Hatimu&Hatiku

Hatimu&Hatiku
Buat Kau Jatuh Cinta


__ADS_3

"Jangan pernah menyentuh hati seseorang, kalau kau belum bisa menyelesaikan perasaanmu sebelumnya di tempat lain."~ Adikara Suryo.


...***...


"Udah jatuh cinta sama aku?"


Arun terisak dan berkata, "30%."


Adikara malah tersenyum dengan jawaban Arun. Buat Arun makin panas saja melihatnya. Dia hendak pergi, tapi Adikara langsung mencegah dengan menarik tangan Arun dan membawanya ke dalam pelukan.


"Lepaskan aku, Mas."


"Nggak."


"Kok kamu ngeselin, sih?"


"Kamu ngangeni."


"Gak peduli aku tuh. Kamu cari aja Violet ke luar angkasa sana. Kalau masih cinta, kenapa nikah sama aku, sih, Mas?"


Adikara malah terdiam. Semakin dia peluk tubuh Arun yang bergetar karena nangis.


"Aku mau masuk. Kamu lepasin aku, Mas."


"Nggak rindu sama aku?"


"Nggak! Kamu itu suka ngehindar dari pembicaraan, Mas. Lepasin aku ...."


Arun mendorong tubuh Adikara, meskipun awalnya nggak niat, karena pelukan Adikara itu sangat hangat dan buat Arun candu. Tapi rasa marah dan cemburu belum hilang dari perasaannya.


Terpaksa Adikara melepas tubuh istrinya yang sudah meronta-ronta nggak terarah. Kedua mata Adikara menyoroti kepergian Arun ke dalam rumah.


"Lambat laun, Arun pasti mengetahuinya," gumamnya. Kini dia pun berlalu masuk ke dalam.


Selepas membersihkan diri, Arun langsung naik ke atas ranjang untuk berbaring. Matanya udah bengkak karena habis nangis di kamar mandi. Dia merasa diselingkuhin sama Adikara.


Sejak tadi Adikara masuk pun tak dipedulikan sama dia. Tidak pula membuatnya ingin bergerak turun, memberikan baju tidur yang sempat ia persiapkan tadi. Walaupun dia marah, sebisa mungkin Arun tetap melakukan tugasnya sebagai istri Adikara.


Lima belas menit kemudian, Adikara usai dari mandinya. Keluar dari kamar mandi, dia menggosok rambutnya yang setengah basah dengan handuk kecil.


Tapi iris mata pria itu melirik ke arah badan Arun yang tak berpindah sejak tadi dari posisi awal. Ya, meskipun marah, Arun nggak tidur dengan posisi memunggungi Adikara. Dia tetap berada di posisi ke arah sang suami.


Tidak ingin berlama-lama, Adikara nyusul Arun membaringkan tubuhnya di samping wanita itu.


Terang-terangan dia menghadap ke arah wanita itu dengan tangan yang ia jadikan sandaran kepala, sambil menatap wajah sembab Arun.


"Kau belum tidur?" tanya Adikara, masih tak melepas tatapan.


Tidak mendapati jawaban Arun, dia kembali berkata, "kau belum tidur, Run. Akau tahu itu. Kelopak matamu bergerak."


Mendengar perkataan Adikara dan merasa gak bisa menipu pria itu, akhirnya kelopak matanya pun terbuka lebar.


"Kenapa emangnya? Aku udah ngantuk, Mas. Boleh nggak, kalau aku ganti posisi munggungi kamu?"


Adikara menggeleng. "Nggak boleh."


"Kok kamu egois banget, Mas," balasnya lirih.


Adikara menarik tubuhnya dan bergerak pelan dari atas tempat tidur. Dia mengambil hape yang sempat diletak di atas lemari kecil samping ranjang.


"Aku salah, Run. Aku minta maaf," ucapnya kembali berbaring di samping Arun. "Jujur ... Aku nggak pernah lagi berhubungan sama dia. Udah lama ... Cuma lupa aja buat hapus kontaknya. Ini, kau bisa periksa semua yang di hapeku." Dia memberikan hapenya ke tangan Arun.


Wanita itu diam, tapi air mata yang semula ditahan, kini menggenang. Adikara berusaha menghamburkan kata-kata demi menjelaskan ke Arun agar tak salah paham lagi dengannya.


