Hatimu&Hatiku

Hatimu&Hatiku
Pegang Tanganku


__ADS_3

"Mendapati senyum manismu, menggerakkan sesuatu dalam tubuhku." ~ Adikara Suryo.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sering-sering menghamburkan kata, ya, Mas."


Mendengar penuturan Arun barusan senyum samar tersemat di kedua sudut bibir Adikara di sela santap makan pagi mereka. Tidak secanggung di awal, Adikara mampu merubah suasana dan keadaan di antara keduanya, meskipun masih tidak seakrab  suami dan istri pada umumnya.


Sikap Adikara yang dinginlah yang membuat Arun tak bisa seenaknya seperti ke sahabat atau pun abangnya.  


"Aku sudah selesai," kata Adikara setelah terjeda keheningan yang cukup lama di antara mereka. Sebelum beranjak pergi dari ruang makan, ia sempat menyekah kedua sudut bibirnya dengan tisu yang tersedia di atas meja, kemudian beranjak pergi meninggalkan Arun yang hanya memandangi kepergiannya.


Tubuh Adikara kini berhasil lolos ke dalam kamar Arun. Sebelum bersiap untuk ke makam mama dan papa mertuanya, Adikara hendak mengemas barang terlebih dahulu.


Baru saja mengarah langkah ke tempat sudut bagian lemari, tanpa sengaja Adikara melewati tong sampah dekat meja kecil milik Arun yang memperlihatkan bingkai foto di dalamnya dan menampilkan kemesraan Arun dan sang mantan yang sempat menggantung indah di dinding kamar Arun.


Wajah Adikara sedikit kaget sebagai reaksi atas apa yang barusan dilihatnya. Kini ia berkacak pinggang dengan minjilat daerah bibirnya yang kering sembari melirik ke kiri dan kanannya. Ia nyaris tak percaya, karena Arun terlihat serius dengan sesuatu yang dikatakan oleh dirinya semalam.


"Yang seperti ini baru benar, Run. Kau memang bisa diandalkan soal seperti ini. Benar-benar sangat pintar. Buanglah mantan pada tempatnya, tong sampah," ucap Adikara kemudian terkekeh sendiri, karena ia merasa geli.


Dari suara kekehannya itu, tanpa disadarinya kedatangan Arun melewati pintu yang tidak sempat tertutup rapat olehnya. Hingga membuat Arun masuk ke dalam kamar tanpa cela sedikitpun. Tentu saja, wanita itu keheranan melihat Adikara yang terpingkal-pingkal tanpa alasan yang jelas.


"Mas?" panggil Arun dengan langkah hati-hati. Suara Arun terdengar seperti tercekik di telinganya.


Sekejap mata tawa Adikara hilang sudah berganti dengan wajah yang mengetat, saat mendapati keberadaan Arun ke arahnya. Salah tingkah, adalah gerakan yang baik dalam keadaan darurat seperti ini.


Mempertahankan sikap dinginnya, tentu saja merusak reputasi pria itu sekarang. Adikara kini berdiri tegak seraya menyentuh lehernya.


"Apa Mas sakit?" Arun yang barusan saja berdiri di depan Adikara, tanpa malu menempelkan punggung tangannya di kening sang suami. Ia memiringkan kepala, seakan merasakan suhu tubuh Adikara di sana. "Tidak panas."


Adikara menepis tangan Arun dari keningnya. "Ehe ... emm," dia berdehem dan mencoba santai. "Aku memang tidak sakit."


"Terus? kenapa Mas tadi itu tertawa senang sekali? Kupikir tadi itu, Mas lagi kesurupan," sindir Arun, bersamaan dengan matanya yang penuh selidik.


Adikara menatap kakinya sendiri. "Tidak ada."


"Bahagia sekali kok. Kupikir juga dunia akan runtuh setelah tawa tadi itu," ejeknya lagi tak ingin melepas Adikara.


Adikara menyilangkan lengannya. "Kau cerewet sekali!"


"Aku tahu itu. Jadi nggak usah berulang kali mengataiku seperti itu." Arun memberengut pada Adikara. "Tapi, tadi itu, Mas benar-benar sangat senang sekali. Kenapa?" tanyanya lagi dan mengoreksi mata Adikara.


