
"Caramu memandangku dengan tatapan tulus, dengan cara itu pula mampu menyadarkanku betapa berharganya kamu di hidupku."~ Adikara Suryo.
****
Kembali ke kamar setelah menyantap sarapan pagi yang telat untuk dinikmati bersama setelah bertukar keringat dengan waktu yang cukup lama, pun dilakukan Arunika.
Ia merasa agak takut melihat perubahan dan tumbuh kembang seorang Adikara, yang hanya membutuhkan dua hari lamanya, agar bisa mendapati sisi sebenarnya dari suami Arunika itu.
"Aku rasa di dalam tubuhnya kekurangan cairan. Aneh bin ajaib, kalau dilihat dari sisi manapun." Dia bergumam seraya berjalan menuju lemari pakaian.
Sejak omongan Adikara terakhir soal anak, Arunika berhenti berbicara dan hanya mendengarkan ocehan suaminya yang semakin lancar saja dan bebas hambatan tentunya. Berasa, kalau diri Adikara berubah bentuk menjadi diri Arunika.
"Apa dia memang sudah gila?" Menarik salah satu gantungan baju dari dalam lemari, Arunika memiringkan kepalanya. Ia berpikir sejenak untuk mencerna perubahan sikap pria itu.
"Aku nggak gila, Sayang." Suara itu terdengar bersamaan dengan langkah kaki yang berjalan masuk ke dalam ruang kamar.
Arunika terlempar kembali ke alam sadarnya. Sekilas melihat ke Adikara, buru-buru tangannya menutup pintu lemari dan berjalan menuju kamar mandi dengan langkah lebar.
Adikara menggeleng dan tersenyum melihat reaksi Arunika yang ketakutan melihatnya. Dia sendiri saja bingung dengan sikap dan perubahannya yang signifikan.
"Aku merasa lebih nyaman jadi diri sendiri," gumamnya bangga.
Pria itu kembali memaju langkah dan menggeleng kepala. Melakukan hal serupa seperti Arunika, kini dia berada di depan pintu lemari untuk mengambil pakaian ganti.
Lain pula dengan Arunika yang sedang berada di dalam kamar mandi. Dia mendesahkan napas ke udara karena merasa lega bisa lolos dari intaian sang suami.
Arunika merasa gak wajar saja, kalau Adikara ingin selalu nempel kayak perangko sejak kemarin. Dia merasa perubahan Adikara yang tiba-tiba itu seperti sebuah ancaman baginya.
"Kamu bahkan semena-mena sama tubuhku, Mas," gerutunya, sebelum memulai aktivitas mandi untuk kedua kalinya. Arunika uda siap-siap sebelum hal yang ia pikirkan terjadi.
Hampir lima belas menit, akhirnya Arunika selesai dari mandi. Ia keluar dengan mengenakan pakaian rumah seperti kaos oblong putih dengan celana pendek biru berbahan satin di bawah lutut.
Adikara segera melirik ke arah belakang saat merasakan ada sesuatu yang lewat di balik badannya. Berdiri di depan pembatas balkon kamar menanti sang istri selesai mandi.
Dia tersenyum mendapati Arunika berjalan mengendap-ngendap, agar tak menimbulkan suara.
"Mau main petak umpet?" teguran Adikara sukses menghentikan langkah kaki Arunika.
Arunika berkerut kening seraya memejam singkat kedua matanya. Dia kedapatan terang-terangan mau meninggalkan kamar. Melirik ke arah kanan, Adikara lebih dulu mendekat dan memeluknya.
"Ak—"
"Santai aja, Run."
Arunika menghembuskan napas berat. Wajahnya bersandar di bidang dada milik Adikara. Itu adalah tempat terlemah Arun dan sebagai bukti pahatan sang pencipta yang paling istimewa dari sang suami.
Mendengar irama detak jantung milik Adikara yang sangat menenangkan baginya, adalah hal yang paling ia syukuri bisa memiliki pria itu dengan utuh sekarang.
"Kamu aneh, Mas. Aku jadi malu."
Adikara di atas sana tersenyum. Dia masih mengusap puncak kepala Arunika penuh sayang dan kelembutan. Membelai helaian rambut Arunika yang terasa lembut di telapak tangannya dan aroma kelapa yang menyeruak masuk ke indera penciumannya. Adikara hafal betul bau dari shampo sang istri.
