Hatimu&Hatiku

Hatimu&Hatiku
Surprise Ketemu Surprise


__ADS_3

"Mas ... kamu waras, 'kan?"


 


Adikara tersenyum masih memandang ke arah depan sana. Di mana semua karyawan berkumpul memberikan selamat dan masih tak melepas tangannya dari pinggang Arunika.


 


"Masihlah. Karena aku waras ingin mengenalkan kamu pada semua orang di sini."


 


"Selamat ulang tahun, Run," bisik Adikara kini.


 


Elena datang dari arah belakang kerumunan karyawan di lantai 10 itu dengan membawa cake di tangannya. Pun dengan Erica yang juga membawa cake di tangannya. Kedua gadis kembar itu datang ke arah Adikara dan Arunika.


 


Lagu selamat ulang tahun berkumandang di sana. Arunika semakin tidak percaya dengan Adikara yang sekarang.


 


Di sana, Ettan terjingkat senang bersama para sahabatnya yang juga gak kala senang terkecuali si Gala.


 


Dia bersedekap memperhatikan Adikara. Melihat pria itu, dia masih saja kesal akan kejadian kemarin menimpa Arunika.


 


"Kenapa muka lo?" tegur Ettan dan menyikut Gala.


 


"Kenapa emangnya?"


 


"Lo patah hati ya. Gue lupa," ejeknya dan terkekeh.


 


"Patah hati apaan?" Gala bertanya gak kalah kaget dengan ekspresi wajah si Ettan.


 


"Itu lho, si Elee. Udah tunangan aja sama laki-laki lain. Lho nggak lihat cincin tunangannya?"


 


Gala malah menoleh ke arah Elee yang terlihat sangat bahagia ke arah Arunika yang kini sedang memejamkan kedua tangan untuk mengucapkan permintaannya sebelum meniup lilin.


 


Lo nggak tahu aja, dia itu calon bini gue, Tan. Hahahahaa.


 


Seperti setan yang mengusik hati, seperti itulah Gala.


 


"Nggak usah pala dilihati kali, Gal," tegur Ettan. "Lo relakan saja si Elee. Kan, lo yang nggak mau sama dia. Tiba orangnya udah jadi milik orang, lo baru tahu arti kehilangan, 'kan?"


 


Lirik sinis terarah ke Ettan. "Sok bijak lo!"


 


"Kenapa ribut-ribut, sih? Itu si Arun di depan ulang tahun lho, dan itu tandanya surprise kita gagal. Pak Adikara ternyata sweet banget sih. Gue jadi pengen dapat calon suami kayak gitu." Elee merangkum kedua pipinya sendiri dengan mata memuja ke depan sana. Itu menjijikkan bagi Gala.


 


Sudut bibir Gala tertarik ke atas. Dia seolah mengumpat Arunika dalam hati.


 


"Yeeee ... ayo kita kasih selamat ke Arun." Dita hendak memaju langkah ke depan, tapi ditarik Ettan lebih dulu.


 

__ADS_1


"Apaan sih, Setan?!" 


 


"Astaga, Tata. Ini masih surprisenya dari keluarga suami dia. Kenapa lho jadi sibuk sendiri?"


 


Dita membolakan mata. Sesekali dia lihat Ettan dan menoleh ke arah Arunika dan keluarga suaminya.


 


"Si kembar itu adik iparnya Arun?"


 


Elee yang mengangguk. "Iya, masa lo nggak ingat Arun cerita."


 


"Lho, apa iya?"


 


"Astaga ... masih anak gadis saja sudah pelupa. Kayak mana kalau lo punya suami dan anak?" Ettan mencibir.


 


"Dih, yang penting suaminya bukan lo!" geram Dita.


 


Elee tertawa senang mendengar pertengkaran Ettan dan Dita itu. Sesekali pula, ekor matanya melirik ke Gala yang sibuk memperhatikannya sejak itu.


 


Lirikan matamu nggak pernah berubah, Galaaaa.


 


Teriakan hati Elee seakan sampai di gendang telinga Gala.


 


 


Bohong! Waktu berduaan aja lho nggak gitu. Gue sampe nggak ngenalin lo, Gal.


