
"Setiap harinya, aku akan mencintai orang yang sama dengan cinta yang sama pula." ~ Arunika Baskoro.
*****
Melihat kepergian Adikara yang tergesa-gesa membuat Arunika merasa gelisah. Erica dan Elena yang mulai beranjak dari atas tempat duduk, meminta dia dan Mama Risa untuk bergegas.
"Ma ...," panggil Arunika terburu-buru.
Ketiga perempuan itu memandang Arun bersamaan.
"Kenapa, Run?"
"Maaf, kalau Arun gak bisa ikut kalian. Hati Arun gak tenang buat ngelepasin Mas Adi sendirian, Ma. Arun izin buat buntuti Mas Adi, ya?"
"Buntuti? Maksudnya ngikuti diam-diam ya, Run?"
Arun mengangguk cepat. "Boleh ya, Ma. Maaf, kalau hari ini, kita semua gak bisa jalan bareng. Arun benar-benar gak tenang, kalau Mamas gak ditemani. Ya, Ma, Na, Ca. Arun pergi dulu."
Arunika segera beranjak pergi meskipun Mama Risa dan kedua iparnya masih meminta untuk menunggu. Dia takut kehilangan Adikara.
Wanita itu segera berlari menuju tempat parkiran. Syukurnya, Adikara tadi memilih parkiran di halaman mall depan.
Melihat sosok sang suami yang lumayan jauh dari posisinya berdiri, Arunika merasa lega.
Segera mengayun langkah untuk mencari taksi di sekitar mall, setelah mobil Adikara melaju pelan untuk keluar dari halaman parkiran.
Di bawah teriknya sinar matahari yang tampak menyengat, Arunika sempat kebingungan, karena tak satupun taksi yang lewat dari posisinya.
"Duh ... gimana nih?" Sibuk kedua manik mata Arun mengedar pandangan.
"Woi Arun!" teriak seseorang.
Mata Arunika berkeliling mencari sumber suara.
"Sini woi!"
"Astaga ...," gumamnya memaju langkah nendekati sebuah mobil yang juga baru keluar. "Lo pada penyelamat gue. Tolongi gue ...."
Arunika langsung mengarah ke jok penumpang. Dita yang berada di belakang bersama Ettan itu, pun membukakan pintu kemudian bergeser memberikan tempat duduk untuk Arun.
Geng Brokoli ada di satu tempat dengannya ternyata. Mereka makan siang dan Arunika tau alasannya.
"Kenapa lo gusar, Run?" tanya Gala, si pemilik mobil.
"Kejar Mas Adi, Kak. Nanti, aku jelaskan. Dia baru aja keluar dari tempat parkir juga."
Merasa terdesak dengan suara dan ekspresi wajah Arunika. Gala pun tak berpikir lama untuk menginjak gas mobilnya.
"Kenapa sih, Run?" Elee duduk di samping Gala. Mereka tampak akur dilihat dari ekor mata Arunika yang masih gelisah.
"Tadi itu, kita makan siang sekeluarga di sini. Gak taunya, si Zayn nelpon ke nomor gue yang angkat Mas Adi. Gue lagi ke kamar mandi dan pas keluar, Mas Adi uda minta ketemuan aja ama si Zayn. Ya udah, dia pamitan sama mama dan adiknya. Gue disuruh ikut sama mereka. Ya gak maulah, gue nggak tenang."
"Wuhhhhh! Gue suka gaya laki lo, Run. Ini baru namanya jantan. Sekali ketemu, pukulkan. Bonyok dach itu si Zayn. Gue dukung dari atas, samping, depan sama belakang kalau kayak gini ceritanya," ujar Ettan bersemangat.
"Dih, lo suka banget main pukul-pukulan, Tan," ejek Dita ngeri.
"Kalau main cium-ciuman, gue belum bisa. Gue jomlo," celetuknya mendapati tampolan Dita.
"Ngomong apaan sih, lo! Sesama jomlo jan ngomong kayak gitu. Buat keinginan semu ini menyala-nyala. Jadi pengen 'kan gue?" gerutu Elee mendapati lirikan Gala. Sesuatu sekali lirikan membunuh lelaki ini.
Ettan langsung ciut, tapi tiba-tiba kembali bersemangat. "Dari pada main mabuk-mabukan?"
Sial.
Arunika merasa tersindir.
__ADS_1
"Ujungnya mantap-mantapan," sambung Dita lagi. Ketiga orang itu tertawa terbahak-bahak. Gala cuma menggelengkan kepala seraya melirik ke arah kaca spion depan.
