
"Untuk melepasmu pergi dariku, mungkin takkan bisa aku lakukan." ~ Adikara Suryo.
***
Menerima informasi dari Marco lewat panggilan, setelah hampir 45 menit kepergian asisten pribadinya mengikuti Arunika. Kini, Adikara buru-buru melenggang pergi dari ruangannya. Sebelum benar-benar keluar , Adikara dicegah akan kedatangan sang Papa dan kedua adik kembarnya saat pintu terbuka.
"Kamu bermasalah sama Arun, Di?" tanya Papa Suryo sampai di depannya.
"Iya, Bang? kamu bermasalah ya, sama Mbak Arun?" sambung Elena.
"Dari mana kalian tau?" tanya Adikara memastikan.
Erica menarik napas dalam-dalam "Jelasnya dari rapat tadi lho, Bang. Dari tatapan kalian berdua, Mbak Arun kayak ngehindar gitu. Terus saat kedatangan Bang Adi ke ruang rapat. Kayak ada yang janggal aja. Dan lebih pastinya, saat Mbak Arun mundur dari posisinya. Uda jelas banget."
"Apa kamu nggak kasi tau soal kerjaanmu sama Arun?" tebak si Papa.
Kedua mata dari ketiga anggota keluarganya tak sedikit pun berniat melepaslan iris Adikara. Seolah dikunci, Adikara nggak bisa menghindar.
Ketiganya menanti jawaban pasti dari mulut Adikara yang sampai saat ini terliha tertutup rapat. Adikara benar-benar bingung dengan situasi sekarang. Kalau keluarganya sudah tau, itu tandanya badai mulai menunjukkan kekuatannya.
"Jangan di sini, kita ke dalam aja." Adikara kembali menarik knop pintu dan mempersilahkan ketiganya masuk.
"Duduk dulu," ajaknya seraya duduk di sofa sisi kanan.
Begitulah Adikra. Sama keluarganya pun, dia terlihat sangat kaku.
"Jelaskan sama Papa apa yang terjadi sama kamu dan Arun? Dengar-dengar dari Bu Yanti, alasan Arun menolak posisinya yang tiba-tiba karena nggak layak. Padahal, sebelum harinya dia udah terlihat excited. Ini apa masalahnya sekarang?"
Setelah ketiganya duduk tidak ada lagi yang namanya basa basi. Papa Suryo paham dengan sifat Adikara yang nggak akan mengatakan apa pun, kalau tidak ditanya. Anak itu memang sangat pemendam. Sebisnya, dia akan menanggung semua masalahnya sendirian.
Adikara memijat kening. "Salah Adi sih, Pa. Adi nggak kasi tau soal ini."
"Ini apa? kerjaan kamu di sini?"
Adikara mengangguk. "Salah satunya."
"Ada yang lain lagi?" tanya Elena kaget. Matanya membola penuh penasaran.
Kembali kepala Adikara mengangguk. "Soal Violet dan Zayn."
"Bang Adi belum jujur juga?" Erica kini yang berseru kaget.
__ADS_1
Dia menggeleng kepala. "Belum. Dan kesalahanku sangat fatal kali ini."
Elena menepuk keningnnya. "Kalau Mbak Arun tau dari orang lain, kamu lebih gawat posisinya, Bang."
"Adi, Adi. Papa uda berulang kali katakan sama kamu. Yang namanya membangun rumah tangga itu gampang, kalau pundasinya itu kejujuran. Kalau kamu uda gak jujur gimana mau bahagia? musibah itu namanya. Harusnya, sejak kamu memutuskan untuk menikah dengan Arun, kamu uda bersiap untuk membuang masa lalumu. Apapun yang berkaitan dengan kamu dan Arun di masa lalu harusnya uda kelar sejak kamu terima perjodohan kalian. Kayak gini udah runyam, Di." Papa Suryo menggeleng menyesalkan keputusan Adikara serta menghembuskan napas. "Kayak dibilang sama Elena tadi, kalau tau dari orang lain gimana?"
"Bener. Elena malah takut kalau Mbak Arun cari Bang Zayn."
"Memang sudah. Tadi Adi mau keluar karena Arun ketemuan sama Zayn, Pa," katanya dengan jujur.
"Sempurna! habislah kamu, Bang." Erica menggleng lemas dengar pengakuan sang Abang.
Papa Suryo dan Elena sama-sama menarik napas dalam-dalam.
"Aku akan urus, Pa," kata Adikara menenangkan.
"Sudah sewajarnya. Papa balik kerja dulu. Mama kamu uda tau soal ini. Kayaknya dia bakalan ke rumah kamu, Di. Untuk menggantikan yang kemarin. Papa yang kasi tau ke Mama soal Arun melepas peluangnya di perusahaan ini. Jadi, Mama khawatir dan pengen lihat kalian."
Papa Suryo kini berdiri dari atas sofa. "Ingat, Di. Kamu selesaikan bukan dibiar-biarkan atau sampai berlarut-larut. Nggak baik. Rumah tangga kamu baru beberapa bulan."
"Iy, Pa," jawabnya.
