Hatimu&Hatiku

Hatimu&Hatiku
Hatimu Dan Hatiku Sempurna


__ADS_3

"Hatimu dan Hatiku, kini terbentuk dengan kesempurnaan cinta kita."~ Arunika Baskoro.


***


"Apa kabar, Di?" Itu Violet yang lebih dulu menyapa dan langsung mendapati tatapan datar dari pria di hadapan mereka.


Adikara tersenyum miring. "Kabar? Bagaimana dengan yang kalian lihat?"


Mendengar suara Adikara yang lantang membuat nyali Zayn ciut seketika. Pun dengan Violet yang sibuk mencengkram kedua telapak tangannya di bawah sana.


"Santai aja Di. Lo buat Violet takut dengan suara yang seperti itu," protes Zayn dengan menggenggam telapak tangan Violet. Matanya menatap nanar ke arah Adikara yang kini juga membalas tatapannya dengan tajam.


"Siapa suruh lo bawa pawang!" ketus Adikara dan diselingi tawa nyeleneh. Dia udah pintar mengejek sesamanya dengan mahir.


"Kok lo gitu sih, Di? Violet itu istri gue bukan pawang!"


"Buktinya, lo bawa dia ke sini cuma buat ketemu sama gue, Zayn. Jangan lo pikir, diamnya gue selama ini karena gue gak bisa ngajukan tuntutan sama lo? baguslah, lo bawa Violet ke sini. Gue pengen tau, lo berdua sadar nggak dengan semua yang lo pada buat untuk gue?"


Violet memberanikan diri untuk menatap Adikara. Refleks, ia menahan Zayn untuk memberikan jawaban atas ucapan Adikara barusan. Gerakan Violet barusan sukses menarik atensi Adikara ke arahnya. Kini, dia malah menatap Violet yang sempat membuat dirinya hampir memberikan tempat Arunika seorang.


"Di ... gue tahu, lo marah sama kita berdua. Tadi itu, Zayn mau pergi dan gue tanya dia mau ke mana,  karena dia mau ketemuan sama lo, ya udah gue ikut. Mungkin ini saatnya buat gue dan Zayn sama-sama meminta maaf sama lo atas kejahatan yang kita buat semua ke lo."


"Dengan cara yang lo berdua buat ke gue itu, apa cukup hanya dengan sebuah maaf? bangcat lo berdua. Dari beberapa tahun lalu, sekarang lo pada baru mau minta maaf? ke mana lo selama ini? Hahhh?"


Adikara tidak pernah menunjukkan marahnya terhadap Violet dari dia bersahabat dengan wanita itu, kuliah bareng dan hampir menjadi sepasang kekasih atas keinginan dirinya untuk move on dari yang namanya sakit hati atas ulah Zayn menikung Arunika, tanpa sepengetahuan Adikara, pun dia tidak pernah bersikap kasar seperti ini.


"Gue tau nggak bisa gitu aja berlalu, Di. Seenggaknya, niat kami untuk meminta maaf akhirnya terpenuhi," pinta Violet penuh harapan besar.


"Setelah Arunika jadi sama gue, 'kan?"


"Lo sendiri yang membuat semuanya rumit kala itu, Di," saut Zayn. Tangan Violet kembali mencegah Zayn untuk membalas hingga memperkeruh masalah.


"Setelah gue dan Zayn siap untuk berhadapan dengan lo, Di. Tolong maafi kita berdua dan kembalilah seperti Adikara yang kami kenal dulu. Lo mau 'kan, Di? lo uda jauhi kita selama ini, apa lo nggak pernah berniat untuk memperbaiki hubungan kita selama ini?"


Seakan-akan, Adikara itu berubah karena Arunika. Apa Violet amnesia?


"Dengan dasar apa gue harus memperbaiki persahabatan yang memuakkan in?! Persetan sama yang namanya sahabat," berang Adikara meniumbalkan tatapan orang sekelilingnya. Dia tidak memedulikan itu. Kini, Adikara menarik tatapannya ke Zayn, "lo masih ingat kata-kata gue saat lo putusi Arun di kafe dekat perusahaan gue?"


Zayn merasa ragu untuk mengangguk. Keringat dingin kini menguasai daerah keningnya. Violet merasa bingung dengan perkataan Adikara untuk yang ini.

