Hatimu&Hatiku

Hatimu&Hatiku
Calon Mama Dari Anakku


__ADS_3

"Sudah sewajarnya 30% menjadi 100%. Dia sudah milikku sepenuhnya." ~ Arunika Baskoro.


...****...


"Mas."


"Sini, Sayang."


"Sayang?'


Kedua kaki Arunika terhenti dari langkah kecilnya. Dia memiringkan kepala untuk sejenak berpikir mencerna jawaban Adikara barusan.


"Di kamar Mama, Sayang." Adikara tersenyum dari balik kusen pintu kamar bawah dan mendapati tatapan Arunika yang masih setia di posisinya. Keduanya saling beradu tatap dengan pandangan berbeda pula.


Arunika menatap waspada. "Uda gilak" gumamnya pelan.


Adikara mengulur tangan meminta Arun untuk melangkah lagi. Kebahagiaan jelas terpampang nyata di wajah pria itu. Dia tersenyum, meskipun masih tak mendapati Arunika berjalan.


"Kamu minta digendong?"


Kesadaran Arunika kembali terlempar ke alam nyata, sesaat setelah mendapati Adikara yang kini memaju langkah ke arahnya.


"Aku bisa sendiri, Mas."


Berusaha melewati Adikara, wanita itu malah mendapati tarikan di lengannya.


"Kamu mau ke mana?"


"Kamar Mama, 'kan?"


"Sini, aku gendong."


"Jangan aneh kamu, Mas. Kayaknya bukan kamu banget dech hari ini." Dia melirik takut ke arah Adikara.


Pria itu malah tertawa. "Kamu bukannya senang, kalau aku uda jatuh cinta 100%? Uda nggak irit bicara kayak di awal. Terus, bisa leluasa mengekspresikan perasaan aku yang sebenarnya ke kamu, Run."


Arunika masih terpelongok mendengar Adikara berbicara dengan lancar. "I-iya, sih. Aku cuma aneh aja, Mas. Kayak kutub utara dan kutub selatan. Nggak mungkin es batu cepat meleleh kalau dikeluarkan dari dalam freezer."


"Ngah?"


"Itu perupamaan, Mas."


"Aku gak paham."


"Kenapa kalian berdebat di sana?" tegur Mama Risa. Kedua orang itu menoleh ke arahnya yang berdiri tepat di depan pintu.


"Bukan berdebat, Ma. Lagi menguapkan perasaan cinta," saut Adikara dengan cekikikan. Dia memang amat bahagia.


"Emangnya, Arun uda cinta sama kamu, Bang?" Mama Risa meragukan perkataan anak yang sedang diserang kasmaran. Seketika pula, senyuman tadi memudar dari wajah Adikara.


"Masih 40%, Ma. Nggak lebih kok," balas Arun dengan berani.


"Kok gitu, Run?" tanya Adikara nggak terima.


Arunika kembali menatap Adikara dengan intens. Perlahan wajahnya ia dekatkan ke arah telinga Adikara. "Jangan pikir karena kita uda berbagi keringat, kamu bisa dapatkan hatiku dengan mudahnya, Mas? Kamu masih hutang sikap sama aku."

__ADS_1


Adikara menarik napas merasa paham.


"Baiklah. Jangan salahkan aku, kalau kamu kejang-kejang karena perlakuan cintaku sama kamu, Run."


"Ok, kita lihat kayak mana ujungnya."


"Ayo anak-anak ke sini dulu. Mama mau ngomong sesuatu sama kalian."


Adikara mengangguk kepala ke arah Arun dan memantapkan hati untuk mengajak istrinya masuk ke kamar tamu bawah.


Sampai di kamar, mereka mendapati Mama Risa duduk bibir ranjang bagian tengah sembari melipat tangan di atas dada.


"Duduk," wajah itu bergerak ke arah sofa dengan tatapan sok sangar.


Seketika Arunika merasa takut melihat ibu mertuanya yang ceria berubah seserius seperti barusan.