"Tumben?"
"Apanya?"
"Sejak kapan kamu punya malu?"
Arunika berdecak lidah, tapi kedua tangannya ikut terangkat untuk membalas pelukan Adikara. Kepalanya sedikit bergerak untuk mendapati kenyamanan.
"Sejak, kamu jadi aneh kayak gini. Aku kayak belum siap aja, Mas. Biasanya itu ya, kamu cuek banget jadi suami. Tapi sekarang? Kok, ya, kelebihan dosis gitu."
Suara tawa Adikara mengudara. "Aku uda bilang dengan sangat jelas. Inilah aku sesungguhnya. Aku gak bakalan nahan diri lagi buat ekspresikan rasa cinta aku sama kamu, Run. Jadi, jangan bingung lagi atau pun menghindari aku kayak tadi."
"Dengarlah. Kamu uda bisa lancar ngomong panjang, Mas. Buat bulu kudukku ikut berdiri."
__ADS_1
Adikara menolak pelan tubuh Arunika. Dia mengurai pelukan mereka dan menjentik kening istrinya.
"Awwww ...," Arun memekik seraya menyentuh kening. "Kenapa sih, Mas?"
"Kamu pikir aku ini anak umur dua tahun yang baru pintar ngomong?"
Tangan Arunika menggosok kencang kening bagian yang sakit seraya menatap kesal Adikara. "Siapa tau aja 'kan, dalam tubuh kamu yang kuat dan bugar itu terdapat anak kecil di dalamnya."
"Apaan itu? Mulai nggak nyambung," gerutu Adikara. "Ya udah, dari pada omongan kamu makin aneh, duduk dulu di atas tempat tidur dan jangan ke mana-mana. Pintu uda aku kunci. Jadi, kamu nggak bisa keluar atau pun kabur kayak tadi."
"Segitunya, Mas. Emangnya mau ngapain?" Ekspresi wajah Adikara berubah misterius.
Matanya menyipit memandang Arunika, hingga wanita itu merasa waspada terhadap dia. Melihat reaksi Arunika barusan, Adikara malah tertawa dan mengacak rambut wanita itu.
"Aku mau ganti pakaian dulu. Dan setelah itu, aku mau ngobrol soal masalah kita kemarin. Setelahnya, aku nggak tau apa yang akan terjadi. Tunggui, ya?" Adikara menaikkan sebelah alisnya seraya tersenyum penuh arti, lalu berlalu pergi meninggalkan Arunika yang menatap ngeri pada kepergian suaminya.
"Benaran uda gila." Merasa merinding, tapi dia tetap mengikuti perintah suaminya.
"Oh, ya." Adikara kembali mencegah Arun.
"Apaan lagi sih, Mas?"
Telunjuk Adikara terarah ke arah nakas dekat ranjang. "Hape kamu dari tadi ribut mulu. Siapa tau aja penting," katanya dan kembali masuk ke kamar mandi.
Hape?
Dia berpikir sejenak.
"Astaga ... pasti anak Brokoli." Sempat menepuk kening, kini Arunika buru-buru mendekati nakas di samping ranjang. Ia mengambil hape dan membuka menu notifikasi dari grup WAnya.
"Benar, 'kan?"
Arunika mengerutkan wajah merasa malu.
"Kenapa?"
Wanita itu terlonjak kaget akan kedatangan Adikara yang tanpa suara sedikitpun.
"Mas, kayak hantu kamu. Kalau jalan pake suara dong, Mas. Aku 'kan jadi kaget."
Adikara cuma menatapnya saja dan ikut duduk di samping Arunika yang terlihat cemas.
"Kenapa?" tanyanya lagi dan menatap layar hape dalam genggaman Arun.
Bibir Arunika memberut. "Kayaknya, sahabat aku pada tau dech."
"Tau apa?"
"TSTlah, Mas."
Kening Adikara mengerut bingung. "Apalagi TST?"
"Tau sama taulah. Masak gitu aja gak nyampek sih, Mas. Gak usah pake dijelasin segalalah. Aku benar-benar malu," keluhnya lirih.
Adikara kembali mengulas sebuah senyum. Dia menarik lengan Arun untuk mengajaknya saling berhdapan dan naik ke atas tempat tidur.
"Kenapa mesti malu?" tanya Adikara. Kedua matan itu menatap penuh damba ke arah manik mata Arunika yang berkeliling.
