Hatimu&Hatiku

Hatimu&Hatiku
Ayam Dan Buaya


__ADS_3

"Tentang mereka yang tak punya hati menoreh luka mendalam." ~ Adikara Suryo.


...***...


"Mau apa lagi dia?"


Adikara menoleh ke arah pintu kamar mandi seraya menimbang-nimbang untuk menerima atau mengabaikan panggilan dari lelaki pecundang macam Zayn.


Namanya seorang suami apalagi yang menghubungi istrinya itu adalah seorang mantan kekasih dan juga sahabat yang pernah berbagi kebersamaan hingga merusak harapan besarnya sebanyak dua kali.


Adikara memilih pilihan pertama yang dia pikirkan di awal.


"Run ... bagaimana kabarmu?"


Pertanyaan itu langsung diajukan Zayn sesaat setelah Adikara menyentuh tombol terima.


"Aku pikir, kamu nggak akan mau menjawab panggilanku lagi, Run."


"Ini aku. Apa kau memiliki kepribadian ganda? Ingatkah dirimu, Zayn, saat kau melakukan kesalahan berulang kali ke aku tidak sedikit pun kau bersikap seperti ke istriku. Apalagi yang kau harapkan darinya, Zayn?"


Beberapa detik hening.


"Kau diam? Adakah kesadaranmu hingga saat ini?"


"Mas?"


Kedatangan Arun tak mengurangi niat Adikara untuk tetap melanjutkan obrolan mereka.


Dia tida melepaskan hape Arun dalam genggamannya. Meskipun, Adikara tau kalau kedua manik mata istrinya terarah pada benda persegi miliknya.


"Bukan begitu, Di."


"Lalu?"


Adikara diserang emosi.


"Aku hanya tidak—"


"Di mana kau sekarang? Aku ingin mengajukan tuntutan padamu, Zayn. Cukup sudah aku menghindar dan diam dari semua masalah yang kau buat padaku selama ini. Beri tahu posisimu ke nomorku saja. Aku harap, sudahi hubunganmu dengan istriku. Jangan pernah menghubunginya dalam situasi apa pun."


Tegas sekali suara itu menghardik Zayn. Sampai-sampai, Arun bergidik melihat wajah Adikara. Suaminya itu, kalau sedang marah memang mengerikan. Lebih ngeri Adikara ketimbang hantu, pikir Arun.


"Itu Zayn, Mas?" Adikara melirik gugup ke Arun. Dia pun mengangguk mengiyakan.


"Nih," dia memberikan hape dan tas sekaligus ke Arun. "Maaf, kalau aku menerima panggilannya tanpa izin dulu sama kamu."


Arunika menerimanya, tapi tak melepas tatapan Adikara yang malah tak membalas tatapannya.


"Kamu marah, Mas?"


Adikara menggeleng cepat. Wajahnya sok ngambek. "Gak tuh."


"Terus? Kok kayak gitu wajahnya?"


"Gak apa-apa. Ayo ...."


Tangan Adikara kembali melingkar di pinggang Arunika. Tapi wanita itu masih merasa kurang dengan sikap Adikara barusan.


"Mas," cegah Arun sebelum keluar dari lorong kamar mandi.


"Hemmmm?"


"Kamu uda janji sama aku, kalau ada sesuatu kamu bakalan cerita. Kenapa dengan raut wajah itu?" Arunika mendekatkan wajahnya untuk memperhatikan mata Adikara dengan seksama.


Tentu saja Adikara nggak bisa menghindar, kalau istrinya sudah menuntut jawaban. Mana pakai bersedekap lagi. Itu artinya, Adikara harus menjelaskan sedetailnya.

__ADS_1


Tubuh Adikara bergerak ke kiri dan ke kanan. Pria itu merasa gugup melayangkan protesnya pada sang istri.


"Katakan, Mas. Kita udah terlalu lama di sini. Entar dipikir mama dan adik-adik aku ini mules padahal 'kan cuma kebelet."


"Kamu masih berhubungan dengan Zayn?" Akhirnya dengan susah payah dan gengsinya, dia mengeluarkan isi dari pikiran yang terbesit. Itu sangat mengganggu Adikara.