"Lo pada buat gue malu," protes Arun lirih.
"Yeeee ... lo harusnya banggalah. Uda dapat suami yang baik mana uda sepenuhnya jadi wanitanya Mamas. Apaan sih rasanya, Run?" tanya Dita seraya merangkul lengan Arunika.
"Gue turuni juga lo pada nih!" ketus Gala tiba-tiba membuat ketiga sahabatnya kaget. "Lo semua bising amat. Privasi orang itu, masih juga jadi pembahasan dari ruangan sampai ketemu orangnya. Gue jadi gak konsen nyetir."
Elee memberut memperhatikan Gala yang tiba-tiba saja marah. Mendengar omelan Gala, Ettan dan Dita sama-sama menjadi patung. Apa lagi, mendapati tatapan Gala dari kaca spion. Serem sekali bagi mereka.
"Yang mana mobil laki kamu, Run?"
Mobil sudah keluar dari lokasi mall dan membelah keramaian kendaraan siang itu. Arunika sedikit menarik tubuhnya ke depan. Dia mencari keberadaan Adikara.
"Mobil putih susu, kak," ucapnya masih mencari. "Nah, itu tuh," tunjuk Arun pada salah satu mobil.
Lumayan jauh dari tempat mereka berada sekarang.
"Coba lo tanya aja sama suami lo, Run. Mau ke mana tujuannya. Bilang aja lo khawatir," saran Elee.
"Benar juga, Run. Biar kita juga gak terburu-buru," sambung Ettan.
"Ok, gue coba."
Arunika menarik tasnya dan mengambil hape dari dalam. Dia memilih mencoba bertanya lewat pesan.
Mas Adikara:
Mas ... kamu gak ngajak aku, jadinya, aku khawatir. Kamu mau ke mana, Mas?
Menunggu beberapa menit tidak ada jawaban dan akhirnya centang satu berubah centang dua biru, Arun pun menanti penuh harap.
Bukan balasan yang didapati Arunika, melainkan panggilan dari Adikara.
"Mas Adi nelpon gue," ucapnya takut.
"Iya, Run. Angkat aja," timpal Gala.
Arunika mengangguk dan menyentuh tombol terima panggilan.
"Hallo, Mas."
"Aku mau ke kafe dekat kampusku dulu, Run. Nggak usah khawatir. Nantu ketemuan di rumah ya."
Barusan Adikara memberikan jawaban, Ettan malah terbatuk dan langsung mendapati tampolan dari Dita yang duduk di sampingnya.
Pun dengan Arun yang jadi merasa gugup. Mereka semua sibuk memarahi Ettan tanpa suara. Mata mereka terlihat melebar ke arahny. Lelaki itu meminta maaf dengan tangan yang ia katup seraya meringis tanpa suara.
"Kamu di mana, Run?"
"Agh, masih di luar, Mas. Kamu kasi nama tempatnya lewat chat. Jadi, kalau kamu gak pulang-pulang sampai 2 jam ke depan, aku tau mau cari kamu ke mana. Aku takut ada apa-apa sama kamu, Mas," kata Arun berlasan. Di sana Adikara malah tertawa mendengar polosnya sang istri.
"Ooo ... ok lah. Aku chat ya."
Jawaban Adikara menjadi akhir dari obrolan mereka. Langsung saja keempatnya membuang napas yang sejak tadi mereka tahan.
"Dasar setan! Lo hampir buat gue katauan," ketus Arunika seraya menyentuh dadanya yang naik turun
"Ya maaf, Run. Tenggorokkan gue gatal. Kayaknya, sari jeruk dari jus tadi masih lengket. Gatal jadinya."
"Ditahanlah," ucap Elee.
"Lo mah ngomong aja bisa. Coba tadi itu lo." Ettan melirik kesal.
"Gue muntahkan."
__ADS_1
Ada aja memang balasan Elee untuk perkataan Ettan. Mengharuskan Gala sibuk melirik kedua orang itu sejak tadi.
"Ini, kak." Arunika memberikan pesan yang ia terima dari Adikara tadi. Dan Gala tau tempat yang dimaksud oleh Adikara.
Sampai di tempat tujuan, Arunika turun dan berterima kasih banyak kepada para sahabatnya. Kalau tidak ada mereka, Arunika nggak bisa tau bagaimana hubungan ketiganya berlangsung.
Langsung saja Arunika bergegas masuk ke dalam ruangan. Diam-diam, dia mencari posisi Adikara sebelum menentukan tempat duduk.
