
"Davia," teriak Davina, sang Mami dari lantai bawah. Tepat di depan anak tangga pertama, berdiri dengan berkacak pinggang. Namun, tidak ada jawaban yang didapat wanita paruh baya itu, dari si empunya nama.
'"Daviana Kyara Smith!" Sekali lagi, dia berteriak mengudarakan nama sang putri. Kali ini lebih lantang dari sebelumnya.
Mendengar nama lengkapnya sukses disebut sang Mami, mau tak mau Daviana yang masih berdiri tepat di depan kaca sembari menyisir rambut panjang hitam bergelombang, pun teralihkan. Dia bergegas pergi keluar dari kamar.
"Apaan, sih, Mi, pagi-pagi udah teriak-teriak begitu? Kayak ada kebakaran aja?" tanyanya dengan bersungut-sungut, tepat di ambang anak tangga atas. Dia mendapati ibunya sedang berkacak pinggang dan juga menatap sinis, seperti hendak ingin melahapnya saja sebagai santapan pagi.
"Iya, memang ada yang kebakaran! Cepat kamu turun," perintahnya tegas, dan disambut tangan yang melambai ke arah Daviana.
Daviana sejenak berdiam sebelum benar-benar sadar akan perkataan ibunya itu.
"Mami serius?"
Kedua kaki pun berjalan beriringan menuruni anak tangga, dikuti dengan bola mata yang tak melepas wajah sang ibu, yang sebenarnya sedang menahan tawa di sana.
"Iya, ayo cepatan lari. Nanti bahaya lho."
"Sabar, Mi. Anak tangganya kebanyakan sih."
Keduanya tergesa-gesa ke arah pintu. Tangan Davina berhasil merangkul pundak putrinya yang kini ia giring ke arah pintu keluar.
"Mana kebakarannya, Mi?" Bola mata Daviana berkeliling, mengedar ke seluruh area pemukiman sekitar rumahnya. Tatkala, mereka tiba di depan pintu mengarah ke pagar rumah yang tertutup oleh gerbang putih menjulang tinggi tanpa cela sedikit pun.
Davina menyengir. "Serius amat sih, Nak? Mami cuma becanda lho."
"Lah, Mami segitunya, ih? Kalau tadi jantung Davia nggak terkontrol, gimana? CK! nggak enak nih becandaannya. Mami usil banget,” celetuknya dengan bibir memberut. “Terus, apa sekarang? Ada tujuannya 'kan teriak-teriak dari bawah buat Davia turun sampai keluar rumah?"
__ADS_1
Alis Mama Davina terangkat sebelah dengan gerak kepala yang mengarah pada lahan parkiran mobil.
"Jodoh kamu tuh datang."
Daviana tentu mengarahkan pandangan yang dimaksud oleh Maminya. Ada kebingungan yang menyergap seketika. Terlihat dari kening yang mengerut dari pandangan tidak paham dengan kelakukan Maminya yang super duper heboh.
"Jodoh apaan? Hantu, Ma?"
Daviana kembali melirik pada Davina. Dia hanya bisa melihat mobil mewah di samping mobil miliknya sendiri.
"Isss! Jodoh manusia dong. Calon menantu yang udah mami gadang-gadangin sejak kemarin buat kamu lha. Ini juga papi yang seleksi langsung lho untuk kamu. Kamu, sih, kelamaan jomlonya. Nggak kasihan sama Mami dan papi yang udah tua begini?" Kalau sudah keluar jurus tenaga dalam sang Mami, Daviana Cuma bisa pasrah dan nggak bisa melawan atau menjawab dengan sesuka hatinya.
Daviana mendesahkan napas. "Mami kusayang yang cantik jelita bak bidadari dari khayangan. Jodoh itu akan datang kalau sudah waktunya, Mi. Kalau belum? Masak, iya, dipaksain sih, Mi? Mau jadi apa entar?"
"Daviana Kyara Smith, putri tunggal keluarga Smith, anak kesayangan Mami dan papi satu-satunya yang cantiknya kayak Son Ye Jin—calon istrinya Oppa Hyun Bin. Kalau jodoh nggak dicari, kapan datangnya itu jodoh? Emangnya bisa turun dari langit? Kamu ini dikasi tahu, malahan terus menghindar sih, Nak? Udah sana, jemput Hyun Bin dulu. Dia malu mau turun waktu Mami ajakin turun." Davina mendorong pelan pundak sang anak agar bergerak pergi ke area carport.
Tapi kelewat amat disayangkan. Maminya tak tersentuh oleh kata-kata Daviana. Tangan Davina malah semakin mengusir dirinya untuk mejemput sosok lelaki di dalam mobil sport berwarna merah itu.
“Mas?” Daviana mengetuk kaca tanpa ragu.
“Kak? atau Om, sih? aku jadi bingung,” katanya sambil menanti kaca mobil yang tampak gelap di luar. Davia tidak tahu rupa orang tersebut di balik kaca mobil itu, hingga tak bisa menyesuaikan panggilan yang tepat untuknya.
Bukan kaca mobil yang terbuka, melainkan terdengar suara pintu mobil terbuka. Davia pun mundur beberapa langkah.