Ekspresi wajah Adikara tampak panik. "Tidak perlu tahu. Persiapkanlah dirimu, aku mau kemas barang." Buru-buru Adikara membalik badan, menjauh dari Arun. Seperti niatannya di awal, Adikara berjalan ke arah lemari milik sang istri.


"Berhenti!" teriak Arun. Suaranya menggema di kedua telinga Adikara sekarang. Sejurus kedua mata Adikara membelalak.


Dengan angkuhnya Arun menghampiri Adikara. "Soal pakaian biar aku yang mengurusnya, Mas. Mas 'kan gak tahu, pakaian mana aja yang harus kubawa nantinya. Masuklah ke kamar mandi, nanti aku kasi baju dan celana, Mas," titah Arun padanya.

__ADS_1


"Ouuuu." Adikara pun menjauh darinya. Sesuai perintah yang diberikan, dengan patuhnya Adikara berlalu ke kamar mandi.


"Agh, hampir saja ketahuan," gumam Adikara di balik pintu kamar mandi.


***


Setelah mengunjungi dan berpamitan di makam kedua orang tua Arun, Adikara membawa sang istri ke tempat wisata yang ada di Depok. Menyadari arah jalan mereka tidak searah dengan perumahan tempat tinggalnya, Arun melirik ke Adikara dari bawah bulu mata hitam lentik miliknya.


"Kita mau kemana, Mas?"


"Jalan," jawabnya tanpa mengubah pandangan.


"Iya, jalan. Aku juga tahu kita ini lagi di jalan. Maksudnya mau ke mana loh, Mas?"


"Lihat aja kedepan."


Arun mendesahkan napas ke udara. "Susah banget buat ngomong ke mana gitu?"


"Pacaran."


"What???"


"Kenapa?"


"Pacaran? Siapa yang pacaran, Mas?"


"Sungguh, wanita ini seperti gulungan pita kaset yang rusak sekarang. Tidak ada capeknya sama sekali berbicara panjang lebar seperti itu." gumam Adikara dalam hati.


"Tahu nggak, Mas?"


"Nggak," pangkas Adikara.


"Isss ... kamu itu bukan hanya nyebelin, Mas. Tapi juga misterius banget dari awal kita ketemuan sampe hari ini. Apa pun yang kamu lakukan, aku nggak boleh tahu. Ok, sebelumnya aku bisa sabar karena kita belum jadian. Kalau sekarang ... jangan harap aku bisa diam dan menunggu kamu untuk jawab, Mas. Kamu harus tahu rasanya aku kesal kalau didiamkan kayak gini. Kalau orang mengajukan pertanyaan sama kita, seharusnya 'kan dikasi jawaban, Mas. Bukan diam aja, kayak aku lagi ngomong sama patung," ketus Arun panjang lebar.


Kuping Adikara seketika memerah mendengar ocehan yang tak berdasar dari Arun. Dia tidak tahu saja, kalau Adikara memang tidak seperti dirinya yang bisa berkata apa pun dalam satu kalimat panjang tanpa jeda.


Dia melirik ke arah Arun yang sedang mengatur napas di sela kekesalannya. Tangan Arun menyilang di atas dada, entah kenapa tadinya dia ingin marah, tapi melihat wajah Arun yang sangat cantik tanpa polosen make-up, pun mampu menarik perhatian Adikara. Ya, Arun benar-benar terlihat sangat cantik dengan alami. Wanita di sampingnya tidak memerlukan apa pun untuk menonjolkan sesuatu yang ia miliki.


"Kenapa?" tanya Arun mendapati bola hitam Adikara.


"Nggak apa-apa," balasnya sambil memalingkan wajah.


"Awas aja diam-diam melirik ke arahku. Kalau jatuh cinta, aku nggak bisa nolongi kamu, Mas."


Suara tawa kecil Adikara mengudara. "Tidak masalah."


"Kita lihat saja," cetusnya merasa tertantang.

__ADS_1


Satu jam lebih akhirnya sampai tujuan. Adikara memarkirkan mobil dan meminta Arun untuk segera turun.


