
Tatapanmu bagaikan gunung es yang takkan pernah mencair habis." ~ Arunika Baskoro
***
Pria itu pergi begitu saja tanpa memberikan jawaban atas ucapannya barusan. Berdiri dengan sisa tenaga yang ada, menatap sejenak ke arah kuburan di mana kedua orang yang paling kusayangi itu kini berada.
"Ma ... uda ketemu sama papa, 'kan? Arun sekarang ikhlas kok ma, asal mama bahagia. Sampaikan salam Arun sama papa ya, Ma. Terima kasih karena uda pilihkan Arun pria sebaik Mas Adikara. Kedepannya, Arun akan coba menjadi seperti mama untuk papa."
"Kau masih mau di sana?"
Suaranya menggema dan terdengar lantang hingga ke sini. Kupikir, dia sudah keluar dari pemakaman menuju area parkiran. Ternyata tidak, dia menungguku.
"Ma, pa, Arun pulang."
Mengayun langkah dan berjalan masih dengan penuh luapan kesedihan ke arah di mana pria itu berdiri tegak di tengah-tengah jalur masuk dan keluar pemakaman, wajah itu terlihat sangat mengesalkan dikala dia menatap dingin seperti embun yang menguap di pagi hari. Agh, dia memang memiliki caranya tersendiri sampai saat ini. Mari kita perhatikan pilihan mama di depan sana sambil berjalan mendekatinya.
Dia adalah pria tinggi dengan postur tubuh yang sangat dominan. Mungkin saja 175cm berbeda 15cm dariku. Berkaki panjang dan bertubuh padat seolah dia memang menjaga bentuk tubuhnya. Potongan rambut samping dan belakang yang dipotong tipis, namun bagian atas dibiarkan sedikit panjang adalah trend yang disukai anak muda zaman sekarang. Bisa ditebak, kalau Mas Adikara memiliki fashion yang mengikuti zaman. Sadarlah Arun, suamimu itu masih berumur dua puluh sembilan tahun bulan depan. Dia masih tergolong anak muda, bukan?
Bola mata hitam itu kini kudapati, sesaat kami saling berhadap-hadapan. Jelas sekali dia memiliki wajah yang cukup sempurna. Hidungnya tegas dan mancung, dilengkapi dengan bibir bervolume dengan belahan tengah dibawah, sementara dagunya runcing memperketat rahangnya yang mendominasi. Hanya satu bekas jerawat di bagian keningnya. Tapi, samar karena kulit wajah itu tergolong putih.
"Kenapa menatapku? Jalan ...."
Dia hanya menjadi seorang pria yang irit bicara. Setelah memintaku jalan, dia memutar tubuh dan melangkah menggunakan kakinya yang panjang, tanpa memintaku untuk berjalan di depannya.
Masing-masing dari kami melangkah dalam keheningan yang memeluk erat tanpa sepatah kata pun. Hanya desiran angin dari pepohonan yang mengantarkan kami keluar dari sini. Punggung bidangnya tampak menggemaskan. Ya, meskipun mata ini rasanya membengkak dan perih, tapi pandangan soal itu masih sangat jelas terlihat.
"Siapakah dia sebenarnya?"
Sampai di area parkiran, jangan bermimpi kalau pria itu akan membukakan pintu mobilnya untukku. Berjalan mendekati jok mobil depan, aku mengikutinya setelah dia masuk lebih dulu.
Dia melajukan mobil dengan kecepatan sedang, hingga kami menjauh dari area pemakaman dan menembus jalanan kota Depok yang sudah menggelap. Keheningan tetap bersama kami, tanpa adanya percakapan atau pun basa-basi.
Tubuh ini di sini, tapi hati dan pikiran terbang ke mana-mana. Dan kalian tahu? Sejak kepergian mama hari ini, entah ke mana perginya semangat seorang Arun. Rasanya tidak berguna atau tidak semangat untuk memikirkan keadaan ke depan tanpa mama.
