Hatimu&Hatiku

Hatimu&Hatiku
Saling Menatap Penuh Arti


__ADS_3

"Semakin kutatap semakin kutak mampu untuk melapesmu." ~ Adikara Suryo.


...****************...


"Gimana kerjaan kamu hari ini, Mas?"


"Kayak biasa. Kenapa?"


"Kamu kerjaannya apaan, sih?"


Adikara yang sedang mengemudikan mobil menggerakkan wajah ke Arun. "Tiduran."


"Serius, Mas?"


"Dua rius." Arunika menatap kesal ke Adikara. Bibirnya memberut tak suka.


"Kamu benaran misterius."


"Curiga?"


"Bukaan! Aku suka aneh jadinya. Berasa jadi istri sahnya kamu, tapi gak tahu apa pun tentang kamu. Istri macam apa aku ini?"


"Jangan salahkan dirimu sendiri. Apa yang ingin kau tahu tentang aku?"


"Aku—"


"Nanti aja tanyanya, kalau udah sampek di rumah."


Arunika kembali menutup mulut. Rasa kesalnya menjadi dua kali lipat dari sebelumnya. Mendapati lirikan kesal Arun, pria di sampingnya malah tertawa.


"Kamu udah pintar senyum sama tertawa ya, Mas. Apa lagi ngejekin aku. Beda banget sama sebelumnya yang susah banget buat senyum apa lagi kayak tadi. Mirip banget sama jalan tol."


"Karena aku punya istri."


"Bangga?"


"Pastilah."


"Bagus." Arunika melipat tangan di kedua dadanya. Tetap aja rasanya masih kesal gitu.


Perjalanan yang memakan waktu lumayan cepat karena udah malam juga, akhirnya sampai ditujuan tempat tinggal mereka. Arunika bergegas turun bersama-sama dengan Adikara dan langsung menuju pintu utama.


"Mas ...."


Adikara berbalik badan. "Iya?"


"Bunga aku ke mana, Mas?" tunjukknya ke arah pinggiran lantai.


"Bunga?"


"Iya ... Bunga Mawar yang di sini."


Adikara tampak berkerut kening merasa bingung. Sepengetahuan dia, sejak tadi berada di rumah tak menyentuh apa pun.


"Coba tanya ke si Mbak."


Arun sempat berdiam. "Oh, iya, aku lupa kalau uda ada si mbak. Yuk ...."


Adikara menggeleng menatap Arun yang berjalan di depannya. Hebat juga istrinya itu. Radar kepekahannya di atas rata-rata. Bagaimana tidak. Arun bisa tahu apa yang tidak ada di rumah itu.


"Mbak ...."


"Iya, Nona?" Namanya Windra, berumur 40 tahun.


"Panggil Arun aja, Mba. Mbak Windra ada pindahin pot bunga aku nggak?" Arun meletakkan tasnya di kursi yang bersisian dengan meja makan. Dia menariknya dan duduk.


"Ada, nak Arun. Mbak letak ke belakang karena nggak kena matahari di depan. Apa si Mbak salah?"


Arun tersenyum. "Nggak, Mbak. Ya udah, kalau menurut Mbak baik di sana biarin aja. Aku pikir dijual sama Mas Adikara," ejek Arun mendapati Adikara yang barusan duduk di sampingnya. Matanya yang berukuran sedang itu menatap tak terima ke Arun.


"Yeeee ... B aja lihatinya, Mas. Mau matanya kero?"

__ADS_1


Mba Windra tersenyum melihat keduanya. Adikara malah melepas napas berat tanpa berkata-kata. Meskipun si Mbak orang yang dikirim sang mama, tapi tak bisa membuat Adikara bersikap kayak biasa ke Arun di depannya.


"Kamu mau makan sekarang?"


"Iya."


"Oke. Mbak ... Kita makan sekarang. Aku bantu," kata Arun kini beranjak dari duduknya.


Mempersiapkan makanan yang sudah tersaji di atas meja bartender, Arun pun membantu mengangkat satu persatu menu makan malam dan memindahkannya ke atas meja makan berbahan kayu.


Adikara sendiri malas untuk bersih-bersih lebih dulu ke kamar dan harus turun lagi ke bawah. Jadi, dia berencana makan malam dulu setelahnya berbaring di kamar sambil bercerita dengan Arun.


"Makan yang banyak, Mas," ucap Arun setelah meletakkan satu piring berisi hampir penuh ke hadapan Adikara.


"Supaya apa?" tanyanya.


"Supaya makin pintar bicara," celetuk Arunika.


"Hemmmm."


Arun terkekeh geli sebelum menyusul Adikara untuk menyendokkan makanan ke mulutnya. Rasanya, Arunika benar-benar sudah sangat memahami sifat Adikara yang irit bicara.


Seusai makan, Adikara lebih dulu naik ke atas menuju kamarnya. Sedangkan Arun, dia masih membantu Mbak Windra dan sekadar ingin kenal pekerja yang diberikan mertuanya. Hitung-hitung, tempat mencari informasi tentang apa saja yang dilakukan suaminya selama di rumah.


"Udah naik, Mbak," ucap Arun berbisik melirik ke arah tangga. Kini, dia datang mendekati Mbak Windra yang sedang cuci piring. "Gimana, Mbak? Mas Adikara ada keluar kamar nggak?"


"Hanya makan siang, nak Arun. Selebihnya, nak Adikara ada di ruang kerja. Kayaknya seharian di situ waktu ngasi tahu makan siang udah siap."


"Ouuuu ... Berarti benaran kerja," gumam Arun spontan.


"Mbak nggak tahu, karena cuma sampai depan pintu aja."


