Hatimu&Hatiku

Hatimu&Hatiku
Temani Aku Ke Club Malam Ini


__ADS_3

Tolong buat kalian yang belum pernah Vote sama sekali, like atau pun gak pernah komentar, jangan pelit² dong huhhuhu. Seenggaknya kasi dukungan kalian buat aku yang uda ngetik plus berpikir, berjam-jam loh. Sampe jempol keriting. Tapi kalau gak punya perasaan pun gak apa-apa wkwkwkwwk. Becanda ^^


Terus ... buat kalian yang belum ikuti profil aku, ikuti ya. Soalnya ... rencana mau bawa judul baru di sini. Tunggu lulus sinopsis dulu. Nah, pas nanti udah publikasi di sini, kalian bisa langsung dapat pemberitahuan nantinya. Makasih semua kesayangan Mamas dan Mbak :)


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sama seperti perpisahan kita yang pertama, aku juga menangisi kepergianmu untuk yang kedua kalinya." ~ Adikara Suryo.


...****...


Berada dalam masa sulit dan merasa putus asa, Arunika kini memilih menghibur dirinya dengan berkunjung ke pemakaman kedua orang tuanya yang berada di Bekasi. Tak lupa, dia meminta pak sopir untuk nunggui, karena Arun memang cuma berkunjung. (Tebakan siapa nih yang bener di IG tadi pagi ^^)


Banyak hal yang Arun ingin sampaikan pada sang mama terlebih dahulu, sebelum dia mengambil keputusan yang benar buat dirinya dan sang suami.


Sore sebelum senja menjemput, dia tiba di pemakaman. Langsung saja, Arunika turun di depan pintu gerbang pemakaman. Dia berjalan sendiri dengan hati dan perasaan yang masih tak karuan.


Sampai di tempat, Arunika duduk di pinggiran makam sang mama. Menatap pada nisan dan berpindah tatapan ke nisan sang papa.


"Apa kabar kalian berdua?" sapanya tanpa ada jawaban.


Desiran suara angin menjadi teman bagi Arun di bawah langit sore yang teduh, seiring dengan rambut panjang hitam legamnya yang melambai mengikuti ke mana angin bergerak. Bunyi ranting-ranting pepohan yang ada di area pemakaman juga mengikis sedikit kesunyian dalam dirinya. Itu sudah cukup bagi Arun.


"Ma ... apa Arun salah kalau lari kayak gini?" Buliran air matanya satu persatu jatuh di atas pipi.


"Kalau nanti Arun gak sama lagi dengan Mas Adi, mama marah gak ya, sama Arun? Waktu itu mama pernah bilang sama Arun, kalau Mas Adikara baik buat Arun. Tapi nyatanya enggak, ma. Mas Adikara banyak bohongnya. Uda ngeselin, kalau ngomong singkat-singkat, sekarang? Dia bohong sama Arun, ma. Apa yang harus Arun lakukan, ma, pa?"


Arunika sesenggukan sebelum akhirnya melirik ke atas. Ia hapus air matanya sembari menatap langit biru yang menenangkan jiwa.


"Seandainya saja, Mas Adikara jujur dari awal sama Arun. Mungkin aja Arun gak sesakit ini, ma. Zayn yang jahat. Karena ulahnya dia yang ngehancurkan harapan Mas Adikara."


Keheningan sesaat menjadi jeda.


"Kalau Arun gak bahagia gimana, Ma?"


"Maafkan aku, Run."


Arunika terjingkat kaget mendengar suara Adikara yang tiba-tia.Dengan cepat tubuhnya bergerak untuk menoleh ke belakang.


"Mau apa kamu ke sini, Mas? Aku lagi nggak pengen lihat kamu!" Arunika berdiri dari duduknya.


"Kita bicarakan sama-sama, Run. Kamu mau, 'kan?"


Adikara memaju langkah, tapi Arunika mundur selangkah dengan pasti. Dia menggeleng.


