
"Senyumanmu indah bagaikan pelangi sehabis hujan." ~ Arunika Baskoro.
...****************...
Untuk pertama kalinya pria itu tersenyum padaku. Terkejut, meskipun itu samar, tapi bisa membuatku berpikir, kalau pria yang kini menjadi suamiku adalah pria yang hangat sesungguhnya. Namun, banyak kemungkinan yang terjadi untuk membuatnya seperti terkurung dalam dunianya sendiri. Apakah itu cinta atau pengkhianatan, sama sekali tidak tahu.
Rasanya ... malam ini menjadi sempurna di atas kesedihan yang telah terjadi. Takdir dan nasib tidak dapat diprediksi, tapi kehidupan yang tertinggal harus berlanjut walaupun akhirnya harus dikenang.
"Nanti aja pandang-pandangannya, pas di kamar gitu. Kasihanilah yang jomlo ini," sindir Ettan membuat pandangan mataku teralihkan dari Mas Adikara.
Sial.
Sejak kapan seorang Arun bisa grogi begini. Tanganku bergetar saat menyentuh alat makan. Entah itu karena senyuman atau tatapannya tadi, aku juga tidak tahu. Mata pun ikut menyembunyikan rasa malu yang timbul, karena Ettan mengubahnya.
"Kau buat dia merona, Tan," sambung Dita meledek.
"Makanlah dengan tenang. Kalian membuatnya semakin malu," sambung Gala datar.
Aku membuang napas kasar. Hah, entah macam apa perasaanku sekarang. Rasanya bagaikan permen nano-nano. Tanpa memedulikan sekitar lagi, kini aku memilih tenggelam dalam pikiran sambil menikmati makan malam tanpa semangat.
Selesai makan malam usai, aku tidak langsung ke kamar seperti Mas Adikara. Sejenak berada di kamar tamu, di mana semua sahabatku memilih untuk tidur bersama. Obrolan tentang Mas Adikara pun tak terlewatkan oleh mereka. Sayang sekali, aku sedang lelah untuk bercerita soalnya. Sebaiknya memang dihindari sebelum melampaui batas.
"Kalian tidurlah. Semoga aja subuh besok aku bisa terbangun. Aku ingin mengantarkan kepulangan kalian. Makasih banyak, karena uda mau datang sampai sini. Dan maaf, saat di acara pernikahan kemarin, aku tidak bisa melayani kalian sepenuh hati," kataku pada mereka sambil mengulas senyum.
"Melayani sepenuh hati? Kayak pernah dengar, tapi di mana?" Ettan memiringkan kepalanya.
"Gak usah dipikirkan. Capek kali kau memikirkan hal-hal yang gak penting, Tan," saut Elle, sebelum dia mengarah tatap padaku, "kau jangan berlibahan, Run. Kami tahu kau juga sibuk dan sekarang berduka. Waktunya istirahat, aku tahu kau sangat lelah. Jangan memikirkan hal-hal yang gak berguna, Run."
Gala yang duduk di sampingku, pun menyentuh pundakku.
"Akhiri kesedihanmu setelah keluar dari rumah ini, nantinya. Mulailah untuk menciptakan kebahagiaanmu, Run, dengan suamimu pastinya. Hanya padanya sekarang kau bergantung. Susah atau pun senang, berbagilah sama pria itu. Meskipun dia tampak dingin, aku yakin dia pria yang baik untuk dirimu."
Suara tepuk tangan mengudara dalam ruangan kamar.
"Yang dikatakan Gala ada benarnya. Aku juga setuju dengan dia, Run. Gapailah kebahagiaanmu. Takdir biarlah berjalan sesuai kemauannya, tapi kau masih punya akal dan pikiran, untuk memutuskan jalan hidupmu. Intinya, kami ada bersamamu," ucap Dita menyemangatiku.
Aku mengangguk. "Terima kasih atas segalanya. Kehadiran kalian di sini membuatku, mba Arini, bang Boy, jadi terhibur. Kalau begitu, kalian beristirahatlah. Jika memerlukan sesuatu, kalian bisa panggil aku. Selimut dan bantal lainnya, ada di lemari dekat kamar mandi. Selamat malam semuanya," ucapku pada mereka, lalu berdiri dari atas tempat tidur.
"Kau membuatku sedih, Run. Berikan pelukan selamat malam." Elee turut berdiri di ikuti yang lainnya. Dan kami berlima saling berpelukan.
"Kami akan selalu ada untukmu, Run," kata Ettan sebelum kami melepas pelukan. Senyum pun terulas, dan akhirnya aku melangkah pergi dari ruangan kamar.
Ingin sekali berada di dalam kamar mama yang tak jauh dari kamar tamu untuk sesaat, tapi aku tidak kuat bahkan merasa takut. Takut untuk menangis lagi dan lagi. Lelah, aku merasa sangat lelah.
__ADS_1
Akhirnya otak mengajak kaki untuk berjalan menyusuri beberapa ruangan menuju tangga. Namun, saat mendapati ruang santai terbuka yang dihiasi dengan lampu temaram, pun meminta kaki untuk terhenti. Ruangan itu membawa kembali ingatan ke saat-saat mama sering menghabiskan waktunya di sana. Di atas sofa itu, mama duduk seorang diri sambil menyulam—hobi mama yang tak pernah lekang oleh usia.