__ADS_1


"Lo lupa? kalau lo lupa biar gue ingatkan kembali," kata Adikara penuh tekanan, "'Jangan pernah muncul lagi di depan Arunika setelah lo mengakhiri hubungan lo dengan Arun semata-mata hanya karena Violet kembali dan mengetahui perasaan lo terbalaskan sama dia sebelum kami tiba di Jakarta. Sedangkan saat itu, air mata Arun sangat berharga untuk menangisi laki-laki pecundang kayak lo, Zayn.' Apa sekarang lo uda ingat? Membuatnya menangis adalah dendam yang gue tumpuk di sini," kata Adikara menepuk bagian dadanya dengan cukup keras.


Lo sakiti gadis yang gue inginkan dari dulu dan lo berdua tau itu, 'kan? seberapa besar harapan gue untuk mencari dia setelah gue sukses nanti. Tapi dengan seenaknya lo ngancurin harapan gue yang uda gue pupuk sejak lama, Zayn. Lo juga kasi harapan palsu sama dia, lo tipu gadis polos yang gak tau apa-apa sama masalah lo, gue dan Violet selama masih di London. Lo pikir itu mudah buat gue maafi segala kelakuan lo ke Arun? gak Zayn. Gue nggak bisa nutup mata untuk kelakukan lo yang satu itu.


Sedangkan lo Violet," wanita itu tampak terkejut saat namanya disebut dengan pelan kini, "Lo tau sendiri gimana sayangnya gue sama lo, sejak kita bersahabat .Tapi karena merasa dikhianati Zayn, lo coba rayu gue dan berkali-kali juga gue nolak lo, karena gue tau Zayn suka sama lo dari awal dan dia sendiri yang minta gue nggak usah ngasi tau sama lo, tapi apa?


Lo sendiri juga tau, kenapa dari dulu gue nggak mau pacaran selama kita bareng, tetap aja lo manfaatkan gue demi membalas Zayn. Pada saat gue mencoba nerima lo demi nyerah atas Arunika ketika itu, meskipun rasanya benar-benar berat gue lakukan demi dia!" tunjuknya ke Zayn, "ternyata apa? lo main dengan Zayn di belakang gue, 'kan? setelah kepulangan kita ke Jakarta, kalian berdua menunaikan seluruh rencana yang uda kalian rangkai diam-diam. Parah! gue benar-benar nggak sangkah kenal sama lo berdua."


Berkata panjang lebar, Adikara kini membuang napas kemudian mengusap kasar wajahnya. Frustasi dan rasa sakit yang sempat tertutup rapat sejak mendapati Arunika, kini menganga kembali. Satu hal yang Adikara sesali dengan sikap Zayn dan Violet memperdaya dirinya dan membawa Arunika  turut andil dalam masalah yang sama sekali tidak tau menahu soal hubungan ketiganya.


"Maaf, Di," lirih Violet.


"Gue nggak bisa! sekalipun air mata lo berdua tumpah, gue nggak bisa maafi sikap lo pada," jawabnya tanpa berniat menatap mata Violet. Dia malah mengarahkan tatapannya ke Zayn. "Lo buat Arun nangis di depan orang banyak saat itu Zayn dan gue di sana ngelihat langsung, betapa hancurnya Arun dan itu menusuk gue dari dalam sini," dia kembali menunjuk bagian dada seraya menggigit bibir bawahnya menahan emosi. "Gue merasa bersalah sama Arun. Dan lo pada cuma bisa minta maaf sama gue? buaya lo! bener kata Arun. Lo memang buaya darat yang sukanya menipu lawan jenis. Sampai di sini, gue merasa kita nggak punya hubungan lagi. Jangan ganggu istri gue dalam kesempatan apa pun kedepannya, Zayn. Lo camkan itu!"


Adikara bangkit berdiri dengan hati yang lapang kini. Segala unek-unek yang dia simpan lima tahun belakangan itu, akhirnya bisa tersalurkan dengan baik dan sangat rapi. Dia tidak memberikan waktu untuk kedua orang itu membela diri atau pun berkilah. Adikara puas, tapi sakitnya mengingat perlakukan kedua orang tadi mungkin memang tidak bisa dia lupakan dengan mudah.


"Mas."


Seseorang mencegah Adikara yang barusan membuka pintu mobilnya. Dia menoleh ke sumber suara dan menutup kembali pintu mobil. Pandangan itu tampak bingung mendapati dia yang Adikara cintai.


"Arun?"


"Kamu kok-"


"Terima kasih, Mas," ujar Arunika memotong perkataan suaminya, sekaligus memeluk tubuh pria bertubuh cukup berisi itu.


"Terima kasih? untuk?" Adikara sempat bingung, "apa kamu mengikutiku, Run?"