"Malu aja." Ekspresinya bersungut-sungut sampai menundukkan wajah.
Jemari Adikara menyentuh dagu Arunika agar kembali fokus ke arahnya. "Kamu malu punya suami kayak aku?"
Sedikit terkejut dengan pertanyaan Adikara, dia menggeleng kepala cepat. "Nggak pernah malu, Mas. Ya aku banggalah, suamiku ternyata waras dan ternyata seorang atasan tempatku bekerja. Yang aku malu itu, karena—"
__ADS_1
"Bercinta dengan suami sendiri?" pangkas Adikara.
Mulut Arunika kembali mengatup. Dia mengangguk serta menunduk. "Nggak gitu juga, sih."
"Sudalah, jangan malu. Kamu sama aku mabuknya, 'kan? Bukan sama orang lain."
"Iya, sih, Mas."
"Hemmm ... gimana soal kita?"
"Kita?"
Adikara mengangguk. "Iya, soal kita. Kamu, aku dan masalah kemarin."
"Udalah. Aku uda maafkan kamu juga, Mas. Lagian, semua masalah awalnya datang dari mantan aku. Ya, sahabat kamu sendiri. Kita dua korban dari mereka nggak, sih?"
Adikara menggenggam telapak tangan Arunika. Dia memuja kebaikan hati istrinya itu, meskipun sempat marah di awal karena sikap Adikara sendiri yang membuat gadis itu merasa kecewa.
"Hemmm ... benaran nggak marah lagi?"
Arunika menggeleng. "Nggak. Cuma ...."
"Cuma apa?"
"Aku boleh tanya nggak, Mas?"
Adikara cepat mengangguk dengan ibu jari yang sibuk mengusap punggung tangan Arun penuh hangat. "Katakan."
"Soal Violet. Kenapa sih, kamu marah sama aku waktu itu? Aku benar-benar sakit hati sama sikap kamu ke aku, Mas. Sampai-sampai, aku nggak ngenali kamu. Bukan aku dech, kamunya. Kamu tanya ke aku, siapa aku sampai lancang buat megang barang kamu? Kamu pikir aku nggak sakit hati?" Arunika terlihat jelas menguapkan kesedihan soal waktu itu.
Adikara paham setiap kata-kata Arunika. Hal itu juga sesuatu yang sangat ia sesalkan terjadi. Perlahan Adikara bergerak dan menarik tubuh istrinya ke dalam dekapan.
"Aku benar-benar salah. Soal itu, aku sangat menyesalinya, Run. Bukan aku sengaja. Di saat itu, aku benar-benar nggak siap buat kamu tau soal masa laluku. Karena menurutku itu aib yang susah dibagi dengan orang yang benar-benar aku cintai. Aku merasa itu seperti hal yang gak baik buat kamu tau. Karena aku juga ingin menjaga perasaanmu, Run. Maafkan aku, kalau akhirnya, kamu tau dari orang lain."
Adikara memejamkan kedua mata dan mengeratkan pelukannya. Dia menyelami masalah itu sampai membuat Arunika menangis tengah malam hingga tertidur, sampai melepas mimpi sang istri yang sudah lama dia dambakan.
"Jadi benar, kalau kamu uda suka sama aku sejak pertama kali lihat aku, Mas?"
Perlahan kelopak mata Adikara terbuka. Senyuman terhias di wajahnya sebelum mengangguk membenarkan.
"Benar."
"Kenapa aku nggak pernah lihat kamu ya, Mas?"
"Kamu yakin?"
Arunika mengangguk. "Iya. Aku gak pernah ketemu sama kamu sekalipun di sekolahan dulu."
"Bagaimana soal bola?"
"Bola?"
Adikara mengangguk dan mengurai pelukannya. "Iya. Bola yang sangkut di atas pohon mangga yang ada di lapangan sekolah."
Arunika mengerut kening dan menatap wajah Adikara untuk mengingat-ingat soal masa kecil mereka.
"Nggak ada gambaran, Mas."
Adikara membuang napas. "Mau aku ceritakan?"
Mau nggak? Hahahahah.
Bersambung.
***
__ADS_1
Mana dukungannya ^^
Ig: @_putritritrii, jan lupa di follow. Biar bisa lihat ke uwuan Arun dan Adikara. HIIhihihi.