Gema Syahadat Aisyah

Gema Syahadat Aisyah
Rumah Baru


__ADS_3

Rumah tua yang semula sepi itu kini telah dipenuhi para tamu. Mereka duduk di atas alas yang sudah digelar ke seluruh ruang tamu. Ayat suci Al-Qur'an dibacakan oleh Zaid yang memimpin acara syukuran sore itu. Hari ini Aisyah dan Umar resmi pindah ke rumah mereka setelah proses renovasi dan pindahan yang menguras tenaga.


Mereka mengundang keluarga inti dan beberapa tetangga terdekat. Walaupun letak rumah mereka berjauhan tapi Umar ingin memiliki hubungan yang baik dengan para tetangga.


Piring-piring berisi makanan dan gelas-gelas teh di atas nampan dikeluarkan siap menjamu tamu. Sederhana tetapi acara berlangsung penuh khidmat.


Renata dan Jaya juga hadir di hari pertama anak mereka pindah rumah. Renata membawa banyak perabotan baru untuk Aisyah. Walaupun Aisyah meminta Renata untuk tidak membeli banyak barang tapi Renata tetap melakukannya. Renata juga akan mempekerjakan satpam di rumah itu, lagi-lagi ia tidak menerima penolakan. Renata ingin memastikan rumah itu aman apalagi lokasinya berjauhan dengan pemukiman lain.


Menjelang waktu magrib, satu per satu tamu meninggalkan rumah Aisyah dan Umar.


"Kami pamit, semoga rumah tangga kalian dipenuhi keberkahan dan segera dikaruniai momongan."


Aisyah dan Umar saling berpandangan lalu tersenyum mengaminkan doa para tetangga itu.


"Ummi, biar Aisyah yang cuci piringnya." Aisyah pergi ke dapur mendapati Maryam mencuci piring dan gelas.


"Nggak apa-apa Aisyah, kamu pasti capek seharian ngurusin ini itu."


Aisyah tidak enak melihat Maryam mencuci piring seperti ini padahal di pondok pesantren saja, semua pekerjaan dilakukan oleh santri.


Jika Maryam dan Khawla mencuci piring, Renata sibuk memasang foto-foto pernikahan Aisyah dan Umar di ruang tengah. Renata yakin Aisyah tak akan punya waktu untuk mempercantik rumahnya. Sudahlah rumah itu sudah tua, Aisyah akan membiarkannya polos tanpa hiasan apapun. Sementara itu Jaya dan Umar memasukkan sofa kembali ke ruang tamu.


Umar dan Aisyah mengantar orangtua mereka hingga halaman. Maryam mengatakan agar Umar dan Aisyah tetap sering berkunjung.


Rumah itu kembali sepi, Aisyah merasa sedih ketika melihat mobil papa nya perlahan menjauh lalu tidak terlihat di belokan. Aisyah sedih padahal sebelumnya ia sudah tinggal berpisah dengan papa dan mama nya. Namun di sisi lain Aisyah senang karena akhirnya ia dan Umar memiliki tempat tinggal sendiri.


"Ayo masuk." Ajak Umar ketika mendengar adzan magrib dari masjid yang terletak di ujung komplek.


Aisyah menggandeng tangan Umar masuk, "Mas shalat disini dulu ya, aku takut sendirian."


"Iya sayang." Umar tahu Aisyah bukan penakut tapi karena ini hari pertama mereka tinggal disini, Aisyah belum terbiasa dengan suasananya. Satpam juga baru bekerja besok.


"Aku seneng akhirnya ada water heater di kamar mandi." Aisyah masuk kamar lebih dulu, membuka jilbab untuk berwudhu. Aisyah tidak pernah membayangkan dalam hidupnya pemanas air itu akan terasa istimewa. Setelah menikah dan tinggal di pondok, hal-hal yang dulu biasa saja jadi terasa istimewa.


Umar menahan tangan Aisyah ketika hendak masuk kamar mandi.


"Maaf ya aku nggak bisa kasih kamu kemewahan tapi aku janji bersama ku— Aisyah akan bahagia, aku akan berusaha memenuhi semua kebutuhan mu"


"Mas, aku nggak perlu kemewahan itu, aku bersyukur karena kamu lah pendamping ku, imam shalat ku, imam hidupku." Aisyah menggenggam tangan Umar lalu menciumnya. "Mas wudhu duluan gih."

__ADS_1


"Bukannya kamu mau wudhu dulu barusan?"


"Gus Umar duluan biar aku yang siapin sajadahnya, aku mau jadi istri yang baik untuk mu."


"Kamu sudah jadi istri yang baik sayang." Umar melangkah masuk kamar mandi setelah Aisyah mendorong bahunya pelan.


Aisyah mendapat dua sajadah baru dari Zaid, ia menggelarnya menghadap kiblat. Aisyah meletakkan siwak dan tasbih Umar di atas sajadah tersebut.


Mereka mendirikan shalat magrib dan ba'diyah magrib kemudian tilawah bersama. Aisyah juga setor hafalan surat paling panjang di juz 30, ia cukup kesulitan menghafal seluruh surat tersebut tapi Umar selalu menyemangatinya meminta Aisyah untuk tidak mudah menyerah.