Tidak menghabiskan waktu sampai satu jam, akhirnya kami tiba di rumah. Perlahan menarik sabuk pengaman, pria itu turun lebih dulu dan kususul. Dia mendekatiku, dan menatap dengan teduh kali ini.
"Sampai di kamarmu segera bersih-bersih dulu dan kemudian makan malam dengan yang lainnya."
"Aku hanya tidak bernafsu untuk makan."
"Ikuti saja yang kukatakan," balasnya datar.
Aku mendesahkan napas ke udara. "Baiklah. Apa Mas ikut ke dalam?"
Dia menaikkan salah satu bahunya. "Tentu saja, aku suamimu. Apa kau lupa? Ayo ... masuklah."
Ucapannya mengandung es satu ember. Dia mengajak masuk, tapi sama sekali tidak menunggu istri yang sedang berduka cita. Apakah dia benar-benar tidak punya hati?
__ADS_1
"Agh, pria yang sangat perhatian."
Sebelum memaju langkah mendapati dua mobil yang terparkir di area lahan rumah kediaman orang tuaku. Rumah yang dibeli oleh papa untuk mama saat dia berulang tahun ke lima puluh tahun, tepat di hari jadi pernikahan mereka. Dan kini, akan menjadi rumah penuh kenangan. Soal mobil, aku mengenali pemiliknya.
"Kalian kembali?" Bang Boy bersemangat menyambut kedatangan kami dari depan pintu, meskipun aku tahu dia sama denganku. Ternyata dia menunggu tepat di depan pintu.
"Iya, Bang," jawabku sembari mengangguk pelan.
"Kau tahu siapa yang datang 'kan, Run? Sekarang, bawa dulu Adikara ke kamarmu. Biarkan kalian beristirahat."
Aku membeliakkan mata. "Kami satu kamar?"
Bagaikan kena sambar petir, Bang Boy terlihat sangat terjekut. Dia menatap seperti orang kebingungan saja.
"Apa kau lupa kalau Adikara adalah suamimu, Run?"
Pertanyaannya mengundang mataku untuk menoleh ke arah Mas Adikara, dan pria itu ternyata sudah menatapku lebih dulu.
"Maaf, aku benar-benar lupa soal itu, Bang."
"Astaga, Arun, jangan mengulangi hal seperti itu kedepannya. Kau sudah jadi seorang istri, Dek."
Benar-benar alasan yang salah. Aku bukan lupa, hanya menakutkan saja untuk satu kamar dengan pria sepertinya.
"Baiklah. Biarkan aku masuk dan menyapa sahabatku lebih dulu, Bang."
"Mama Brokoli." itu Elee, sahabatku si penyuka drama apa pun yang menurutnya bagus dan layak buat dijadikan bahan gibahan di office.
"Sini peluk anak kedua Brokoli." Dia melebarkan kedua tangan dan menyambut kedatanganku. "Aku turut bersedih untukmu, Sayang," ucap Elee dengan tangan mengusap kepalaku.
Sekejap aku runtuh dalam dekapan Elee. Air mata yang sempat mengering, pun kembali mengucur.
"Mama uda nggak ada, El," aduku padanya dan terisak.
"Ada kami, Run. Masih ada Papa Brokoli, Adik Brokoli, dan Kakak Brokoli. Kita keluarga Brokoli. Ingat, masih ada kami untukmu," kata Gala saat itu juga.
Gala dia sahabat yang mirip sama Mas Adikara, sangat irit bicara, namun dia sangat penyayang. Sekali emosionalnya meledak, aku merasa berharga untuknya.
"Iya, Run, masih ada kami."
Aku dan Elee melepas pelukan. Dibalik air mata ini, kupandang semua sahabatku berdiri dan melebarkan pelukan.
"Kemarilah, Sayang." Etan datang mendekat dan mengambil tubuhku masuk ke dalam dekapan.
"Aku runtuh, Tan," kataku dibalik pelukannya. Kurasakan tubuh Etan ikut bergetar hebat. Dia menepuk-nepuk pundakku dengan pelan.