"Kenapa, Ma?"


"Sarapan dulu ajalah, ya?


Mama gak tega lihat wajah Arun dari tadi kayak pucat? Kek gak biasanya gitu. Arun juga tampak kelelahan," tiba-tiba ekspresi wajah serius berubah jadi khawatir.


Gimana nggak lelah? Dua ronde.


Adikara malah menoleh memperhatikan wajah Arunika yang mencoba menunduk menyembunyikan mukanya.


"Kenapa malu-malu?"


"Ngeh?" Arunika terperanjat dan refleks menemui wajah Adikara. Pria itu malah tersenyum ke arahnya.


"Arun kayaknya kelelahan, Ma. Dia capek karena ngelayani aku. Lebih baik nggak usah masuk kerja 'kan, Ma?"


Adikara puas dengan ekspresi dari tatapan Arun. Apalagi sang Mama, di sana sudah tersenyum penuh sirat.


"Kamu senang dong ya, Bang?"


"Oh, pasti dong, Ma. Ayo, mau ngomong apa? Kita masih punya tenaga buat dengerin Mama."


Mama Risa mengacungkan jempol seraya tertawa. "Ini baru anak Mama Risa. Kamu kembali ke dirimu yang sebelumnya, Nak. Harus jaga Arun baik-baik. Ingat, janji kamu sama mendiang ibu mertua. Paham?"


"Paham, Ma. Sebisa mungkin, setelah kejadian ini Adikara bakalan bahagiakan istri, Ma. Biar cintanya dia ke Adi bisa 100%."


"Mantap jiwa. Mama suka sama sikap kamu, Bang. Dapatkan Arun sepenuhnya." Arunika benar-benar nggak sangkah, bisa melihat sisi lain dari ibu dan anak itu.


"Makasih dukungannya, Ma. Ya uda, Mama mau ngomong apaan tadi?"


"Ooo ini, Mama cuma mau bilang. Itu juga awalnya kalau kalian masih marahan. Kenapa sih, kalian pulang malam dalam keadaan mabuk-mabukkan. Kalau dilihat sama tetangga gimana? Apa kalian nggak malu? Kalian juga baru berumah tangga, seharusnya masih bau-bau pengantin baru. Mama tau, di sini yang salah Adikara. Sampai kapanpun, kalau salah tetap Mama salahkan. Jadi, ini pelajaran buat kamu ya, Bang. Kamu harus jujur sama istri dalam hal apapun. Kalau bisa berbagi keluh kesah satu sama lain dan jangan dipendam sendiri. Kalau marahan cepat diselesaikan. Jangan berlaru-larut sampai mabuk lagi."


Mama Risa memberikan jeda dengan tersenyum menatap pada sang anak dan menantu. Adikara terus menggenggam telapak tangan Arun dan membenarkan sikap sang Mama barusan.


"Buat Arun, Mama minta maaf atas kelakukan Adikara sama kamu selama ini. Adikara itu memang pemendam perasaan. Apa-apa dipendam, gak mau berbagi. Sama Mama pun dia juga kayak gitu. Jadi, nggak ada yang tau keadaan dia yang sebenarnya itu kayak apa. Ya, di depan kita aja dia tampak baik-baik aja, tapi di dalamnya? Kita nggak ada yang tau sama sekali," ujar Mama Risa tulus.


Arun sekilas membalas tatapan Mama Risa, sebelum dia merubah tatap ke arah Adikara.


Semisterius apa sih kamu, Mas? Tahan banget buat nyimpen perasaan. Aku sendiri aja nggak kuat nolak perasaan kamu.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Adikara bingung dengan tatapan kosong Arun. Salah satu alisnya terangkat sebelah sembari membalas tatapan wanita itu.


Arunika sejenak menundukkan wajah dan tersenyum kemudian. Sebelum, akirnya memberikan jawaban ke ibu mertuanya.


