
"Kalau bisa menyatu, kenapa harus dilepas?" ~ Adikara Suryo.
...****************...
Semburat cahaya matahari menyelinap masuk melewati celah-celah kamar milik Adikara dan Arun, sehingga menggerakkan kelopak mata Arunika yang merasa terganggu dari buaian tidurnya.
Dengan terpaksa tubuhnya merespon untuk membuka mata. Perlahan ia bergerak merasakan sesuatu yang berat di atas perut, sebelum akhirnya menarik kelopak mata dan bergerak pelan menyesuaikan kenyamanan dari tubuhnya yang tak lagi berbalut pakaian.
Kedua mata itu kini menyesuaikan pandangan yang masih belum seutuhnya kembali ke alam sadar. Rasa sakit di kepala efek mabuk semalam juga membekas di kepala Arunika.
Dia memijat pelan di bagian yang terasa berat dan kemudian tersadar, kalau tubuhnya tidak baik-baik saja. Arunika sempat meringis pelan, ia merasakan efek nyeri di bawah sana.
"Apa yang terjadi?" gumamnya risih.
Ekspresi wajah itu tampak amat kebingungan dengan kepala berat mendapati suaminya di samping kanan, masih tertidur sangat lelap, juga tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh.
Arunika terperangah. Sejenak ia berdiam diri dengan mata yang membola sempurna. Kalau adegan di luaran sana, pasti sudah berteriak mendapati pemandangan tak senonoh yang gak pernah terpikir akan terjadi di bawah alam sadar.
Berbeda pula dengan Arunika. Wanita itu mencerna lebih dulu keadaan pagi ini, sambil mencoba mengingat-ingat, apa yang terjadi dengannya dan sang suami.
"Ke mana pakaianku?" dia bertanya sesaat menarik selimut menutupi bagian tubuh.
Arunika mencari pada lantai sisi ranjang yang ia tiduri. Di sinilah akhirnya dia tersadar, kalau ada hal besar yang mereka lakukan tadi malam.
"Kamu apain aku, Mas?" Arunika gugup dan panik. Ke kiri dan ke kanan, dia pikir itu mimpi.
"Dia?" refleks tangan kembali menarik selimut hingga menutup wajah sampai Adikara tergerak dari posisi tidurnya. Namun, pria itu masih terpejam. Ekspresi ketakutan jelas tercetak di wajah Arunika.
"Dia mengambil kehormatanku," lirih Arun nggak percaya sama semua ini. Merasa masih marah sama Adikara, dia memilih untuk tidak membangunkan pria tersebut.
Dengan keberanian diri, Arunika memilih menarik selimut dan membungkus tubuhnya dengan baik, lalu turun dari atas tempat tidur dengan sangat hati-hati, agar tak menimbulkan gelombang di atas ranjang atau pun suara.
"Awwww," pekiknya menahan sakit, sesaat setelah kakinya menyentuh lantai, dan menghentikan niatan.
"Arun?" gumam Adikara. Bola mata Arunika melotot mendengar suara Adikara. Tubuhnya menegang seketika.
Merasakan pergerakan di atas tempat tidur, Arunika buru-buru beranjak dari sisi ranjang dan berlari ke kamar mandi. Adikara yang sempat mendengar suara Arunika meringis pun terbangun. Samar-samar ia melihat kepergian Arunika dengan selimut menutup badannya.
Adikara mengucek mata mencoba menyelaraskan pandangannya. Bergerak untuk mengganti posisi duduk, kini Adikara menjerit kaget.
"Arrrrrrrrghhhhh." Dia menutup bagian yang tidak sepantasnya untuk diumbar. "Apa yang dialakukan padaku?" tanyanya panik sendiri. Melirik ke arah kanan dan kirinya, Adikara merasa aneh.
Napas pria itu tersengal-sengal tak menentu, sebelum akhirnya kedua mata terhenti di atas kain yang membalut ranjang mereka. Ada noda merah di atas sana.
"Pecah?"
Adikara menjambak rambut menyadari kesalahannya.
