Hatimu&Hatiku

Hatimu&Hatiku
Pertunangan


__ADS_3

Yeeeeh ... ketemuan lagi kita ^^.


Rindu sama Brokoli hahahaa. Info dikit. Jangan ada yang kasi Hadiah dalam bentuk poin ya di sini. Simpan poin kalian buat dukung karyaku yang berjudul Gravity Of Love tanggal 01 November nanti. Karena itu bakalan dikontrak di sini. Jadi, bakalan sampai TAMAT di sini. Aku harap ... kalian mau dukung ya. Dan jangan lupa buat masuk ke grupku dengan kata kuncinya 3 nama tokoh utama dari Terpaksa Menikah. Terima kasih. ^^


.


.


.


"Gue harap ... kali ini gue punya kesempatan buat ngejar lo, Elee."


Elee menggeleng di sela isak tangis, tapi enggan melepas pelukan lelaki berbidang dada cukup berisi dan empuk seperti dada ayam.


"Gue nggak mau, La. Lo jahat! Gue berkali-kali nembak lo, tapi apa? Lo permalukan gue di depan banyak orang. Emangnya lo pikir ******** gue uda putus?" Bukannya meronta, Elee mengalungkan kedua tangannya di pinggang Gala dan mengeratkan dekapan mereka.


Ya, lelaki itu adalah Gala Luka anak Pak Luke Cahyono–si pemilik beberapa perusahaan yang tak pernah Gala bangga-banggakan di depan banyak orang.


Gala malah tersenyum dan dia usap puncak kepala Elee yang telah diberikan pengeras rambut untuk membentuk keindahan maha karya dari tangan sang penata rambut pilihan Elee.


"Kalau masalah itu, kamu bisa tanyakan ke Papa, Le." Papa Eliot menyahut di sana.


Elee kini mengurai pelukan mereka dan menoleh tatap pada sang papa dan keluarga lain yang sejak tadi asik menonton siaran langsung drama percintaan di antara Gala dan Elee.


"Kenapa, Pa?" tanya Elee lirih.


Gala tak hentinya menatap kecantikan Elee yang berbanding terbalik saat mereka berada di perusahaan tempat mereka bekerja.


Dia tersenyum dan refleks mengusap air mata Elee di pipinya. Hingga mendapati iris mata gadis itu ke arahnya. Dia bingung. Tapi si empunya tangan semakin menarik sudut bibirnya yang sempat langka bertahun-tahun lamanya.


"Kemarilah anak-anak. Kalau melihat kalian romantis-romantis gitu, Mama jadi ingat masa muda dong." Avinka—Mama Gala.


"Ayo ...."


Gala merangkul pinggang Elee  dan gadis itu refleks kaget sampai melihat ke arah tangan kokoh dari Gala berakhir di pinggangnya.


"Jangan diliatin mulu. Ayooo ... jalan."

__ADS_1


"Bisanya ini bukan lo, Gal. Lo gak gila, 'kan?"


"Anggap aja si gila ini lagi jatuh cinta. Ayoolah  ...."


Bibir Elee memberut dan mengikuti jalan Gala ke ruang tamu. Di sana, semua orang sudah duduk di tempatnya masing-masing. Hanya tinggal satu sofa yang cukup menampung dua orang. 


Lagi-lagi, Gala menuntunnya untuk duduk. Elee dibuat tak mengenalnya secara fisik dan dari segi persahabatan mereka dalam keluarga Brokoli.


"Jadi begini," kata Papa Eliot membuka suara. "Dua tahun lalu itu, si Gala dan orang tuanya datang ke rumah kita yang di Jakarta buat ngelamar kamu, Le. Tapi Papa tolak karena takut aja kamunya belum siap atau papa yang belum siap aja. 


Sebelum permintaan ngelamar itu, si Gala uda sibuk minta izin buat pacaran sama kamu. Papa mikir ada baiknya langsung nikah. Kan, kalian uda barengnya lama ya, sama yang lain. Jadi nggak ada keraguan juga. Hanya saja, ya gitu. Papa masih belum niat buat ngelepaskan kamu, Le, secara naluri sebagai bapak dan anak, Papa nggak siap. Nah, dua bulan lalu si Gala datang lagi sendiri ke sini. Dia uda serius buat nikah sama kamu karena si Arun juga uda nikah dan tugasnya dia ke mendiang papanya selesai. Ya udah lah, Papa izinkan. Jadi, Gala juga ngasih usul biar kamu nggak kaget, Gala minta dilakukan pertunangan lebih dulu. Selama ini, Papa yang gak kasi izin sama Gala."


Elee yang uda terharu itu menoleh ke arah Gala yang kini dengan tampannya tersenyum dengan manis.


