Hatimu&Hatiku

Hatimu&Hatiku
Aku Membutuhkanmu Run


__ADS_3

"Temani aku ke club malam ini."


Itu jawaban Arunika, ketika ia menerima panggilan dari sahabatnya—Gala.


Waktu pun berlalu sangat cepat. Setelah meminta Gala menemaninya malam ini untuk menghabiskan waktu untuk bersenang-senang melupakan masalah yang ia hadapi. Kini, Arunika bersama keempat sahabatnya yang merasa aneh dengan dirinya.


"Kenapa sih lo, Run? Kek nggak ada tempat hiburan lain aja selain di sini," cerocos Ettan.


"Emangnya mau di mana lagi yang cocok, Tan?" tanya Arunika sembari menggenggam gelas berisi minuman beralkohol.


"Di playgoround gitu. Lo bisa ajak kita main bola, main perosotan, main panjat tebing. Lo bisa teriak-teriak gitu menyalurkan kesedihan lo. Bukan kayak gini, Markonah. Lo uda berstatus sebagai istri orang, punya laki. Kesian laki lo, walaupun ngeselin," celetuk Ettan, yang kemudian mendapati tampolan di kepalanya dari Dita.


"Gak gitu juga kali, Setan!" protes Dita. "Pergi ke mall dan belanja itu juga salah satu opsi terbaik saat cewek lagi stress."


"Yeee itu maunya lo," ejek Elee.


"Terus ... kalian mau pulang?" Dia tertawa. "Ya udah, pulang aja. Gue bisa sendiri di sini." Dia kembali menenggak isi gelas yang kedua dengan susah payah. Mana pernah seorang Arunika pergi ke Bar buat senang-senang atau juga melepas penatnya.


"Jangan minum lagi!" Gala menarik gelas kaca itu dari tangan Arunika. Wanita itu pun tersenyum getir dengan kesadaran yang mulai nggak bisa dikondisikan lagi. Dan kemudian memilih merebahkan tubuhnya di atas sofa.


"Aku benci sama dia!" kata Arun setengah sadar.


"Kalau kami pulang, terus lo dicicipi sama pria berhidung belang gimana? Lo ini kalau ngomong sembarangan ya, Run?! Minta dipites," ketus Ettan lagi.


"Dia uda mabuk, lo ngomong apapun gak bakalan dicerna, Setan." Elee menggeleng kepala.


"Gak mabuk aja dia sulit buat mencerna kata-kata. Jadi gimana urusannya?" Dita mencoba mencairkan suasana.


"Mana si Adikara? Kenapa dia nggak datang jemput gue?"


Berada di satu ruangan khsusus yang hanya ditempati oleh kelimanya, membuat mereka dalam kebingungan. Melihat keinginan Arunika yang minta untuk diantar ke apartemen Dita sebelum mabuk, menjadi opsi yang nggak akan mereka lakukan.


Ya, bagi Gala dan yang lainnya, masalah rumah tangga tidaklah baik untuk dihindari dengan cara melarikan diri, selagi Adikara masih mau menyesali perbuatannya. Soal itu, sahabat Arunika sudah mendengar seluruh rangkaian curhatan Arun. Bukan tidak marah, tapi mereka nggak ingin masalah Arun dan Adikara melebar, kalau salah satu dari mereka mencampuri lebih dalam.


"Arun ...."


Keempat orang itu terjingkat kaget, saat sejenak berpikir langkah apa yang ingin mereka ambil. Bola mata mereka melebar mendapati Adikara yang datang dengan sempoyangan.


"Dimana Arun?" tanyanya dengan suara lemah.


"Pak Presdir," Ettan datang mendekat.


Melihat tubuh Adikara yang sempoyongan, lelaki itu membantu tubuh Adikara agar berdiri dengan baik.


"Kok dia bisa ke sini?" Elee melirik ke arah Dita yang mengedikkan bahu. Pun ke Gala.


"Aku rasa dia ngikuti Arun," jawab Gala kemudian.


"Run ... aku cinta sama kamu," Adikara menatap sendu Arun yang kini sedang tergeletak di atas sofa dengan mata yang tertutup. "Aku gak bisa jauh dari dia," adunya pada Ettan. Air matanya tumpah.


"Iya, Pak. Nanti, kita pok bokong si Arun, ya. Nakal banget sampai buat Pak Presdir nangis," ucap Ettan dengan menepuk bahu Adikara.


"Lo gilak?! Yang nakal itu dia, bukan sahabat gue!" protes Dita gak terima.


