
"Kau buatku melayang, bagaikan layang-layang yang terbang tinggi di udara." ~ Arunika Baskoro.
...***...
Bola mataku hampir saja melompat dari tempatnya. Apa yang dia katakan barusan? Jatuh cinta? Emangnya dia ngerti soal cinta? Kenapa aku meragukan perkataannya barusan.
"M-mas ... nggak salah ngomong, 'kan?"
Kurasakan gerakan kepalanya di atas pundakku pertanda menggeleng.
"Nggak."
Aku memberanikan diri dengan perasaan yang tidak enakan, untuk menarik tubuh ini dari dekapan yang bikin nagih sebenarnya. Dipeluk sama Mas Adikara, rasanya ada manis-manisnya gitu. Nggak bohong. Sumpah gak nolak kalau dipeluk lagi sama beliau.
Seiring aku mendorong tubuh ke belakang, tangan Mas Adikara pun melonggar diikuti dengan tanganku yang juga terlepas dari tubuhnya.
Kedua iris mata kami, pun saling bertemu dalam diam dan penuh mencekam. Tidak kudapati di wajahnya seperti orang yang terkesima dan malu-malu di wajah Mas Adikara. Lalu? Kenapa aku harus malu kayak putri malu yang disentuh?
"Kenapa?"
Sejenak mengerjapkan mata, kemudian berkata, "kenapa aku harus jatuh cinta sama kamu, Mas?"
Butuh dua detik untuknya merespon ucapanku barusan dengan satu jentikan di keningku.
"Aduh ... kenapa, sih, Mas?"
"Pake tanya lagi?"
Aku mengedikkan bahu seraya melebarkan telapak tangan ke udara dan kelopak mata yang tertarik ke atas. "Lah, memang benar, 'kan? Kamu nyuruh aku jatuh cinta sama kamu, Mas. Emangnya, Mas sendiri jatuh cinta sama aku, apa? Jangan kepedean kamu, Mas. Kalau nanti aku jatuh cinta sama kamu benaran, terus ... kamu tinggali aku gitu aja, gimana? Apa jadinya aku?"
"Awwww ...," satu jentikan lagi mendarat di keningku. Sambil mengusap-ngusap bekas telunjuknya, aku mencebikkan bibir dan menatap kesal padanya. "Sakit, Mas."
"Tau sakit. Buruan bersih-bersih. Kita makan malam di kamar aja. Matamu membengkak, nanti papa pikir aku memukulmu," kata Mas Adikara hendak berlalu pergi.
Sontak, aku merangkul lengannya yang berisi. "Jangan, Mas. Kita makan malam sama-sama aja. Nggak enak sama keluarga kamu. Udah cuma satu malam di sini, malahan makan di kamar."
Mas Adikara bukannya menjawab. Malahan dengan santainya, manik hitam itu melirik ke tangannya yang ada dalam dekapanku. Refleks, aku melepasnya. "Maaf, Mas."
"Nggak masalah. Aku tunggu di tempat tidur," jawabnya dan bergegas ke tempat yang barusan dia katakan.
Butuh enam belas menit, kini aku merasa segar setelah mandi dan berganti pakaian. Kudapati, dia yang sedang terpejam di atas tempat tidur, dengan tangan yang ia jadikan sebagai bantalan.
"Kenapa makin menggemaskan aja, sih, kalau lagi tidur?" Aku berjalan pelan, mendekat ke sisi kanan tempat tidur. Bukan untuk membangunkannya, tapi mau melukis hasil maha karya pahatan tangan Tuhan, di dalam ingatanku.
Jujur, ya, meskipun di awal itu rada jaim karena belum kenal dan akrab dengannya, tapi tidak dengan hari ini. Aku mulai merasa nyaman di dekat pria ini. Apa lagi, ketika Mas Adikara mulai menguasai medan perang dari istrinya. Astaga, udah kayak di film perang-perangan aja kau, Run.
Sudut bibirku tertarik membentuk senyuman, sesaat aku duduk di pinggiran tubuhnya yang sedang terbaring sangat nyaman. Nah, kalau ini seperti adegan di drama Korea kayaknya nih. Aku jadi senyam-senyum gak jelas.
"Kenapa senyum-senyum?"
Sontak, senyuman ini pun memudar, tatkala kelopak mata Mas Adikara terpisah sempurna dan menatapku.
