
meira yang berjalan mencari taksi tapi tidak ada sama sekali, dia masih menangis.
"kenapa terjadi padaku haa" teriak meira di tengah tengah hujan, ini sangat menyakitkan baginya.
"eh pak berhentii" jar nazia melihat meira yang berjalan sambil menangis melewati hujan, nazia pun langsung menghampiri meira dengan memakai payung.
"meira kamu kenapa?,apakah ada masalah?" tanya nazia mendekat dan memayungi meira yang basah kuyup.
"ehh nazia, kenapa kau ada di sini" jar meira tersenyum palsu.
"tidak perlu tau, justru kenapa kau hujan hujanan gini meira, nanti kau sakit"
"tidak apa apa meira, biarkan saja aku sakit biar ada yang peduli dengan ku" jawab meira dengan senyuman palsu.
"hey kau tidak boleh seperti itu, ayo ikut aku" ajak nazia.
meira pun bingung, sebenarnya meira mau di bawa ke mana?
"ke mana?"tanya meira bingung, dia sangatlah kedinginan karena tubuhnya basahkuyup.
"ke rumah ku meira" jawab nazia. whattt?? meira akan ke rumah nazia, itu berarti meira akan bertemu pria menyebalkan itu.
"tidak usah repot repot nazia, aku bisa pulang ke rumah ku sendiri" jawab meira dengan senyumannya.
"tidak apa apa"
"tapi nazia..."
__ADS_1
"stttt tidak apa apa"
kali ini meira pasrah, berati meira akan bertemu pria menyebalkan itu.
"apa kakak mu itu ada di rumah?" tanya meira sedikit ragu.
"kak gilang tidak ada di rumah, kak gilang sedang sibuk di kantornya"jawab nazia dengan senyuman, "syukurlah"gumam meira pelan.
setelah itu, nazia dan meira pun telah sampai di rumah mewah itu, mereka sudah sampai di depan pintu, tapi mobil sport yang datang menuju kegarasi.
"brian kau boleh pulang" jar gilang kepada asistennya yang mengantarnya itu.
"baik tuan"
gilang melihat adiknya dan cewek rese, yaitu meira dan nazia, setelah itu gilang pun berjalan ke arah mereka yang ingin masuk.
"kepo "
"cewek rese , ngapain di sini, kau habis mandi ya" ketus gilang menatap meira basah kuyup.
"kakak jangan menganggunya lagi"sambung nazia kesal. meira hanya menghiraukan dua orang itu. kepala meira sangat pusing sekali tanpa di sadari meira pun jatuh pingsan, untung ada nazia yang menahan.
"kak tolong" jar nazia memohon.
"tidak mau" kata gilang menatap tajam, tapi gilang melihat meira sangat pucat sekali.
tanpa basa basi gilang pun segera menggendong tubuh meira. dan membawanya ke kamar. selama gilang bejalan menuju kamar gilang menatap wajah meira yang cantik itu.
__ADS_1
'cantik, tapi jadi cewek rese' gumam gilang dalam hati.
setelah sampai di kamar gilang meletakan tubuh meira di kasur.
"gara gara kau sih datang datang mengganggunya" ujar nazia memyalahkan gilang. gilang hanya diam saja dia tidak mau berkelahi dengan adiknya .
taklama kemudian nazwa datang dengan membawa kompres untuk meira.
"kalian apakan meira" tanya nazwa kepada anak anak nya.
"dia sendiri mom yang mandi hujan"jawab gilang bersifat dingin.
setelah nazwa mengompres, nazwa pun langsung pergi.
"rion kau jahat "teriak meira yang masih menutup mata sepertinya dia mengigau.
Gilang dan nazia pun terkejut, apa kakak nya yang membuat meira seperti ini.
"kak apa yang di lakukan kak rion" bisik nazia kepada gilang, gilang pun menggeleng pura pura tidak tau.
'kasian sekali kau meira, apa kak rion terlalu menyakiti mu' gumam gilang dalam hati, padahal gilang tau meira itu suka dengan rion.
"nazia biarkan dia istirahat" ujar gilang kepada adik nya, "baik kak"jawab nazia , gilang dan nazia pun meninggalkan meira di kamar itu.nazia pun menutup pintunya ,lalu rion pun datang berlari ke kamar itu.karena nazia sempat menelfon rion.
" apa yang terjadi dengan meira?"tegur rion kepada gilang dan nazia.
"kak, meira kaya gini karenamu "jawab gilang menepuk bahu rion. dan gilang pun langsung berjalan pergi meninggalkan rion.
__ADS_1
rion pun merasa menyesal dan menuju ke kamar itu. riom melihat meira terbaring lemah membuatnya merasa bersalah.