Arunika tersenyum menggoda. "Wuhhhhh ... ada yang cemburu ternyata."


"Igh, aku serius, Run. Kamu masih berhubungan sama si pengacau itu?"


Lirikan maut Arunika tak melepas wajah Adikara yang kini malah memerah. "Kamu cemburu, ya?"


"Iyalah. Kamu tau kayak apa dia ngambil kamu dari aku? Aku nggak mau itu terjadi lagi."


"Wah ... wah ... wah ... kecemburuan memang menyiksa hati dan pikiran. Bahkan, sampai ke uluh hati, paru-paru, jantung dan juga ginjal. Tidak baik buat kesehatan otak, Mas. Mudah banget kamu berpikiran kayak gitu.


Apakah semudah itu buatku melepasmu demi dia, Mas? Kamu ini ngadi-ngadi aja, ya. Aku mana mungkin balikkan sama buaya. Bagiku, Zayn itu tetap buaya sampai kapanpun. Jelas-jelas, kamu bilang ke aku waktu pertama masuk ke kamarku begini. 'Apa kau sering mengundang buaya ke sini?' Nah, maksudku itu si Zayn. Dia sejenis buaya darat, Mas. Dan itu nggak aka mungkin terjadi. Kita uda sumi istri," balas Arun panjang lebar. Itu adalah kesukaan Adikara dan mampu membuat pria sepertinya langsung tersenyum, walapun samar.


Arunika menarik napas untuk menjeda. Tatapan mereka masih tak berubah sedikit pun.


"Kamu masih nggak percaya? Nanti aku blokir biar dia nggak ganggu kamu lagi."


Kamu lho, Run. Bukan aku.


Bisa dibayangkan mata Arunika kayak apa. Bibirnya dimajukan seperti anak kecil yang memberut karena merajuk.


"Terus ... aku takut malah nantinya kamu tuntut soal Violet yang mesra banget sama kamu di wallpaper kontaknya kamu. Dan aku nggak suka, lalu kamu blokir tanpa aku minta," sindir Arun telak.


Aku gemas kalau ingat itu!


"Kenapa jadi jalan-jalan, sih?"


Kening Arun mengerut. "Jalan-jalan ke mana? Kita masih di sini, Mas. Lagi berdebat soal para mantan yang tiba-tiba datang tanpa izin."


"Aku gak lari. Aku masih di sini sama kamu."


"Agh ... aku lupa, kalau ngomong sama kamu mesti pakai bahasa dan ucapan yang baku. Udahan dulu, kita dilihati sama orang dari tadi." Adikara kembali merangkul pinggang istrinya dan menuntun jalan.


"Tapi kamu yang ajak debat, Mas."


"Aku gak ajak debat, Run. Aku cuma gak suka tuh ya, dia masih nyariin kamu sementara sama aku aja nggak pernah."


"Kamu itu pria, Mas. Mungkin saja gak nyambung."


Jadi sama kamu nyambung gitu?


Adikara cuma bisa berdiam diri dan menarik napas pelan-pelan.


Melawan Arunika adalah sesuatu hal yang tidak mudah baginya. Tetap saja perkataan seorang istri yang menjadi


pemenang di antara perdebatan mereka.


"Kalian lama banget? Apa kamu baik-baik saja, Run?" tanya Mama Risa memperhatikan keduanya yang kini kembali.


"Baik, Ma. Ngantrinya yang lama."


Adikara dan Arun kembali duduk di tempat masing-masing. Pria itu sudah sibuk mengambil hape dari atas meja dan membaca pesan dari Zayn.


"Ooo ... kalau gitu kita pulang?" tanya Mama Risa pada anak-anak.


"Hari ini waktu untuk Mama seharian, sebelum besok pulang ke Bekasi. Kalian bisa memanjakan Mama hari ini, 'kan?" Kedua manik mata Adikara terarah pada si kembar.


"Kami?" tunjuk Elena pada dirinya dan Erica.


"Bukan. Kalian bertiga maksudnya."