Untuk menyembunyikan malu, wajah ini bergerak ke kiri dan ke kanan mencari perlindungan. Aku kedapatan woi! Sangat memalukan sekali.
"Nggak kok! Barusan itu, aku mau banguni Mas Adikara," kataku setelah bangkit berdiri.
"Bohong!" katanya, setelah berdiri dan tidak melirik ke arahku.
Mas Adikara lebih dulu berjalan mengarah pintu berbahan kayu jati di depan sana. Dia memang susah untuk dimengerti. Kok rasanya, kayak cewek, ya?
Kami pun masuk ke ruang makan yang cukup luas di rumah ini. Semuanya sudah berkumpul, dan tinggal menanti kedatangan kami.
__ADS_1
"Selamat malam, Pa, Ma," ucapku lebih dulu menyapa dan berada di sisi Mas Adikara.
"Wuah, pengantin baru agak lama keluarnya. Jadi—"
"Erica!" tegur Papa Suryo, sembari menggeleng kepala ke arah si kembar yang menggemaskan. "Malam, Nak Arun."
"Becanda, Pa," balas Erica pelan.
"Selamat malam, Nak. Ayo, sekarang duduk di tempat kalian masing-masing," titah Mama Risa.
"Kenapa dengan mata kamu, Nak Arun?" tanya Papa Suryo, saat aku dan Mas Adikara sukses duduk bersisian. Tepatnya, di depan Papa Suryo.
"Ouuu ... tadi kelilipan, Pa," jawabku beralasan. Kulirik ke arah Mas Adikara yang malah melemparkan tatapan mengerikan.
"Bukan Adikara yang buat, 'kan?"
"Kok jadi Adi, sih, Pa?"
"Ya, kalian berdua di kamar yang sama, Bang! Kamu apain, Nak Arun?"
"Astaga, Papa, bukan Adikara. Arun aja yang nangis karena liat cicak di kamar," balas Mas Adikara sembarangan. Ternyata, aku baru tahu kalau Mas Adikara juga jago akting.
"Cicak?" tanya keempat anggota keluarga itu bersamaan. Kompak banget mereka.
Mas Adikara mengangguk. "Iya, Pa. Tanyain aja sama Arun."
"Ok. Mulai besok ... suruh mamang Jaya buat tangkap cicak di kamar bawah sampai induk-induknya. Siapa tahu nanti, kalau kembali tidur di sini lagi, jadi Arun nggak kenapa-kenapa," ucap Papa Suryo mengejutkanku.
"Iya, Mama setuju sama Papa. Kalau buat Arun sampai nangis kayak gitu, Mama juga nggak akan terima gitu aja."
Sial. Ada apa dengan keluarga ini?
"Ya udah, kita makan dulu. Kasian Arun uda lapar," ucap Mas Adikara minta kena tampol.
Aku pun nyengir. "Iya, Pa, makasih," balasku.
"Sabar-sabar ya, Kak Arun. Keluarga ini memang rada aneh," sambung Elena kini.
Aku mengangguk. "Iya, Na. Lagian, yang begini lebih asyik, sih. Langka soalnya. Perlu dilindungi," kataku membuat gelak tawa di ruang makan.
Apa aku salah ngomong, ya? Kulirik Mas Adikara yang kini malah senyum ke aku. Benaran memang menggemaskan sekali di rumah suamiku ini.
Sehabis makan tadi, aku sempat ngobrol dengan kedua adik iparku dan mama mertua. Setelah itu, Mama memintaku untuk lebih dulu ke kamar. Sedangkan Mas Adikara, dia berada di ruang lain bersama papa mertua.
Aku memilih merebahkan tubuh ini di atas sofa. Bukan mau menghindar untuk tidur satu ranjang. Hanya bersantai sambil memeluk bantal yang ada di atas sofa tadi. Rasanya, ucapan Mas Adikara masih membekas dipikiranku.
"Jatuh cintalah kepadaku."
Ketiga kata itu rasanya horor banget. Tanpa diminta olehnya, pun aku kayaknya uda jatuh cinta sama dia. Gimana dong? Padahal, aku maunya Mas Adikara dulu yang jatuh cinta. Kenapa jadi kebalik, ya?