"Tamatlah riwayatku!"
Sebelum benar-benar terlambat, Adikara berdiri dari atas tempat tidur untuk menyusul Arunika ke kamar mandi. Hampir mencapai pintu, terdengar suara kunci pintu utama bergerak.
"Jangan masuk," teriak Adikara dan menolak daun pintu itu dengan kecepatan tinggi.
"Bang ... ini Elena."
"Iya, jangan masuk dek. Tolong jangan masuk." Adikara bersandar pada daun pintu untuk menahan.
Di luar sana Elena sempat terdiam sejenak sebelum akhirnya paham. "Oooooo. Ok, aku gak kunci dari luar ya, Bang. Cuma mau ngajak sarapan pagi. Selamat bersenang-senang."
Pria itu menghembuskan napas lega, tanpa tau kalau Arunika di dalam kamar mandi sedang merutuki dirinya di atas toilet sambil menitihkan air mata.
"Buka pintunya, Run." Arunika terjingkat kaget mendengar gedoran pintu.
"Mau ngapain, Mas? Mau ngajak duet lagi?"
Duet?
__ADS_1
"Ayo kita bicarakan dulu masalah ini. Jangan menghindariku, Run."
"Kamu uda merampas kehormatanku, Mas. Apa uda puas?"
Belum dong.
"Belumlah. Aku juga nggak sadar uda buat gitu sama kamu, Run. Ayooo keluar, kita bicarakan baik-baik."
"Kalau aku hamil gimana, Mas?"
Adikara memiringkan kepala. "Ya bagus dong, kita punya anak dan rumah tangga kita akan sempurna. Kenapa kamu harus takut?"
"Kamu nggak benar-benar cinta sama aku, Mas. Itu yang jadi masalah." Dia merengek sedih.
"Siapa yang bilang? Tolong kasi aku kesempatan, Run. Aku benar-benar sayang dan cinta sama kamu, Run. Mungkin caraku yang salah selama ini, karena aku merasa takut. Takut kehilangan untuk kesekian kalinya," lirih Adikara.
"Tapi kamu uda buat aku malu, Mas. Aku kayak patung yang terus-terusan kamu bohongi seenaknya."
Patung?
"Mas?"
"Iya?"
"Kenapa kamu lakukan ini ke aku? Kenapa juga saat kita nggak sadar. Aku jadi gak tau rasanya kayak apa malam pertama itu
."
Seketika Adikara tersenyum di sana. "Gak perlu malam pertama. Malam kita masih banyak. Ayo dong buka pintunya."
"Kamu janji dulu."
"Janji apa?"
"Jangan marah-marah lagi sama aku kayak kemarin. Kamu nyakiti hati aku tau!"
"Benaran? Kalau bohong?"
"Kamu boleh marah sama aku."
"Nggak mau. Nanti kena jebakan kayak kemarin malam."
"Udahan yuk, buka pintunya dulu. Aku kedinginan."
Merasa dirinya uda merasa baik, Arun beranjak dari duduknya dengan bersusah payah melangkah dalam balutan selimut yang menutup tubuh.
Sampai di depan pintu, tangan Arunika perlahan memutar kunci dan menarik handle pintu. Ia kini mendapati Adikara yang tersenyum sebelum akhirnya, kedua mata Arun membola sempurna.
"Astaga, Mas."
Adikara menoleh ke arah mana Arun memandang. Refleks, dia berbalik badan merasa malu. Berbeda pula sama istrinya yang gak memalingkan wajah sama sekali. Menikmati pemandangan yang belum ia dapat. (Dasaran Arunnya emang mau wkwkwkwkw)
"Kamu? Li-lihat apaan?"
"Nggak lihat apa-apa. Kamu masih nggak pake baju?"
"Gimana mau pake baju. Aku belum mandi, Run. Masih bau alkohol sama lengket keringatan."
"Ya udah, aku mandi duluan, Mas. Setelah itu baru kamu." Arunika hendak mendorong pintu, tapi tangan Adikara lekas mencegah.