"Nggak, Mas! Aku nggak mau cepat-cepat baikan sama kamu! Aku bisa aja memaafkan kamu secepatnya, tapi aku masih gak terima cara kamu ke aku. Aku bukan Violet dan juga Zayn yang harus menanggung kekesalan kamu selama ini."

__ADS_1


Arunika hendak melangkah pergi dari sisi lain. Secepat Adikara melangkah, dia menarik lengan Arunika.


"Run ... dengarkan aku dulu."


"Lepaskan aku, Mas." Arunika berusaha menepis tangan sang suami, tapi dia kalah kuat. Adikara malah menarik Arunika ke dalam pelukannya.


Tentu saja, Arunika meronta-ronta minta dilepas. Adikara pun tetap berusaha menahan Arun untuk tidak terlepas dalam pelukannya, hingga wanita itu memilih pasrah karena tak lagi bertenaga melawan dekapan suaminya.


"Aku mohon, Run. Tolong maafi aku. Aku memang salah. Tapi perasaanku benar-benar nyata sama kamu. Nggak ada yang salah soal itu. Kasi aku kesempatan lagi buat bangun kepercayaan kamu ke aku. Apapun itu akan kulakukan supaya kamu maafkan aku."


Adikara terdengar berbeda. Seperti bukan Adikara yang sebelumnya susah ngomong dan irit bicara. Kesopanannya pun terdengar baru.


"Aku nggak mau, Mas! Aku mau pergi dari kamu. Biar kamu tau hatimu benar-benar siap nerima aku sebagai istri kamu apa cuma pelarian aja," Arunika terisak dalam dekapan Adikara.


Tangan Adikara mengusap sayang puncak kepala Arun, ketika merasakan tubuh isrrinya itu terisak pedih. Dia juga mendaratkan bibirnya di atas sana.


Kini, bola mata Adikara berkeliling hingga menengadah ke atas. Sebisanya dia menghalau cairan bening yang tiba-tiba saja pengen tumpah, saat mendengar kata-kata Arunika yang ingin pergi dari sisinya, mungkin saja itu yang memunculkan ketakutan dalam diri Adikara.


"Kamu gak boleh pergi, Run. Sampai kapan pun, aku nggak akan biarkan kamu pergi."


"Sampai kapan pun, aku nggak akan maafkan kamu, Mas. Kamu mau yang mana? Kasi aku waktu buat nenangkan diri atau kamu dan aku kayak Tom And Jerry, setiap harinya?" (Bisa-bisanya ya, Run? Wkwkwkw)


Adikara tidak menjawab untuk beberapa menit ke depan. Dia susah mencerna kemauan Arun, karena baginya benar-benar berat untuk memilih.


Jika menahan Arun untuk tidak pergi, Adikara gak akan pernah bisa menemukan Arunika yang sebelumnya. Arunika yang ceria, suka banyak bicara dan tentu saja ngangeni.


"Lepaskan aku, Mas!" Arunika mencoba mendorong tubuh Adikara, saat tak mendapati jawaban darinya.


Sesaat keduanya tak lagi saling mendekap, ada keterkejutan dari mata Arunika. Ia mendapati bola mata sang suami yang memerah juga bekas air di sekitar matanya.


"Kamu pulang aja! Aku nggak mau pulang, Mas. Kasi aku waktu untuk membenahi diriku sendiri," katanya kemudian menoleh ke arah lain dan hendak memaju langkah meninggalkan makam orang tuanya.


Hati Arun sebenarnya nggak tega melihat ekspresi kesedihan di wajah suaminya itu. Begitulah Arunika. Perasaan yang ia punya sejak dulu adalah rasa ketidaktegaan. Ini juga salah satu kelemahan Arunika.


"Bagaimana nanti aku makan, Run?" tanya Adikara masih di posisi yang sama dan sukses menghentikan langkah kaki Arun.


Arunika berhenti sejenak, ketika mendengar pertanyaan suaminya.


"Kamu bisa minta makan sama si mbak, Mas."


"Kalau aku sakit?"