Pria itu pun tampak tak tega membuat hati Arun bersedih. Dia usap air mata yang turut menggenangi pipi Arun.


"Jangan nangis karena aku."

__ADS_1


"Kalau bukan karena kamu, karena siapa lagi, Mas? Suami tetangga?"


Adikara malah tersenyum. "Nggak gitu juga. Aku gak izinkan kalau itu."


"Kamu yang buat aku sedih, Mas."


"Iya, tahu, aku memang salah. Buruan periksa dulu. Kalau ada yang tertinggal, kau boleh marah lagi sama aku. Tapi cuma malam ini."


Arun kini menatap layar hape Adikara. Sekarang ada foto keduanya ketika menikah di atas layar.


"Kunci pin aku tanggal ulang tahunmu, Run. Kalau semisalnya itu terkunci."


"Baru kamu buat, Mas?"


"Nggak. Setelah kau sah jadi istriku."


"Kamu gombal, 'kan?" tanyanya masih dengan suara isak tangis.


Adikara hanya diam sambil menatap wajah Arun. Tangannya kembali menghapus air mata Arun. Dia memperhatikan setiap inchi wajah istrinya dengan seksama. Lalu, refleks membenamkan kehangatan bibirnya di tempat serupa milik Arun. Tidak sebentar hingga Arun merasa tubuhnya mati rasa.


"Percaya sama aku," jawabnya setelah puas.


Arun merona dan susah bergerak. Adikara tidak terlihat canggung sama sekali. Padahal ... Setengah mati menahan dirinya. Dia tersenyum melihat ekspresi Arun yang menggemaskan itu. Jari telunjuk Adikara menjawil ujung hidung Arun.


"Bernapaslah."


"Kamu ...."


"Udah halal."


"Tapi—"


"Buruan lihat hape aku."


Arun menggeleng dan mengembalikan benda persegi itu ke tangan Adikara. "Aku nggak mau jadi istri yang suka periksa-periksa barang pribadi suaminya, Mas. Yang terpenting kejujuran diantara kita. Ingat, karma itu berlaku, Mas. Kalau kamu selingkuh di belakang aku, bisa saja balasan untuk kamu nantinya, aku yang selingkuh di depan kamu."


"Sebaiknya, ingat aja kata-kata aku, Mas. Aku nggak mau kayak kamu. Misterius. Aku udah ngantuk."


"Kemarilah." Tangannya dia lambaikan ke Arun.


"Mau apa?"


"Kemarilah," ucapnya lagi, setelah hape diletak di atas lemari.


Arun pun menurut. Dia bergeser dan mendekat ke Adikara. Pria itu ikut menggeser tubuhnya, kemudian merangkul tubuh Arun ke dalam dekapannya.


"Kamu mau apa, Mas?" Arun hendak menggapai wajah Adikara, tapi sigap pria itu mendorong wajah Arun, agar tetap berada di bidang dadanya. Dia memeluknya erat kini.


"Aku mau buat kau jatuh cinta 100% sama aku."


Arun tersenyum di sana. "Pake cara ini?"


Adikara mengangguk dan memejamkan mata. "Iya."


"Gak bakalan ampuh."


"Setiap hari?"


"Iya. Walaupun setiap hari."


"Kita lihat aja nanti."


Arun tak lagi bersura. Tangannya malah nggak malu buat balas rangkulan Adikara di pinggang pria itu. Sontak aja mata Adikara sempat terbuka, merasakan kehangatan dekapan tangan Arun. Lalu, pria itu tersenyum dan kembali memejamkan matanya dan mendekap lembut istrinya.


***


Pagi pun kembali datang dengan kesibukan yang lumayan padat buat Arun kerjakan di tempat dia bekerja.

__ADS_1


Setelah di antar Adikara, dia pun langsung bergegas masuk. Kerjaan di rumah sendiri udah ditangani sama pekerja yang dipanggil Adikara sendiri.


"Selamat pagi calon maneger," sambut Elee.


Arun yang hampir mencapai pintu ruangan tekesiap dan mengening. "Manager apaan? Gila lo, ya?'"


"Yeeeeh ... Dikasi tahu malah ngeyel. Lo dapat promosi dari pak Agung," saut Dita dari dalam.


Keduanya kini berjalan masuk menghampiri Dita.


"Kok bisa, Dit?"