Syukurnya, Arunika mendapati tempat yang dekat dengan pintu samping kafe. Dan disitulah dia mendengarkan semua pembicaraan ketiganya. Dia pun merasa marah akan kedua sahabat sekaligus para mantan keduanya.
"Jadi ... kamu dibantu sama Geng Brokoli?" tanya Adikara, ketika mobil sudah melaju masuk ke jalanan.
Arunika mengangguk polos. "Iya. Mereka tiba-tiba muncul. Ya, mall itu tempat utama kami buat makan siang, Mas."
"Pantesan aja kayak dengar suara cowok batuk. Ternyata, salah satu teman kamu?"
"Bener. Tadi itu si Ettan gak tahan buat nahan gatal di tenggorokannya. Syukurnya, kamu nggak curiga, Mas."
"Hemmmm ... aku mikirnya kamu di luar dekat sama orang-orang. Tapi kok gak sadar ya, kalau itu di dalam mobil."
Arunika malah tertawa. "Itulah kekuatan di siang hari, Mas. Aku ini loh, istri kamu."
Keduanya saling bersitatap dan mengulas senyuman.
"Istri kesayanganku. Terima kasih ya, Run?"
"Sama-sama, Mas," jawabnya. "Egh, tapi untuk apa dulu, Mas?"
Adikara tertawa kecil, "kamu sih, nggak mau denger dulu. Buat cinta kamu yang uda 100% buat aku. Kita uda bisa ngapain aja nih, di 100% nya kamu?"
Kening Arunika berkerut. "Apaan maksud kamu, Mas?"
"Yaitu. Masa kamu nggak tau?"
"Aku gak tau, Mas," ucap Arunika dan melengos. Dia merasa pembicaraan barusan uda nggak beres.
Adikara masih mempertahankan senyumannya. "Kamu uda bisa kasi aku 100% dan itu tandanya, aku juga uda bisa 100% buat ngelakukan apa aja dalam hubungan suami istri. Jadi nggak perlu minta izin lagi sama kamu."
"Wuahhhh ... Mas Adiku tersayang," jawabnya heboh, "kamu memang uda benar-benar berubah. Apa—"
"Salah satunya itu," kata Adikara memberikan kecupan di bibir Arun, ketika mobil terhenti saat lampu merah.
Pupil mata Arunika kembali membola sempurna, saat serangan mendadak dari Adikara bagaikan getar hape yang berada di atas meja kerjanya.
Dia menoleh perlahan ke Adikara yang sudah menatapnya dengan bibir melengkung.
"Kok, Mas Adi?"
"Aku berhak untuk itu, 'kan?"Seakan bangga melihat istrinya yang seperti itu, Adikara juga gak tega dengan ekspresi kaget sang istri.
Dia mendekatkan tubuhnya dan menarik pundak Arun seraya merangkulnya. Kedua orang itu saling berdekatan dengan kepala yang saling tertempel.
"Aku mau ... kamu dan aku seperti hatimu dan hatiku yang sudah menyatu, Run. Jadi, hilangkan rasa canggung dan rasa malu di antara kita. Aku menantikanmu sejak lama," ucap Adikara jujur.
"Duh ... kamu kok sweet banget sih, Mas? Mamaku emang nggak salah pilih menantu kalau kayak gini model suaminya. Aku benar-benar bahagia bisa jadi istri kamu."
Arunika dengan berani memeluk tubuh Adikara dengan sayangnya. Selagi lampu merah masih belum tergantikan, selama itulah keduanya saling bertukar pelukan. Adikara yang sempat ingin tertawa karena ucapan sang istri tadi, malah ikut mengeratkan dekapan mereka.
"Jangan bosan sama aku ya, Run," bisik Adikara.
Arunika memejamkan mata dan mengangguk kepala. Menghidu aroma maskulin suaminya, sangat menyegarkan jiwa dan raga Arunika.
"Aku akan selalu jatuh cinta setiap hari padamu, Mas."
Bersambung.
__ADS_1
Yuk, yang belum follow profilku silahkan follow. Dan yang belum masuk ke grupku yang ada di bagian profil, kalian boleh gabung ya. Dengan kata kuncinya. Sebutkan 3 nama tokoh utama di Terpaksa Menikah. Gabung dong, biar rame. Karena, tanggal 1 nanti aku bakalan bawa judul baru di sini. Supaya kalian nggak ketinggalan. Makasih semua ^^