di luar jadi ia turun dari mobil untuk menyapa Maryam sebentar.
"Ummi, apa kabar?" Atalie mengulas senyum ramah pada Maryam.
"Baik Atalie, terimakasih ya kalian sudah membantu Umar."
"Ini bukan apa-apa Ummi."
"Mari masuk, ajak adik kamu juga." Ajak Maryam.
"Tidak usah Ummi, kami langsung pulang saja." Tolak Atalie sopan, ia tak mau kedatangannya justru mengganggu kegiatan disini. Sekarang Atalie sedikit mengerti tentang pondok pesantren, tidak seperti saat pertama kali kesini, ia justru membuat para santri ribut.
"Baiklah kalau begitu."
"Ummi tidak usah mengantar kami ke depan." Ujar Atalie saat Maryam hendak mengantarnya ke depan gerbang.
"Kalau begitu biar Umar yang antar." Maryam melirik Umar memberinya kode agar mengantar Atalie dan Daniel ke mobil mereka.
"Kakimu kenapa?" Umar baru sadar jika Atalie sedikit pincang ketika mereka berjalan ke depan gerbang. Karena Umar berjalan sedikit di belakang Atalie, maka ia bisa melihat cara jalan gadis itu yang tidak seperti biasa.
"Abis keseleo." Jawab Atalie, sudah lebih dari satu bulan berlalu tapi kakinya kadang masih terasa sakit saat berjalan.
__ADS_1
"Oh iya, Hasil rontgen nya gimana Kak?" Daniel lupa menanyakan itu saat di mobil tadi.
"Nanti aja aku tunjukin di rumah."
Jadi itu alasan Atalie tidak pergi ke kampus selama satu bulan terakhir. Umar berusaha menyembunyikan kekhawatirannya, bukankah Atalie sudah baik-baik saja sekarang.
"Mas, kami pamit ya." Tukas Daniel.
"Iya, sekali lagi terimakasih." Balas Umar.
"Mari Mas." Atalie menganggukkan kepala berpamitan pada Umar.
"Atalie." Panggil Umar membuat Atalie urung membuka pintu mobil. Atalie memutar badan melihat Umar, dadanya berdebar tak karuan menunggu kalimat Umar padahal seharusnya ia tak perlu begini. Umar bukannya mau menyatakan perasaan cinta.
"Lain kali kamu harus pakai tas berbahan keras."
Alis Atalie terangkat, apa maksudnya? ia meraba tas selempang nya yang terbuat dari bahan rajut.
"Setidaknya kamu bisa menggunakan tas mu untuk melindungi diri."
"Oh." Untuk sesaat Atalie melongo tapi setelahnya ia menyunggingkan senyum lebar. "Lain kali aku beli tas yang keras."
"Satu lagi Atalie," Umar ingin meluruskan kesalahpahaman Atalie yang mengatakan dirinya membenci gadis itu padahal tidak sama sekali.
"Saya mau bilang kalau saya sama sekali nggak benci kamu."
Atalie manggut-manggut menahan senyum, "tapi waktu itu kamu bilang-"
"Kamu boleh tanya apapun dan aku akan jawab selagi bisa."
"Oke kalau gitu, terimakasih Mas." Atalie berpamitan sekali lagi, kali ini ia segera masuk ke dalam mobil agar Umar tidak bisa melihat ekspresi wajahnya yang kelewat senang. Rasanya Atalie ingin melompat saking senangnya tapi harus stay cool apalagi di depan Daniel. Jika tidak, pasti Daniel akan mengejek Atalie tanpa henti.
Umar berdiri di depan gerbang hingga mobil Daniel tidak terlihat, setelahnya ia baru masuk dan kembali menutup gerbang.
"Gus, terimakasih kuenya." Seorang santri menemui Umar mewakili santri lainnya untuk mengucapkan terimakasih.
"Sama-sama, itu untuk kalian semua, silakan dimakan."
"Baik Gus." Ia segera pergi setelah mengucapkan salam pada Umar.
"Mas, dipanggil Abah." Ali datang menghampiri Umar.
"Dimana?"
"Perpustakaan dekat asrama putri."
__ADS_1
Mendengar nama perpustakaan putri mengingatkan Umar pada kejadian dimana ia jatuh di depan para santri putri yang membuatnya trauma hingga sekarang. Sejak kejadian itu Umar tidak pernah pergi ke perpustakaan tersebut. Ia memiliki membaca di perpustakaan yang letaknya lebih dekat walaupun koleksi bukunya tidak terlalu lengkap.
"Tempat ini sangat horor." Umar melewati koridor dengan hati-hati, tidak lucu jika ia jatuh untuk kedua kalinya disini.
Sepanjang koridor hingga perpustakaan, Umar tak henti merapalkan doa agar ia sampai dengan selamat. Mungkin itu terdengar berlebihan tapi Umar tak mau jatuh di depan santri perempuan untuk kedua kalinya, tidak lagi.
"Assalamualaikum Bah." Umar segera menemukan Zaid di meja paling dekat dengan pintu masuk.
"Waalaikumussalam."
Umar mencium tangan Zaid bolak-balik dan menanyakan ada apa Zaid memanggilnya kesini.
"Abah dengar dari Ummi kalau kamu mempercayakan pada kami untuk mencarikan mu jodoh." Zaid meletakkan kitab yang ia pegang dan menatap Umar sepenuhnya.
"Benar Bah."
"Kamu mau yang seperti apa?"
Jika ditanya seperti itu Umar bingung menentukan kriteria istri yang ia inginkan. Umar sama sekali tidak punya pandangan.
"Apa tidak ada santri disini yang membuat mu tertarik?"
"Umar juga tidak terlalu memperhatikan Bah."
"Ada beberapa teman Abah yang menyatakan niat baik mereka untuk menjadikan mu suami dari anak mereka."
Umar tidak tahu jika masalah jodoh akan menjadi pelik seperti ini baginya. Padahal rasanya dulu Khalid langsung menemukan Khawla begitu saja lalu mereka segera menikah. Atau memang Umar yang tak terlalu memperhatikan itu.
"Bagaimana dengan Hana, dia sopan, baik dan juga salah satu santri terbaik kita, setelah lulus SMA dia mengabdi disini selama 2 tahun sebelum melanjutkan kuliah."
"Berapa usianya?"
"Sebentar lagi dua puluh tahun."
"Terlalu muda Bah." Umar sebentar lagi akan berusia 30 tahun, itu artinya selisih usia mereka 10 tahun. Menurut Umar itu terpaut cukup jauh.
"Bagaimana dengan Wardah putrinya Kyai Khatib, dia baru lulus kuliah atau Hilya yang akan lulus tahun ini." Zaid memiliki banyak daftar calon istri untuk Umar, ia tinggal menanyakan pendapat Umar.
"Siapa yang lebih baik menurut Abah?" Umar mempercayakan hal ini pada Zaid karena ia tak memiliki pengalaman apapun soal perempuan.
"Hilya."
"Umar manut Abah saja."
"Baiklah kalau begitu." Zaid menepuk bahu Umar dengan bangga.
__ADS_1