"Pak Presdir ini," gumam Ettan takut.


"Enaknya divideokan ini. Biar si Presdir gak songong kayak tadi pagi. Gemes gue sama dia," ucap Elee hendak mengambil hape dari dalam tasnya.


"Lo jangan sembarangan! Pandang sahabat lo. Segitunya banget buat jatuhin suami sahabat lo sendiri," cegah Gala yang sukses menghentikan niatan Elee.


Tangan Elee sempat terhenti. Dia sekilas melirik Gala sebal. Menarik napas dan mengontrol dirinya, Elee kini cuma berdiam.


"Aku mau Arun," gumam Adikara dengan suara khas orang mabuk.


Dita tertawa. "Cinta banget sama Arun, Pak. Tapi kenapa jadi bangcat? Biarin begini aja. Biar rasakan sakitnya jadi Arun."


"Sssstt! Berisik banget," protes Arunika dengan suara berat. Kedua matanya masih terpejam.

__ADS_1


"Yeeee ... mabuk aja lo masih bisa bela suami, ya." Ettan menggeleng kepala.


"Jadi, kita harus gimana?" tanya Dita lagi.


"Kita antar. Gue sama Elee bawa Arunika. Ettan bawa Pak Adikara pake mobilnya dia."


"Motor gue mau lo kemanain, Bambang?"


"Titip dulu di sini. Nanti pulangnya gue antar lo lagi ke sini. Gitu aja dipermasalahkan," cibir Gala.


"Yeee ... gue nggak terlibat," saut Dita senang.


"Kenapa gue harus ikut sama lo sih, Galak?"


"Lo pikir apa kata orang, kalau cuma gue yang bawa Arunika ke rumahnya?"


"Lagian lo aneh, Galak! Ngapain juga lo sama Elee yang ngantar? Yang ada itu, Arun ikut sama Ettan. Satu mobil aja," cetus Dita.


"Yang ngantar gue pulang siapa, Martina?" protes Ettan.


Dita terkekeh. "Iya, ya? Gue lupa. Ya udah, yok."


"Tugas lo bayar minuman dan ruangan," ucap Gala seraya beranjak dari duduknya. Ia kini menarik tubuh Arun yang sudah terlelap di atas sofa ke dalam gendongannya.


"Urusan bayar membayar gue, ya?" keluh Dita.


"Lo bisa minta ganti besok ke Pak Presdir. Gitu aja repot." Elee dengan senangnya berjalan keluar mengikuti kedua lelaki geng Brokoli.


Benar saja, nggak ada yang tau dalam hati Elee, betapa senangnya dia bisa bareng Gala yang gak pernahnya minta ditemani dengan terang-terangan.


Hampir satu jam kemudian, akhirnya Ettan yang diikuti oleh Gala tiba di kediaman Arun. Mobil terhenti di lapangan parkiran rumah megah itu yang disambut dengan keluarnya Mama Risa yang memang menginap di sini.


"Ada apa ini anak-anak?" Mama Risa mendekati Gala terlebih dahulu yang membawa Arunika turun dari mobil.


"Korban orang mabuk, Tante," jawab Elee menahan tawa.


"Astaga ... ada apa dengan suami istri ini?"


"Kenapa, Ma?"


Erica datang dengan berjalan pelan ke arah mereka. Kedua mata Ettan yang tampak membola menyoroti kedatangan adik dari Adikara.


"Abangmu sama Mbakmu nih mabuk, Ca. Tolong bantu mereka bawa ke kamar."


Erica sempat terdiam sesaat, sebelum akhirnya memaju langkah memberikan arahan ke Ettan dan Gala yang diikuti Elee dari arah belakang.


"Kenapa ini?" Papa Suryo yang sedang menonton di ruang keluarga pun bangkit dari atas sofa menyoroti keempat orang itu naik ke anak tangga. Juga dengan Elena, matanya ikut menyoroti kedua keluarganya itu.


"Korban patah hati, Pa. Gimana sih anak-anak ini?" Mama Risa mendekat. Raut wajahnya terlihat frustasi.


"Bang Adi tuh yang nggak jujur. Wajarlah, Mbak Arun stres, Pa, Ma."


"Lalu abangmu itu ikut mabuk-mabukan juga?"


Elena mengedikkan bahu dan menggigit apel merah dalam genggamannya. "Bisa jadi. Abang ngikuti Mbak Arun kayaknya, Pa."


Papa Suryo dan Mama Risa menggeleng dan menarik napas dalam-dalam.