"Mama Brokoli yang malang. Bagaimana bisa berketepatan seperti ini," ucap Etan. Suaranya parau.
__ADS_1
Baru menarik wajah dari atas pundak Etan, kudapati Mas Adikara ternyata berdiri di depan pintu masuk ruang tamu. Dia menatapku, dan tatapan itu terlihat sangat berbeda.
"Aku ikut bersedih atasmu, Sayang." Gala pun datang ikut memeluk tubuhku dan Etan dengan erat. Mereka memang pintar menghibur.
"Agh, aku benar-benar tidak tahu bagaimana cara sang pencipta memberikanmu hadiah di saat hari pernikahanmu dengan manusia es, Arun," kata Dita membuatku terkejut.
Kini semua mereka datang ke dalam pelukan. Perasaan sedih pun sedikit berkurang melepaskan segala beban dan lelah untuk sesaat.
"Keluarga Brokoli, berikan waktu sebentar untuk Arun berganti pakaian, atau sekadar mencuci muka. Selesai itu, kita makan malam bersama. Oke ...."
Semuanya melepas satu sama lain, dan melayangkan pandangan ke arah Bang Boy dan Mas Adikara di sampingnya.
"Silahkan, Bang," jawab Etan.
"Astaga ... manusia es itu ternyata di sini. Mati aku," gumam Dita takut.
Gala yang berdiri di sisi kanan, menyentuh puncak kepalaku.
"Pergilah untuk bersih-bersih. Kau butuh mandi agar bisa mengembalikan wajahmu yang cantik itu," ucap Gala dengan seulas senyuman.
Aku mengangguk. "Iya, jangan pulang dulu sebelum aku turun."
"Tidak akan, Run. Kami bermalam di sini untukmu. Besok subuh, kami berangkat dan kembali untuk langsung bekerja." Etan mengatakannya penuh semangat.
"Benarkah?"
"Hemmm ... kami yakin kau lebih membutuhkan kami, dari pada gunung es, 'kan?" sambung Elee kemudian menatapku sekilas dan berpindah ke Mas Adikara.
Sejurus aku melirik ke Mas Adikara yang masih menatapku lekat-lekat. Entah tatapan macam apa itu sekarang.
"Hah, baiklah. Kalian duduklah lebih dulu. Rumah ini sudah seperti rumah kalian juga, 'kan? Tolong jangan sungkan atau malu-malu," ucapku mengingatkan. Mencairkan rasa ketidak enakan pada suami di sana.
"Bukan malu-malu, tapi malu-maluin. Dan kau tau jelas soal itu, Run. Sudahlah, pergi sana. Kau banyak bicara." Etan mendorongku mengarah pada tangga.
Sebelum memutar tubuh untuk menaiki anak tangga, kudapati Mas Adikira berjalan ke arahku. Secepat yang kubisa, lebih dulu untuk naik di anak tangga pertama. Ya, dia mengikutiku berjalan naik ke atas.
Sampai di depan pintu kamarku, rasanya aku benar-benar malu. Bagaimana tidak, di daun pintu kamar itu tertulis sangat jelas ungkapan hati seorang Arun saat ditinggal pacar brengseknya.
"Sejenis buaya darat dilarang masuk," ucap Mas Adikara membacanya. Dia kini berada tepat di belakangku, ketika wangi parfume milik pria berhasil masuk ke dalam hidung.
Sekilas memejamkan mata untuk beberapa detik, dan buru-buru menarik handle pintu, lalu mendorong ke dalam. "Silahkan masuk," ucapku.
"Apa kau sering mengundang buaya ke tempat ini?"
Bersambung.
***
__ADS_1
Maaf lama update. Hihihihi, kadang reviewnya lama. Di w a t p a d d, aku juga publish karena di sana gak ada sistem review. Tolong kasi dukungannya ya. Makasih untuk like, komen, vote, hadiah, bahkan tips. ^^