Hatimu&Hatiku

Hatimu&Hatiku
Nyonya Suryo


__ADS_3

Keesokan harinya.


Menginap di tempat terpisah. Gala kini datang ke tempat kediaman orang tua Elee di Bandung. Tempat mereka melakukan pertunangan semalam, bertujuan untuk menjemput Elee.


Kini, Gala berpamitan ke keluarga Elee yang ada di rumah itu untuk kembali pulang ke Jakarta bersama Elee. Sebab, besoknya mereka harus kembali bekerja.


"Nggak ada yang tinggal, 'kan?" Gala memastikan, sesaat mereka berada di dalam mobil.


Elee tersenyum dan menggeleng. "Tidak. Semuanya udah gue bawa termasuk masa depan gue," goda Elee mendapat senyuman dari Gala.


"Eheeemmmm ... jangan mesra-mesraan di sini. Mama sama Papa nanti encesan lho lihat kalian." sindir Mamanya Gala dari jok depan.


"Dih, Mama uda kadaluarsa. Pernah muda, 'kan? Gantian lho kita, Ma." ucap Gala kini menggandeng mesra tangan Elee.


"Yeee ... dasar bucin! Waktu belum sama Elee aja kamu kayak orang gila, Bang," sindir Papa Luke.


"Ya, pokoknya sekarang uda beda cerita, Pa. Beda buku dan beda judul. Jadi ... nggak perlu pake ngeluh segala dong," jawab Gala nggak mau kalah.


"El ... kamu harus tahu. Gala ini kelihatannya aja tampan dan berwibawa kalau di luar. Tapi kalau di rumah, dia itu suka galau kayak namanya. Tante rasa, dulu salah kasih nama ini Papanya."


"Bukan salah kasih nama, Ma. Emang anaknya aja yang galau dari lahir," sambung sang Papa.


Gala mengernyit. "Apaan maksud, Papa? Gala itu ganteng dari lahir. Bukan galau dari lahir."


"Lha, kamu baru lahir aja uda nangis-nangis kok. Pake teriak-teriak segala lagi. Gimana nggak galau?" 


"Astaga, Pa. Papa sama anak sama aja gilanya."


"Nah, kok jadi gila, Ma? Dari Gala ke Galau. Sekarang, dari Galau ke Gila. Kenapa gue apes banget sih?"


"Mama dan Papa lo lucu ya?" bisik Elee seraya tersenyum.


"Kayak badut ya?" Gala ikut berbisik dan tertawa. Keduanya pun kembali mendapat sorotan kedua orang tua yang duduk di depan mereka itu.


Gala tidak peduli. Yang ia tahu sekarang ini, Elee uda jadi bagian dalam hidupnya.


***


Keesokan harinya.


Semburat cahaya pagi mengantar jalannya Adikara dan Arunika ke perusahaan. Ya, ini adalah kali pertama pasangan dari mata turun ke hati itu melakukan aktivitas yang sama di satu perusahaan yang sama pula.


"Aku nggak sabar ingin melihat Elee dan Gala, Mas," kata Arunika.


Adikara menoleh sekilas. "Memastikan sesuatu yang belum mendapatkan jawaban?"


Arunika mengangguk. "Iya. Mereka ini sebenarnya sudah saling suka sejak di sekolah. Aku bisa pastikan itu," balas Arunika lagi.


"Kalau emang bener, kita ajak mereka makan bareng yuk?" saran Adikara.


"Serius, Mas? Kamu mau dekat sama keluarga Brokoli?"

__ADS_1


"Seriuslah. Emangnya kenapa?"


"Kaget aja, Mas. Selama ini, kamu 'kan suka cemburu kalau Gala dan Ettan dekat sama aku."


"Pasti dong. Mereka itu laki-laki dan kamu perempuan. Gak baik peluk-pelukan. Apalagi di depan aku," kata Adikara manja.


"Ya, ya, ya. Aku paham maksud kamu, Mas. Tapi orang di perusahaan belum tahu siapa aku, Mas. Kalau tiba-tiba kamu sama kami itu kan aneh."


"Santai aja, Nyonya Suryo," balas Adikara.


Arunika cuma menoleh dan tersenyum kemudian.


Sampai di halaman parkiran perusahaan, Arunika melepas seatbeltnya.


"Aku duluan, Mas. Setelah aku masuk ke dalam lobi, kamu baru turun. Kamu mengerti?"


Adikara mengangguk disertai senyuman. "Siap, Ibu Bos."


"Sekarang, Mas Adikara tukang gombal," ejek Arunika. "Aku duluan ya, Mas," kata Arunika, kini menarik handle pintu, tapi gagal sebab Adikara menarik lengannya.


"Mas?"


"Mana sunnya, Sayang?"


Kedua mata Arunika berkeliling. "Disini tuh banyak orang, Mas."


"Di sini itu mobil, Run. Cuma kita berdua lho. Ayo, mana sunnya?"


