Hatimu&Hatiku

Hatimu&Hatiku
Pertemuan Para Mantan


__ADS_3

"Sebesar apa pun kulakukan untuk menghindar, pasti akan terkuak jika sudah waktunya." ~ Adikara Suryo.


...****************...


"Gilak!"


Arunika hendak menolak bidang dada Adikara. Tapi sayangnya, tubuh kekar suaminya itu tak sedikitpun bergeser. Merasa tidak membuahkan hasil dari pergerakan tangannya yang meronta-ronta, karena Adikara menahan tubuhnya. Kini, kedua orang itu saling bersitatap. Adikara tersenyum seolah mengejek. Arun hanya bisa menatap suaminya itu dari bawah sana dengan bibir dimajukan.


"Kenapa?"


"Mau ngajak ribut sama kamu!"


"Jangan."


"Udahan dong. Aku mau mandi, Mas."


"Barengan?"


"Dih, sementang kamu ulang tahun kok jadi aneh, ya? Kok kayak bukan kamu gitu dech?"


Adikara terkekeh. "Kayak satria baja hitam, ya?"


"Nah, kan? Itu lihat bisa tertawa kayak hantu," tunjuk Arun ke wajah Adikara. "Udahan dong becandaannya, Mas. Aku malu tauk."


Adikara memiringkan kepalanya. "Malu, ya?"


"Iyaaaak! Buruan turun."


Dengan terpaksa, Adikara menarik perlahan tubuhnya dari atas tubuh sang istri. Dikuti oleh Arun, kini keduanya duduk saling bersisian.


"Aku mau mandi duluan. Kamu mau tiup lilin sekarang atau nanti?"


"Mandi," balas Adikara dengan enteng. Dia menatap Arun tanpa punya beban yang menghimpit dirinya.


Arunika membuang napas. "Mas ... jangan karena hari ini ulang tahun kamu. Terus ... jadi suka-suka gini. Aku belum siap, Mas. Belum percaya sama kamu 100%."


"Ouuuu ... ya udah."


"Ya udah. Mandi sana."


"Duluan," balas Adikara dengan mengusap rambutnya.


Arunika tak lagi membalas ucapan pria itu. Kedua iris Adikara menyoroti kepergian Arunika yang hilang di balik pintu kamar mandi.


"Sudah sepantasnya untuk tidak menaruh kepercayaanmu terhadapku, Run."


Hari pun berlalu sangat cepat. Sempat berniat untuk mengajak makan siang Arunika, ternyata niatan Adikara pun gagal. Ya, mereka sejak tadi menantikan kedatangan keluarga Adikara untuk tiup lilin bersama, tapi ternyata gak jadi dikarenakan sang papa gak bisa mampir ke Jakarta dan lupa mengabarkan ke keluarganya yang masih berada di Bekasi.


Akhirnya, tidak ada perayaan yang special di rumah mereka. Tapi seperti keinginan Adikara ke Arunika kemarin, dia hanya ingin makan siang berdua bersama istrinya di salah satu restoran yang berlokasi di Kemang, Jakarta Selatan. Yang juga tidak jauh dari kediaman mereka, pun digantikannya dengan makan malam bersama. Di restoran yang menyajikan menu makanan Italia, kesukaan Adikara.


"Kamu yang mesan ini, Mas?" tanya Arunika, sesaat mereka duduk di salah satu meja khusus berdua yang dipesan oleh Adikara sendiri.


"Iya. Kenapa? gak suka?" Adikara menatap Arun penuh kelembutan. Wanita itu menggeleng menepis jawaban sang suami.


"Bukan nggak suka. Romantis banget, Mas. Bukan tipe kamu," celetuknya tak beprasaan. Adikara menelan saliva seraya menatap wanita tak berdosa itu.


Tentu saja yang dikatakan Arunika benar. Sejak bersama-sama memadu kasih dalam ikatan berumah tangga, tak sedikit pun Adikara memperlakukan wanita itu seperti malam ini.


Adikara menatap ke arah meja di depan mereka, yang beralaskan kain putih dihiasi lilin aromaterapi di atasnya. Bunga mawar merah juga tak lupa memperindah bagian meja. Musik klasik mengalun merdu di antara mereka.


"Biasa aja," balas Adikara nggak mau kalah.


"Ok. Karena ini ulang tahun kamu, Mas. Terserah aja kamu maunya jadi apa. Aku nggak mood berdebat sama kamu." Arunika menyunggingkan senyum paksaan, ketika Adikara memandangnya tanpa berkedip mata.


"Mau makan apa?" Adikara membuka buku menu, mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Aku?" tunjuk Arun ke wajahnya sendiri.


