Hatimu&Hatiku

Hatimu&Hatiku
Aku Mencintaimu


__ADS_3

"Aku akhirnya bisa memastikan diriku, kalau aku jatuh cinta dan tergila padamu." ~ Adikara Suryo.


...****...


"Eh, tapi aku baru ingat, Mas. Sama wanita tadi. Bukankah, dia yang nabrak aku di mall kemarin, ya?" Senyuman Adikara pun memudar seketika. Bola mata Arun seolah mengunci iris mata Adikara, pria yang penuh rahasia dalam pikiran Arun sendiri.


"Dia Violet, Run," balas Adikara tak berkilah.


"Violet?"


Adikara mengangguk kepala. "Iya, bener. Yang kemarin nabrak dan yang kau lihat di layar hapeku."


"Ngah? Kok?" Arunika berpikir sesaat dan menyentuh kepalanya. Dia berusaha untuk mencerna ucapan Adikara yang membuatnya pusing.


"Jangan dipikirkan. Kita pulang sekarang, ya." ajak Adikara seraya berdiri dan membawa kotak kado dari Arun tadi.


Arun menurutinya. Tapi dalam pikiran wanita ini, dia masih berpikir dan mencoba memecahkan ucapan Adikara yang bermakna ganda baginya.


Tiba di rumah, Adikara langsung memilih ke kamar untuk bersih-bersih diikuti oleh Arun. Seusai mandi, pria itu segera tidur. Dia tak menanti Arun yang masih mengenakan produk kecantikan sebelum tidur yang rutin ia pakai.


Dari kaca meja rias, Arun memperhatikan Adikara sejak tadi. Ada yang aneh dengan pria itu pikirnya. Adikara menjadi lebih diam dan tak membalas ucapannya seperti biasa, sejak dari restoran, mobil hingga sampai di rumah.


"Kalau Violet istrinya Zayn? Terusss, aku sama Mas Adikara?" Arun memiringkan kepala. Seperti itu pun, isi kepala Arun tetap gak sampek buat mikir terlalu jauh.


Dia menggeleng kepala merasa berat untuk berpikir. "Gak mungkin kan? Mana mungkin Mas Adikara punya hubungan spesial dengan Zayn." (Alamak Arun wkwkwkwkeke. Bukan Zayn dan Adikara lho. Hahahahaa.)


Seusai menepuk-nepuk kedua pipi agar serum tadi meresap ke dalam pori-pori kulitnya, dia pun bangkit dan berjalan ke arah tempat tidur.


Perlahan Arun naik ke atas kasur dan langsung mendekati Adikara. "Mas? Uda bobok, ya? Kayaknya belum deh. Kelopak mata kamu masih gerak-gerak tuh."


Adikara menarik napas pelan. Benar saja yang dikatakan Arun. Dia memang belum tidur sejak tadi. Hanya menutup mata. Dia tidak tenang saat Arun belum terbaring di sampingnya.


"Kenapa?" Adikara membuka matanya dan menoleh ke arah istrinya yang menatapnya tanpa malu.


"Kamu yang kenapa? Apa aku ada salah?"


Adikara tersenyum samar. Jauh di dasar hatinya, ada ketenangan melihat Arun yang semakin memberanikan diri untuk dekat dengannya tanpa canggung kayak malam ini. Ya, walaupun sebenarnya Arun itu kadang malu.


"Nggak ada yang salah, Run."


"Happy Birthday, Mas. Jangan sedih-sedih. Ini uda mau akhir ulang tahun kamu lho. Masak ditutup dengan kesedihan?"


"Dari mana kau tau kalau aku sedih?" tanyanya dengan suara berat. Arunika langsung menunjuk wajah Adikara yang hanya berjarak beberapa jengkal saja dengannya.


"Jelek. Kamu kalau lagi sedih dan murung gini jelek, Mas. Itu aja bedanya."


"Kalau nggak sedih tampan dong?"


"Ya, gitu dech."

__ADS_1


Adikara malah tertawa di sela kemurungannya. "Kau pintar banget."


"Kamu murung karena Violet dan Zayn, ya?"


Mengarah ke situ, ekspresi Adikara berubah total. Dia merasa tak mampu menghadapi apa yang pernah ia lakukan. Arunika, wanita yang ia persunting itu terlalu baik untuk disakiti. Tapi kenyataannya, Adikara berubah haluan.


"Aku mencintaimu, Run," katanya dengan pelan.


"Mas bilang apa?"


Tangan Adikara menarik pelan tubuh Arun untuk ia dekap. Wajah Arun yang menyentuh bidang dada Adikara bukan seperti biasa senang, tapi batinnya seolah menolak dengan keadaan barusan. "Aku mencintaimu, Run."


Bukan dianggap serius sama Arun. Dia pikir, Adikara cuma menghibur diri. "Kok tiba-tiba gini, Mas? Kita lagi nggak dikeadaan mengutarakan perasaan. Aku belum 100%, Mas. Masih 35% lho."


"Yang penting naik 5%, nggak berkurang Run. Ayo tidurlah. Aku benar-benar berubah banyak karena dirimu." Adikara mengusap puncak kepala Arun dengan sayang.