Wanita yang memeluknya itu mengangguk kepala. Dia menitikan air mata sudah, "iya. Bukan hanya mengikuti kamu ke sini, Mas. Tapi juga menguping pembicaraan kalian. Aku nggak mau, kalau kamu diterkam sama buaya sendirian tanpa aku, Mas. Aku uda dengar semuanya. Makasih, kalau hatimu tetap buatku selama itu."


Adikara tersenyum. Tangan kirinya merangkul pinggang Arunika membalas pelukan. Sedangkan tangan kanannya mengusap puncak kepala sang istri penuh sayang dan kelembutan. Dia kecup kening Arun cukup dalam. Menjadi tontonan orang yang lewat saat itu, masih tidak membuat Adikara malu.


"Aku udah pernah bilang sama kamu, kalau cintaku untukmu tidak pernah berpindah ke lain tempat, 100% cuma untuk Arunika Baskoro seorang. Ya, meskipun aku hampir saja terjebak. Cuma Arun yang bisa mengajariku menghamburkan kata-kata dan karena dia juga aku bisa meluapkan rasa sakitku selama ini."


"Apa itu sebuah pujian, Mas?"


Adikara kembali tersenyum dan mengangguk kepala. "Bukan hanya pujian. Kamu adalah satu-satunya penghargaan terbaik dari semesta untukku, Run." Kembali Adikara kecup kening Arunika.


"Kalau gitu, cintaku udah 100% buat kamu, Mas," jawab Arunika seraya menarik wajah ke arah atas. Dia menatap Adikara penuh manja dan masih tak melepas pelukan. Sepasang suami istri itu saling bersitatap penuh haru, "aku udah cinta 100% sama kamu sejak kamu mengakui cintamu ke aku, Mas. Hatimu dan Hatiku sudah benar-benar menerima dengan sempurna. Benarkan, Mas?"

__ADS_1


Jangan ditanyakan ekspresi wajah Adikara, pasti kalian juga tau kayak apa wajahnya sekarang. Coba kita bayangkan bersama-sama yuk. (Dasar kang halu hahahah)


"Benarkah?" Histeris dong dia.


Arunika mengangguk. "Benar, Mas."


Arunika melepas pelukannya dan bersiap untuk mengudarakan isi hati dan perasaan yang kini dia rasakan.


"Cintaku 100% untuk Mas Adikara. Apa kalian semua mendengarnya?" Adikara semakin terkejut melihat aksi gila istrinya yang berteriak.


"Cintaku ke Mas Adikara uda 100%," dia kembali berteriak dan melompat-lompat dengan girang.


Adikara yang menjadi salah tingkah dan malu, pun bergerak kikuk mendekati Arunika.


"Run-run, sadar. Malu kita dilihat banyak orang," bisiknya seraya menarik lengan Arunika.


Arunika yang masih tertawa dengan girangnnya menoleh kembali pada sang suami.


"Biar buaya dan kadal di sana itu," tunjuk Arunika pada sisi restoran dengan pembatas kaca yang memang menjadi tempat duduk ketiganya tadi. Kedua orang yang disebut Arunika, juga memandang pada mereka sejak awal Arun mendapati suaminya, "tau, kalau aku dan kamu tidak bisa terpisahkan oleh gunung dan lembah-lembah," katanya sambil memajukan bibir. Dia juga mengkspresikan kedua matanya seolah hendak menerkam mangsa.


Hampir saja, Adikara tersedak tanpa isi dalam tenggorakannya. Wanita itu memang sesuatu sekali bagi Adikara. Wanita periang itu mampu mengendalikan suasana perasaan Adikara seketika saja. Dan dia bersyukur atas keberadaan sang istri di sini.


"Ayo, kita pulang."


"Tapi, Mas?"


"Kita pulang ke rumah merayakannya." 


Menggandeng tangan Arunika penuh mesra dan sekaligus mengurangi rasa malu yang sempat menjadi tontonan orang-orang yang berlalu lalang di area parkiran, kini Adikara sukses membuka pintu jok penumpang bagian depan. Ia membantu Arunika duduk dengan benar dan memasang seatbelt pada tubuh istrinya. Lalu ... Adikara dengan berani mencuri kesempatan untuk menikmati bibir ranum istrinya secepat kilat.


"Kamu sesuatu, Run," bisik Adikara menggelitik dan kemudian keluar dari sana menutup pintu mobil.


Arunika menyoroti suaminya yang kini mengitari mobil, pun menggunakan tatapan yang tak percaya akan sentuhan demi sentuhan yang mulai Adikara pertontonkan padanya sejak hari itu.


"Luar biasa," gumamnya tanpa sadar.


TAMAT


***

__ADS_1


Lho, kok?


__ADS_2