"Setan."


"Dih, kejam banget."


"Kau pikir, aku sama orang lain?"


"Iya, ya? Ok," katanya dengan melihat buku menu yang ia pegang dan kembali serius. "Aku mau Margharita Pizza. Trus ... Bruschetta. Boleh pesan banyak, 'kan?"


Adikara sejak tadi memandang istrinya itu dengan bibir melengkung. "Huuum. Asal kau makan."


"Tentu saja," balasnya tanpa berpindah tatap dari menu-menu yang menggiurkan lidah.


"Baguslah. Pesan apa saja yang kau mau."


Arunika mengangguk. "Kamu juga, Mas." Adikara tak memberikan jawaban. Dia hanya memandang Arun tanpa suara sambil bertopang dagu.


"Aku juga mau pesan Spinachi, Lamb Chops, Salmon sama Frutti Di Mare."


"Ada tambahan lagi?" Keduanya saling memandang kini. Adikara tampak senang melihat minat makan Arunika yang memang sangat besar.


"Nggak, Mas, itu aja dulu. Nanti, kalau aku pesan terlalu banyak, kamu kata pula bawa aja kokinya sekalian pindah ke rumah kita. Udah itu aja dulu."


"Tumben pintar?"


Arunika nyengir kemudian. "Dari lahir, uda pinter lho, Mas. Kamu aja yang baru kenal sama aku."


Adikara cuma tertawa kecil dan menggeleng. "Menggemaskan sekali."


"Apa kamu bilang, Mas?"


"Uda lewat. Aku pesan dulu. Oh, ya, mau minum house wine?"


"Wine? Anggur, 'kan?" Adikara mengangguk serta berdiri. "Sama kayak kamu aja."


Bagi Arunika sendiri, meskipun jarang minum anggur, tapi Arunika menghargai hari ini. Tentu saja wajib dicoba saat perayaan ulang tahun suaminya itu. Wanita itu menarik kain putih di atas meja untuk ia letak di atas kedua pahanya.


"Arun?"


"Ya?" refleks Arunika menoleh ke depan, saat namanya dipanggil. Bola mata Arun melebar sempurna, saat bukan suaminya yang muncul. Melainkan masa lalu yang pernah mencampakkannya tanpa alasan yang jelas.


"Benar, Arun. Kok di sini? Sama siapa?" Bola mata pria itu berkeliling mencari sosok yang menemani Arunika. Melihat wanita itu berpenampilan menawan dan sangat formal, tentu saja dia tidak sendiri pikirnya.


"Eh, ada Buaya," kata Arun membuat pria bernama Zayn itu sontak tertawa.


"Kok Buaya, sih? Ini Zayn. Lupa, sama mantan sendiri? Kamu sama siapa secantik ini? Uda ada yang gantiin posisi aku?"


Arunika menarik kedua sudut bibirnya dan mengangkat kelima jemarinya ke udara menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya. "Uda sold out juga."


"Wah ... nggak ngundang? Kok gitu?"


"Kamu siapa?" lirikan sinis terdeteksi lewat mata Arun.


"Igh, pura-pura lupa. Mantan terindahnya kamulah."


"Sok-sokan banget. Uda sana pergi, aku malas jumpa sama kamu."


"Dih, galak banget. Ya udah—"


"Siapa Zayn?" Arunika menatap paras cantik wanita yang kini berjalan mendekati Zayn. Kedua mata mereka saling bersitatap satu sama lain. Ada kejanggalan yang terekam dalam ingatan Arunika kini. Tapi dia lupa. Siapa wanita bersama Zayn itu. Berparas cantik di balik make up yang tampak menawan dan balutan gaun malam yang membentuk lekukan tubuhnya.


"Adikara?" Zayn menunjuk ke arah kedatangan pria di depan sana. Seluruh pasang mata menjadi saling terkejut. Adikara menatap ke arah Zayn dan berpindah ke wanita di samping pria itu yang sama terkejutnya dengan yang lain.


Arunika menatap Adikara kini. Ada sesuatu yang menjanggal. Benar saja dugaannya yang kemarin, kalau Adikara mengenal Zayn tanpa diketahui olehnya.

__ADS_1


"Kau dan Arun?" tunjuk Zayn ke arah Adikara dan Arun bergantain.


"Benar, itu suamiku. Kenapa?" Arunika yang tak paham tentu saja bertanya.


Adikara mematung menatap Arunika dengan detak jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Zayn tampak mengusap kepala dan menoleh ke arah wanita yang berstatus istrinya. Ada kerutan yang sama di kening mereka.


"Sebaiknya, kita pergi dari sini, Zayn," bisik Violet ke Zayn dan merangkul lengan sang suami untuk meninggalkan tempat itu.


