Hatimu&Hatiku

Hatimu&Hatiku
Jatuh Cinta Kepadaku


__ADS_3

"Saat melihat air matamu untuk pertama kalinya, di saat itu aku bertekad untuk mendapatkanmu." ~ Adikara Suryo.


...****************...


Buat putrinya Mama yang palinggg Mama cintai. Surat ini sengaja Mama tulis untuk Arun. Kalau abangmu uda sering sama Mama dan kak Arini. Jadi, ini memang khusus untuk Arun.


Mama cuma mau bilang, Arun harus bahagia sama Adikara. Soalnya ... Adikara itu laki-laki yang sangat baik dan pas untuk Arun. Pertama kali kenal sama Adikara waktu Mama jatuh di komplek rumah. Dan Adikara yang kebetulan lewat saat itu, turun dari mobil buat bantui Mama. Egh, gak taunya dia anaknya Risa, mamanya Adikara.


Kami satu perkumpulan di perumahan, Run. Dan memang, mama Adikara dekat sama Mama. Jadi, dia nanyain kamu waktu kami ngumpul di arisan perumahan. Risa tanya, apa kamu udah punya pacar apa belum. Mama kasi tau dong, kamu itu masih jomlo. Umur berapa dan kerja di mana. Perusahaan tempat kamu bekerja ternyata miliknya keluarga Suryo—keluarga papanya Adikara. Kebetulan banget, 'kan?


Terus ... saat Adikara itu datang ke Depok untuk membicarakan soal kamu. Kami sama-sama ke rumahnya dan emang berjodoh kalau Mama tebak. Setelah ngomong panjang lebar sama Adikara dan mamanya, akhirnya Adikara pun mau dijodohkan dengan kamu. Tapi ada syaratnya.


Adikara mau lihat kamu dulu, Run. Mama nggak diizinkan buat kasi tahu kamu, karena Adikara mau kenal sama kamu saat kalian belum saling mengenal. Dan akhirnya ... setelah 1bulan berlalu, Adikara pun menerima perjodohan kalian. Di satu sisi, Adikara gak tega lihat Mama yang sempat dirawat di rumah sakit. Maaf, Mama nggak bisa kasi tahu kamu soal ini waktu itu. Di saat inilah, Adikara mengiyakan perjodohan kamu dan dia, tanpa desakan dari siapa pun.


Arun harus bahagia sama Adikara, ya. Dia anak yang baik, Run. Jangan galak-galak sama dia. Kamu boleh galak sama orang lain, kalau sama Adikara cukup disayang, dicintai, diperhatikan. Mama senang bisa lihat Arun sama Adikara berjodoh. Selebihnya, Arunlah yang berperan untuk bisa saling mencintai dan melengkapi satu sama lain.


Sedikit bocoran tentang Adikara. Kamu harus tahu, nak, Adikara itu bukan anak kandungnya Suryo dan Risa. Adikara anak dari sahabatnya Suryo yang meninggal karena kecelakaan. Adikara saat itu berumur sebelas tahun. Dia benar-benar dianggap anak kandung yang membawa berkah di keluarga Suryo.


Kedatangan Adikara di tengah mereka, membawa keluarga kecil itu mendapatkan si kembar. Tapi mereka semua tahu, kalau Adikara bukan anak kandang mama dan papanya. Kamu bisa lihat sendiri nantinya. Semuanya sayang sama Adikara, karena dia anak yang baik. Mama harap, Arun juga kayak gitu ya. Tujuan Mama ngasi tau ini, Mama takut kamu salah arah nantinya dan malah nyakiti Adikara.


Jangan pernah bersedih, ya, Run, kalau andaikan nanti saat kamu nemu surat ini di laci, Mama uda gak ada di sisi—kamu. Jadi anak yang selalu mendengarkan suamimu. Jika salah ada baiknya dibicarakan dulu, jangan memendam apa pun dan jangan berbohong. Mama cuma bisa bilang itu sama Arun. Terima kasih, karena Arun uda mau wujudkan keinginan terakhir Mama. Salam sayang Mama untuk Arunika Baskoro—Putri kecil Mama yang sangat baik. Sampai jumpa di keabadian, Sayang.


Arunika yang duduk di depan kaca jendela kamar milik Adikara, pun menangis sesenggukan. Tanpa tau aksinya itu membuat Adikara yang barusan melangkah melewati pintu kamar mandi dengan handuk kecil di tangan, mengernyit melihat pundak Arun naik turun. Posisi wanita itu memang memunggungi arah Adikara sekarang.


"Apa dia menangis karena ciuman tadi?" batin Adikara.


Adikara hanya berlapiskan handuk merah yang terlilit di bagian pinggang hingga ke betis sambil mengusap wajah dengan handuk kecil lainnya. Bidang dada yang sedikit berisi itu, terlihat sangat jelas kalau Arun berbalik ke arahnya. Namun, dia tidak langsung medekati Arun. Adikara memilih berjalan ke arah koper yang berisi pakaiannya.