"Aku capek Mas." Aisyah membenamkan wajahnya di pangkuan Umar setelah mengulang-ulang 10 ayat pertama surat An-Naba.


"Ya udah kita lanjutin setelah shalat isya'."


"Besok aja."


"Iya setelah subuh."


"Beneran?" Aisyah menyipitkan matanya menatap Umar, biasanya Umar akan memaksanya menghafal lebih lama.


"Ayo bangun dulu."


Aisyah mengangkat kepalanya menghadap Umar.


Aisyah menjatuhkan diri dalam pelukan Umar, energinya kembali terisi setelah Umar memeluknya seperti ini.


"Besok mau sarapan apa Mas?" Aisyah mengingat-ingat apakah ada sesuatu yang bisa dimasak di dapur karena mereka belum belanja apapun. Tiba-tiba Aisyah rindu saat makan bersama Maryam, Ali dan Hafiz ketika Zaid baru pulang pengajian. Biasanya Zaid membawa satu baskom besar berisi nasi, lauk, kue dan buah-buahan. Percayalah nasi itu akan terasa lebih nikmat dibandingkan makanan biasa.


Aisyah akan menyaksikan Ali dan Hafiz berebut kue kesukaan mereka tapi kemudian Maryam akan mengambil kue Mendut untuk Aisyah. Sejak pertama mencoba kue dari ketan yang dibungkus daun pisang itu Aisyah langsung suka jadi setiap ada mendut, Maryam akan menyisihkan nya untuk Aisyah.


"Goreng nasi sisa tadi aja."


Aisyah mendongak, "emangnya masih enak?"


"Masih, kamu nggak pernah makan nasi goreng sisa kemarin?"


Aisyah menggeleng, mendengar nasi goreng yang ada di kepalanya adalah nasi goreng buatan chef di rumah dengan tambahan udang, kacang polong dan telur.


"Ayo wudhu lagi terus shalat isya' ya." Umar beranjak dari duduknya pergi berwudhu disusul Aisyah.

__ADS_1


******


Pagi-pagi Aisyah pergi ke dapur untuk membuat sarapan, sebenarnya ia juga ingin membuat bekal untuk Umar tapi tidak ada bahan masakan apapun. Aisyah berencana pergi ke pasar setelah Umar berangkat ke kampus.


"Mas, kita cuma punya nasi." Aisyah menoleh pada Umar yang baru menyusulnya.


"Apa istriku belum pernah bikin nasi goreng?"


"Pernah tapi sekarang cuma ada nasi, aku nggak yakin apa aku bisa bikin nasi goreng enak tanpa bahan lain."


"Bisa sayang, haluskan bawang merah dan cabai seperti nasi goreng biasa lalu kasih kecap."


"Nanti kalau nggak enak gimana?"


"Enak, pasti enak." Umar meyakinkan Aisyah.


"Ya udah." Aisyah menuruti perkataan Umar, menghaluskan bumbu lalu menumisnya dan menuang semua nasi sisa kemarin. Tidak lupa kecap persis seperti yang Umar katakan. Itu benar-benar hanya nasi dan kecap. "Wanginya enak ya."


"Tentu sayang, aku sudah bilang itu pasti enak."


"Suamiku memang punya banyak resep istimewa seperti ini."


Umar terkekeh, itu bukan resep istimewa justru hampir semua orang mengetahuinya. Hanya saja Umar tidak tahu bagaimana Aisyah dibesarkan, seperti apa kehidupan Aisyah selama ini sehingga nasi goreng itu tidak familiar untuknya.


Sepiring nasi goreng buatan Aisyah siap disantap. Aisyah melihat Umar sangat lahap makan nasi goreng berwarna hitam itu, sepertinya ia menambahkan kecap terlalu banyak.


"Kamu yakin nggak mau makan?"


Aisyah menggeleng, nasi itu sangat sedikit, jika Aisyah ikut makan mungkin Umar tidak akan kenyang. Aisyah berjanji akan menghidangkan makanan yang lebih layak untuk Umar. Walaupun Umar terlihat menikmatinya tapi Aisyah tidak terbiasa dengan itu, ia harus memasak sesuatu yang lebih dari sekedar nasi dan kecap.


"Nanti Ummi ngajak ke pengajian setelah ashar Mas."


"Kalau gitu aku antar kalian ya."


"Nggak usah Mas, kamu kan harus istirahat nanti aku yang jemput Ummi."


"Apa itu pengajian khusus perempuan?"


"Ya, sebenarnya aku agak gugup mau ketemu banyak orang apalagi tanpa kamu Mas."

__ADS_1


"Yang penting selalu di dekat Ummi ya." Umar mengulurkan tangan mengelus pipi Aisyah. "Istriku sudah 24 tahun pasti bisa lebih berani."


Aisyah tersenyum terpaksa, ia maunya menempel terus pada Umar. Orang-orang akan melihat Aisyah dengan cara berbeda jika ia bersama Umar.


__ADS_2