Half Of My Heart

Half Of My Heart
jomblo happy


__ADS_3

"serah aku lah , jomblo happy" kata meira mengalihkan pandangan.


"oh ya aku tidak akan tinggal bersama mu lagi karena aku tinggal disini saja lebih enak" jelas meira pergi.


"oh baiklah aku juga akan di sini" lanjut gilang pergi.


setelah itu gilang pun menuju ke ruang rawat nazia. terlihat kedua orang tuanya yang duduk di kursi di depan ruangan meira.


"daddy, mana kak rion" tanya gilang mencari kakak nya itu.


"dia sedang menjemput jasmine" awab nazwa memeluk erat tubuh suaminya itu.


"Oh baiklah, aku pamit" , gilang pergi


"boy kemana kau?" tanya hajir kepada putranya itu.


"aku pergi dulu nanti aku akan kembali"jawab gilang pergi keluar rumah sakit. gilang pun menelfon seseorang yaitu brian asistennya.


gilang:


brian


brian:


ya tuan, saya sudah melakukan apa yang tuan minta. ternyata ayah nya sifa adalah karyawan di kantor tuan.


gilang:


bagus, kau segeralah ke indoensia.


bria:


baik


tut... panggilan berakhir.

__ADS_1


"aku katakan bukan jangan mengusik keluarga ku, jika ada salah satu orang yang mengusik keluarga ku maka akan habis di tangan ku" jar gilang tersenyum dan memasuki mobil BMW nya itu.


gilang pun melajukan mobil nya ke arah rumah meira untuk menemui orang tua meira yaitu aunty nadin dan uncle arham.


setelah tiba di depan rumh meira, gilang pun langsung mengetuk pintu.


tok..tok..tok


nadin membuka pintu.


"eh gilang, ayo masuk" ujar nadin tersenyum. gilang pun mengangguk dan masuk dengan sifat dinginya itu.


"aunty di mana meira?"


"ada di kamar, kau panggil saja , dan ajak dia makan malam" kata nadin, dan gilang pun mengagguk, gilang berjalan menuju ke kamar meira. sedangkan meira dia merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Oh my god, melelahkan sekali" ucap meira menatap langit langit dinding.


tok..tok..tokk.


"ada apa?" tanya meira cuek.


"ayo makan"


"tidak aku lagi badmood"


"ayo"


"no"


gilang kehabisan kesabaran, gilang pun menggendong tubuh meira dan gilang membawa tubuh meira ke ruang makan untuk makan malam.


"hey lepaskan aku, aku bisa jalan sendiri" bentak meira tapi gilang diam saja dn lanjut berjalan. meira hanya pasrah saja sampai gilang telah sampai di ruang makan.


nadin pun tersenyum yang menyiapkan makan malam dengan bibi.

__ADS_1


"hey hey heyy, meira kau manja sekali, apa kalian pacaran?" goda nadin membuat gilang menurunkan tubuh meira. dan mereka berdua menjawab.


"iyatuh kayanya pacaran " jawab arham tertawa dengan istrinya.


"tidak" jawab gilang dan meira bersamaan.


"bilang saja, jangan berbohong" goda nadin tertawa kecil.


"bunda meira tidak pacaran dengan pria menyebalkan ini, siapa juga yang mau pacaran dengan nya! aku benci sama gilang" jelas meira duduk di kursi, begitu pula dengan gilang.


"kau pikir aku suka dengan mu bocah.. bocah" jar gilang bersifat dingin.


"aku tahu, biasanya kalo benci jadi cinta loh" ujar nadin tertawa.


"tidak akan" jar meira.


"iya itu tidak mungkin" sambung gilang.


"mungkin saja bukan, hey gilang apa kau tidak mendengar kisah cinta ayah mu dan ibu mu ya?" tanya nadin dia betul betul tau kisah cinta nazwa dan hajir.


"cerita dong" sambung meira penasaran. gilang juga tidak tau apa apa.


"dulu nazwa itu benci sama hajir, karena hajir godain nazwa terus, sampe mereka itu jadi dekat dekat dan dekat, lalu jadi cinta deh" jelas nadin.


"Oh begitu, kalau kami tidak akan memiliki hubungan" ujar meira menatap gilang.


"Ih aku juga tidak mau" sambung gilang memakan makanan.


"semoga kalian jodoh" ujar arham tertawa bersama istrinya.


"ayah apaan sih, gak mau" tolak meira tidak terima.


"uncle tarik ucapanmu" sambung gilang kesal.


"tidak mau" tolak arham tertawa dan nadin, meira dan gilang hanya kesal jadi bahan ledekan.

__ADS_1


__ADS_2