"Kamu bisa pergi ke rumah sakit." Arunika menangis mendengar suara Adikara barusan bergetar.


"Kalau aku rindu sama kamu?"

__ADS_1


Dia tidak langsung menjawab, Arunika lagi menguasai dirinya yang menangis tanpa suara.


"Kamu bisa lihat foto aku di hape kamu."


"Aku nggak bisa jauh dari kamu, Run." Pecah sudah, kini air mata Adikara melewati sudut matanya. Persetan sama malu. Adikara gak bisa membayangkan, kalau akhirnya bisa kayak gini.


Seumu-umur bagi pria itu, menangis adalah hal yang langkah. Bahkan, saat ditinggal nikah sama Violet pun, air matanya tidak berproduksi seperti saat ini dengan mudahnya.


"Kamu bisa, Mas. Buktinya ... kamu bisa ke London 'kan sama Violet. Kenapa nggak nyari aku dulu, kalau kamunya memang punya perasaan dari awal kita bertemu saat itu."


Tanpa ingin memperpanjang lagi, Arunika mengusap kasar air matanya dan bergegas pergi dari makam.


Buliran cairan bening di kedua mata Adikara ikut menyoroti kepergian Arunika. Wanita itu belum bisa memaafkannya. Dan dia paham betul posisi Arun.


Kakinya seolah tertahan tak bisa bergerak maju mengejar kepergian Arun yang kini sudah menjauh. Kedua tangan mencengkram erat di bawah sana. Adikara teringat Arunika kecil dalam memori terindahnya.


Suara bel sekolah mengudara dengan kencangnya. Pertanda, kalau jam istirahat sudah usai. Banyak siswa dan siswi yang berlarian sibuk untuk masuk ke kelas masing-masing.


Lain hal dengan Adikara, siswa kelas 3 SMP kala itu. Kedua kakinya berjalan santai, berhubung kelas miliknya berada di lantai satu. Saat ia berjalan sendiri di lorong kelas, tidak sengaja Adikara melihat siswi yang mengenakan seragam SD dari sekolah mereka, sedang mengutip makanannya yang jatuh di atas lantai.


Adikara menebak, kalau anak itu bisa saja kena senggolan dari siswa atau siswi yang berlarian saat ia membawa makanan.


Adikara ingat betul raut wajah ketakutan dan kepanikan dari siswi tersebut. Rambut yang dikepang dua adalah ciri khas gadis itu, yang paling Adikara ingat semasa sekolah.


"Kamu kenapa?" tanya salah seorang lain. Dia mendapati tatapan panik Arunika. Adikara hanya berdiri di posisisnya melihat dari kejauhan.


"Nggak apa-apa," balas gadis itu ke anak SMP lainnya.


"Sini kubantu."


Di sini ada rasa penyesalan bagi Adikara. Entah kenapa pada waktu itu, dia tidak langsung membantu Arunika.


Setelah dari kejadian itu, Adikara selalu mencari keberadaan Arunika diam-diam di sekolahnya. Adikara suka sekali memperhatikan gadis kecil yang ia tau bernama Arunika. Saat itu, ia mendapatkan info nama Arun dari teman sekelasnya. Hingga dia sadari, kalau gadis polos itu menarik perhatiannya.


Adikara sempat diejek oleh beberapa teman dekatnya, karena bukan menyukai kakak kelas mereka yang super duper cantik dibandingkan sama adik kelas mereka yang merupakan anak SD.


"Bisa tolong bantu ambilkan bola itu nggak, Kak?"


Untuk pertama kalinya Adikara bisa berkomunikasi dengan Arun, saat mereka berada di taman sekolah. Untuk pertama dan terakhir kali, lebih tepatnya.


Kepergian Arunika yang tiba-tiba dari sekolah mereka sebelum genapnya semester ganjil dan keputusan Adikara yang bersekolah di Jakarta.


"Temani aku ke club malam ini."


Bersambung.

__ADS_1


***


Nahhhhhhh mana dukungannya. ^^


__ADS_2