
meira pun pulang ke rumah nya, dia sangat lelah karena pakerjaan di butik nya.
terlihat gilang yang sudah datang duluan,gilang menatap layar handpone milik nya.
meira tidak memperdulikan gilang yang sibuk itu.
"bocah" panggil gilang.
"astaga... kau mengejutkan ku" jar meira terkejut karena gilang memanggil nya tiba tiba.
"kau tidak pulang dengan laki laki kan?" tanya gilang menatap sajam ke arah meira.
"tidak... aku naik taksi"
"awas saja kau bersama pria itu lagi"
"idih kau siapa?? ini hidup ku bukan urusan mu, mau aku pacaran dengan pria itu atau apa, kau tidak usah mengurusi karena kau bukan siapa siapa aku" ketus meira memanyunkan bibir.
"meira! jangan percaya kesembarangan orang, apa lagi pria" gilang menatap tajam ke arah meira.
"ceh!" desis meira, dia pun meninggalkan gilang sendiri.
"dasar bocah"
Sedangkan meira dia merebahkan dirinya di atas kasur.
drttttttttttttttt....drttttttttt bunyi telpon dari hp meira.
"oh astaga, nomor yang tidak di kenal, ini siapa?" tanya meira bingung. meira pun mengangkat telponnya.
meira:
ya halo, siapa ini?
gilang:
cepatlah tidur tidak baik gadis tidur malam.
meira:
__ADS_1
cehh! kau ternyata.
gilang:
tidurlah, jangan begadang.
meira:
ya baiklah, bawel banget si.
"se atap, tapi tetap menelfon juga" omel meira
tut...tut..tut panggilan berakhir.
pagi pun telah tiba matahari yang bertugas menyinari bumi kini hadis.
"hoaaaaaa" meira menguap dan memutuskan beranjak dari tempat tidur nya.
meira pun melihat jam dia terkejut karena sudah kesiangan.
"Oh astaga, aku bangun siang" teriak meira landsung berlari ke kamar mandi namun siapa sangka meira terpelset karena dia sangat terburu buru.
"awwwww, kaki ku sakit!" ujar meira, siapa yang akan membantunya, gilang sudah ke kantornya pasti.
gilang membuka pintu kamar meira, gilang pun berlari menuju ke arah kamar mandi.
"awww" ringis meira
"bocah ini kenapa kau terpeleset!" ketus gilang kepada meira.
"hey heyy, kenapa kau tidak berangkat kerja inikan sudah siang" kata meira kesal.
"ha...ha..ha...haaaa" tawa gilang kenapa gadis itu lucu sekali.
"ada apa?"
"mana ada siang, ini masih pagi" tawa gilang.
"tapi itu jam" tunjuk meira ke arah jam dinding.
__ADS_1
"itu rusak, lihatlah jarum nya tidak berputar" jelas gilang. meira pun sangat malu.
"dasar punya banyak uang, tapi tidak membeli jam " ketus meira
"tolong aku, kaki ku sangat sakit"
"dasar bocah, tidak kah kau ridak usah terburu buru begitu" kesal gilang, dia pun menggendong tubuh meira, dan membawa tubuh meira duduk di kasur.
"tunggu di sini akan aku panggilkan dokter" kata gilang, dan meira pun mengangguk.
...
"nona tidak apa apa tuan , hanya terkilir, saya akan memberi obat" jelas dokter itu, dokter itu adalah kepercayaan gilang.
"thankyou docter" kata meira tersenyum, dan dokter itupun pergi.
"makanya jangan seperti bocah, ini kan akibatnya" jar gilang.
"ini hidupku, yang merasakan sakit itu aku bukan kau!" ketus meira.
"ceh! sudah di tolong "
"terimakasih tuan gilang yang terhormat, anda sangat baik tapi..."
"tapi apa bocah?"
"tapi menyebalkan"
"ya aku memang menyebalkan"
"akhirnya mengaku"
gilang pun menatap wajah cantik meira, apa yang dipikiran gilang.
"hey heyy, apaan sih liat liat"
"cantik tapi galak"
"apa kau bilang, cukup sudah kau memanggilku bocah, malah di tambah jadi galak" teriak meira kesal.
__ADS_1
"oh no, bagaiman jika dia menjadi istriku, pasti dia bakal galak. marah marah" goda gilang.
"dasarrr kau!!" meira kesal.