
Seperti yang dikatakan Adikara kemarin ke Arunika sebagai penutup malam itu untuk sang istri yang sedang tidak enak badan. Pulang dari perusahaan, Adikara membelikan tespek dengan berbagai merk untuk Arunika pergunakan seperti saran sang Mama.
Pukul 05:42 WIB.
Tepatnya, pagi itu Arunika terbangun dan berniat untuk mencoba sesuai dengan anjuran yang dia cari atau baca di salah satu artikel yang dia temukan saat browsing di halaman internet menggunakan hpnya.
Bersiap diri dalam keadaan setengah mengantuk. Dia pun melakukan tahap demi tahap, hingga menunggu hasil dengan jantung yang berdetak.
"Astaga!" kata Arunika dengan tangan satunya menutup mulut dan satunya lagi memegang alat tespek digital yang memperlihatkan garis dua merah di sana.
Beberapa kali dia mengerjapkan mata untuk memastikan kalau penglihatannya tidak salah saat itu. Ya, karena Arunika sempat merasa mengantuk sebelum berdiri di kamar mandi.
Kini, dia yang masih duduk di atas kloset kamar mandi merasa sangat haru akan apa yang dia lihat di pagi ini.
Air mata mulai turun dan membasahi pipinya, yang diiringi dengan suara tangisan seperti anak kecil kehilangan ibunya. Tangan itu bergetar. Pun dengan bibir menahan gejolak rasa syukur.
Berulang kali, dia pandangi alat testpack, sampai suara tangisan menggema dalam ruangan.
Samar-samar, suara tangisan menyapa gendang telinga Adikara yang masih tertidur. Pria itu bergerak kecil ke kanan. Merasa di sampingnya kosong, Adikara pun bergerak heboh. Dia membawa tubuhnya untuk duduk meskipun mata masih sangat berat untuk terbuka.
Mengusap kasar wajahnya terlebih dahulu, Adikara mencoba mengembalikan seluruh kesadarannya sebelum ia kembali mendengar suara tangisan yang ia kenal adalah suara istrinya.
"Arun?"
Adikara menyingkap kasar selimut yang menutupi tubuhnya, dan bergegas untuk turun dari atas tempat tidur, karena merasa khawatir dengan Arunika yang menangis di kamar mandi sendirian.
Berjalan ke arah kamar mandi, Adikara mendapati pintu kayu itu tertutup sangat rapat. Dia menggedor pintu dengan kencang seraya memanggil nama Arun.
"Run? Buka pintunya. Kamu kenapa?"
"Aku nggak apa-apa, Mas," jawabnya masih disertai tangisan.
"Lho, kalau nggak apa-apa kenapa nangis? kamu buat aku khawatir lho. Buka pintunya, Sayang."
Adikara masih mengetuk pintu. Dan seketika pula rasa kantuknya hilang sudah, saat mendengar istrinya menangis dari balik pintu tanpa ia ketahui permasalahan yang jelas.
"Arun, buka pintunya sekarang. Kalau nggak dibuka aku dobrak nih?"
Terpaksa melayangkan ancaman dari balik pintu, karena Adikara masih mendengar suara tangisan Arunika yang terasa jauh dan menebaknya masih di tempat yang sama.
Beberapa menit kemudian, daun pintu itu pun terbuka dan memperlihatkan wajah Arunika dibanjiri air mata dan masih sesenggukan karena menangis.
__ADS_1
Adikara tidak menanti lama untuk bertanya. Kini, dia menarik tubuh Arunika kedalam dekapannya dan mengusap kepala Arunika memberikan ketenangan.
"Jangan menangis, Sayang. Apa ada yang sakit?"
Suara rengekan Arunika menjadi-jadi. Mengusap air mata, menyekah cairan bening dari hidung dan mengerjapkan mata di balik tubuh sang suami, pun dia lakukan.
Menggeleng kepala kini dia berkata, "Ini merah, Mas."
"Merah?"
Arunika mengangguk. "Iya, merah Mas."
Adikara mengurai dekapannya untuk menemui iris milik Arunika. Kening yang lebar pun berkerut bingung untuk mencerna apa yang Arunika katakan.
"Apanya yang merah?"
"Ini," dia tunjuk alat testpack yang ada dalam genggaman sejak tadi ke arah Adikara.
Menoleh, Adikara mengikuti ke arah mana Arunika memperlihatkan alat tersebut. Pria itu menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas.
"Apa tanda dua garis itu?"
"Positif, Mas."
"Iya, Mas. Ini positif. Kamu lihat 'kan, garisnya ada dua."