"Jadi ... lo memang uda niatan buat jadian sama gue?"


Gala mengangguk. "Iya."


Butiran air matanya semakin menganak sungai. "Terus ... kenapa dulu waktu gue nembak lo ditolak mulu sih, Gal?"


"Itu pesannya Mama," saut Mama Avinka disertai senyum.


"Iya, itu pesan mamaku. Kata Mama, kalau mau jadi seperti Papa nantinya, jangan pacaran dulu. Apalagi, sama-sama masih dibiayai orang tua. Gue nggak mau. Karena itu, gue tolok lo berkali-kali, El. Cuma ya, gue terus pendam rasa gue ke lo sejak saat itu. Karena ulah lo itu gue jadi punya perasaan sama lo," ujarnya jujur.


"Kok gue rasanya masih sedih ya, Gal. Jadi, sebelumnya lo belum suka dong ya, sama gue?"


"Gak gitu juga. Kalau kata Arun, masih 30%."


Gelak tawa mengudara di tengah-tengah keluarga. Gala pun tak kala bahagianya bila dilihat dari tawa yang mengudara. Itu tidak tampak seperti Gala yang Elee kenal selama bertahun-tahun.


"Jadi gimana, Le? Apa masih mau ngambek atau pertunangan kalian ini dilanjut?" tanya Mama Atika setelah tawa mereka mereda.


"Lanjut, Ma. Jangan kasih kendor," balas Elee tak tahu malu. Kedua orang tua mereka merasa lega, karena takut Elee akan tetap pada pendiriannya.


"Awalnya aja nolak pake acara kabur biar dikejar kayak di film-film itu lho sambil nyanyi. Kalau ini kagak, pake nangis. Egh, ujungnya sekarang langsung diterima. Malu gue punya kakak kayak lo, Kak." Ilana membuat rasa malu Elee bertebaran kemana-mana.


"Jangan kayak gitu, Dek," tegur Papa Eliot.

__ADS_1


Elee melototkan mata ke Ilana. "Ya, emang gitu awalnya karena nggak tau alasannya apaan, Na."


"Ngeles aja kayak Kak Gala," ejeknya.


"Kok gue sih?" tunjuk Gala bingung pada ketampanannya.


"Iyain aja biar cepat," saut Elee.


"Udahan ya, berantemnya. Sekarang ... acara pertunangan Elee sama Gala uda bisa kita lanjut?" tanya Om Ericko—adik papa Eliot.


"Sudah bisa," jawab para orang tua bersamaan dan membuka acara pertunangan dengan diawali sebuah doa.


Sukses menggelar pertunangan mereka, kini Gala tak segan-segan buat menatap Elee dengan tatapan memuja.


"Jangan kek gitu juga, Gal lihatinya. Gue malu kalau terus-terus dilihati sama lo kek gini. Apa di wajah gue ada noda kotor?"


Gala berdecak seraya tertawa kecil. "Nggak. Lo kalau di kantor make-upnya itu gak kelihatan kayak gini. Kenapa gue baru sadar kalau lo itu cantik ya?"


Kalau wajahnya bisa dilepas dan dibongkar pasang, mungkin Elee melakukannya dan membuang kemanapun asal tak melihat ke Gala yang kini duduknya sangat dekat. Mereka sedang duduk berdua di atas sofa ruang keluarga dengan menikmati makanan yang terhidang dalam acara pertunangan keduanya yang penuh kejutan.


"Gue nggak biasa dipuji-puji sama lo, Gal. Selama ini, gue selalu dapatkan tatapan sinis dan mulut pedas lo. Ini gak kayak lo yang gue kenal. Jadi, jangan buat gue bingung, Gal."


"Lo harus membiasakan diri mulai sekarang. Lo itu tunangan gue. Sifat aslinya gue itu manja dan pencemburu. Lo jangan dekat-dekat sama laki-laki lain tidak ada pengecualian."


Kening Elee berkerut, "termasuk  si setan?"


Gala mengangguk. "Apalagi dia. Hah, dia termasuk apa nggak ya? Entahlah, gue juga bingung kalau itu. Intinya, gue nggak suka lo sentuh-sentuh si Ettan atau sebaliknya. Lo sama dia itu sama anehnya."


"Yeeee ... aneh-aneh tapi jatuh cinta juga. Nggak malu," cibir Elee hendak bangkit dari duduknya. Tangan Gala menarik cepat hingga Elee kembali duduk di tempat semula.


"Lo cuma buat gue, El," bisik Gala tepat di telinga Elee dengan senyuman yang menggoda iman.


Bersambung.


*** 


Yuhuuuu ... tebakan siapa ini yang bener ^^.

__ADS_1


__ADS_2