"Bu Helen mau resign. Dan lo, satu-satunya kandidat yang diinginkan pak Agung sejak tahun lalu, 'kan?" Elee tesenyum merasa bangga.


"Kok gue, sih? Kenapa gak si Gala dan Ettan gitu? Kita uda pas formasinya di team produksi. Tiga serangkai Brokoli. Kalau Ettan sama Gala, mereka bisa jadi apa aja gitu."


"Gala yang rekomandisikan lo, Run ke pak Agung. Dan pak Agung memang mengakui kinerjanya, lo. Lagian ... Kalau lo keluar dari sini, lo tetap jadi atasan divisi produksi. Yaitu kita-kita." Dita kembali menjelaskan.


"Benar yang dikatakan, Dita, Run," saut Ettan baru masuk ke ruangan. "Gala mau lo naik jabatan."


"Astaga ... Aku nggak cocok weh."


"Bukannya itu impianmu, Run?" kini Gala yang masuk ke dalam. "Ini gak segampang yang lo kira. Jadi, sebelum benar-benar naik jabatan, lo harus buktikan skill yang lo punya di depan para petinggi perusahaan nanti." Gala duduk di atas kursi kerjanya.


"Persentase maksudnya ya, Kak?" Arun menatap bingung ke Gala.


Lelaki itu pun menganggukkan kepalanya. "Iya. Kau pasti bisa. Aku percaya sama kemampuanmu, Run. Gapailah selagi bisa keinginanmu yang uda lama kau iming-imingkan. Biar bisa bangga sama diri sendiri."


Kalau Arun udah manggil Gala dengan Kakak, cara bicara Gala pasti berubah.


"Gala sayang banget, ya, sama Arun," kata Elee cemberut dan mendapati tatapan Gala.


Sejak tadi, Elee terus memperhatikan cara Gala memandang Arun dan cara Gala memandang dirinya.


"Yeee ... Jangan cemburu Lele. Kita 'kan keluarga." Ettan datang merangkul pundak Elee dan disusul sama Arun yang merasa gak enakan.


"Jangan sedih, El. Kita keluarga. Nggak ada yang gak saling sayang di sini." Arun merangkul pinggang Elee. Disusul sama Dita. Dia mendekap ketiganya yang saling berpelukan itu.


Elee masih sedih dan memberut bibir. "Beda aja, Run. Gala itu sama aku kayak namanya. Galak! Beda sama kalian."


"Beuh ... Gala itu sama aku songong. Udalah, jangan pikirin dia. Nggak guna. Pikirkan aku aja, ya," ucap Ettan nenangin. Gala cuma bisa diam dan membuang tatapan ke arah lain.


"Tatan emang baik," balasnya manja dan tersenyum, hingga mendapati tatapan Gala. Dia melepas tangannya dari dekapan yang lain, dan hendak memeluk Ettan seorang. Gala cepat bangkit berdiri. Dia menarik tubuh Ettan secara paksa.


"Kerja!"


"Apaan, sih, lo?" Ettan melotot.


"Budeg? Gue bilang kerja. Di sini bukan tempatnya untuk teletubbiesan."


"Bar-bar banget," saut Elee gak suka. Dita dan Ettan uda lebih dulu bubar ke tempat masing-masing.


Arun menarik Elee, mengantarkan perempuan itu ke tempat duduknya. Kalau Gala udah menatap ngeri,  artinya lelaki itu sedang serius.


"Gue benci sama matanya, Run," bisik Elee kesal, sebelum Arun pergi.


"Itu daya tariknya, El. Udah ... Jangan dilawan. Gue suka takut, kalau mata Gala udah merah kayak jin." Arun bergegas pergi ke tempat duduknya. Elee masih menatap Gala gak terima.


Barusan mau duduk di tempat duduknya, Gala gak sengaja melirik ke arah Elee dan mendapati tatapan tajam dari gadis yang ada dipojokan dinding. Sebaris dengan Gala.


"Jelek!" ejek Elee sebelum memalingkan wajahnya.


Gala hanya bisa membolangkan mata untuk sikap Elee yang kekanak-kanakan barusan. Bukan nggak suka. Mereka berdua sejak bersekolah memang jarang akur. Tapi rasa sayang Gala sama Elee, nggak bisa dipungkurinya.


Bersambung.


***

__ADS_1


Aku butuh asupan semangat dari kalian. Tolongggg ....


__ADS_2