Gema Syahadat Aisyah

Gema Syahadat Aisyah
Kajian Bersama Ummi


__ADS_3

Aisyah menutup butik lebih awal untuk pergi pengajian bersama Maryam. Ia sudah mendapat izin dari Umar untuk pergi bersama Maryam. Kini ia sudah selesai mengenakan gamis hitam yang dulu pernah dipakainya saat ikut kajian Maryam pertama kali. Itu adalah gamis pertama Aisyah yang ia beli dengan harga cukup mahal. Setelahnya Aisyah lebih sering membeli gamis dengan harga lebih murah.


"Awh Wǒ cā!" Aisyah mengumpat ketika jarinya tak sengaja tertusuk jarum, ia belajar memakai jarum untuk jilbabnya tapi itu cukup sulit.


Umar yang awalnya serius pada layar laptopnya seketika menoleh mendengar umpatan Aisyah. Ia menghela napas keras lalu beranjak dari duduknya menghampiri Aisyah.


"Istighfar sayang, ada apa?" Rahang Umar mengeras tanpa tidak suka mendengar sesuatu yang Aisyah katakan barusan tapi ia mencoba mengendalikan diri dan tetap berkata lembut. Umar ingat ucapan Zaid untuk selalu berusaha berlemah lembut sebab Aisyah masih butuh dibimbing. "Aku sudah bilang jangan biasakan bicara kasar begitu."


"Ketusuk jarum." Mata Aisyah berair, memang tidak terlalu sakit tapi ia kesal.


"Coba aku lihat." Umar menarik tangan Aisyah, meniup ujung jari sang istri yang mengeluarkan darah. "Jangan mengumpat nanti tambah sakit."


"Maaf Mas."


"Nggak apa-apa tapi lain kali lebih baik beristighfar ya." Umar menangkup pipi Aisyah yang menggembung. "Coba aku yang pasang."


Aisyah sedikit mendongak membiarkan Umar menyematkan jarum pada jilbabnya.


"Udah enak?"


Aisyah menjawabnya dengan anggukan.


"Maaf ya, apa istriku kesulitan?"


"Iya tapi ada Mas Umar jadi semuanya terasa lebih mudah."


"Syukurlah." Umar menarik Aisyah memeluknya. "Bibirmu yang cantik jangan digunakan untuk mengumpat ya, sayang."


Aisyah seperti kena hipnotis, ia mengangguk saja saat mendengar kalimat Umar.


"Aku pergi ya." Aisyah mencium tangan Umar lalu meraih tas selempang yang biasa ia bawa kemana-mana. "Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam, hati-hati." Umar mengantar Aisyah hingga depan rumah. Setelah mobil Aisyah meninggalkan halaman, barulah Umar masuk melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


10 menit kemudian Aisyah sudah sampai di depan pondok pesantren, Maryam juga sudah menunggunya.


"Mbak Khawla nggak ikut Mi?" Aisyah membukakan pintu untuk Maryam.


"Khawla harus mengajar anak-anak jadi kita pergi berdua, apa kamu gugup?"


"Iya." Aisyah mencengkram kemudi, ia mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi.


"Jangan khawatir, ada Ummi lagi pula itu pengajian tertutup, nggak akan banyak orang."


Justru itu yang membuat Aisyah khawatir, jika itu pengajian tertutup berarti jamaah yang datang bukan orang sembarangan. Mungkin mereka adalah keluarga kyai seperti Hilya.


"Kamu sudah menjadi bagian dari kami, nggak ada bedanya." Maryam seolah mengerti kekhawatiran Aisyah jadi ia mencoba menenangkannya.


Bertempat di musholla putri di salah satu pondok pesantren yang masih berkerabat dengan Maryam, pengajian itu dikhususkan bagi keluarga dekat dan santri.


Maryam mengenalkan Aisyah pada semua orang yang hadir, mereka sudah mengetahui tentang pernikahan Umar tapi ini pertama kalinya bertemu Aisyah secara langsung.


"Masya Allah, cantik sekali Ning Aisyah." Puji mereka.


Tuan rumah membuka pengajian sore itu dilanjutkan dengan bacaan ayat Alqur'an oleh salah satu santri. Setelahnya Maryam mulai berbicara, kali ini ia membahas tentang tanda-tanda Allah mencintai hamba-Nya.


Aisyah duduk di samping Maryam, mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Dulu sebelum menjadi muslim pun Aisyah selalu mendengarkan kajian dengan sungguh-sungguh. Itu seperti mimpi ketika biasanya Aisyah duduk bersama jamaah lain, kini ia berada tepat di samping Maryam. Awalnya sedikit aneh tapi dengan begitu Aisyah bisa mendengar perkataan Maryam lebih jelas.