Papa Suryo kini melenggang pergi dari ruangan Adikara. Wajah pria paruh baya itu tampak kusut setelah mengetahui kebenarannya. Sedangkan si kembar, keduanya sama-sama masih tak melepas tatapan dari Adikara yang masih menyoroti kepergian papanya.
"Kalian masih ingin memarahiku?" tanyanya.
"Kenapa sih, susah banget buat ngertiin kamu, Bang. Dari awal, Elena uda bilang sama Abang, kalau kejujuran itu penting. Ditolak apa nggaknya saat Mbak Arun tau sebelum menikah itu lebih baik Bang. Toh, kamu bisa ngejar balik. Uda nikah gini yang namanya masa lalu berhubungan dengan para mantan itu sensitif, Bang. Terus, gimana rencana Bang Adi? Mbak Arun malah ketemuan sama orang yang ngehancurkan jodoh kamu dari dulu, Bang. Dan sekarang? apa akan bernasib sama?"
"Nggak akan, Na. Abang usahakan buat ngomong sama Arun."
"Semoga kamu beruntung, Bang," jawab Elena.
"Nanti, Mama ke rumah Abang. Erica juga bakalan di sana. Pengen ngomong sama Mbak Arun."
"Kalau gitu Elena juga."
"Terserah kalian. Kalau mau datang boleh, kalian bisa langsung datang. Di sana ada si Mbak. Abang mau cari Arun dulu." Adikara bangkit dari atas sofa. "Kalian masih mau di sini?"
Sama-sama keduanya berdiri dan menggeleng.
"Elena masih ada kerjaan. Duluan keluar." Dia berjalan pergi lebih dulu meninggalkan Adikara dan Erica.
__ADS_1
Salah satu alis Adikara terangkat ke atas. Ia memandang Erica yang berhadapan dengannya sedang menatap sendu. "Kenapa?"
Erica memaju langkah dan mengitari meja yang menjadi jarak di antara keduanya. Dia peluk Adikara dengan hangat. "Kamu harus bisa bujuk Mbak Arun ya, Bang. Jangan sampai ada apa-apa. Jangan sampai kamu kalah lagi dari Bang Zayn. Erica gak terima. Erica masih ingat betul, bagaimana Bang Adi keluar dari kesedihan sampai buat Abang jadi suka diam dan gak mau berbagi masalah. Hemmmm?"
Adikara tersenyum. Dia usap puncak kepala Erica dan mengecup singkat di sana. "Makasih, adek. Semoga Abang bisa, ya?"
"Harus. Pergilah dan hati-hati di jalan. Erica mau balik kerja." Adikara mengangguk kepala bersamaan dengan Erica mengurai pelukannya. Bibirnya membentuk senyuman memberikan semangat untuk Adikara.
Kepergian Erica menjadikan akhir dari perbincangan keluarga Suryo. Langsung saja, Adikara berjalan ke arah pintu lift untuk direksi. Sesuai dengan informasi yang ia dapat dari Marca soal kedatangan Zayn di salah satu kafe tidak jauh dari perusahaan, Adikara bergegas untuk menghampiri keduanya.
25 menit kemudian. Mobil yang dikemudikan Adikara memasuki lapangan parkir dari kafe. Adikara mendapati Marco yang juga berisap untuk masuk ke dalam mobil. Dia menekan klakson menghentikan gerakan kaki Marco.
"Pak ... Ibu Arun baru saja pergi," adu Marco seusai mendapatkan Adikara di depannya.
"Pergi? sama siapa?"
"Hanya sendiri, Pak. Ibu Arun naik taksi, apa mau saya kejar, Pak?"
"Kamu tau nomor plat taksinya? kalau tau hubungi pusat taksi itu dan tanyakan ke mana tujuan sopir yang membawa Arun. Kalau uda dapat langsung kamu kabarin saya segera, Marco."
"Baik, Pak."
Adikara kembali masuk ke dalam mobil. Marco menjalankan perintah sesuai yang dikatakan Adikara tadi.
***
Setelah bertemu dengan Zayn dan paham akan masalah yang selama ini Adikara tutupi, Arun memilih untuk diam sejenak di kafe tadi seusai kepergian Zayn.
Tidak butuh lama untuknya paham dengan pilihan Adikara. Di sisi lain, Arunika paham kalau sakit hati Adikara terhadap Zaynlah yang bisa dikatakan pemicu aksi nekadnya membalas dendam ke Zayn yang akhirnya salah sasaran, dengan cara menerima perjodohan mereka.
Zayn mencintai Violet bukan aku.
Lalu? kalau Mas Adikara sudah cinta pada pandangan pertama, kenapa harus memikirkan Violet?
Ya, dendam memang susah membuat diri seseorang tenang dalam menyikapi masalah.
Dua sisi dari dalam dirinya saling berbincang soal masalah yang Arunika hadapi. Bagi Arun sendiri, Adikara seperti seorang pecundang yang nggak bisa memperjuangkan haknya sendiri. Seperti orang yang pasrah dan gak berniat usaha untuk membawa
"Ada baiknya aku pergi."
Bersambung.
__ADS_1
***
Hayoo ke mana dia mau pergi?