Hatimu&Hatiku

Hatimu&Hatiku
Menjemput Hadiahku


__ADS_3

"Senyummu mengandung cinta." ~ Adikara Suryo.


...****************...


"Gimana perisiapan lo, Run?" tanya Ettan.


"Masih loading," balasnya.


Ettan yang duduk di tempatnya terkekeh. "Kalau bingung tanya sama Gala. Kok susah, sih?"


"Dih, gue yang bawa persentasenya, Setan! Mana mungkin minta bantuan Gala melulu. Gue gak maulah, nyusahin dia," jawab Arun tanpa menatap orangnya.


"Nggak apa-apa. Galak 'kan sayang sama Arun. Mamanya Brokoli gitu lho," ledek Elee mendapati tatapan Arun dan Gala bersamaan.


"Nah nah, lihat itu weh. Benaran bisa sehati lho ini," ujar Elee menunjuk-nunjuk ke Gala dan Arun.


"Apaan sih, Lele. Udahan napa main sama hatinya. Galak dan Arun itu cuma sebatas hubungan persahabatan kayak lo sama gue."


"Tapi Setan. Galak itu sama gue kayak lihat hantu. Masak lo nggak ngerasa?" Elee memberut seraya melirik sinis ke Gala.


"Emang kayak hantu," cetus Gala kemudian.


"Ih! Lo benaran, ya. Gue mau minta sama Bu Yanti pindah tempat dech. Malas gue dekat-dekat sama Galak!" Elee benaran berdiri dan berjalan melewati Gala. Namun, kaki gadis itu terhenti saat Gala menarik pergelangan tangan Elee.


"Kembali duduk ke tempat lo atau gue yang bakalan keluar dari ruangan ini?" ancam Gala dengan tegas.


Bola mata Elee berasa terpaku di dalam, saat ia beradu tatap dengan sorot mata dingin Gala. Arun, Ettan dan Dita, hanya bisa terbengong menatap keduanya.


"Kenapa diam? Nggak punya mulut?"


Elee menepis tangan Gala. "Punyalah. Nyebelin banget sih!"


Nggak berani melawan, Elee kembali duduk tanpa berniat membalas tatapan Gala padanya. Bibirnya memberut seakan benar-benar kesal dengan sikap Gala.


Arun memilih melanjutkan kerjaannya untuk persiapan ke posisi yang baru. Untuk menunjukkan kualitas dan kemampuannya di depan para petinggi perusahaan.


Suara getar hapenya mengalihkan Arun dari layar komputer. Dia menarik hape dari atas meja. Menyentuh layar hape untuk mengusap kunci. Pesan dari sang suami terpampang nyata di notikasi.


Suamiku :



Kesukaanku : Dengarin istri ngomel.


Warna kesukaanku : Biru


Ukuran bajuku : Biasanya pakai yang muscle fit. Kau bisa cek ke browser buat tahu soal ini.


Ukuran kakiku : 42


Makanan kesukaanku : Semua masakan istri.


Makanan yang nggak aku suka : Makanan basi.


Yang aku suka dari dirimu : Cerewet.


Yang aku nggak suka dari dirimu : Nangis.



Aku cuma bisa jawab itu. Lebih kurangnya, kau bisa memikirkannya sendiri.


Arun tersenyum senang setelah berhasil membaca semua pesan yang dikirimkan Adikara padanya. Dia tidak bisa menduga, kalau pertanyaan yang diaajukan semalam, benar-benar dijawab oleh Adikara. Tentu saja dia membintangi pesan itu sebelum mengetik pesan balasan untuk Adikara.


Aku : GOMBAL!


Langsung centang dua biru, tanda pesan terkirim dan terbaca. Arun tidak menyangka, kalau Adikara sedang menunggu balasannya. Tampak status sedang mengetik di atas kontak Adikara.


Suamiku : Baiklah. Aku akan menariknya kembali kalau gitu.


"Jangan!" teriak Arun ke hapenya dan mengundang tatapan semua orang ke dia.


"Kenapa lo?" Dita menyentuh dadanya. Duduk di depan Arun, tentu saja dia lebih dulu terkejut dengar suara Arun.


Bola mata Arun berkeliling membalas tatapan ke semua orang. Terus, dia nyengir kemudian. "Ma-maaf. Gue benar-benar kaget."

__ADS_1


"Kenapa, Run?" tanya Ettan.


"Gak apa-apa. Lanjutkan pekerjaan kalian," ucap Arun. Dia mengerutkan kening seraya memejam kedua mata singkat, sebelum akhirnya kembali melihat pesan Adikara.


"Syukur nggak dihapus benaran," lega Arun.


Suamiku : Bekerjalah yang baik. Jangan macam-macam dengan pikiranmu. Aku lanjut kerja.


Itulah isi pesan terakhir dari Adikara. Yang terpenting, Arun uda tahu jawaban dari pertanyaannya kemarin tentang Adikara. Setidaknya, bertambah dikitlah pengetahuannya tentang Adikara.


Waktu berlalu sangat cepat. Kini sore tampak menjemput bersama awan jingga yang membentang luas di atas permukaan langit. Siang tadi, Arun meminta para sahabatnya untuk menemani dia memilih kado, buat ulang tahun Adikara besok. Bingung ingin memberikan apa untuk pertama kalinya bagi Arunika bersama suaminya.


Berhasil memilih atas dasar rekomendasi dari Elee, akhirnya Arun bisa mempersiapkan kado, di hari ulang tahun Adikara besok. Tepatnya, di akhir bulan.