"Nggak apa-apa, Ma. Ini uda konsekuensi dijodohkan. Nikah tanpa pacaran ya, Ma. Ini nih, salah satu rintangan buat kita. Dari jalanan yang lurus ke menanjak. Terus, berkelok-kelok buat sampai di atas puncak. Dan berbatu untuk bisa melihat keindahan dari atas." Arunika tersenyum memandangi wanita paruh baya itu.


Kedua mata Adikara sejak tadi menatap memuja oleh perkataan sang istri barusan. Di balik ketidaksempurnaan Arunika yang sedikit lamban dalam berpikir, terdapat pikiran yang mengandung banyak kutipan dalam sebuah kata kiasan.


"Mama suka sama pendapat Arun."


"Makasih, Ma," balas Arunika kikuk.


"Kalau gitu, kami uda bisa keluar buat isi tenaga 'kan, Ma?"


Mama Risa mengangguk kepala. "Iya. Kalian hari ini di rumah aja. Besok baru kerja."


"Ok, Ma." Adikara benar-benar senang. Lain hal pula dengan Arunika yang merasa terhimpit dalam situasi yang terjepit.


"Ya udah. Selamat makan buat kalian."


Adikara mengajak sang istri untuk bangkit dari duduk. Barusan berdiri dan hendak memaju langkahan. Kembali kedua kaki mereka berhenti.


"Tunggu dulu." Panggilan Mama Risa mengagetkan Arunika. Keduanya, kini sama-sama berbalik badan.


"Apa lagi, Ma?"


"Itu, soal tadi malam. Kalian uda tau 'kan? mau mirip sama siapa hasilnya?"


"Mama!" lirih Arun.


Mama Risa tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Arunika yang memerah dan tak tenang. Adikara menggeleng gak percaya.


"Kalian gemesin, sih. Ya uda, makanlah. Mama nggak ganggu lagi. Bye anak-anak. Mama besok uda balik ke Bekasi. Jadi, kapan lagi punya waktu kayak gini?"


Arunika benar-benar dilanda rasa malu karena ulah Adikara yang terang-terangan sama kemajuan hubungan mereka.


"Kamu makan apa, Run?" Pertanyaan itu mengudara, ketika keduanya duduk di kursi yang bersisian sama meja di ruang makan.


"Kamu, Mas!"


"Aku?" tunjukknya ke arah wajah.


"Iya. Buat apaan sih, pake ngasi tau segala soal tadi malam?" Arunika memberutkan bibir serta kedua matanya.


"Ralat. Malam dan pagi," balasnya.


"Ish, 'kan Mas? Kamu benaran, ya?"


"Benaran senang, Run. Aku cuma sedang berbagi kebahagiaan yang aku punya sama kamu untuk orang-orang yang kusayangi, Run. Aku nggak mau, kalau mereka bersedih atau juga berpikir negatif sama pernikahaan kita. Aku hanya gak mau mereka khawatir tentang pernikahan kita karena soal permasalahan kemarin. Sampai di sini, kamu paham calon Mama dari anakku?" Adikara tersenyum menggoda ke Arun.


Bula mata lentik menghiasi kelopak mata Arun yang tampak membola sempurna dengan mulut yang menganga.


Bersambung.


***

__ADS_1


Yeeeay. Gak bisa panjang kayak biasa. Aku kurang sehat, tapi semampunya aja buat ngetik. Oh ya, buat kalian yang di sini. Bulan 10 nanti tanggal 1, aku publish cerita baru di D r e a m e atau I n n o v e l. Itu sama aja. Judulnya, I Choose To Love You. GRATIS kok, selama aku masih on going. Kalau mampir, jangan lupa tekan love dan tinggalkan jejak di kolom komentar. Biar aku tau, kalau kalian mampir hehehe. Makasih ya ^^


Jangan lupa tekan jempol, komen, vote, hadiah dan follow IGku @_putritritrii ^^


__ADS_2