
"Sebening air matamu yang jatuh dari kedua pelupuk mata, terlahir kesedihan yang tak dapat kuungkapkan." ~ Adikara Suryo.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tidurlah."
"Tapi, Mas, jawab dulu bagaimana kamu bisa tahu itu mantan kekasihku?" Arun berjalan mengitari tempat tidur, mendatangi sisi di mana Adikara berbaring sambil memejamkan mata.
"Hah, jangan menggangguku," balas Adikara, masih enggan untuk membuka mata.
Arun memang lelah, tapi ia sangat penasaran akan yang diketahui oleh Adikara tentangnya. Arun memilih duduk di tepi tempat tidur bagian Adikara, sambil menyentuh lengan sang suami yang lumayan berisi sembari mengoyang-goyangkan pelan.
"Mas ... aku tahu Mas belum tidur. Bangunlah ...."
"Aku sangat mengantuk." Adikara menarik lengannya dari genggaman Arun, agar terlepas dari wanita itu.
"Tapi aku penasaran loh, Mas. Buka matanya, Mas, dan kasi tahu yang sebenarnya. Kenapa Mas terus mengatakan soal itu padaku. Saat di depan pintu kamar mandi sebelumnya, kenapa terus mengusik soal mantanku? Apa kita pernah kenal sebelumnya?" tanya Arun panjang lebar dan penuh harap agar mendapati sebuah jawaban.
"Kau cerewet sekali!" jawab Adikara dengan suara berat, tapi tetap tak membuka matanya.
"Astaga, Mas, kamu lebih cerewet sekarang dibandingkan denganku. Jangan membuatku mati penasaran, Mas. Ayolah, berikan jawabanmu," balasnya lagi terus berusaha membujuk dan mengguncang lengan Adikara.
"Kau sangat mengganggu sekarang!" Adikara terpaksa bangkit dari tidurnya dengan menyingkap selimut dan duduk sambil bersandar pada headboard. Ia kini menatap dingin pada Arun yang masih terpaku di tempatnya.
"Apa kita seakrab ini?" tanyanya datar.
Auri menggeleng. "Tidak."
"Lalu? Kenapa kau menyentuhku? Bukannya kau meminta padaku untuk tidak saling bersentuhan di awal pernikahan kita?"
Arun mengangguk dan memberut bibir. Ia seperti kalah telak dibuat oleh Adikara. "Hanya mengguncang saja."
"Jadi, itu bukan menyentuh namanya? Apa kau itu hantu? Aku tidak tertarik dengan masa lalumu. Jadi, tolong berikan aku ketenangan untuk malam ini. Kau juga sudah sangat lelah seharian. Berbaringlah dan jangan ganggu aku!" kata Adikara kembali menarik ujung selimut dan menutup tubuhnya.
Arun memberutkan bibir. "Pelit banget, sih." Bola mata Arun sinis menyoriti Adikara.
__ADS_1
Perlahan Arun berdiri dan kembali mengarah ke bagian sisi tempat yang seharusnya, dengan sangat berat hati dan sedikit kesal. Namun, ia tetap menuruti perkataan Adikara untuk beristirahat. Setelah merangkak naik ke atas tempat tidur dengan sangat hati-hati agar tak menimbulkan gelombang di atas sana, ia pun kemudian menarik selimut dan berbaring memunggungi Adikara.
Beberapa saat kemudian setelah terjeda keheningan yang cukup lama, kedua mata Adikara terpisah dengan sempurna. Pria itu kini menggerakkan tubuhnya dan berganti posisi menghadap pada punggung Arun yang bergerak seturut dengan hembusan napasnya.
"Bahkan di saat lelahmu, pun kau masih bisa mencari jawaban akan rasa penasaranmu tentang dia," gumam Adikara dalam hatinya. "Terbuat dari apakah tubuhmu itu?"
Butuh persekian detik untuk Adikara melepas pandangan dari tubuh Arun. Kini pria itu perlahan berangsur menarik diri untuk duduk di tepi tempat tidur. Satu persatu kedua kaki yang bertelanjang, pun turun menjejek pada lantai.
Adikara berjalan mengarah pada Arun. Ia duduk setengah berjongkok di sisi tempat tidur sambil memperhatikan Arun yang sudah terlelap tidur.
Adikara tersenyum sambil memandang penuh damba pada wajah Arun. "Aku sangat mengenal mantanmu. Benar-benar mengenalinya jauh sebelum kau mengenalnya, Run. Bahkan. Aku ingin sekali memukul wajahnya saat dia membuatmu menangis di cafe saat itu. Senyumanmu yang selalu terlihat olehku setiap hari, pun hilang untuk beberapa saat setelah dia mencampakkanmu. Bagaimana bisa aku melupakan kejadian itu?"
Tangan Adikara perlahan mengusap beberapa sulur anak rambut yang menutupi kecantikan wajah Arun, sebelum tangannya pindah ke kepala Arun dan mengusap dengan sangat lembut. Setelah merasa sedikit lega, Adikara menarik selimut menutupi tangan Arun yang masih terlihat.
"Kedepannya berbahagialah bersamaku, Run. Lupakan hal-hal yang menyakiti dirimu di masa lalu. Aku sangat lama menantikan dirimu."
Setelah mengutarakan isi hatinya, Adikara berjalan mengarah pada jendela kamar yang terbuat dari kaca. Ia menyingkap kain jendela untuk menatap langit malam tanpa bintang dan cahaya bulan saat ini. Gelap malam itu pun membawa ingatan Adikara pada Arun, saat ia pertama kali bertemu dengannya.