"Kenapa diam?" tanya Adikara yang kini mengemudikan mobil. Ya, dia sudah dijemput sama Adikara.


"Malas ngomong, Mas."


"Sakit gigi?"


Arunika menggeleng. "Lagi malas aja."


"Sama aku?"


"Nggak juga."


"Cerita kalau ada masalah dikerjaan kamu."


"Mungkin lelah, Mas. Rasanya, aku benar-benar sangat lelah mempersiapkan materi yang akan aku bawa nantinya sebagai uji kemampuan."


"Apa ada yang membingungkan?"


"Nggak, sih. Cuma berasa waktuku semua ke sana."


"Mau berhenti?"


Arun memberut. "Nggak akan!"


Adikara cuma bisa tersenyum sebagai respon. Dia memilih fokus ke depan jalanan.


"Kenapa? Uang belanja kamu habis?" Padahal dia kasi ATM dsngan jumlah saldo yang lumayan buat Arun belanja kebutuhannya.


"Bukan itu, Mas. Besok itu 'kan weekend. Terus ... kamu ulang tahun besok. Nggak niatan buat ngajak aku makan sepuasnya gitu di mana?" Adikara berpikir sejenak. Dia saja lupa dengan tanggal ulang tahunnya.


"Kalau kau mau, ayo."


Senyum berbinar terulas kini. "Benar, Mas?"


"Iya, cerewet."


"Astaga Mas. Aku memang cerewet, tapi hatiku sebening berlian, Mas."


"Iyakan aja biar cepat."


"Hemmm ... dasar! Terus, besok mau dikasi apa kadonya?"


Adikara menoleh ke Arun. Keduanya saling menatap beberapa detik, karena Adikara harus fokus mengemudikan mobil.


"Ciuman." Arun menoleh seraya menganga mulut, kaget mendengar ucapan suaminya yang mulai maju tak terarah.


"Astaga, Mas. Udahan dulu becandaanya. Besok kita mau ke mana?"


"Berduaan aja?"


"Tiga sama hantu, Mas. Ya, iyalah berdua. Emangnya siapa lagi, Mas? Kamu punya selingkuhan benaran, ya?"


"Ya, siapa tahu aja mau bawa si Mbak," cetus Adikara.


"Gila apa aku? Uda gedek kita, Mas. Pake bawa pengawal segala."


Adikara tak lagi merespon. Dia hanya tersenyum dan berfokus mengemudikan mobil. Genggaman stir pada tangannya mulai berbelok memasuki perumahan.


***


Pagi tampak cerah disinari dengan cahaya matahari. Sejak tadi, Arun bangun lebih dulu untuk menantikan mata Adikara terbuka.

__ADS_1


"Happy Birthday, Mas," ucap Arun sambil tersenyum dan mendekati Adikara yang barusan bergerak dari tidurnya. Dia menyambut mata yang barusan terbuka dengan sempurna.


Mendapati Arun sangat dekat dan penglihatannya benar-benar penuh, Adikara malah menarik pinggang Arun agar lebih menempel ke dadanya. "Terimakasih, istriku. Mana ciumannya?"


Adikara benaran nggak malu memintanya. Dia malah senang, bisa memeluk tubuh Arun yang kini terasa tegang menahan rasa malunya.


"Ciuman apa, Mas?"


"Ciuman kucing. Ya darimu sebagai ucapan selamat buatku."


"Nanti aja, ya?" Dia masih gak berani mengangkat wajahnya yang menempel di dada bidang Adikara.


"Sekarang."


"Segera ini?"


"Huuumm."


"Benaran nggak bisa dipending dulu?"


"Iya."


"Mau di mana?"


"Bibir."


"Itu aja?"


"Pipi."


"Terus?"


"Kening."


"Dikasi hati minta jantung kamu, Mas."


"Kalau bisa semua kenapa harus satu?"


Arun malah terkekeh dan menepuk dada Adikara. "Sadar, Mas."


Merasa Arun terlalu lamban, Adikara malah menarik tubuh Arun ke bawah. Keduanya kini berganti posisi dan saling berhadap-hadapan.


Pipi Arun berubah bak tomat masak. Dia memerah, saat irisnya ketemu manik hitam Adikara yang teduh dan penuh maksud.


"Biar aku sendiri yang jemput hadiahku," ucapnya tak memberikan jeda buat Arun menjawab.


Sesuai perkataannya. Adikara mulai mendaratkan kehangatan bibirnya di bagian pertama dari keinginannya tadi. Refleks, kelopak mata Arunika tertutup, ketika wajah Adikara mendekat dan memberikan kehangatan di permukaan bibirnya.


"Terima kasih" bisik Adikara tepat di daun telinga Arun, setelah mendapatkan semuanya.


"Agh, i-iya, Mas. Udahan 'kan?" jawabnya gugup, sesaat membuka mata.


"Kalau masih mau, aku nggak akan nolak, Run. Atau ... kau mau lebih dari ini?"


"Gilakkkk!"


Bersambung.


***


Apa yang terjadi?


A. Arun menendang Adikara.


B. Arun menampar Adikara


C. Arun mendorong tubuh Adikara.


D. A sampai C semua benar


Kwkwkwkwkw.


Yuk, yang punya telegram gabung di chanelku. Khusus pembacaku. Kalian bisa ketik dipencarian Pasukan Halu. Entar langsung masuk. Kita ramaikan yok.


Bantu SPAM komentar 200. Biar pas komen novel ini 1000.

__ADS_1


Makasih ^^


__ADS_2