"Kamu belum mau cerita tentang kita? Violet, Zayn, aku sama kamu. Kayaknya, ada yang ngeganjal, Mas."


"Kalau aku uda siap. Hemmm?"


"Baiklah. Aku kasi waktu dan kesempatan sama kamu."


Adikara menutup mata serta mengangguk kepala. Dia masih mendekap Arun. Tak biasanya, tapi naluri hatinya merasa ingin untuk lebih intim dengan sang istri. Arun adalah penawar baginya. Ya, dia mulai resah dengan dirinya sendiri.


***


Perusahaan SO Corp.


"Uda, Galak. Tapi katanya bu Yanti, ada materi lain lagi. Gimana dong? Masih belum dikasi sama beliau dari kemarin. Kalau gue nggak nguasai gimana?"


"Itu artinya lo oon," saut Ettan.


"Ssst ... Setan! Kasi semangat dong, bukan dihancurkan kayak gini." Dita membesarkan matanya. Ettan malah menjulurkan lidah ke arahnya.


"Gue benaran gugup, Tan? Kalau ntar gue nggak nguasai dengan benar, kan bisa aja gue gagal. Batal dong, jadi atasan lo."


"Udahan, nanti kita bantu. Gak usah takut," timpal Gala santai.


"Selamat pagi semuanya," sapa seseorang dari depan pintu masuk ruangan. Gala yang menjadi ketua mereka, pun berdiri dan menyambut kedatangan lelaki bertubuh tinggi dan berwajah bak seorang artis laga itu.


"Wuihhh ... ganteng banget," gumam Dita barusan.


"Iya, ganteng banget," sambung Arun memuji.


"Lo uda punya lakik, Run. Kalau gue 'kan belum. Cocoknya sama gue," sambung Elee mendapati pelototan Gala sebelum menjawab.


"Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa kita bantu?" tanya Gala sesaat berhadapan dengan lelaki itu.


"Saya Marco, Pak, Asisten pribadi atasan saya di sini. Ada pun tujuan saya ke sini, karena saya mau mengatakan kalau rapat untuk para petinggi dan presentasi untuk Ibu Arun, akan dimajukan besok di jam 9 pagi. Apa ada yang keberatan?" tanyanya dengan senyuman yang memukau.

__ADS_1


"Wuih ... senyumnya aja ngajakin berumah tangga," gumam Elee lagi.


"Gaskeun," sambung Dita bersemangat.


"Sayangnya ... gue uda punya laki. Boleh tukar tambah nggak, ya?" tanya Arun sambil menatap memuji ke Marco.


Ketiga cewek-cewek itu memang berkumpul, sesaat Gala berdiri dari tempat Arun sebelumnya. Ettan pun tak ketinggalan. Dia ikut duduk di samping Elee.


"Gue kasi tau lo sama Mamas," ancam Ettan mendapati tatapan sinis Arun.


"Run!" panggil Gala.


"Eh, iya?" Dia berdiri seketika. "Apaan, Gal?"


"Kamu keberatan nggak? Besok di jam 9 pagi. Presentasinya dimajukan. Bapak ini mau memastikan."


"Iya, saya siap."


"Meskipun nggak siap, ya harus siap," sautnya dalam hati.


"Baik Ibu Arun. Kalau gitu, saya izin undur diri. Selamat beraktivitas."


"Terima kasih, Pak," jawab Gala mewakilkan.


Lelaki itu pun setengah membungkuk, sebelum berlalu pergi dari ruangan mereka.


"Ehh, Gal, dia siapa? Kok kayak baru kelihatan di perusahaan ini?"


"Gak tau, Dit. Gue juga baru lihat," balasnya seraya berjalan mendekati tempat Arun.


"Gue pengen tau nomor hapenya. Pengen gue ajakin berumah tangga." Elee terlihat girang menyoroti kepergian Marco. Gala menarik napas dan menatap sinis ke arahnya.


"Ngepel aja belum becus malah mau berumah tangga," ejek Gala.


Elee memberutkan bibir. "Bukan urusan, lo! Weekkkkkz."


"Berantam mulu igh, jatuh cinta baru tau rasa." Dita menatap keduanya dengan berkacak pinggang.


"Emang," saut Ettan.


"Jangan pada bising. Balik lagi kerja sana," kata Gala menghardik sahabat-sahabatnya. "Run ... lo ke ruangan bu Yanti gih. Minta materi buat besok. Biar lo bisa menguasai materi dan ruangan supaya gak canggung."


Arunika mengangguk kepala. "Ok, dech. Gue keluar dulu. Jaga kandang baik-baik dan jangan pada ribut, ya anak-anakku sayang."


Dia berjalan bak seorang model dan mendapati sorakan dari sahabatnya itu. Gala hanya bisa menggeleng kepala dan tersenyum menyoroti kepergian Arunika.


Bersambung.


***

__ADS_1


Mana dukungannya. Yuk, spam komen dong. Sebelum menuju konflik utama hahahaha.


__ADS_2