Zayn menatap curiga ke Adikara, saat dia dan Violet melewati tubuh pria itu. Dia masih setia berdiri sambil menatap Arun yang juga sama menatapnya penuh tanda tanya.


"Kamu mau jadi patung, Mas?" tegur Arunika menyadarkan sang suami.


Adikara sesaat tersadar. "Agh, ti-tidak. Aku hanya bingung."


Dia kembali duduk berhadapan dengan Arunika. Sama seperti kedua orang tadi. Arun menatap penuh selidik ke wajah Adikara.


"Kamu dan Zayn kenal, Mas?"


Adikara mengangguk pelan dengan wajah yang susah diartikan. "Sudah pernah kukatakan."


"Tapi kamu nggak pernah mau cerita, Mas."


"Selama ini berpacaran dengannya, apa dia gak cerita tentang temannya padamu?"


Arunika menggeleng. "Nggak pernah. Dia cuma kasi tahu, kalau dia punya dua orang sahabat yang berkuliah di Universitas London. Selama pacaran sama aku, dia gak pernah ketemuan sama sahabatnya itu. Mereka berpisah dan jauh setelah ada pertengkaran. Gitu, sih. Terus ... yang jadi istrinya tadi, aku kayak kenal. Tapi lupa di mana. Cuma ... setahuku juga, kalau Zayn nikahnya sama sahabatku yang satu kuliah juga. Ini kok lain, ya? Apa dia juga diselingkuhi sama Buaya darat itu?"


Adikara menatap wajah Arun yang sedang berpikir itu. "Gak perlu dipikirkan. Sekarang, kita fokus sama malam ini."


Arunika masih mengekspresikan wajah kebingungannya. Tapi dia tetap mengangguk kepala.


Setelah makanan tersaji dan mereka menyantapnya dalam diam. Benar saja yang dikatakan Adikara, wanita di depannya itu tampak amat senang menyantap menu-menu makanan yang sempat dia pesan sendiri. Selera makan Adikara sendir hilang tak lagi bersemangat, sejak pertemuan mereka dengan para mantan. Dan di sini, Adikara masih merasa tidak aman untuk bersikap baik-baik saja di depan Arunika.


"Ini kado dari aku, Mas." Arunika mengeluarkan kotak berukuran kecil berwarna Jingga dengan pita putih yang melilit di atasnya dari dalam tas. Ada merk terkenal yang menghiasi setiap kotak tersebut.


"Apaan ini?"


"Ambil saja dan lihat sendirilah," kata Arun sedikit kesal.


Adikara menerimanya sesaat meletakkan gelas wine miliknya. "Aku jarang dapat kado."


"Kenapa?"


"Nggak suka aja. Tapi ini kau yang memberikannya. Tentu aku akan suka," balas Adikara seraya menarik ikatan pita.


"Masih aja gombal!"


Adikara membuka kotak dan mendapati gelang berbahan kulit berwarna hitam disertai logo merk terkenal di bagian tengahnya.


"Aku membelinya pake gajiku sendiri. Khusus buat kamu, Mas." Arunika tersenyum. Adikara pun melirik haru ke Arunika.


"Makasih."


"Dipake dong. Aku gak tau mau kasi kamu apaan. Kamu di rumah suka pake celana kolor, Mas. Meskipun pakaian kamu banyak. Jadi, aku gak berniat untuk kasi kado kayak gitu."


"Ini lebih dari mewah, Run."


"Itu doang mah, sebelah mata sama kamu, Mas."


"Aku suka," balasnya jujur. Adikara langsung menarik isi dari kotak dan mengenakannya di pergelangan tangan kiri, karena tangan kanannya melingkar arloji di sana.


Arunika tampak bahagia dengan respon manis Adikara. Dia terlihat senang mengenakan gelang yang kini bergantung di pergelangan Adikara, tentunya dengan senyum termanis dari pria tersebut sambil mengangkat tangannya, dia tunjukkan ke Arun.


"Eh, tapi aku baru ingat, Mas. Sama wanita tadi. Bukankah, dia yang nabrak aku di mall kemarin, ya?" Senyuman Adikara pun memudar seketika. Bola mata Arun seolah mengunci iris mata Adikara, pria yang penuh rahasia dalam pikiran Arun sendiri.


Bersambung.

__ADS_1


***


Kasi selamat dong. Mamas lagi ulang tahun, lho. Wkkwkwkw. Eh ayuk dong, masuk ke chanel telegramku. Namanya Pasukan Halu. Biar kita sama-sama menghalu di sana. Yokkkkk .... ^^


__ADS_2