"Allah jadikan kehidupan kita dipenuhi dengan kebaikan." Suara Maryam menggema ke seluruh ruangan. Beberapa santri terlihat mencatat sesekali.


Maryam mengatakan jika ujian dalam hidup juga merupakan tanda bahwa Allah mencintai orang tersebut.


"Mungkin ada dari kita yang berpikir jika Allah tidak mencintai kita karena selalu diberi cobaan, padahal justru sebaliknya cobaan justru adalah tanda Allah mencintai kita, Allah ingin kita selalu dekat dengan-Nya melalui doa dan sujud-sujud panjang jadi sudah seharusnya kita bersyukur jika masih diberi kesempatan untuk berdoa dan menangis pada Allah." Maryam mengedarkan pandangan pada santri yang duduk takzim di hadapannya.


"Selain itu Allah jadikan lisan kita senantiasa berdzikir kepada-Nya dan dijauhi dari perkataan yang buruk."


Aisyah langsung merapatkan bibirnya, ia menggigit lidahnya teringat umpatan yang tadi meluncur bebas dari mulutnya. Umar sering memberitahu Aisyah untuk selalu berdzikir, meski begitu Aisyah tetap sulit menghilangkan kebiasannya. Aisyah harus berusaha lebih keras untuk menahan lisan nya dari perkataan buruk.

__ADS_1


Menjelang waktu magrib Maryam membuka sesi tanya jawab. Beberapa santri mengangkat tangan dan memberi pertanyaan. Maryam menjawabnya satu per satu bergantian.


"Ummi, saya izin bertanya." Aisyah mengangkat tangannya di depan dada.


"Silakan Aisyah."


Aisyah sudah ingin bertanya sejak tadi tapi ia berusaha mengendalikan diri. Ia tak mau mengulang kejadian memalukan saat bertanya tentang Aisyah di kajian Umar dulu. Apakah sebaiknya Aisyah bertanya di mobil saja saat mereka pulang nanti.


"Saya malu Ummi, nanti saja." Suara Aisyah berubah seperti bisikan tapi Maryam masih bisa mendengarnya dengan jelas.


"Jangan malu, ini Ummi."


Aisyah tidak malu pada Maryam karena ia sudah menganggap mertuanya itu seperti ibunya sendiri.


"Bagaimana jika seseorang berkata buruk dengan bahasa Mandarin, apakah Allah mengerti?"


Maryam sekilas tersenyum, pertanyaan Aisyah memang selalu terdengar polos dan lugu. Namun Maryam mengerti karena belum setahun Aisyah memeluk Islam.


"Allah itu Tuhan nya manusia di belahan bumi manapun, bukan cuma di Indonesia atau Arab jadi Allah pasti mengerti semua bahasa bahkan doa-doa dalam hati yang kadang kita sendiri tidak mendengarnya Allah bisa dengar sayang, begitu juga dengan perkataan buruk."


Aisyah manggut-manggut mengerti, ia berterimakasih karena Maryam menjawab pertanyaannya dengan kalimat yang mudah dimengerti.


Ketika adzan berkumandang, mereka bergegas mendirikan shalat berjamaah.


"Bolehkah Ning Aisyah memimpin pembacaan ratib?"


Aisyah melirik Maryam ketika sang tuan rumah bertanya padanya. Maryam tidak yakin apakah Aisyah bisa memimpin ratib, aktivitas di pondok pesantren Adz-Zaidan dan disini berbeda.


"Apakah itu ratib Al-Haddad?" Aisyah melihat buku ratib kecil yang disodorkan padanya.


"Benar Ning."


Aisyah mengangguk mengiyakan permintaan untuk memimpin ratib. Walaupun tidak bisa menyembunyikan rasa gugup karena ini pertama kali baginya tapi Aisyah tak mau menolak. Untungnya Aisyah pernah membaca ratib yang disusun oleh Habib Abdullah bin 'Alawi bin Muhammad Al-Haddad tersebut bersama Umar selepas shalat magrib atau isya'.

__ADS_1


Aisyah memulai dengan membaca Al-Fatihah kepada Nabi Muhammad diikuti oleh jamaah lain.


Untuk sesaat meskipun dengan kepala tertunduk tapi Maryam takjub dengan bacaan Aisyah. Seingatnya Aisyah masih terbata-bata membaca Al-Qur'an tapi sekarang sudah lancar dan fasih. Suara Aisyah tenang dan jelas, diam-diam Maryam tersenyum bangga.


__ADS_2