Sesampainya di kamar milik dua orang tersebut. Ettan pelan-pelan membaringkan Adikara di atas tempat tidur.


"Aku mau Arun," ngigaunya. Kedua mata Adikara yang sayu itu terbuka menatap Ettan.


"Sabar ya, Pak, Arun di sini kok. Di samping Pak Presdir," kata Ettan sembari meluruskan pinggangnya yang encok.


Pun dengan Gala. Setelah meletakkan Arun di samping Adikara, dia mengibas-ngibaskan tangannya yang pegal.


"Awas!" Arun terusik dengan tangan Adikara yang menyentuh kepalanya tanpa sengaja.

__ADS_1


"Arun ... aku cinta sama kamu. Jangan marah lagi." Adikara menggeliat untuk mendekati tubuh Arun yang terlentang di sampingnya.


"Ayo, kita keluar dari sini. Siapa tau aja ada adegan yang tak senonoh setelah ini."


"Ngah?" Refleks Elee meringis.


"Adegan tak senonoh?" gumam Ettan dalam hati. Dia bingung.


Gala yang paham pun mengajak kedua sahabatnya keluar kamar mengikuti Erica. Setelah benar-benar keluar dari kamar, Erica mengunci pintu dari luar. Ettan, Gala dan Elee pun dijamu oleh keluarga Adikara sesaat tiba di bawah.


"Arun." Adikara kini menatap wajah Arun di balik mata sayunya. Kesadarannya cukup terombang-ambing. Kini dia tersenyum melihat wajah Arunika yang tampak cantik dalam kesadarannya yang tak benar-benar hilang.


Arunika masih terpejam tanpa tau Adikara menatapnya penuh damba.


"Run," panggilnya lirih.


"Hemmmmm."


"Kamu masih marah?"


"Terlalu berisik." Arunika bergerak untuk mencari kenyamanan.


"Aku mencintaimu. Apa kamu dengar?" Adikara menenggelamkan wajahnya di atas badan Arun yang kini memunggunginya.


"Menjauh dariku! Kau sangat berat ayam! Pergilah ... pergi dariku." Dia menggoyang-goyangkan tubuh, agar Adikara menjauh.


"Aku suamimu. Bukan ayam." Adikara duduk bersimpuh di atas tempat tidur dan menepuk-nepuk dadanya, sambil menatap Arun. Masih seperti orang mabuk.


"Kau banyak bicara sekali!" Arunika membuka matanya dan berganti posisi duduk. Dia gelisah dan menarik-narik kemeja yang ia kenakan. "Panas ... di sini sangat panas. Bisa kau nyalakan ACnya, Pak?"


Menunjuk ke sembarangan arah, kini Arun menggaruk-garuk kepala. Tanpa sadar, Adikara sudah bergeser mendekatinya.


"Buka bajumu kalau panas." Adikara menarik kemeja yang dikenakan Arun tanpa rasa takut. Kalau sadar mungkin saja dia sudah kena tunjang sama Arun.


"Buka baju?"


Adikara mengangguk dan masih melepas kancing kemeja sang istri dengan lihai. "Dengan begini tidak akan kepanasan lagi."


Suara tawa Arunika mengudara. Dia membenarkan ucapan sang suami yang kini sudah melepas seluruh pakaian yang ia kenakan, sebelum keduanya saling bersitatap dalam diam.


"Maafkan aku, Run."


"Maaf?"


"Iya. Maafkan aku membuatmu bersedih."


"Apa yang sedang kau bicarakan Pak tua?"


"Aku suamimu!" teriak Adikara tiba-tiba.


Arunika memiringkan kepala. "Suamiku? Apa aku punya suami?" Dia tunjuk dirinya dengan ekspresi bingung.


"Aku. Aku ini suamimu," kembali Adikara menepuk dadanya.


"Kamu suamiku? Mas Adikara yang jelek itu? Suka bohong? Suka irit—"


Adikara memangkas ucapan Arunika dengan menggunakan mulutnya. Ya, dia melahap Arunika dengan penuh damba dan panas yang menjalar di seluruh tubuh Arunika.


"Aku membutuhkan dirimu, Run," kata Adikara meminta izin. Matanya yang sayu terdapat penuh harapan di dalam sana.


Arunika tidak menjawab. Merasa kehilangan kenikmatan tadi, kedua tangannya kini merangkul leher Adikara dan membenamkan bibirnya di tempat serupa milik Adikara.


Apa yang terjadi? Taulah kalian hahahaha.


Mana ini komentarnya.


Bersambung.

__ADS_1


***


__ADS_2