
Pagi yang cerah, matahari muncul ke bumi...
Meira yang membuat rancangan nya kini senang menghirup udara di pagi hari.
"apa aku telpon aja ya rion, buat biacara soal hati" kata meira tersenyum.
Meira pun menelfon rion..
Meira:
Hallo
Rion:
Ya meira ada apa?
Meira:
Aku mau ngomong yang soal kemaren
Rion:
Gak bisa meira
Meira:
Lah kenapa ?
Rion:
Aku udah ada janji jalan jalan sama jasmine maaf ya mei
Meira:
kok kamu gitu sih rion aku kan sahabat kamu
Rion:
Maaf mei, soalnya aku udah janji sama jasmine
Tutt...tutttt...tutt panggilan berakhir.
"duhh meira marah gak ya??, emm gapapa deh" kata rion.
__ADS_1
~
"kenapa sih jadi kaya gini, aku gak mau persahabatan aku sama rion hancur" kata meira menangis dengan pelan.
Setelah itu , meira pun pergi jalan jalan untuk menenangkan diri. meira pergi ke taman bunga yang rion miliki. Meira bekeliling di taman bunga itu.
Meira sadar bahwa ada orang, lalu meira melihat dengan jelas, yaitu jasmine dan rion yang sedang berjalan jalan melihat taman bunga.
Tanpa sadar meira menjatuhkan air matanya. Meira segera berlari keluar dari taman bunga itu. Bagi meira ini sangat menyakitkan.
Meira pun berlari sekencang kencangnya sambil menangis, dia tidak peduli dengan orang orang yang melihatnya.
Setelah itu meira tidak sengaja menabrak tubuh seorang wanita.
"maaf saya gak sengaja" kata meira minta maaf.
"tidak apa apa" jawab wanita itu yaitu nazia.
"siapa nama mu?" tanya nazia kepada meira.
"namaku meira nur rizki" jawab meira sedikit tidak enak hati.
"perkenalkan namaku nazia ahmad pratama" sambung nazia tersenyum mengulurkan tangannya. Dan meira pun menyambutnya.
meira betul betul tidak mengenal nazia apalagi gilang, meira belum pernah bertemu dengan gilang dan nazia yang pernah di bicarakan rion ke padanya. Siapa tau nama nazia banyak kan??
"tidak apa apa meira, ayo kita berteman" tawar nazia dengan penuh semangat.
"baiklah" ujar meira tersenyum.
Setelah mereka berkenalan mereka pun langsung pergi ke sebuah cafe.
"apa kau punya butik?" tanya nazia tersenyum.
Meira pun mengangguk dan kembali berkata:
"ya, aku punya butik" ujar meira tersenyum manis.
"wahh, itu sangat bagus, nanti aku ke butik mu ya" kata nazia dengan bersemangat nya.
"boleh" senyum terukir di bibir meira.
Drttttttttttt.... Drrttttttttt bunyi handpone suara nazia.
__ADS_1
"bentar ya aku angkat telfon" jar nazia, dan meira pun mengangguk.
Nazia:
Hallo, ada apa?
Gilang:
Hei kau di mana, ayo pulang ke rumah, kakek dan nenek pulang
Nazia:
Baiklah
Gilang:
Cepat lah!!
Nazia:
Menyebalkan sekali, iya iya aku akan secepatnya ke sana.
Tut...tut..tut.. Panggilan berakhir.
"maaf ya meira, aku di suruh pulang" ujar nazia tidak enak hati karenam meningglkan meira.
Meira pun tersenyum dan kembali berkata...
"tidak apa apa, kau pulang saja siapa tau penting" ucap meira.
"baiklah aku tinggal dulu" pamit nazia berjalan keluar cafe. Meira pun mengangguk.
Setelah sampai di rumahnya, nazia pun segera masuk ke rumahnya.
"ada apa?" tanya nazia bingung.
"tidak apa apa" jawab gilang yang duduk di sofa sengan menyeruput kopi.
"heyy apa kau mnejahili ku ya!!" teriak nazia kesal.
"No, emang bener nenek dan kakek datang" sambung gilang dengan santainya.
"mana mana. Tidak ada ?" ujar nazia semakin kesal.
__ADS_1
"nanti siang kakek akan datang, sebentar lagi, jadk kau tak usah terlambat , nanti di pukulin kakek pakai tongkat tua itu" jelas gilang masih menyeruput kopi.
"cehhhh, dasar kakak menyebalkan" jar nazia pergi ke dapur.