"Egh, nggak. Maksudnya ... Mas Adikara benaran kerja, Mbak. Ya udah, siap ini Mbak istirahat aja ya. Makasih buat infonya. Arun mau bersih-bersih dulu," pamit Arunika sebelum melenggang pergi.


"Iya, nak Arun."


Sesampainya di kamar, Arun mendapati Adikara yang barusan selesai mengenakan kaus putih polos untuk tidur. Dia berjalan masuk dengan pelan.


"Makasih, Mas."


"Sama-sama."


Tak ada lagi jawaban dari Arunika. Dia berjalan masuk ke kamar mandi, setelah meletakkan tas ke atas meja dan mengambil handuk juga baju tidurnya.


Adikara memilih menyalakan TV untuk menunggu Arun selesai mandi. Dia tidak ingin ketiduran sebelum melihat istrinya berbaring di sampingnya. Yang ditunggu pun akhirnya terlihat. Adikara diam-diam melirik ke Arun yang kini berjalan ke tempat tidur.


"Nonton apaan, Mas?" Arunika merangkak naik ke atas tempat tidur dan duduk dengan posisi serupa di samping Adikara.


"Bola."


"Tumben?"


"Sambil nunggui istri."


"Oooo ... Jadi udah bisa tanya-tanyanya belum?"


"Mau tanya apaan?"


"Kamu kerja apa, Mas?"


"Aku ... Kerja sebagai Trader. Apa lagi yang mau kau tahu?" Adikara mengambil remot TV dan menyentuh tombol power. Layar TV mati seketika. Dia menoleh ke arah Arun yang masih berdiam dan menatap ke depan.


"Hemmmm ... Trader? Kamu main investasi? Selain itu?"


"Pemimpin perusahaan."


"Ngah?" Arunika menoleh ke arahnya dengan menganga mulut. "Serius, Mas?"


Adikara malah tersenyum melihat kepolosan Arun itu. "Kalau nggak percaya ya udah nggak apa-apa."


"Kalau pemimpin perusahaan, kenapa nggak masuk kerja?"

__ADS_1


"Malas."


"Segampang itu?" Dia melotot mata.


"Iya."


Dada Arunika kembang kempis mendengarnya. Rasanya, dia tidak percaya. Buat apa lagi kerja kalau suaminya benaran punya usaha yang menghasilkan lebih besar dari gajinya sendiri.


"Kenapa diam?"


"Pengen pingsan, Mas," ucapnya lemas.


"Udah niat keluar dari kerjaan?"


Arunika kembali menatap mata Aidkara dengan gerakan cepat. "Nggak Mas ... Aku lagi dapat promosi untuk posisi bagian manajer. Itu impian aku, Mas, selama 4 tahun di sana. Meskipun kamu kaya raya, aku tetap ingin berkarir, Mas."


Iris mata Adikara menatap manik indah di balik bulu mata lentik milik Arunika. Nggak ada sirat keragu-raguan di sana.


"Baguslah," ucapnya setelah terjeda beberapa detik keheningan.


Arunika membuang napsas lega. "Makasih, Mas."


"Untuk?"


"Ya ... Masih izinkan aku kerja."


"Kenapa tidak?"


Arunika mengedikkan bahu, "ada beberapa suami yang melarang istrinya bekerja. Aku pikir, Mas Adi salah satunya dari mereka."


"Belum aja." Adikara menarik selimut hendak berbaring ke dalam sana.


"Apa maksudmu, Mas?"


"Aku sudah mengantuk. Tidurlah ...."


"Lah ... Sesi tanya jawab tentang kamu belum selesai, Mas."


Adikara memejamkan matanya kini. "Aku ngantuk."


"Aku belum tahu apa yang kamu suka, Mas? Warna apa kesukaan kamu, ukuran baju kamu, ukuran kaki kamu, makanan kesukaan kamu, makanan yang kamu nggak suka, teruss ... Apa yang kamu suka dan nggak suka dari aku?"


Pertanyaan terakhir refleks membuka mata Adikara yang sempat terpejam. Dia berpikir sejenak, walaupun tahu wanita di sampingnya menatap penuh harap menanti jawabannya.


"Aku ngantuk," katanya sekali lagi dan memejamkan mata. Arunika benar-benar pasrah. Dia selalu saja mengalah akan sikap Adikara yang rada aneh itu.


"Baiklah. Kusumpahi kamu mimpi buruk, Mas!" Sangkin kesalnya, dia pun mengatakan yang bukan-bukan dan mulai menarik kain selimut untuk bebaring. Lantas, Arunika malah memunggungi Adikara.


"Jangan memunggungiku."


"Malas lihat wajah kamu, Mas. Aku takut bosan," celetuk Arun.


"Yakin?"


"Hemmmm ...."


"Jangan salahkan aku kalau melakukan sesuatu dari belakang."


Arunika membuka matanya dan segera berbalik badan ke posisi di mana Adikara berbaring serupa ke arahnya. Dia merasa terancam. Keduanya saling memandang. Arunika tidak memahami sirat dari mata Adikara sekarang yang sebenarnya setiap hari harus menahan keinginannya itu. (kesian sekali Anda Bambang wkekekkw)


"Kenapa?"


Adikara menghela napasnya. "Tidurlah. Kalau nggak bisa tidur, tatap wajahku, supaya kau bisa mencintaiku 100%."


Adikara kembali menutup rapat-rapat matanya. Dia takut menatap lama ke Arunika. Bisa jadi apa nantinya, kalau dia nggak bisa menahan diri. Bisa-bisa, Arunika semakin kecewa terhadap dirinya.


Segera mungkin dia menepis pikirannya yang sempat memanas menyiksa tubuh. Dia berharap cepat terlelap, walaupun Arun sedang menatapnya kesal.


Bersambung.


***

__ADS_1


Apa kabar kesayanganku ^^


__ADS_2