"Kamu ingin mancing, Mas?" Adikara tak menjawab, dia langsung turun dari mobil setelah melepas seatbeltnya.


Secepat yang Arun bisa menyusul kepergian Adikara.


"Memang nggak ada romantis-romantisnya ini suami." Arun mencebikkan bibirnya sembari turun dari mobil.


"Tunggui, Mas," teriak Arun sembari melangkah lebar. Adikara sama sekali tidak mengindahkan panggilan istrinya, tapi tangannya menyentuh tombol kunci pada pintu. Dia terus melaju langkah untuk masuk ke dalam tempat wisata.


"Aduh."


Suara Arun memekik, menelusup masuk ke dalam indera pendengaran sang suami, membawa badan tegap berisi milik Adikara berbalik tanpa pikir. Adikara berlari kecil ke arahnya. Sebenarnya, Adikara tidak benar-benar meninggalkan Arun. Dia hanya memberikan jarak di antara mereka.


"Kenapa?" Adikara menunduk dan menyentuh apa saja dibagian tubuh Arun yang menurutnya sakit, setelah mendapati tubuh wanita itu.


Arun tersenyum mendapati reaksi panik dari Adikara di wajah tampannya. "Akhirnya ...."


Adikara berdiri tegak dan menatap sinis pada Arun. "Kenapa kau resek sekali?"


Memberutkan bibirnya yang penuh ke arah pria di sampingnya. "Habisnya ... Mas, sih, aku panggil bukannya berhenti. Kalau aku hilang gimana? Terus, kalau ada yang culik aku dan bawa aku kabur, sementara Mas udah jalan duluan kayak mana? Aku benar-benar nggak bisa jadi kayak kamu, Mas," katanya lirih dan kemudian menundukkan wajah.


Arun memainkan jemarinya, karena merasa takut. Ya, takut melihat bola hitam itu memandang sinis padanya sekarang. Ngeri, kalau Adikara menunjukkan tampang sangarnya. Seperti anak kecil yang ketahuan berbong sama bapaknya, seperti itulah Adikara sekarang di mata Arun.


Adikara membuang napas dan melebarkan telapak tangan ke arah Arun. "Kemarikan tanganganmu."


Arun kembali membawa wajahnya menemui bola mata Adikara. "Mas mau apa?"


"Agh, aku bisa gila!" keluhnya sambil mengusap kening dan kembali menatap Arun. "Tadi kau bilang takut hilang dan diculik. Siapa juga yang mau menculik wanita sepertimu? Kau ini makannya banyak sekali, tapi nggak ada dagingnya. Kemarikan tanganmu, kita gandengan," ucap Adikara kikuk.


"Gandengan? Pegangan tangan maksudnya, ya, Mas?" Kedua mata Arun berbinar.


"Jangan banyak bicara. Pegang tanganku," ulang Adikara sembari memberikan telapak tangannya ke Arun.


Perlahan-lahan Arun menempelkan telapak tangan dan jemarinya di buku-buku jari milik Adikara yang hangat. Sangat teduh dan nyaman, seperti tampang suaminya barusan. Benar saja, Adikara yang merasakan telapak tangan keduanya bersentuhan dengan erat, pun mengubah eksperesi wajahnya menjadi tenang. Di balik kaus putih motif tulisan dan dipadukan celana jeans berwarna hitam, Adikara sukses membuat Arun terpana sejenak.


Puas. Arun benar-benar puas sekarang. Perlahan-lahan, ia akan mencairkan gunung es yang ada dalam diri Adikara. Arun sangat yakin, kalau sebenarnya, Adikara adalah pria yang hangat seperti mendiang papanya dan abangnya.


"Kau sangat senang sekali," gumam Adikara malu-malu dan mengusap bibir menggunakan punggung tangannya, kemudian menuntun jalan Arun di tengah keramaian pengunjung.


"Mas juga," jawab Arun tak mau kalah.


Adikara menarik samar kedua sudut bibirnya. Berbeda pula dengan Arun, ia tersenyum dengan sangat jelas sembari melirik penyatuan telapak tangan keduanya.


...Bersambung....


...****************...

__ADS_1


...Mana dukungannya ^^...


__ADS_2