"Kenapa kau menangis?" tanya Adikara sesaat sukses mengenakan pakainnya, walaupun belum benar.


Arun pun menoleh ke arah Adikara yang kini berjalan ke arahnya.


"Nggak apa-apa, Mas." Dia malah beranjak berdiri dan melewati Adikara yang hampir mencapai dirinya menuju kamar mandi.


Badan tegap Adikara berbalik mengikuti tubuh Arun hingga hilang di balik pintu.

__ADS_1


"Apa benar karena aku?" tanyanya ke dirinya sendiri.


Adikara menyesali perbuatannya. Padahal, waktu di kamar mandi tadi, Adikara seperti bunga yang bemekaran di padang bunga, karena bisa menyentuh Arun untuk pertama kalinya tanpa penolakan dari wanita itu.


Adikara memilih duduk di pinggir ranjang, ia berpikir keras apa yang harus dilakukannya sekarang. Menunggu beberapa menit, Arun tak juga kunjung keluar. Suara Mama Risa memanggil mereka, pun menarik Adikara untuk mejemput Arun dari kamar mandi.


"Run ...."


Dengan pelan diketuknya pintu berbahan Upvc berwarna putih itu. Tak sepata kata pun, Adikara mendengar jawaban dari dalam kamar mandi.


"Arun ... apa kau marah?"


Kembali diketuknya pintu dengan rasa bersalah yang terus menguap dalam pikirannya. Kekhawatarin sama dengan rasa takut dalam hati.


"Kalau kau marah karena ciuman tadi, aku minta maaf," ujarnya terpaksa, dengan mendesahkan napas frustasi.


Adikara benar-benar dirundung rasa bersalah dan penuh penyesalan. Di balik pintu dia tertunduk, berharap kalau Arun mau memaafkannya dan keluar dari kamar mandi.


"Arun—"


"Bagaimana bisa aku melupakannya, Mas?" jawab Arun. Pundaknya naik turun dan rengekannya terdengar seperti anak kecil yang kena marah.


"Aku–"


Arun secepatnya melangkah ke depan, memeluk Adikara yang terperangah sekarang.


"Maafkan aku, Mas," ucap Arun di sela isakannya.


"Ma-maaf?" Adikara semakin bingung sekarang.


Arun mengeratkan pelukannya di tubuh Adikara. Dia mengangguk kepala dan berkata, "aku udah ngomong kasar ke kamu Mas, waktu itu di rumah sakit soal orang tua. Aku benar-benar minta maaf."


Adikara membisu. Tubuhnya serasa meremang mendapatkan pelukan dari Arun, istrinya. Beberapa saat hening menemani, Arun kini hendak menarik tubuh dari bidang dada empuk kepunyaan suaminya. Ia merasa gugup, saat tidak mendapatkan jawaban atau pun balasan dari Adikara.


"Jangan dilepas."

__ADS_1


Adikara kembali mendekap tubuh Arun. Tangan berisi milik Adikara, pun kini merangkul tubuh istrinya dengan mata yang terpejam, bersamaan itu pula aroma khas bunga dari tubuh Arun menyeruak ke dalam lubang hidungnya, diiringi dengam detak jantung Adikara yang terpacu kencang.


Sama dengan Arun—wanita itu juga terpejam merasakan kehangatan pria yang dipilih oleh sang mama. Harum maskulin dari tubuh Adikara berhasil memancingnya untuk mengeratkan pelukan.


"Apa Mas mau memaafkan aku?" tanyanya setengah suara. Parau, khas orang yang sudah berjam-jam bersedih.


Adikara menggeleng. "Tidak."


Kelopak mata Arun terpisah sempurna, mendengar jawaban Adikara yang menurutnya sangat kejam.


"Kamu tega sama aku, Mas. Aku benar-benar nggak tahu apa-apa soal kamu. Jadi, aku asal bicara saat itu, Mas. Jangan sakit hati dengan perkataanku waktu itu."


"Bagaimana kau bisa tahu?"


"Surat dari mama." Arun kembali sendu.


"Jangan dipikirkan lagi."


"Bagaimana tidak dipikirkan. Mas tidak memberikanku maaf."


"Ada syaratnya."


"Apa?"


Adikara tidak langsung menjawab. Masih merengkuh tubuh Arun di dalam pelukannya, kini dengan berani Adikara mendaratkan kecupan di atas puncak kepala Arun. Tentu saja si empunya kepala semakin terkejut.


"Mas ... apa syaratnya?" tanya Arun mengulang, mengenyampingkan perasaan takut.


"Jatuh cinta kepadaku," jawab Adikara Suryo, menggunakan suara yang tegas. Seketika itu pun membuat Arun terkesiap dan membisu seperti pahatan patung tak bernyawa.


...Bersambung....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hay hay ... gimana?

__ADS_1


Kasi komentarnya, vote, hadiah, like. Kalau nggak ngasi, yaudah. Itu kalian pelit sama Adikara dan Arun. Tapi ... minta update cepat². Aku kan sedih ... loh kok ^^


__ADS_2