
"Semampuku akan memberikannya sebuah kebahagiaan." ~ Adikara Suryo.
...***...
"Ma ... Arun nggak bisa kayak gini. Kenapa mama nggak tunggui Arun datang dulu. Kenapa nggak mama kasi kesempatan untuk Arun buat ucapi kata terakhir dari Arun, ma. Kenapa ma ...."
Suara isak tangis Arunika Baskoro menggema mengisi ruangan VIP tempat di mana mama—Arun sempat dirawat dengan kondisi yang tidak stabil sejak subu hari sebelum menghembuskan napas terakhir. Sesungguhnya, Adikara sudah tahu hal itu dari Boy, setelah dihubungi lewat telpon. Sesuai permintaan sang kakak ipar, Adikara menyembunyikan berita tersebut dari Arun.
Berat, sejujurnya sangatlah berat untuk Adikara tidak membangunkan Arun dalam lelap tidur, setelah ia mendapatkan berita buruk dari keluarga Arun. Apalagi, sepasang mata yang terpejam dengan teduh di samping tubuhnya, membuat ingatan akan dirinya sendiri di masa kecil. Senyum yang terulas dari bibir Arun untuk sang mama saat pernikahan mereka berlangsung, pun terlintas jelas memenuhi pandangan mata Adikara.
Perlahan tangan tegap Adikara menyentuh pundak Arun yang naik turun karena isak tangis. Suara raungan Arun terus menelusup masuk ke dalam indera pendengaran Adikara. Ya, Hanya seperti itulah cara pria sepertinya memberikan penghiburan.
"Run, tadi mama sempat bilang sama Kakak sebelum pergi, kalau dia udah ikhlas. Jadi, kamu juga harus ikhlasin kepergian mama, Dek," ucap Arini di sela tangisan. Meskipun Arini juga merasa terpukul akan kepergian sang mama mertua yang selama ini tinggal bersama di kediaman keluarga Arun, sejak ia menikah dengan Boy hampir setahun lebih. Bagi Arini sendiri—mertuanya adalah sosok yang baik. Tidak pernah sekalipun melukai hatinya.
"Gak, Kak. Arun belum ikhlas. Arun masih butuh mama ...."
Tubuh Arun hampir ambruk di sisi ranjang pasien, syukurnya tangan Adikara cepat menampung dan menarik kembali ke dalam dekapan, hingga kepala Arun menyentuh dada bidangnya. Itulah alasan Adikara pagi tadi, meminta Arun untuk makan banyak karena dia tidak ingin Arun pingsan mendapati kabar buruk.
"Bawa Arun keluar dari sini, Bro," kata Boy setelah lolos dari pintu dan masuk ke dalam.
Adikara sejenak menyoroti kedatangan pria tinggi sedikit berisi itu, dan mengangguk kemudian. Setelahnya, Adikara menurunkan wajah menemui muka Arun di bawah sana.
"Ayo," ajaknya.
Arun menggeleng dan menarik diri dari dalam dekapan Adikara. "Aku nggak mau. Aku masih mau di sini."
"Ayolah, Run, kau juga butuh istirahat. Sekarang kalian pulang ke rumah, kita butuh siap-siap untuk para pelayat datang ke rumah kita," bujuk Boy lagi.
"Aku masih mau di sini, Bang. Aku mau lihat mama."
Adikara tak menunggu izin dari Arun. Ia kembali menautkan jemarinya di sela-sela jari Arun. "Jangan begini. Aku tahu kau bersedih. Sampai di rumah, kau masih bisa melihat mama. Di sini, masih banyak yang harus diurusi sama Abangmu, Run."
Perlahan wajah Arun mengarah tatap ke Adikara. Kedua mata yang masih menumpahkan cairan bening, kini membengkak dan memerah di area kelopak mata. Mulut Arun masih tertutup rapat-rapat. Ia tidak mengeluarkan sepata katapun saat ini.
Tatapan Adikara kembali meminta penuh harap, seoalah dia sedang membujuk seorang anak kecil kini.
"Bersedih boleh, Run. Tapi, biarkan Abangmu menyelesaikan semuanya di sini. Kita tunggu di rumah dan mengurusi hal lainnya. Ehemmm ...."
Baru sehari bersama Arun, membuat Adikara menghamburkan banyak kata-kata, ini bukan Adikara yang sesungguhnya. Dan pria itu paham betul, apa yang ia lakukan sekarang.
"Iya, Run. Kalian berdua juga masih lelah, kita pulang yuk," ajak Arini perhatian.
__ADS_1
"Kak Arini juga ikut?" Suara Arun terdengar sangat parau.
Arini mengangguk. "Iya, Dek."
Setelah merasa yakin, Arun akhirnya menyerah dalam genggaman tangan Adikara. Pria itu kini menuntun dia berjalan untuk keluar dari ruangan. Kedua mata itu hampir tak mengikhlaskan wajah mamanya yang masih terbaring tak lagi bernyawa di sana.
"Naik mobilku aja, Bro," ucap Boy memberikan kunci kontak mobil sebelum mereka keluar.