Ya, tapi kalau dipikirkan lagi. Seandainya nih, ya, ada gadis di luaran sana yang mau ngambil Mas Adikara dari aku, pastilah berurusan sama Arunika Baskoro—putri mama dan papaku yang tangguhnya di atas rata-rata. Adiknya—Bang Boy yang paling menggemaskan di dunia.
Aku mengakui, kalau Mas Adikara sosok suami yang patut dipertahankan. Walaupun kadang dia suka bikin kesal aku, tapi rasa sayang yang tidak biasa dari Mas Adikara itu bisa kurasakan sekarang.
Agh, rasanya seperti aku berada di alam mimpi saja. Kupejamkan mata sejak tadi, hingga rasanya aku sekarang sedang terbang ke awan. Egh, siapa yang ngangkat aku, nih?
"Mas?" Kelopak mataku terbuka lebar-lebar. Ternyata, Mas Adikara sedang membawa tubuh rampingku ke atas gendongannya. "Turunkan aku, Mas."
"Kau memang minta digendong."
"Apaan?"
__ADS_1
Kini, dia membaringkanku dengan hati-hati di sisi kiri bagian ranjang yang berukur besar. Rasanya mau pingsan, mendapati hembusan napas dari hidung Mas Adikara bersentuhan dengan pipiku. Apa lagi ... bibir merahnya yang sempat bersentuhan tadi. Buru-buru, aku memalingkan wajah dan melupakan pikiran laknat itu.
"Kau tidur di sofa, padahal di sini sangat luas. Sudah jelas, kau memang minta digendong," balasnya, kemudian beranjak pergi dari sisiku.
"Iya, anggap aja seperti itu. Lain kali, gendong aku ke mana pun Mas mau," sindirku padanya.
"Akan kulakukan," balas Mas Adikara membuatku semakin terkejut.
Pria ini sekarang duduk di pinggir ranjang sebelah kanan dan memunggungiku. Sialnya, dia sekarang menarik kaus putih yang ia kenakan dan menanggalkannya.
"Mas ... kamu ngapain?"
"Mau tidurlah."
Satu persatu kakinya naik ke atas tempat tidur, sambil menarik selimut hingga menutupi bagian bidang dadanya, dengan acuh tak acuh. Aku membuang pandangan ke arah atas.
"Ke-kenapa buka baju? Biasanya gak gitu?" tanyaku gugup.
"Panas. AC di sini nggak sedingin di kamarmu."
"Ada aku di samping kamu, Mas. Masih terasa panas?"
Astaga, Run? Kenapa rasanya aku lagi menggoda anak Brokoli sekarang? Sadar, Run, itu Mas Adikara lho.
Kenapa rasanya ada yang melirik ke arah sini, ya? Perlahan-lahan, wajah ini menuntun pikiran dan hati untuk melihat ke arah kanan.
Dan benar saja, Mas Adikara menatapku dengan jelas. Perlahan-lahan mulutku terbuka dan memperlihatkan gigi putihku yang rapat dan rapi.
"Jangan menggodaku."
"Ngah? Si-siapa juga?"
"Kau!"
"Nggak, kok. Selamat malam," balasku kini memunggungi Mas Adikara.
Tidak berani lagi membuka suara, aku mencoba memejamkan mata. Namun, lagi-lagi kekhawatiran melanda sekujur tubuh. Tempat tidur ini serasa bergelombang, seperti adanya pergerakan dari sisi Mas Adikara. Kupererat pegangan tangan ini di ujung kain bantal.
"Kenapa denganmu?" suaranya sangat dekat.
"Ma-mas mau ngapain?"
"Mau menyentuhmu."
Secepat kilat aku membalikkan badan. Benar saja, tubuhnya hanya berjarak beberapa jengkal saja dariku. "Jangan macam-macam, Mas!"
Dia tersenyum, "aku rasa otakmu memang rusak."
Dia menarik tubuhnya melewati badan, ternyata Mas Adikara hendak menutup lampu di atas meja sampingku. Ruang pun menjadi gelap kini.
"Tidurlah ke arahku. Jangan pernah memunggungi suamimu sendiri," katanya, kemudian menarik wajahnya ke arahku dan mendaratkan satu kecupan di atas keningku. "Selamat malam, Run."
Bak layang-layang yang terbang di bawah langit, Mas Adikara benar-benar membuatku melayang jauh terbang ke angkasa.
Bersambung.
***
*Like
*Komen
__ADS_1
*Vote
*Hadiah