__ADS_1


"Kamu mau ke mana, Mas?" Arun tampak kaget.


Menoleh ke istrinya, Adikara tersenyum. "Mau ketemu sama buaya. Ayam mendatangi buaya bukankah itu namanya cari makan?"


"Cari mangsa yang benar," celetuk Mama Risa.


"Kalian ngomongi apaan, sih? Kok ayam dan buaya di bawa-bawa?" tanya Erica bingung.


"Iya, Mama juga gak paham."


"Kamu yakin, Mas? Tanpa aku?"


Adikara menggenggam telapak tangan Arun yang ada di atas pahanya. "Aku ingin bicara empat mata dengannya, Run. Kalau kamu ikut yang ada dia malah curi-curi pandang denganmu. Aku gak suka. Temani Mama dan adik-adik aja. Kita ketemu di rumah nanti."


Adikara berdiri dari duduknya diikuti dengan wajah Arunika yang memandang ke arahnya.


"Ma ... Adi titip Arun, ya?"


"Mau ketemuan sama siapa sih, Bang? Kok kayak serem gini?" Itu Elena yang bertanya.


"Sama kak Zayn, ya?" tebak Erica.


"Buat apa, Di?" Mama Risa tampak tak tenang.


"Buat ngasi peringatan untuk nggak ganggu istri ayam, Ma."


"Mas ...."


"Gak masalah. Aku gak bakalan pukul anak orang. Uda tua juga. Ya udah, aku pergi dulu. Pengeluaran hari ini tolong diduluankan, Ca. Nanti abang yang ganti."


"Siap, Pak Bos," jawab Erica lantang.


Adikara tersenyum dan menoleh ke arah Arun. Dia mengusap puncak kepala Arun seraya mengecup pipi istrinya penuh hangat.


"Aku pergi, Sayang," bisik Adikara, lalu tersenyum sebelum akhirnya pergi meninggalkan Arunika yang sejak tadi mengulas ekpresi sedih.


Menuju ke sebuah kafe di daerah Jakarta Barat, tepatnya di tempat favorit Adikara, Zayn dan Violet saat mereka berstatus menjadi mahasiswa di Universitas ternama.


Memerlukan waktu hampir lima puluh menit menempuh perjalanan dari resto sebelumnya, Adikara kini tiba di tempat yang dijanjikan oleh Zayn.


Turun dari mobil dengan perasaan menyala-nyala kayak orang sedang menunggu giliran untuk maju bertarung melawan musuh, kedua kaki Adikara melangkah lebar memasuki kafe yang disambut ramah oleh staff yang bertugas.


Tidak perlu bertanya keberadaan laki-laki itu. Adikara tentu tau, di mana tempat duduk yang biasa mereka pilih untuk sekadar menghabiskan waktu.


Mendapati orang yang dicari, kedua kaki Adikara terhenti sejenak.


Dia mendumel dengan mata nyalang.


"Aku rasa yang dikatakan Arun memang cocok."


Kembali ia memaju langkah menyusuri setiap meja yang sudah diisi oleh para pengunjung. Itu ramai, karena di dekat kampus. Kedatangan Adikara pun tidak disadari oleh mereka.


"Maaf lama," tegur Adikara berubah tengil di hadapan dua orang yang tak punya hati menurutnya dan langsung duduk tanpa dipersilahkan.


"Apa kabar, Di?" Itu Violet yang lebih dulu menyapa dan langsung mendapati tatapan datar dari pria di hadapan mereka.


Adikara tersenyum miring. "Kabar? Bagaimana dengan yang kalian lihat?"


Mendengar suara Adikara yang lantang membuat nyali Zayn ciut seketika. Pun dengan Violet yang sibuk mencengkram kedua telapak tangannya di bawah sana.


Apa yang terjadi selanjutnya? Maaf, bersambung. Pengen nya panjang sampai beberapa BAB. Tapi aku gak pengen cepat-cepat mengakhiri kisah mereka. Di samping itu on goingku masih banyak. Hehehehe. Kasi dukungannya ya.


Bersambung.


Dukungan please ^^

__ADS_1


__ADS_2