"Kami pulang, Bro."
"Maksih. Aku titip istri dan adikku."
Adikara hanya mengangguk, dan kembali menarik Auri sambil menarik kopernya. Mereka kini keluar dari dalam kamar menuju lift dan area parkiran.
***
Senja kini memenuhi langit yang membentang luas di area pemakaman. Adikara masih setia berdiri di samping Arun, yang tak ingin pulang setelah semua pelayat dan keluarga meninggalkan pemakaman sang mama, tepat di samping almarhum papanya.
Abangnya yang merasa tidak tega dengan sang istri yang sedang mengandung, juga memilih pulang lebih dulu. Sudah hampir satu jam Adikara menenemani Arun. Mendengar wanita muda itu menangis, meraung, bahkan berkata-kata penuh pedih. Adikara tidak bisa melalukan banyak hal. Dia hanya diam, dan tidak menggangu Arun dalam meluapkan kesedihan.
Bagaimana tidak, Adikara tahu selama ini Arun tinggal di Jakarta berjauhan dengan keluarganya. Wanita itu akan pulang sekali sebulan, untuk melihat kondisi mamanya yang mengidap jantung koroner dan komplikasi dengan penyakit lainnya. Jadi, Adikara tahu betul rasanya jadi Arun. Adikara pernah di posisi itu, tidak seperti Arun tuduhkan padanya.
Arun yang sempat tertunduk hingga membenamkan wajah di atas tanah kuburan, pun menarik wajah perlahan-lahan.
"Kalau Mas ingin pulang, pulanglah duluan. Aku masih mau di sini."
"Agh, kau ingin bersama hantu-hantu di sini? Baiklah ... aku pulang. Ini sudah hampir gelap," ucap Adikara mencoba memutar tubuh juga memaju langkah. "Agh." Adikara memekik sambil membungkuk.
Arun segera berdiri dari duduknya mendekati Adikara yang tertunduk seraya menyentuh kedua lutut.
"Mas ... kenapa, Mas?" Arun yang juga merasa lemas menguatkan diri menemui sang suami.
"Agh, ini rasanya sangat sakit. Kakiku banyak semut," ucap Adikara memejamkan mata menahan sakit.
Arun menggenggam lengan Adikara, dan mengajaknya untuk duduk sejenak. "Ayo, kita duduk dulu."
Kelopak mata Adikara terbuka sempurna. Sekilas dia menemui mata Arun yang kini seperti kena tumbuk.
"Kita pulang aja," jawab Adikara kini.
"Hanya sebentar."
__ADS_1
Mau tidak mau, Adikara menurut pada Arun. Istrinya itu meminta dia untuk duduk sebentar sambil meluruskan kedua kaki di tengah-tengah makam kedua orang tua Arun. Mereka berdua duduk bersisian, dan tidak berkata-kata. Adikara sibuk menyentuh kedua kakinya.
"Maafkan aku, Mas." Setelah beberapa menit terjedah keheningan, akhirnya Arun membuka suara.
Adikara menoleh ke arah Arun. "Untuk?"
Tanpa membalas tatapan Adikara, Arun kembali berkata, "karena sudah membiarkan Mas berdiri sejak tadi."
"Tidak masalah."
Kembali Adikara menatap pada kakinya. Sedangkan Arun sendiri, membawa wajah melihat ke arah Adikara setelah tahu pria itu tak lagi menatapnya.
"Apa Mas marah?"
Adikara hanya menggeleng dalam diam, membuat Arun kembali berdiam dalam kesedihan.
"Besok aku akan membawamu kembali ke sini. Sekarang, aku ingin kau pulang. Membersihkan diri, setidaknya mengisi lambung juga menyegarkan kerongkonganmu. Kau harus ingat alasan aku menikah denganmu, itu semuaa karena mama ingin aku menjagamu. Jadi, aku mohon jangan membuatku ingkar janji dengannya," ujar Adikara panjang lebar, seraya menatap Arun lekat-lekat.
Arun kembali mengucurkan air mata bila mengingat pernikahannya. Inikah alasan mama buru-buru memintanya menikah? Sekarang Arun sudah tahu jawabannya, kenapa sang mama akhir-akhir itu meneror untuk cepat menikah. Mungkin saja, dia sudah merasakan pertanda akan hidupnya. Atau, Arun juga tidak tahu kalau kondisi sang mama memang sudah memburuk.
"Makasih, Mas."
"Untuk?"
"Karena mau menerima permintaan mama untuk terkahir kalinya."
"Tidak semuanya karena mama."
Kembali Arun menemui mata hitam Adikara. "Maksud, Mas?"
Adikara mendesahkan naps ke udara. "Ayo kita pulang."
Adikara berdiri lebih dulu sambil menepuk bagian area bokong, ia membersihkan tanah yang lengket, tanpa menunggu Arun untuk segera mengikutinya berjalan menjauh dari pemakaman.
...Bersambung....
...***...
Aku update saat likenya di NovelToon nembus 100 dan komentarnya 30 ^^
Hahahah ... makasih kakak semuanya. Dukungannya jangan lupa ya.
__ADS_1