"Masih ingin di situ?" tegur seseorang menyadarkanku dari lamunan.
Tanpa sadar air mata telah melewati pelupuk, saat diri ini mengarah ke sumber suara. Pria itu terlihat berbayang dari dalam pandanganku.
"Kenapa tidak tidur, Mas?" tanyaku sembari mengusap jejak air di pipi.
"Menunggumu."
"Agh, tidak perlu seperti itu Mas." Kedua kaki pun melanjutkan langkah mendekat ke arahnya. Dia benar-benar menunggu dan menantikan kedatanganku.
Kami berdua berjalan menaiki anak tangga dalam kesunyian malam, tanpa sepata kata pun. Kesunyian itu pun berhasil membawa kami sampai di dalam kamarku.
Buru-buru mengambil tindakan seperti yang ada dalam pikiran sebelumnya. Aku mengarahkan kaki ke tempat tidur. Mas Adikara dan aku harus tidur terpisah, pikirku.
"Tidurlah di tempat tidur, Mas. Aku tidur di sofa," kataku sambil mengambil bantal dan selimut di sisi kanan ranjang.
Mas Adikara masih berdiri tak jauh dari tempatku. Diamnya dia membuat tatapan ini mengarah padanya. Kami saling beradu tatap untuk beberapa saat.
"Kenapa melihatku seperti itu, Mas?"
"Tidurlah di tempatmu."
"Apa kau pikir aku nyaman?" tanyanya kini membuatku sedikit kaget.
Aku memutar tubuh, namun kudapati punggung bidangnya memunggungiku.
"Nyaman? Maksud Mas gimana?"
"Lihatlah di dinding itu. Foto istriku sedang bersama dengan mantan kekasihnya. Lalu, kau memintaku tidur sendiri di atas tempat tidur ini, agar aku bisa memandangi kebersamaan kalian berdua dari situ, bukan? Benar begitu?" Dia memutar tubuhnya. Bola mata hitamnya jelas berisi kemarahan atau ketidaksukaan.
Sekilas kulirik ke arahnya sebelum berpindah tatapan ke tempat yang dia maksud. Ternyata benar, aku melupakan sesuatu di sana.
"Mas tidur dengan menutup mata, jadi abaikan saja," kataku tanpa ragu padanya.
Kupikir itu masuk akal dan membuatnya mengerti. Namun, semuanya sia-sia.
"Tidak bisa."
"Kenapa tidak bisa, Mas? Itu cuma masa lalu. Tidurlah dengan posisi miring ke samping atau ke kanan, maka semuanya selesai."
"Tidak sesederhana itu, Arun," jawabnya tanpa ekspresi.
__ADS_1
Aku membuang napas frustasi. "Lalu, harus kuapakan foto itu, Mas? Apakah aku harus naik ke atas untuk menurunkan foto sialan itu?!"
"Jangan berteriak."
"Hah, aku benar-benar sangat lelah. Kenapa malah mengajakku ribut?"
"Kau tadi masih punya tenaga untuk memeluk semua lelaki di bawah sana."
Aku menganga mulut dan memandangnya penuh heran. Ada apa dengannya?
"Mereka sahabatku, Mas."
"Tapi, aku suamimu."
"Lalu, Mas maunya apa sekarang?"
Bukannya menjawab, dia kini melangkah maju ke arah tempatku berdiri. Tepat di depanku, kami saling berhadap-hadapan dengan jarak yang tidak terlalu lebar.
Aku mencengkram erat ujung piyama, saat wajahnya mulai di arahkan ke aku. Hembusan napas dari hidung Mas Adikara, pun terasa menyapu permukaan kulit wajah. Walaupun begitu, tidak sedikit pun aku berniat memalingkan wajah darinya.
"Tidurlah di sampingku. Jangan berharap aku mengalah untuk tidur di sofa atau pun di lantai. Aku harap, ke depannya nanti tidak lagi terulang seperti ini." Tiba-tiba kurasakan tangannya menggenggamku. Sampai di depan tempat tidur, dia melepas tanganku dan naik ke atas.
Suara bahkan genggaman tadi sangat dingin seperti gelap yang dihembuskan angin malam. Dia sekejap membuatku diam dari perdebatan tadi.
"Entah kenapa, aku jadi banyak bicara saat di dekatmu," katanya sambil masuk ke dalam selimut, juga memejamkan matanya.
Benar yang diakatakan. Sebelumnya, Mas Adikara bukanlah pria yang bisa diajak untuk bicara normal seperti tadi. Dia terbiasa dengan beberapa kata saja, tapi tidak setelah kami menikah. Dia suka menghamburkan kata, seperti yang pernah diakatakan padaku.
Sejenak kuberpikir, bagaimana Mas Adikara tahu kalau yang di foto itu adalah mantanku.
"Bagaimana Mas bisa tahu itu mantan pacarku?"
...Bersambung....
...****************...
...Like...
...Komentar...
...Vote...
...Hadiah...
__ADS_1
...Terima kasih ^^...