***
Adikara terbangun dari tidurnya. Perlahan-lahan kelopak matanya terpisah, mengedarkan pandangan yang berlum terkumpul menyeluruh. Ia pun menarik diri untuk duduk di atas tempat tidur, sambil mengucek mata yang masih berasa berat.
Ekor matanya dibawa untuk mengedar pandangan ke seluruh ruangan. Namun, tidak terlihat adanya kehadiran Arun di sana. Ia pun beranjak turun dari atas tempat tidur, berjalan sambil menyentuh tengkuk lehernya yang berasa sedikit sakit. Semalaman Adikara tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Isi kepalanya hanya memikirkan Arun. Entahlah. Adikara pun tak mengerti akan dirinya sendiri.
Kedua kaki Adikara terhenti saat mendapati pakaiannya sudah tersedia di bangku yang tak jauh dari lemari pakaian. Sudah bisa ditebak kalau Arun sudah bangun dan keluar dari kamar. Ia pun lekas berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Seusai dari mandinya, Adikara yang kini sudah mengenakan kaus biru polos dan celana pendek rumahan yang tampak santai, tapi masih terlihat modis untuk dikenakan oleh Adikara. Kini, ia melanjutkan aktivitas menyisir rambutnya di depan cermin.
Setelah merasa rapi, Adikara hendak bergegas keluar kamar. Rasa sabarnya untuk menemukan keberadaan Arun, pun tiba-tiba terurungkan. Saat-saat di mana kedua kakinya yang barusan berjalan beberapa langakahan, pun terhenti karena mendapati sesuatu yang hilang.
"Dia menurunkannya?" tanyanya dalam hati. Ekor matanya yang tertarik memandangi dinding yang semula tergantung figura, tidak lagi terisi oleh apa pun.
"Sungguh menghargai perasaan suaminya," ucap Adikara senang, ia kemudian berlalu pergi dari kamar.
Menuruni anak tangga paling akhir, Adikara tidak menemukan siapa pun dari anggota keluarga, terkecuali kedua pekerja rumah mereka.
__ADS_1
"Nak Adi, kata Nak Arun sarapan sendiri aja. Nak Arun masih ingin di kamar mamanya," kata Bu Ria, pekerja yang sudah lama mengabdi di keluarga Arun.
Adikara mengangguk sopan. "Iya, Bu. Saya liat Arun dulu," jawabnya dan langsung berjalan mengarah kamar mama mertuanya.
Sesampainya di depan kamar yang sedikit terbuka, Adikara bisa melihat Arun dari celah kecil tersebut. Wanita itu sedang memeluk foto sang mama sambil berbaring di atas tempat tidurnya. Kesedihan tampak jelas tersemat di kedua mata Arun. Ya, wanita itu kini sedang menangis dalam keheningan.
Merasa khawatir dengan kondisi Arun, Adikara menolak pelan daun pintu dan berjalan masuk dengan berani. Seketika itu pula, Arun melirik ke arah kedatangan Adikara. Buru-buru Arun mengusap air matanya ketika menyadari kedatangan Adikara. Ia pun mengubah posisinya menjadi duduk, dan kemudian menunduk wajah.
Adikara duduk tepat di samping Arun. "Masih sangat bersedih?"
Arun perlahan menarik wajah dan mengangguk. "Sangat, Mas? Aku hanya merindukan, mama."
Suaranya parau. Bisa ditebak oleh Adikara, kalau wanita itu sudah lama menangis. Kedua mata Arun tampak kembali membengkak.
"Wajar, karena dia mamamu."
Arun mengangguk di sela gerakan tubuh sisa kesedihannya. Sebisa yang ia inginkan mengulas senyum di bibir walau pun terpaksa.
"Hemmm ... aku benar-benar kehilangan orang baik dalam kehidupanku, Mas. Aku tidak punya orang tua lagi dan hanya tersisa bang Boy sebagai keluargaku," katanya dengan perlahan. Air mata yang semula tak lagi menetes, kini kembali menganak sungai.
Adikara merasa kecewa mendengarnya. Namun, ia paham dan sadar diri akan kehadiran dirinya di kehidupan Arun.
"Kau juga punya aku," balas Adikara dengan berani. Ia pun mengarahkan tatapan untuk menemui bola mata Arun yang semakin mengecil. "Kau punya aku sebagai suamimu. Mungkin, aku bukan pria yang baik buatmu saat ini, Run. Tapi, sekuat yang aku bisa akan memberikanmu kebahagiaan. Aku akan menjagamu untuk orang-orang yang kau sayangi. Aku akan belajar untuk itu," katanya lagi tanpa ragu.
Bola mata hitam yang mengecil itu, pun terlihat membeku menatap pada Adikara. Ia tidak menyangkah, kalau Adikara bisa berkata demikian.
"Jangan menangis lagi. Nanti, kalau bola matamu hilang bagaimana?" Meskipun merasa canggung dan kaku, sebisa yang Adikara mau membawa ibu jarinya untuk mengusap buliran air mata di pipi Arun.
Arun mengulas sebuah senyum sambil berkata, "maafi aku, Mas," kata Arun sesaat ibu jari Adikara terlepas dari kedua pipinya.
Adikara menarik sudut ekor matanya. Ia menatap lekat-lekat pada wajah Arun. "Maaf? Untuk?"
...Bersambung....
...****************...
__ADS_1
Jika suka berikan like, vote, hadiah, dan tinggalkan jejak-jejak asmara lewat komentar ^^
Bantui promosi cerita Adikara dan Arun dong kakak² ^^