“Davia, ya?”
“Ngah, agh, iya. Kamu?”
Lelaki itu mengulurkan tangannya ke arah Davia. “Raili Sakya Kandara. Biasanya di panggil Rai.”
“Kirain Raisa,” batin Daviana.
Pagi yang semula dihebohkan karena sang Mami, tergantikan dengan keindahan yang tak pernah Daviana bayangkan sebelumnya. Bagaimana tidak. Ia berpikir kalau dipertemukan dengan daging segar, siap untuk disantap di pagi indah nan cerah ini. Lelaki dengan tubuh berisi di balik kemeja casual berwarna biru langit itu tersenyum ke arahnya.
“Namaku Daviana, Kak. Tapi orang-orang sering manggilnya Davia. Umur sekalian nggak, Kak?” tanya Davia nyeleneh seraya membalas jabat tangan Raili.
__ADS_1
“Kalau berkenan,” jawab Raili. Dia tertawa geli dengan tingkah Daviana yang sangat friendly sama dia.
“Umurku baru 27 tahun, Kak. Tua banget, ya?”
Keduanya melepas jabat tangan mereka dan saling melirik tanpa canggung. Raili berasa emang langsung nyaman dengan gadis pilihan sang papa. Ya, keduanya dijodohkan oleh papa mereka dengan persetujuan dan tanda tangan dari kedua mama masing-masing di atas kertas.
“Nggak juga, Davia. Umurku 31 tahun. Kamu benaran masih jomlo? maaf kalau lancang,” kata Raili sedikit cemas.
Yang ditanya malah ketawa-ketiwi nggak jelas. “Nggak apa-apa, Kak. Kamu itu orang ke tiga puluh yang tanyain begitu ke aku. Lihat Mamiku yang berdiri di sana itu,” tunjukknya ke arah Davina.
Seketika Raili mengikuti telunjuk Daviana. Wanita paruh baya yang sejak tadi melihat ke arah mereka, kini melambaikan tangan ke udara dan diarahkan ke mereka. Raili mengangguk memberikan salam dari kejahuan.
“Kenapa dengan Mamimu?”
“Dia adalah orang yang pertama dan kedua puluh sembilan kali mengajukan pertanyaan yang sama dengan Kak Rai. Kamu yang menggenapinya, Kak. Dan jawabannya seperti ini dan sesuai kenyataan. Aku memang jomlo. Yuk, kita masuk. Bisa-bisa aku kena marah ngebiarkan Kakak di sini berlama-lama.”
“Agh, i-iya,” balas Raili gugup.
“Kalau di tanya-tanya Mami soal rencana kedepannya, nggak usah ditanggepi serius, ya. Atau, katakan saja yang sesungguhnya. Bilangi, kalau aku itu udah ketuan buat kamu, Kak, nggak sebanding dengan umur Kakak. Okay?” Kesepakatan mulai direncanakan oleh Daviana.
Raili semakin tertarik dengan sikap ramah dari Daviana. Gadis di sampingnya itu tidak sedikitpun menunjukkan kecanggungan selama mereka bersama. Sebaliknya dengan Raili—lelaki yang banyak diam dan memilih menghabiskan waktu untuk bekerja di hari-hari biasa, malah terkesan sangat terbuka dan nyaman ada didekat Daviana.
“Baiklah.”
“Ingat, Kak, kalau aku ini nggak cocok sama kamu. Atau katakan aja aku sudah sangat tua dari segi umur yang kamu cari. Mamiku kayaknya suka banget sama kamu soalnya.”
“Oh, ya? Kok bisa? Gimana ceritanya?”
Daviana terdiam sejenak, lalu ia berkata, “tadi itu, Mami jam segini udah teriak-teriak dari bawah kayak sirene pemadam kebakaran yang lagi lewat. Ya, aku pikir ada kebakaran beneren. Gak tahunya, Mami bilang begini: jemput jodoh kamu tuh,” ucapnya meniru perkatan maminya. Sontak Raili tertawa lepas seketika.
“Awas masuk angin, Kak.” Raili terus tertawa mendengar joke receh Daviana.
Davina memandang keakraban yang terjalin indah di hari pertama anak dan calon suami yang dipilihkan Dave Smith, suaminya. Besar harapan Davina, agar putri sematang wayangnya bisa bersanding di pelaminan bersama Raili.
Seperti pagi ini, tawa Raili yang terlihat tulus dan bersahabat sambil berjalan tepat disamping Daviana, tak membiarkan selangkah pun kaki putrinya itu mendahului dia. Sudah cukup kuat sebagai penilaian pertama tentang Raili Sakya Kandara.
Baca selengkapnya di aplikasi K B M A p p judulnya Jodohku Ternyata Kamu atau nama penaku putritritrii
Tolong bantu klik berlangganan ya, kak. Mohon dukungannya. Tolong jangan tanya kenapa nggak di sini? di sini udah ada Mas Adikara dan Arun sampai TAMAT. Jadi, buat kalian yang bersedia bantui saya mampir di aplikasi hijau dan klik berlangganan. Terima kasih banyak ^^
__ADS_1