 


Lo bakalan tau kayak mana gue, Elee. 


 


"Woi!" teriakkan Ettan membuat keduanya kaget.


 


"Apaan sih, Setan?" Elee marah dengan menyentuh dadanya yang sempat ikut terlonjak karena kaget.


 


"Itu, dipanggil sama Pak Adikara," cicitnya penuh desakan.


 


Gala dan Elee sama-sama menoleh ke depan. Dan benar saja yang dikatakan oleh Ettan. Bukan Adikara dan Arun saja yang memandang pada mereka. Pun dengan seluruh karyawan yang sedang berkerumun di sana.


 


"A-ada apa, Tan?"


 


"Lo berdua jahat ya!" ketus Dita kini. 


 


"Apaan?"


 


"Lo berdua tunangan. Itu Pak Adikara yang umumkan." Dita bersedekap dengan bibir yang cemberut.

__ADS_1


 


"Saya ulang sekali lagi," kata Adikara dari posisinya. "Saya pribadi mewakilkan direksi perusahaan mengucapkan selamat untuk Elee dan Gala yang sudah bertunangan. Karena di sini ada dua kabar baik, saya mau kita semua merayakannya nanti saat jam makan siang. Ini khusus buat kalian aja. Jadi, nanti asisten pribadi saya yang akan mengurusnya. Kalian boleh makan sepuasnya."


 


Suara tepuk tangan dan sorak mengiringi di sana. Adikara dan Arunika saling bersitatap.


 


"Kamu sangat cantik," bisik Adikara. "Andaikan ini di rumah, aku pasti melahapmu, Run," katanya lagi mendapati cubitan di pinggangnya.


 


Arunika kembali melirik ke arah lain dan berkata, "kamu jangan genit di sini, Mas. Ini perusahaan lho, aku malu."


 


"Bang," panggil Elena.


 


Adikara menoleh ke sisi kanannya. "Ya?"


 


"Bang Adi umumkan di depan karyawan apa ini tidak mengerikan? Nggak boleh menikah sesama karyawan, Bang. Bukankah itu peraturan dari dulu di sini?"


 


Arunika terlonjak mendengar itu.


 


Adikara malah tersenyum kemudian menjawab, "Gala akan keluar dari sini, El. Dia udah konfirmasi langsung dua hari lalu sebelum pertunangannya?"


 


"Benarkah?" Arunika yang kini kaget bukan main. 


 


Sejak kapan mereka akrab?


 


"Iya," balas Adikara. "Baiklah, tugasku untuknya sudah selesai. Dan acara kamu siang ini bersama mereka ya. Erica dan Elena sama mama akan datang nanti malam buat acara dari keluarga. Bersenang-senanglah hari ini, Nyonya Suryo. Ini hari spesialmu," katanya dang mengusap puncak kepala Arunika serta mendaratkan satu kecupan di sana tanpa malu.


 


"Aku kembali ke ruangan," sambungnya lagi. "Elena ... tolong atur di sini, sesudah itu kalian boleh kembali ke ruangan. Ansel akan datang 1 jam kemudian. Jadi, tolong bantu Abang kalian dulu."


 


Setelah mendapatkan jawaban dari kedua adiknya, Adikara melangkah pergi dari sama menuju lift.


 


"Apa dia itu Adikara yang kita kenal?" Arunika bertanya pada kedua adiknya yang kini malah terkekeh.


 


"Mbak Arun nggak tahu aja kayak mana bucinnya Mamas kita. Ini masih sebagian lho, Mbak."


 


Ketiganya tertawa bersama-sama. Setelah membicarakan Adikara, Elena dan Erica meminta karyawan untuk kembali ke ruangannya masing-masing hingga mereka sendiri pun undur diri untuk kembali ke aktivitas.


 


Arunika yang baru saja datang ke arah ruangannya mendengar suara keributan dari 4 sahabatnya.


 


"Ada apa dengan kalian?"


 


Bersambung.


***


Maaf, kayaknya aku bakalan TAMAT kisah mereka di bab ke 60. Biar gak bertabrakan dengan karya baruku yang judulnya Gravity Of Love di sini. Makasih

__ADS_1


 


__ADS_2