Kening Arun berkerut. "Kenapa?"
"Kenapa harus sendir, kalau kamar mandinya luas, Run," pinta Adikara penuh harap.
"Maksud kamu?"
"Coba kamu mundur."
__ADS_1
"Mundur?"
Adikara mengangguk kepala. Arun yang masih bingung itu pun mundur satu langkah bersamaan dengan Adikara yang bergegas masuk ke dalam.
"Lho, kok kamu ikut masuk? Kamu mau apa, Mas?"
"Mandi bareng sama kamu." Senyum kemenangan terhias di wajah tampan Adikara.
Tidak peduli dengan teriakan dan penolakan Arun, pria itu langsung mengunci pintu dan menarik Arun ke arah shower.
Dua puluh lima menit kemudian, akhirnya kedua orang itu keluar kamar mandi tanpa ada rasa canggung seperti di awal. Arunika cuma bisa merasa lelah akan apa yang uda mereka lalui sejak tadi malam.
Mengenakan pakaian formal untuk ke pergi kerja, meskipun Adikara sudah menahan Arun agar tidak masuk hari ini, Arunika tetap saja menolak. Arun cuma takut, kalau-kalau suaminya itu kembali menggila.
"Uda kering," bisik Adikara tepat di balik telinga Arun seraya tersenyum. Pria itu sejak tadi membantu mengeringkan rambut panjang sang istri dengan menggunakan hairdryer.
Arunika yang duduk di depan kaca meja rias mengerutkan kening. "Kamu kok jadi aneh ya, Mas?"
"Aneh gimana?"
"Dari tadi mau lengket mulu sama aku."
Adikara tertawa kecil dan memeluk tubuh Arunika dari belakang. Ia sandarkan wajahnya di atas pundak Arunika. "Aku gak akan tahan diriku lagi buat ekspresikan rasa sayangku sama kamu, Run."
Arunika menoleh ke arah wajah Adikara. Tidak banyak jarak di sana. "Ini benaran kamu, 'kan?"
"Benarlah." Adikara menempelkan bibirnya di tempat serupa milik Arun. Hanya singkat dan dia tersenyum.
"Aku uda sadar, kalau kamu sepenuhnya milik aku. Ayo ... kita uda terlalu lama di sini. Nanti mereka curiga."
Adikara menarik punggung tangan sang istri, masih menggantung senyuman. Mau tak mau, Arunika mengikuti Adikara keluar dari kamar dengan rasa yang campur aduk dalam dirinya.
Pelan-pelan Adikara membantu Arun buat turun dari tangga. Dia tau apa yang ia perbuat pada istrinya untuk kemarin dan pagi ini, hingga keduanya berada di ruang makan dan tak mendapati siapa pun di sana.
"Di mana mereka?"
"Nggak tau, Mas." Keduanya mengedar pandangan ke seluruh ruangan.
"Si Mbak juga nggak kelihatan." Arun melepas genggaman Adikara dan mencoba jalan ke ruang cuci pakaian.
"Mbak juga nggak ada di sini, Mas."
"Mungkin di luar." Adikara turut mencari penghuni rumah itu.
"Mbak di sini, Nak Arun." Wanita paruh baya itu datang dari pintu taman belakang sambil membawa ember cucian.
"Ke mana Mama dan yang lainnya, Mbak?"
"Ibu ada di kamar bawah. Bapak dan adik-adik uda berangkat kerja."
"Ooo ... baiklah kalau gitu, Mbak. Arun sama Mas Adi mau sarapan dulu."
"Mbak siapin dulu, ya."
Arunika mengangguk dan ikut berjalan kembali ke ruang makan.
"Mas?"
"Sini, Sayang."
"Sayang???"
Bersambung.
***
Eyak-eyak. Yang nunggui bucinn sapa kemarin? Hahahaha. Tembus nggak 100 komen? yang like 100 an, yang komen cuma puluhan. Yok, kasi aku semangat ^^.
__ADS_1
Uda pada follow IGku dan mereka semua nggak?