"Mas?!"


Adikara tertawa. "Bonus, biar makin semangat."


Arunika mencubit pinggang Adikara, "genit banget sih, kamu Mas?"


"Itu semangat lho, buat suami kamu. Ayo turun sana," ucapnya mengingatkan.


Arunika hanya tersenyum sebelum turun dari mobil dengan mengendap-ngendap melihat situasi, akhirnya Arunika melenggang pergi dari tempat parkiran.


Lolos dari pintu otomatis perusahaan, Arunika berjalan menuju pintu lift.


"Nyonya Suryo," teriak seseorang menghentikan kedua langkah kaki Arunika. Kelopak matanya tertarik sempurna dan sempat berdiam diri sebelum melirik ke kiri dan kanan.


Para karyawan yang baru datang silih berganti itu menyoroti kehadiran petinggi perusahaan. Melihat ke arah siapa yang ia maksud barusan, mereka tampak terkejut. Apalagi, kini Adikara datang menghampiri Arunika yang sama sekali nggak niat berbalik menatapnya.


"Kamu nggak dengar aku panggil?" tanya Adikara dengan merangkul pinggang Arunika dengan terang-terangan dan dikaitkan ke sisi tubuhnya.


Arunika merapatkan gigi dan membentuk sebuah senyuman. "Mas, kamu nggak gila, 'kan?" bisiknya.


Seingat Arunika sarapan yang mereka makan bersama tadi itu tidak aneh menurutnya. Itu makanan yang sehat. Kenapa pula bisa merubah Adikara jadi kehilangan akal, pikir Arunika.


"Ayo, aku antar kamu ke ruangan." Dengan manisnya, Adikara membawa Arunika ke arah pintu lift khusus direksi. 

__ADS_1


Menjadi sorotan seluruh karyawan, Arunika menjadi kaku kayak kain kanebo kering.


Berada di dalam lift, akhirnya Arunika bisa bernafas lega.


"Kamu apa-apan sih, Mas?"


Arunika terlihat kesal menemui manik mata suaminya.


"Aku? Memperkenalkan istriku dengan caraku," balasnya santai.


"Dih, kok gitu jadinya. Aku jadi nggak bisa berpikir dengan baik ini. Kalau nantinya mereka jadi sungkan sama aku gimana, Mas?"


"Biasa aja. Anggap aja kamu artis," jawabnya santai.


"Tapi aku bukan artis, Mas, tapi Arunika."


Mendengar jawaban polos Arunika, Adikara malah tertawa geli. Susah, kalau lagi merasa gelisah gini, Arunika nggak bisa diajak bicara.


Suara pintu lift terbuka membuat Arunika waspada.


"Jangan bergerak, Mas!" cegah Arunika sebelum kedua kaki Adikara mengayun langkah.


Benar saja, Adikara dibuat berhenti seketika.


"Kenapa?"


"Pokoknya, kamu jangan bergerak sampai aku keluar dari sini, Mas." Perlahan-lahan, Arunika bergerak untuk keluar dari dalam lift dan memastikan Adikara tidak mengikutinya.


Setelah lolos dari depan pintu lift. Arunika berdiri berhadap-hadapan dengan Adikara yang kini tertawa kecil melihat tingkah lucu Arunika.


"Bye, Mas," katanya dengan melambaikan tangan ke arah Adikara, tepat saat kedua pintu lift tertutup.


Menghembuskan nafasnya. Kini, Arunika berbalik badan dan mendapati barisan para staf di lantai yang sama dengannya itu, menyambut kedatangan Arunika. 


Wanita itu berdiam, sesaat mendapati tepuk tangan dan senyuman dari karyawan yang ia kenal sebagai rekan kerja yang solid meskipun berbeda divisi.


"Wuhhh ... kita sambut kedatangan Nyonya Suryo. Maju, Run," teriak Ettan yang mulai berjingkat-jingkat di ujung sana. Ia rasanya malu mengenal Ettan sebagai sahabatnya.


"A-Ada apa ini?" tanyanya gugup, tapi tak berniat memaju langkah.


"Selamat datang kembali di perusahaan  SO Corp, Nyonya Suryo," kata Adikara dari belakang Arunika seraya merangkul pinggang istrinya. 


Ya, pria itu sempat naik 2 lantai sebelum akhirnya turun lagi ke lantai yang sama. 


Arunika yang kaget saat itu tak percaya dengan apa yang diperbuat sang suami tanpa sepengetahuannya. Inilah pengakuan Adikara Suryo di hadapan banyak orang. Bahwasannya, dia sudah memiliki seorang istri yang merupakan karyawan perusahannya sendiri.


Bersambung.


***


Ingat, tanggal 01 November nanti, kasi dukungannya ke karya baruku yang bakalan gantikan kisah mereka ini. Ya, poin dalam bentuk hadiah dukung aja di karya baruku. Kalau Vote masih bisa di sini. Makasih ^^

__ADS_1


__ADS_2