"Artinya kamu hamil?"
Arunika mengangguk-anggukkan kepala dan masih terlihat haru dari air mata yang belum kering di pipinya.
"Iya, aku yang hamil Mas. Bukan kamu," katanya kembali merengek.
"Beneran kamu hamil?" Membesarkan kedua mata, Adikara terlihat masih tidak percaya. Menyentuh kedua lengan saat istri, Adikara memandang wajah Arunika masih melebarkan kelopak matanya. Ekspresi itu terlihat sangat terkejut.
"Iya, Mas. Aku hamil. Kita bakalan jadi papa dan mama," kata Arunika dengan suara yang meyakinkan.
Adikara refleks menarik pundak Sauna ke dalam dekapan. Dia kembali memeluk sang istri. Dan berkali-kali pula dia mengecup puncak kepala Arunika untuk mengapresiasikan rasa kebahagiaan yang terdengar di tengah pagi itu.
"Ini nyatakan, Run?"
"Iya, Mas nyata. Kamu akan menjadi papa. Aku sedang mengandung buah cinta kita. Seperti mimpi, aku ingin sekali terbang."
__ADS_1
"Aku akan menjadi Papa?"
Tertawa haru tercetak jelas di ekspresi wajah Adikara. Di terlihat seperti linglung, karena sangkin senangnya mendengar berita tersebut.
"Iya. Mas Adikara akan menjadi calon papa. Dan aku? Aku akan menjadi seorang ibu."
Bergerak ke depan, Adikara merangkum kedua pipi Arunika dan mengecup bibir istrinya ketika dia memandang wanita itu dengan tatapan memuja, dan juga mata yang sedikit terlihat dibasahi dengan cairan bening akan kebahagiaan yang mereka miliki. Kembali, kini ia memeluk erat istrinya.
"Kita akan mengabarkan berita kebahagiaan ini pada semua orang, Sayang. Terima kasih banyak telah mewujudkan inginku," bisiknya haru.
"Aku sangat bahagia, Mas. Ada keturunan kamu di perut aku. Ini masih satu, 'kan? Aku mau keturunan yang banyak." Arunika menenggelamkan wajahnya dalam bidang dada suaminya.
Senyum tertarik di bibir Adikara. "Keturunan kita, Sayang. Sekandang, 'kan?" goda Adikara.
Keduanya semakin mengeratkan dekapan. Melepaskan perasaan cinta dalam diri keduanya. Menanti dalam sabar, bak Adikara yang akhirnya bisa mendapatkan cinta Arunika seutuhnya.
"Kalau bisa, kenapa nggak?"
Tawa Adikara malah mengudara memenuhi ruangan. Sesuatu yang patut disyukuri adalah hidup dengan Arunika.
Meskipun terkadang loadingnya cukup lambat dan suka menghamburkan kata-kata, tapi Adikara merasa nyaman ada di sampingnya. Dia merasa sangat bersyukur bisa mencintai dan dicintai oleh sang pujaan hati.
"Kapan kita kasih tahu sama mereka, Mas?" tanya Arun tiba-tiba. "Sekarang? Besok atau lusa?"
Adikara berpikir sejenak. "Kurasa lebih baik besok saja, Sayang. Aku ingin momen di hari ini cukup untuk kita berdua dulu."
"Wuuh ... kamu ini ternyata pelit juga, ya," goda Arunika yang tak sedikitpun memudar senyum.
Bibir Arun yang cemberut itu membuat tawa Adikara mengudara.
"Percayakan saja dengan pencipta kehidupan kita, Run. Berapapun itu nantinya, aku akan tetap bersyukur karena kita sudah dilengkapi, bukan?"
Adikara terus mengusap perut sang istri dengan sayang.
"Aku percaya itu, Mas," jawabnya ikut mengekspresikan kebahagiaan yang tiada taranya.
Dalam ruangan yang cukup luas itu, pasangan suami istri tersebut sedang mengekspresikan segala kebahagiaan yang kini menghampiri rumah tangga mereka, yang diawali dengan sebuah perjodohan.
"Kapan kita kasih tahu sama mereka, Mas?" tanya Arun tiba-tiba. "Sekarang? Besok atau lusa?"
Adikara berpikir sejenak. "Kurasa lebih baik besok saja, Sayang. Aku ingin momen di hari ini cukup untuk kita berdua dulu."
__ADS_1
"Wuuh ... kamu ini ternyata pelit juga, ya," goda Arunika yang tak sedikitpun memudar senyum.